Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Dia Adikku!


__ADS_3

Qila merasa tidak enak dia mendatangi kamar Gita.


"Ta.." panggil Qila.


"Ya Kak." Kata Gita sambil merebahkan tubuhnya.


"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Qila.


Gita mengangguk, "Lo gimana, apa ada yang sakit?" Gita bangun dari rebahan.


"Gue nggak apa-apa, lihat gue baik-baik saja." Qila memperlihatkan tubuhnya.


Gita bangun lalu mendekati Qila, "Apa sudah ke dokter?" Gita duduk lalu memutar tubuh Qila. Mengecek sendiri kalau aja ada yang terluka.


"Sudah, tadi Devan nganterin gue. Oiya.. gue mau kasih lihat sesuatu buat lo."Qila mengajak Gita ke kamarnya.


Gita mengerutkan keningnya saat melihat boneka teddy bear ukuran besar di kamar kakaknya. Dia seperti tidak asing, tapi dia lupa pernah lihat boneka sebesar itu.


"Lo mau kasih gue lihat apa?" tanya Gita.


"Ini boneka dari Devan, gue rasa ini buat lo tapi karena dia nolongin gue jadi dia titipin ke gue." Jelas Qila.


"Benarkah?" Gita tidak percaya, rasa kecewa di hatinya lumayan terobati.


"Iya, coba saja lo telpon Devan." Kata Qila.


"Nggak ah.. besok aja gue tanya langsung. Gue kesal banget sama dia." Gita menjatuhkan tubuhnya di kasur Qila.


"Lo jangan marah sama Devan, marah aja sama gue. Semua ini kan salah gue, kalau saja Devan nggak tolongin gue dia akan datang tepat waktu menemui lo." Qila merasah sangat bersalah.


"Kak Qila jangan merasa bersalah, sini duduk apa nggak capek berdiri." Gita meminta kakaknya tidur di sebelahnya. Qila mengangguk lalu tidur di sebelah Gita.


"Ta.." panggil Qila perlahan.


"Hem." Gita menoleh.


"Kenapa lo nggak pernah marah sama gue?" tanya Qila.


"Marah? memangnya kenapa gue harus marah." Gita merasa heran.


"Gue sering banget buat lo kesal, tapi lo tetap saja diam dan baik sama gue. Bahkan dulu lo pernah mengalah untuk pindah sekolah hanya karena dulu gue malu terus di bully karena lo adik gue." Qila membuka cerita masa kecilnya.

__ADS_1


"Sudahlah Kak, kenapa lo selalu saka membahas masalah ini. Kak, lo itu kakak gue yang paling gue sayang bagaimana gue bisa marah sama lo." Gita tersenyum. Dia sama sekali melupakan kejadian waktu kecil. Dia sangat mencintai keluarganya bagaimana dia bisa marah.


"Lo emang adik gue yang paling gue sayang, tapi kenapa sih lo nggak pernah mau kalau orang lain tahu kalau kita adik kakak? apa lo kesal karena dulu gue nggak mau mengakui lo adik gue."


"Kakakku yang paling cantik, gue itu nggak mau populer di kalangan sekolah. Itu bikin ribet tahu."


"Selalu saja beralasan seperti itu. Em.. lo tadi kok bisa jalan sama Gilang?" Qila kepo.


"Tadi nggak sengaja ketemu di sana, jadi dia temani gue makan sama nganterin pulang. Lo nggak marah kan?" tanya Gita.


"Kenapa marah, kita itu nggak ada hubungan apa-apa." Qila mengklarifikasi hubungannya dengan Gilang.


"Tapi kakak suka kan sama dia?"


"Ya, tapi Gilangnya sukanya orang lain. Dia itu selalu cuek kalau kita ngobrol kalau bukan masalah tugas osis." Qila meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


"Apa perlu gue bantu?" tanya Gita.


"Nggak perlu, gue juga nggak cinta-cinta banget sama dia. Gue hanya suka, ngefans gitu aja." kata Qila.


"Em." Gita mengangguk-angguk


...◇◇◇◇◇...


"Devan." panggil Gita saat Devan hendak meninggalkan lapangan.


"Ya Git." Devan berbalik badan.


"Em, makasih ya bonekanya." Katanya malu-malu.


"Boneka apa ya?" Devan bingung, dia merasa tidak memberikan boneka padanya.


"Lo nggak usah pura-pura deh, gue udah tahu semuanya loh." kata Gita seolah tahu kalau Devan sedang pura-pura nggak tabu.


"Tahu apa Gita, gue benar-benar nggak tahu apa yang lo bicarakan." Devan belum tahu omongan Gita.


"Boneka teddy bear besar yang lo titipin sama Kak Qila."


"Teddy bear dari Qila?" Devan melebarkan kedua matanya.


"Iya, Kak Qila bilang itu dari lo buat gue. Makasih ya, em.. gue mau mengaku sama lo kalau gue suka sama lo."

__ADS_1


"Hah.. lo ambil boneka dari Qila." kata Devan lumayan keras membuat teman-temannya yang masih ada di lapangan menatap mereka berdua.


"Gue nggak ambil, kak Qila yang kasih."


"Bukanya boneka itu memang bakalan lo kasih buat gue?" Tanya Gita hati-hati.


"Tentu saja tidak, gue ajak lo pilihin boneka itu buat Qila bukan buat lo."


"Ta..pi.. lo bilang boneka itu buat orang yang lo sayang." mata Gita mulai berkaca-kaca.


"Ya.. gue kasih buat orang yang gue sayang." jawabnya tegas.


"Jadi orang yang lo bicarakan selama ini Kak Qila bukan gue?" nada bicara Gita semakin berat karena menahan tangis.


"Ya."


"Terus kenapa lo ajak gue kencan, nonton, dan pergi kemana-mana."


"Kita kan teman, jadi wajarkan teman seperti itu."


"Lalu kenapa dulu waktu SMP lo bilang kita akan pacaran saat lo pulang lagi kr indonesia."


"Gita..Gita lo itu polos apa gimana sih, omongan anak kecil lo percaya. Lagian lo harusya sadar diri mana mungkin gue pacaran sama lo."


"Kenapa lo ngomong seperti itu?" kata Gita mulai meneteskan air matanya.


"Gita kita bicara kenyataan saja, Qila itu canti, baik dan sedangkan lo ngurus badan aja nggak bisa bagaimana mau mengurus gue." Katanya sambil tertawa jahat.


"Gue tekankan sekali lagi ya, kalau gue sama sekali nggak suka orang macam lo. Udah gendut, nggak pintar mana nggak pernah pakai make up lagi. Apa masih berani jadi pacar gue." kayanya terus dengan nada yang tetap stabil yaitu nada keras.


"Ya gitu tuh kalau cewek kegedean pedenya nggak sadar diri dirinya kayak apa." kata Monika ikut nyinyir.


"Teman-teman apa menurut kalian dia pantas untuk di jadikan pacar?" Devam menanyaka kepada cowok-cowok di sekelilingnya.


"Ya pastinya tidak lan, mana ada orang yang mau sama boneka mampang macam dia." sahut seeorang.


Melihat ada keributan di tengah lapangan, Gilang pergi ke laapangan untuk melihat apa yang di kerumuni siswa-siswa. Fara, Anita dan juga Arvian menyusul Gilang.


"Devan.. lo benar-benar jahat. Lo kenapa berkata seperti itu." Gita sudah tak kuasa menahan sakit hati dan air matanga.


"Apa gue jahat?" Devan menanyakan kepada orang di sekelilingnya. Dan mereka pun memihak Devan.

__ADS_1


Gita berbalik badan dan hendak berlari namun dia menabrak seseorang yang berdada bidang. Dia mengangkat kepalanya, kedua matanya semakin mengucurkan air mata.


__ADS_2