
Deert...derrt..derrzz..
Ponsel Gita bergetar berkali-kali namun dia mengabaikannya. Dia sedang tidak ingin
ngapa-ngapain cukup hanya rebahan saja.
“Ta.. tuh hp lo bunyi mulu dari tadi.” Kata Raka sambil memandangi ponsel Gita yang
ada di sofa.
“Biarin aja.” Katanya dengan nada datar.
“Lo kenapa lagi sih? Udah siang nih nggak mau ke kantor apa?” Raka di buat heran
lagi sama adiknya itu. Moodnya semakin berubah-ubah tidak jelas saja. Semakin ngeri saja dilihatnya.
“Nggak. Libur.” Jawabnya dengan agak ngegas.
“Oh.. lo mau ngurusin pernikahan lo ya. Mau fitti baju?” Raka mengangguk-angguk.
“Nggak juga, gue Cuma mau di rumah saja. Lagian gue juga nggak tahu pernikahannya mau lanjut atau tidak.” Jawab Gita sembari mengambil ponselnya lalu pergi ke kamarnya.
“Ta.. lo kok ngomongnya begitu. Ada masalah sama Gilang?” Raka mengejar Gita. Dia makin heran dan tidak mengerti dengan adiknya itu kenapa dia bisa mengatakan
pernikahannya entah akan jadi dilaksanakan atau tidak. Sepertinya sedang ada masalah besar menimpa hubungan Gita sama Gilang.
“Raka, gue lagi nggak mood ngomong.” Gita menutup pintunya dan menguncinya.
“Ta.. lo jangan aneh-aneh loh.” Raka tiba-tiba takut kalau Gita melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
Gita menaruh ponselnya di sebelah sembari
duduk bersila, lalu memasang handsfree lalu memutar lagu melow. Dia sengaja
memutar lagu itu biar bisa menangis lebih kencang lagi. Menurutnya setelah
menangis sejadinya dia akan merasa lega.
...Ting..!...
satu pesan masuk ke ponselnya. Gita melirik ke sebelah lalu mengabaikan karena
nomor baru.
Derrtzz...deeertttz..deertttzz...
Ponselnya lalu berdering hingga menghentikan putaran musiknya.
“Ihh.. siapa sih ganggu aja.” Gita mengambil ponselnya.
“Halo.. siapa nih?” tanya Gita dengan nada sewot.
“Hai Gita, gue Devan.” Kata Devan dengan suara yang sangat gembira karena Gita mengangkat ponselnya.
“Oo, Devan. Ada apa ya?” tanya Gita dengan nada masih sama datarnya.
__ADS_1
“Nggak ada apa-apa sih, cuma pengen telpon lo saja. Sibuk nggak Git?” Devan mulai berniat pedekate lagi dengan Gita.
“Iya nih lagi sibuk. Sorry ya nanti atau kapan kita sambung lagi.” Kata Gita
buru-buru mematikan sambungan telponya.
“Kenapa
sih pakai telpon-telpon segala.” Gita mematikan sambungan datanya agar tidak di telpon-telpon lagi sama Devan. Gita kembali menikmati galaunya, sembari
merebahkan tubuhnya.
...♡♤♤♡...
Gilang yang selesai meeting langsung pergi ke ruangan Gita untuk menemuinya. Dia cemas setelah menlpon tidak di angkat ponselnya menjadi tidak aktiv.
“Bos, cari siapa?” tanya Ina.
“Gita dimana ya?” tanya Gilang saat tidak melihat Gita di ruangan.
“Nggak tahu, pagi ini dia absen. Dan nggak ada ijin sama siapa-siapa.” Kata Ina.
“Jadi Gita nggak datang ke kantor.” Gilang semakin si buat cemas sama Gita. Setelah pertengkaran semalam Gita tak mau membalas pesan dan juga tidak mau menerima telponnya.
“Nggak Bos.” Ina menggelengkan kepala.
“Ok, makasaih Ina. Fara sama Vian kemana ya?”
“Mereka lagi ada kerjaan di luar sama Nino dan Mas Win. Ada yang mau di sampaikan Bos?” tanya Ina lagi.
“Nggak, makasih ya.” Gilang memutar tubuhnya untuk kembali ke ruangannya. Namun sata memutar dia bertubrukan dengan Bella yang hendak masuk. Gilang langsung menarik tangan Bella agar tidak jatuh.
wajah Gilang. Dia terpesona dengan ketampanan Gilang.
“Bella?”
“Ah.. Iya Pak. Saya nggak apa-apa.” Bella langsung salah tingkah. Wajahnya memerah
karena malu.
Ina menarik tangan Bella ketika Gilang sudah pergi meninggalkan mereka.
“Bella, lo jangan macem-macem loh.” Ina melihat kalau Bella menyimpan perasaan sama bosnya itu.
“Macem-macem apa sih Mbak.” Kata Bella dengan memegang tengkuknya karena Ina mengetahui maksud hatinya.
“Lo menyimpan perasaan kan sama Bos Gilang. Ingat dia itu punya Gita jangan jadi
pelakor lo nggak baik.”
“Ngaco deh Mbak Ina. Tapi nggak ada salahnya juga kan kalau kita menyukai Bos Gilang. Dia itu perfect banget, eh malah Gitanya berpikiran jelek sama Bos Gilang.”
Ujar Bella yang menghentikan langkah Gilang.
“Ya dia bilang seperti kemarin mungkin dia lagi kesal saja.” kata Ina.
__ADS_1
“Sekesal-kesalnya orang nggak mungkin kan bilang mau mengkhianati pasangannya. Sampai mau mengambil hartanya saja.” Kata Bella dengan muka julid.
“Gue rasa sih itu guyonan dia saja. Gue ingetin lo ya, jangan macam-macam deh. Lo
bisa disini pindah ke team ini juga karena kebaikan Gita.” Kata Ina sembari
masuk ke ruangan. Bella terdiam, kenapa Ina bisa bilang kalau dia masuk team
Win itu karena Gita. Yang dia tahu, dia bisa berada disini karena kebaikan Win dan juga Gilang.
“Sayang.. apa yang sedang kamu lakukan.” Kata Gilang pelan dan melanjutkan jalan.
Gilang mencoba menelpon Gita namun nomornya masih saja tidak aktiv, Gilang
mengacak-acak rambutnya.
“Sayang, jangan bikin aku gila dong.” Kata Gilang sembari menghela napas panjang denganbnada keluhan.
“Permisi Pak, ini berkas yang bapak minta sudah selesai.” Kata Lila.
“Terima kasih Lila, kamu taruh saja di meja saya.”
“Baik Pak.” Lila menaruh berkas. Dia berhenti sejenak memperhatikan bosnya yang kusutterlihat banyak pikiran.
“Bapak butuh sesuatu, biar saya bawakan kemari.”
“Nggak Lila makasih.” Gilang mengecke berkas yang di bawakan Lila.
Melihat tangan kiri Gilang memegangi kepalanya membuat Lila tidak tega. Lila bergegas mengambilkan secangkir kopi agar Gilang lebih relax.
“Pak, minum dulu. Biar lebih relax.” Lila menaruh kopi di meja.
“Makasih Lila.”
“Kalau butuh sesuatu, bapak bisa langsung panggil saya.”
“Iya Lila. Oiya Lila mau tanya sesuatu sama kamu boleh.”
“Pastinya boleh.”
“Saya bingung harus bagaimana, Gita sedang marah sama saya. Apa yang harus saya lakukan. Dia tidak akan mau kalau saya bujuk dengan membarikan sesuatu barang
yang mewah. Bunga, boneka dia juga tidak suka. Lalu apa yang harus saya bawa
untuk membujuknya.”
“Maaf Pak, memang tidak semua cewek bahagia di berikan barang-barang mewah. Mungkin beri Gita hanya butuh sedikit waktu bapak untuk bersama dia. Karena bagi sebagian wanita itu waktu bersama lebih mewah daripada barang-barang. Tidak ada gunanya jugakan kalau di beri barang-barang tapi orangnya tidak ada, bunga, boneka atau cincin yang akan di berikan itu hanya pemanis saja.” Lila memberikan nasehat Gilang.
“Benar juga, beberapa hari terakhir ini memang aku tidak ada waktu untuk dia.”
“Bapak datang saja ke rumah Gita, bawa sesuatu kesukaannya. Makanan misal, Gita kan suka sekali makan.” Tambah Lila.
“Ok, makasih Lila. Yang kamu bilang sangat benar. Kamu memang sekretaris yang sangat mengerti saya.”
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Gilang, dia pergi ke tempat makan untuk membelikan beberapa makanan yang di sukai Gita, dia mau minta maaf.
__ADS_1
Dia ingin menghabis kan separuh malam bersama untuk melepaskan kerinduan dalam dirinya. Dia pusing kalau Gita ngambek, seakan stamina dalam dirinya menurun karena tidak dapat asupan vitamin.
"Sayang, aku datang." kata Gilang sembari mengemudikan mobilnya menuju rumah Gita.