
Ujian Gilang sudah dekat, Gita sangat
suport Gilang dia benar-benar fokus terhadap ujian Gilang. Dia mengurangi
pertemuan dengan Gilang, dia hanya bertemu di sekolah itu pun hanya menemani
Gilang di perpustakaan belajar. Setelah itu dia di antar pulang.
“Kak..” Rengek Gita yang udah sangat
bosan di perpustakaan.
”Ya.” Jawab Gilang sambil mengelus
kepala Gita, namun matanya masih fokus kepada bukunya.
“Besok kan hari libur bisa nggak kalau
kita pergi jalan-jalan, sekali saja sebelum senin ujian.” Pinta Gita. Gilang
menatap Gita tanpa langsung membalas ajakan Gita.
“Ya..ya... gue tahu permintaan gue nggak
mungkin.” Kata Gia dengan nada sedikit
kecewa, dia tahu kalau Gilang tidak akan menyetejui karena dia akan lebih fokus
ke ujiannya. Mood Gita seketika berubah jelek. ‘Tahu sudah mau ujian masih di
ajak jalan, dasar Gita.” Omelnya sendiri sambil membuang muka dari hadapan Gilang.
“Iya sayang, besok kita jalan-jalan.”
Gilang tersenyum lebar, tangannya memtar tubuh Gita agar menghadap dirinya.
“Beneran.” Seru Gita dengan keras.
“Ssttt, jangan keras-keras.” Gilang
menaruh jari telunjuknya di bibir Gita. Gita meringis lalu melihat kanan-kiri
takut ada yang terganggu.
Seperti janji Gilang waktu di sekolah,
pagi ini dia datang menjemput Gita untuk membawanya jalan-jalan. Gita tersenyum
lebar saat membuka pintu dan melihat Gilang sudah menuggu di dekat mobil. Gita
lari lalu memeluk Gilang erat.
“Kita mau kemana?” tanya Gilang.
“Terserah, kemana aja Kak Gilang bawa
Gita ikut aja.” Katanya sambil menatap
wajah Gilang.
“Nonton.” Gilang memberikan ide. Gita
menggangguk sambil melepaskan pelukannya. Dia tidak peduli Gilang mau membawa
kemana dirinya, yang penting dia bisa keluar main bersama Gilang berdua.
Bahakan kalau hanya di ajak makan lalu duduk berdua di taman sampai malam pun
dia tidak masalah.
“Baiklah pacarku yang cantik, silahkan
masuk.” Gilang membukakan pintu.
“Terima kasih pacarku yang ganteng.” Jawab
Gita sambil tersenyum lebar.
Setelah memilih film dan membeli popcorn
mereka langsung masuk ke bioskop tanpa menunggu lama. Gita duduk langsung fokus
ke layar. Gilang meraih tangan Gita dan menggenggamnya. Gita tersenyum dia
terus memandangi Gilang, dia kangen banget dengan cowoknya itu. Meskipun tiap hari
bertemu namun dia merasa sangat jauh, mereka berbicara hanya seperlunya saja.
“Lihat ke depan, kenapa melihat gue
terus.” Kata Gilang sambil menoleh ke arah Gita.
“Karena lo lebih menarik daripada
__ADS_1
filmnya.” Kata Gita sambil tersenyum. Gilang mengangukkan kepala lalu mengajak
Gita pergi.
“Mau kemana?” tanya Gita.
Gilang terus menggandeng Gita tanpa menjawab
mau membawa dia pergi kemana.
“Kak, mau kemana?” tanya Gita lagi.
“Lo itu nggak cocok menonton film, kita
pergi ke tempat lain saja.” Ajak Gilang.
“Nggak cocok.” Kata Gita sambil mikir
nggak cocoknya di bagian mananya. Dia sering banget nonton bioskop bersama Fara
dan Anita, kadang juga bareng Raka.
Gilang membawa Gita ke taman bermain,
menurutnya kencan yang sangat cocok buat mereka berdua itu ya taman bermain
atau tempat terbuka dimana mereka bisa saling interaksi, bukan duduk diam.
“Kak, apa kencan seperti ini bisa di
bilang romantis?” Gita menatap Gilang.
“Yah, ini akan lebih romantis daripada
menonton film karena lo hanya akan melihat gue bukan filmnya.”
“Memangnya nggak boleh gue melihat pacar
gue yang ganteng ini. Pacarku ini kan lebih menarik daripada pemain filmnya.”
Katanya sambil tertawa.
“Tentu saja boleh, gue membawa lo kesini
biar bisa melihat ketampanan gue lebih jelas daripada di bioskop yang terlihat
gelap.”
“Sekarang mau naik apa?” Tanya Gilang.
“Kora-kora.” Tunjuk Gita.
“Ok, siapa takut.” Gilang menggandeng
Gita untuk membeli tiket.
Gita dan Gilang teriak sekeras mungkin,
mereka melepaskan penat setelah beberapa bulan terakhir belajat terus. Setelah naik
kora-kora Gita memilih naik bianglala. Gita masuk dan langsung sibuk ambil
foto, dia mengabadikan kebersamaan dengan Gilang.
“Sini duduk yang benar.” Gilang
menurunkan tangan Gita yang masih selfi.
“Iya.” Gita memasukkan ponselnya. Gita
menggandeng tangan Gilang lalu menyenderkan kepalanya di bahu Gilang.
“Andaikan bisa waktu berhenti sekarang.”
Kata Gita.
“Kenapa?”
“Gita pingin sama Kak Gilang selamanya,
setelah kak Gilang lulus pasti akan sangat susah ketemu. Gita pasti kangen
banget, sekarang saja sudah susah banget buat ketemu.” Omel Gita.
“Belum juga di tinggal sudah ngomel,
terus maksudnya apa kemarin menyuruh gue ambil beasiswa ke Autralia. Kita
bahkan pisah bertahun-tahun.” Kata Gilang.
“Benar juga ya, kenapa lagi sadar.” Gita
mengangguk-angguk, dia setiap hari ketemu meskipun sebentar saja sudah ring-uringan
__ADS_1
dan juga kangen banget sama Gilang. Kemanrin malah kekeh meminta Gilang pergi.
“Kebiasaan lo tuh, kalau ambil keputusan
tanpa di pikir dulu.” Gilang menyolek
hidung Gita.
“Sudah lama sekali ya Kak Kita nggak
hangout bareng yang lain juga, biasanya kalau pergi juga tanpa Kak Gilang.”
Kata Gita.
“Iya, gimana kalau setelah ini kita ajak
kumpul aja yang lain, kita ke kafe atau makan dimana gitu.” Gilang memberikan ide.
“Boleh,
Gita wa yang lain dulu ya.”
“Iya.”
Setelah puas bermain mereka pulang untuk
bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang lain, namun sebelum pergi Gilang
mengajak Gita kerumahnya. Dia ingin mengenalkan Gita kepada mamanya yang kebetulan
baru pulang dari luar kota.
“Git, mama gue baru pulang nih. Kita ke
rumah dulu sebentar ya. Gue kanalin sama mama.”
“Em, harus sekarang ya.” Gita tiba-tiba
panik. Dia merasa belum siap kalau harus bertemu dengan mamanya Gilang. Apalagi
Gita belum mempersiapakan segala sesuatunya.
“Iya, mama gue jarang di rumah jadi
mumpung pulang sekalin saja gue kenali.” Kata Gilang.
“Tapi nggak apa-apa? Gita belum
mempersiapakan diri.”
“Memangnya apa yang mau di persiapkan,
lo baru mau kenala saja sama mama gue. Kita belum mau tinggal di rumah gue.”
Goda Gilang.
Perjalanan ke rumah Gilang Gita gugup,
dia membuka google mencari cara sikap bertemu dengan orang tua pacar. Dia
benar-benar ingin membuat kesan yang baik saat bertemu dengan mamanya Gilang
agar mendapatkan restu.
“Sayang.” Panggil Gilang.
“Iya.” Jawab Gita sambil menoleh ke arah
Gilang.
“Ayo turun.” Gilang membantu melepaskan
sabuk pengaman milik Gita.
“Udah sampai ya, kenapa cepat banget sih
Gita kan belum selesai belajarnya.” Ujarnya.
“Belajar?” Gilang mengerutkan kening.
Gita meringis sambil menunjukkan
pencarian di google. Gilang tertawa kecil dengan tingkah konyol Gita.
“Jangan terlalu gugup, mama orang baik
kok nggak galak juga. Lo tenang saja, semua akan baik-baik saja.”
Gita mengangguk lalu turun dari mobil,
dia percaya dengan ucapan Gilang. Saat dia bilang semua akan baik-baik saja
maka semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1