Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pergi Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Selesai kuliah Gita nyamperin Farhan ke kelasnya, dia tengok kanan kiri mencari


keberadaan Farhan.


“Maaf Kak, apa Kak Farhannya ada?” tanya Gita.


“Dia pergi ke kantin.” Kata salah satu temannya.


“Makasih Kak.” Gita bergegas menemui Farhan di kantin, takutnya dia kembali pergi lagi.


Gita berdiri di pintu masuk kantin, mengedarkan pandangannya ke semua sudut kantin. Setelah melihat dia berjalan perlahan dengan ragu-ragu soalnya Farhan sedang makan bersama teman-temannya, takut mengganggu dan mengacau kebersamaan mereka. Tapi dia tetap harus melakukannya agar segera lunas hutangnya.


“Kak Farhan.” Panggil Gita pelan.


“Iya Gita ada apa?” Farhan menoleh ke arahnya.


“Bisa kita bicara sebentar?” kata Gita.


“Lo nggak lihat Farhan sedang apa, mengganggu saja.” Samber Imel dengan nada kesal. Dia cemburu Gita menghampiri Farhan.


“Kalau begitu nanti saja, Gita tunggu..”


“Nggak usah, nggak apa-apa kok gue udah makannya. Kita ngobrol di situ.” Farhan beranjak meninggalkan makan siangnya meskipun dia baru memakan beberapa suap. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bisa ngobrol sama Gita. Tatapan Imel langsung tajam, hatinya panas banget karena dia lebih memilih pergi sama Gita daripada makan dengan dirinya.


“Ada apa Git?” tanya Farhan dengan mata yang berbinar.


“Maaf Kak jadi mengganggu makan siangnya.” Gita menjadi tidak enak hati.


“Nggak apa-apa, jangan dipikirkan.”


“Gita mau bahas soal kita mau pergi ke toko buku, Gita mau melunasi janji Gita hari


ini. Apa kak Faran bisa?” Gita berharap Farhan menyetujuinya hari ini.


“Baik, kebetulan hari ini gue udah nggak ada kelas. Gue ambil tas dulu ya.” Farhan


mengambil tas.


“Farhan, lo mau kemana?” tanya Imel.


“Mau cari buku. Gue cabut dulu ya. Nih kalian bayar nanti kalau kurang bilang sama


gue.” Farhan mengambil uang lima ratus ribu dari dompetnya.


“Siapbos.” Kata Jordan sembari tangannya meraih uang di sampingnya.


“Awas lo Gita.” Batin Imel.


"Udah makan lagi, boleh nambah." Jordan memutar tubuh Imel ke arah meja makan.

__ADS_1


Gita berjalan memberikan jarak seperti permintaan Gilang, Namun Farhan terus bergeser mendekatinya. Sesampai di toko buku Gita mengekor Farhan, dia kemudian menghilang ketika menemukan komik kesukaanya. Dia duduk lalu membacanya di tempat sambil menunggu Farhan memilihnya.


“Lo pasti nggak suka belajar ya?” tanya Farhan sambil duduk di sebelah Gita. Gita


tersenyum malu, tentu saja yang dia bilang benar. Sejak SMA, ah salah sejak sekolah dasar dia sudah ogah-ogahan untuk belajar. Gita sering banget mendadak pusing saat belajar.


Gita tidak terlalau berpikir dengan pelajarannya, yang penting berangkat kesekolah ketemu sahabat-sahabatnya.


“Tebakan gue benar kalau hanya di jawab dengan senyuman.” Farhan tersenyum tangannya mengangkat hendak mengusap kepala Gita. Namun Gita langsung menghindar dengan menundukan kepalanya saat dia sengaja menjatuhkan tasnya lalu dia mengambilnya.


“Gita, setelah ini kita makan yuk.” Ajak Farhan.


“Maaf Kak, Gita masih kenyang. Sebelum kesini Gita udah makan.” Gita menolak dengan halus. Padahal dia sama sekali belum makan. Terakhir makan sarapan pemberian


Gilang. Dia sengaja tidak makan karena mau makan bareng bersama Gilang.


“Baikalah kapan-kapan saja kita makan bareng, sekarang lo mau kemana?” tanya Farhan.


“Apa Kak Farhan sudah selesai mencari bukunya?” tanya Gita.


“Iya sudah.”


“Kalau begitu kita sudah bisa pulang sekarang?”


“Lo mau langsung pulang, nggak main atau nongkrong dulu.” Farhan mencoba mengajak pergi Gita.


"Nggak Kak, Gita langsung pulang aja." Gita kekeh untuk pulang.


“Nggak usah Kak, makasi Gita nanti balik bareng Raka sama yang lain. Lagian takut ngerepotin Kak Farhan." Katanya.


Farhan mengangguk, dia tidak mau memaksa Gita. Dia mencoba untuk mengikuti kemauannya.


Gita tersenyum saat melihat Gilang yang sudah berdiri menyender di mobilnya, “Kak,


Gita duluan ya.” Katanya sambil lari sebelum mendengar jawaban Farhan.


Gita langsung memeluk Gilang, “Kok sudah datang.” Katanya.


“Kamu kenapa dekat-dekat sama dia. Kan aku sudah bilang kasih jarak.” Gilang bukannya menjawab pertanyaan Gilang justru memarahinya karena tidak menurut ucapanya.


“Pacarku sayang... bukan Gita yang nggak ngasih jarak. Dia saja yang terus mendekati Gita.” Gita memberikan pembelaan.


“Ya sudah buruan naik.” Gilang membukakan pintu untuk Gita.


“Makasih, ganteng.” Kata Kita sambil nyegir. Gilang hanya tersenyum lalu menutup pintu.


Farhan menatap Gilang dengan penuh kekesalan, dia merasa lebih dulu kenal sama Gita kenapa dia yang mendapatkannya.


“Ya begitulah kalau perempuan gatel, baru saja pergi sama lo udah pergi lagi sama

__ADS_1


cowok lain. Atau jangan-jangan dia perempuan panggilan lagi.” Imel mengompori


Farhan.


Farhan hanya melirik sekilas, lalu pergi begitu saja tidak memberikan


tanggapan kepada Imel.


“Han..tunggu.” Imel berlari mengejar Farhan.


Di mobil Gita merasa aneh karena Gilang melihat dia dengan tatapan aneh. Dia


menjadi takut, Gilang tidak seperti waktu nganteri kuliah, sekarang dia terlihat seram.


“Kenapa Kak Gilang melihat Gita seperti itu?”


“Tadi kalian ngapain saja?” Gilang mulai mengintrogasi Gita.


“Cuma jalan sambil membeli buku.” Ujarnya.


“Apa dia memegang tangan lo?” Gilang takut ke toko buku hanya di jadikan trik Farhan


agar bisa memegang tangan Gita, dan adegan romantis yang sering terjadi di toko


buku.


“Tidak, Kak Farhan memilih buku Gita membaca komik di kursi.” Jawab Gita dengan jujur.


“Baguslah, awas saja sampai berani berpegangan tangan atau menyentuh kamu. Bakalan tinggal nama dia.” Jawab Gilang dengan garang.


“Kak, kok serem sih. Nggak boleh begitu dosa lagian merugikan kak Gilang sendiri. Kak Gilang percaya saja Gita nggak mungkin macam-macam.” Gita memegang tangan


Gilang.


“Hhmm.” Gilang mencium tangan Gita.


“Kita mau kemana?” tanya Gita mengalihkan topik pembicaraan.


“Nanti kamu juga tahu.” Gilang merahasiakan tempat kemana dia membawa Gita.


“Ih.. main rahasia-rahasiaan segala.” Gita manyun. Dia membuka sedikit jendelanya


hingga terkena ada angin masuk yang menerpa wajahnya.


“Sepertinya Gita familiar sama jalanan ini.” Ujarnya.


“Harusnya sih begitu.” Jawab Gilang dengan mata yang masih fokus mengemudi.


“Ah... jalan ke rumah Kak Gilang kan.” Gita menutup jendelanya lalu memutarkan tubunya mengarah ke Gilang.

__ADS_1


“Yap.. pinter sekali. Sudah lama kan kamu nggak datang ke rumah.” Katanya.


“Iya.. lama banget.” Ujarnya.


__ADS_2