
Pagi
setelah pulang dari rumah sakit Gita langsung pergi ke kantor lagi, dia sudah
bosan kalau harus terus diam diatas kasur. Gita buru-buru lari ke kantor karena
dia sudah telat sepuluh menit.
“Pakai
acara debat nih sama mama jadinya kan telat.” Gita ngedumel sepanjang jalan
masuk ke tempat absen.
Gita
menekan jari telunjuknya cepat dan siap lari sebelum Lila mengomelinya karena
telat. Dan saat dia siap-siap lari Lila hanya melewatinya saja dan sedikit
menudukan kepala sambil tersenyum kepadanya.
Gita
mengerutkan keningnya, “Tumben banget Mbak Lila nggak ngomel biasanya beh..
udah ceramah nggak selesai-selesai.” Kata Gita sambil jalan ke lift.
Gita
menghembuskan napas panjang ketika melihat lift yang sudah penuh, dia
menyenderkan tubuhnya di dinding. Baru saja punggungnya menempel, ada beberapa
orang yang keluar dari lift dan mempersilahkan dirinya masuk dulu bahkan dengan
sangat sopan.
“Udah
lo saja dulu, gue habis kalian.” Kata Gita.
“Nggak
apa-apa, duluan saja.” Kata mereka.
Gita
masuk dengan penuh keheranan, dia merasa semua orang di kantor berubah drastis.
“Sepertinya
ada yang tidak beres nih sama orang-orang di kantor. April mop kali ya, jadi
sekarang hari kebalikan gitu.” Batinnya.
“Eh..
april kan sudah lewat.” Kata Gita menggaruk kepalanya sambil keluar dari lift.
Gita
menarik kursinya, dia lalu duduk dan melipat kedua tangannya. Dia masih heran
kenapa semua orang di kantornya sangatlah berbeda dari biasanya.
“Kenapa
lo pagi-pagi udah bengong kek kambing congek seperti itu?” tanya Vian.
“Vian, gue rasa ada yang aneh deh sama
orang-orang di kantor.” Kata Gita sambil menatap Vian.
Tuk!
Vian menmukul Gita memakai bolpen yang di pegangnya.
“Ih..
apaan sih Vian, gue tanya beneran nih malah lo getok.” Kata Gita.
“Heh..
lu sadar nggak kalau lo itu sedang jadi tranding topik di kantor. Kalau lo itu
calon istrinya CEO kantor ini.” Jelas Vian.
“Ah
iya.. pantesan semua orang berbeda. Mana Mbak Lila maen lewat saja pas tahu gue
telat.” Ujar Gita.
“Lagian
siapa sekarang yang berai negor lo, lo lupa wajah Gilang seremnya kek apa waktu
melihat lo di perlakukan sewenang-wenang sama Catrin dan juga Aura. Pasti lah
mereka takut kalau sampai di pecat sama Gilang.” Vian menjelaskan panjang lebar
apa yang sedang terjadi di kantor mengenai Gita yang belum sadar.
“Gita,
ngapain lo udah kerja.” Fara yang baru dari toilet melihat Gita sudah masuk
__ADS_1
kerja berubah heboh.
“Iya
Git, ngapain udah kerja sih. Lo butuh apa biar gue ambilin.” Kata Ina.
“Kenapa
jadi pada heboh begini sih, Mbak Ina biasa aja deh sama Gita nggak usah
berlebihan begitu.” Kata Gita nggak suka kalau di perlakukan secara berlebihan.
Dia hanya mau berkawan tanpa melihat Gita itu siapa.
“Kalau
gue kemarin-kemarin galak,nyebelin atau apa gitu nggak?” Nino panik. Dia takut
kalau sampai keceplosan atau melakukan hal-hal jahat sama Gita yang buat
dirinya bisa di tendang dari perusahaan.
“Gita
gue mau ngomong sebentar sama lo.” Kata Win di ambang pintu.
“Aiih..
Gimana nih Mas Win kayaknya marah nih sama gue.” Kata Gita sambil berlari
mendekati Win.
Win
dengam muka kesalnya mengajak Gita pergi agak menjauh dari ruangannya. Dia berhenti
lalu menatap Gita tajam sambil melipat kedua tangannya.
“Lo
kenapa nggak bilang sama gue kalau pacaran sama bos Gilang. Lo mau mata-matain
kita di kantor ya?” Win menjewer telinga Gita.
“Bukan
begitu, Gita hanya mau berteman dengan tulus tanpa memandang siapa pacar Gita
ataupun orang tua Gita.” Kata Gita dengan mimik wajah sedih.
“Ehhem..”
Gilang berdehem di belakang Win. Win langsung memutar tubuhnya dan berdiri di
samping Gita.
“Kamu
mendekati Gilang dengan keresahan hati luar biasa bahkan tubuhnya berubah panas
dingin.
Setelah
ada di sampingnya, Gilang langsung
menjewer telinga Win.
“Ampun
bos, cuman bercanda.” Kata Win.
“Bercanda
lo jangan buat dia sakit.” Gilang kemudian menyentil kening Win. Nino, Ina,
Vian, Fara, Bella dan Fajar yang sejak tadi mengintip langsung tertawa.
“Kak
Gilang, jangan gitu kasian kan Mas Win.” Gita menahan Gilang agar tidak
menjaili Win.
“Kamu
lagi, ke ruangan aku sekarang.” Gilang menatap Gita dingin seperti orang yang
sedang marah sama dirinya.
“Ah
iya, bawa teman boleh nggak?” tanya Gita. Dia berharap Gilang membolehkan
dirinya membawa teman agar tidak dimarahin sama Gilang.
“Kamu
tu ya, nawar saja kerjaannya. Buruan masuk ke ruangan aku. Dan yang lain lanjut
kerja kalau masih mau ada di kantor ini.” Jelas Gilang. Dan seketika
teman-teman Gita sudah menghilang dari pandangan.
“Issh..
pada nggak setia kawan.” Gita ngedumel sambil berjalan menuju ruangan Gilang.
__ADS_1
Gita
masuk langsung duduk di kursi, “Kamu kenapa sih wajahnya di ngin gitu. Galak
ih.” Kata Gita.
“Kamu
ngapain udah masuk kantor?” Wajah Gilang yang tadi di depan teman-teman Gita
sangat dingin kini berubah menghangat.
“Kan
aku gabut di rumah mau ngapain coba? Lagian kan aku kangen sama yang lain juga.”
“Kangen
sama yang lain? Fajar atau Radit.” Gilang yang awalnya berdiri di samping Gita
pindah ke kursinya, dia melipat ke dua tangannya di dada dengan wajah kesal.
“Siapa
lagi yang kangen sama mereka berdua, kamu mah curigaan mulu kerjaannya.”
“Em..”
“Jangan
begitu dong sayang, kan aku Cuma mau kerja saja.”
“Udah
deh mulai besok kamu nggak usah kerja diam di rumah saja, nonton drama atau
apalah yang penting jangan bertemu sama laki-laki.” Kata Gilang. Gita terkekeh,
mendengar perkataan Gilang.
“Kamu
kesurupan apaan sih.” Gita beranjak dari kursinya lalu memeluk Gilang dari
belakang. “Dengar ya, cintaku, sayangku, gemesku kalau aku nggak akan pernah
tergoda sama cowok lain. Kecuali oppa korea kesayangan aku.” Kata Gita sambil
terkekeh.
“Ya
udah haluin saja sana oppa-oppa kamu, aku juga nggak akan cemburu sama mereka.
Tapi awas saja kamu dekat-dekat cowok lain.” Ujar Gilang sambil menarik tangan
Gita hingga dia duduk di pangkuan Gilang.
“Iya
deh..iya.”
“Kamu
sebenarnya cinta nggak sama aku?” tanya Gilang.
“Nggak.”
Jawab Gita sambil terkekeh.
“Baguslah,
karena kamu nggak cinta sama aku maka aku akan melamar kamu besok malam.”
‘”Eh..”
“Kenapa?”
Gilang mendekatkan wajahnya dekat banget sama Gita.
“Kenapa
tiba-tiba?”
“Nggak
tiba-tiba, karena kejadian kemarin membuat aku risau sama kamu. Dan aku sudah
meminta restu dan ijin mama kamu kalau aku akan segera melamar kamu agar aku
bisa menjaga kamu dua puluh empat jam non stop.” Kata Gilang. Gita menatap
Gilang bengong, dia masih belum percaya dengan omongan Gilang.
“Apa
kamu tidak senang?” Tanya Gilang.
“Sangat
senang..”
“Terus
kenapa kamu bengong?”
“Tidak
__ADS_1
tahu.” Katanya sambil tertawa kecil. Gilang mengecup kening Gita lalu
memeluknya.