
Gita pergi ke rumah Raka untuk menemui tante dan omnya, dia mau bicara dari hati ke
hati. Menurutnya dia juga berhak atas Raka.
“Tante Marina...Om...” Panggil Gita sambil membuka pintu. Gita mengecek rumah Raka
yang terasa sangat sepi, seperti rumah tak berpenghuni.
“Mbak Gita, cari Mas Raka?” tanya pembantu Raka.
“Bukan, Tante Marina ada Bik?”
“Ada di kamar, tuan juga ada.”
“Bisa minta tolog panggilin om atau tante ya Bik?”
“Baik Mbak, sebentar ya.”
Gita duduk di sofa sembari melihat foto-foto lama Marina dan mamanya beserta saudara yang lain. Di foto remaja itu keluarga besarnya sangat bahagia, dan
tampak sederhana. Namun sekarang kumpul keluarga setahun sekali pun jarang. Kesibukan mereka membuat lupa akan adanya keluarga.
“Gita, kemarin kamu buru-buru pulang tante cariin kamu.” Kata Marina sambil berjalan ke sofa. Dia duduk di sebelah Gita.
“Iya tante, kemarin di suruh ada tugas yang mendadak di kumpulkan.” Gita beralasan.
“Kamu mau minum atau makan apa biar di bikinin bibik.”
“Nggak usah tante, Gita baru saja selesai makan langsung kesini.” Kata Gita.
“Em.. ada perlukah sama tante?” Tanya Marina sambil menatap Gita serius.
“Iya tante. Sebenarnya tidak hanya sama tante tapi Om Faisal juga.” Kata Gita.
“Sudah bicara saja sama tante nggak usah sama Om Faisal. Tidak penting, dia juga
sedang sibuk sama cewek-cewek.” Kata Marina.
“Hey.. jangan fitnah di depan anak-anak.” Faisal yang sedang menuruni tangga tidak
terima di bilang sibuk dengan perempuan.
“Siang Om.” Gita menyambut tangan Faisal lalu menciumnya. Dia menyela perdebatan Marina dan Faisal.
“Apanya yang fitnah, memang kenyataanya kamu gonta-ganti pasangan.” Kata Marina sinis.
“Jagamulut kamu, yang ganti pasangan itu bukannya kamu sendiri. Orang kita belum
cerai kok sudah menikah. Mana punya anak lagi, jangan-jangan kalian kamu pergi
waktu itu sudah hamil.” Tuduh Faisal.
“Enak saja bicara kamu..”
“Om..tante...” Gita melerai perdebatan Faisal dan juga Marina setelah dia tertegum mendengarkan pembicaraan Marina dan Faisal yang membuatnya berpikir aneh-aneh.
__ADS_1
“Hah..maaf Gita, tante nggak bisa diam kalau dekat sama suami yang tidak setia ini.”
“Sok menjadi korban, padahal pemain handal.” Kata Faisal dengan senyuman mengejek.
“Tante, Om.. please dengarin Gita ngomong dulu.” Kata Gita lagi, mereka berdua terus
berdebat.
“Baiklah, kamu mau ngomog apa?” tanya Faisal.
“Ini soal Raka Om, Tante.”
“Ada apa dengan dia?”
“Kenapa tante mau bawa Raka pergi, dia masih kuliah.”
“Gita, soal kuliah Raka kamu nggak perlu pikirkan. Tante akan carikan universitas yang lebih baik dari yang sekarang. Biar Raka mendapatkan kehidupan yang layak,
tidak seperti papanya yang..”
"Yang apa?! kamu mengajak Raka tinggal bersama kamu itu mau menunjukan keburukan kamu."
"Lebih baik dia tinggal sama aku dengan keluarga yang baik-baik saja, daripada tinggal sama ibu tiri yang belum tentu menyayanginya."
“Tante sama Om tidak tinggal bersama?"
"Tentu saja tidak, kami sudah punya kehidupan masing-masing." Jawab Marina.
Gita semakin yakin untuk tidak melepaskan Raka, jika dia tahu pasti akan sangat terluka.
"Tante sama Om tidak bisa menbawa Raka pergi." kata Gita.
“Raka sudah tumbuh bersama dengan Gita. Dan teman-temannya juga disini apa tante
tidak kepikiran bagaimana nanti Raka di tempat yang baru. Bagaimana kalau
nanti Raka kesepian?”
Marina menghela napas panjang, “Gita, tante tahu kamu sangat memikirkan Raka. Tapi sudah waktunya sekarang tante yang memikirkan Raka. Dia akan baik-baik saja
dengan kehidupan barunya.”
“Benar Gita, kamu tidak perlu mencemaskan Raka. Raka akan aman, bahagia kalau tinggal sama Om.”
“Sama kamu, mana ada Raka itu akan tinggal sama aku dan keluarga baru aku. Kamu jangan berharap bisa membawa anakku.”
“Anak kamu juga anak aku jangan egois kamu.”
“Tante..Om... cukup. Raka akan baik-baik saja jika kalian tidak kembali kesini dan menemui Raka. Raka sudah bahagia bersama keluarga Gita, pacarnya dan juga teman-temanya. Lebih baik tante sama om membiarkan Raka disini.”
“Gita kami ini orang tuanya, kami berak membawa Raka kemana kami pergi. Kamu jangan berusaha memisahkan kami lagi.” Kata Faisal.
“Gita tidak memisahkan Om, tapi kenapa Om sama Tante ambil Raka dari Gita sekarang.
Kenapa tidak sejak kecil. Apa om sama tante pernah berpikir sedikit bagaimana dulu pas waktu Raka sakit, atau Raka sedang bahagia. Dimana waktu itu kalian. Di tambah kalian sekarang juga tidak bersama apa tante sama om tidak memikirkan perasaan Raka?" Gita berbicara panjang lebar demi mempertahanan Raka.
__ADS_1
“Cukup Gita, jangan terlalu mencampuri urusan keluarga Om. Kamu masih terlaku kecil untuk memahami kehidupan."
“Gita tidak akan mencampuri masala om sama tante, Gita kesini hanya memohon agar Raka tidak di bawa pergi.”
“Tidak Gita, tante tetap akan membawa Raka bersama tante. Sekarang kamu pulang saja, tante tidak mau mendengarnya lagi." Marina menyuruh Gita pergi.
"Tapi Tante..."
"Gita pulang sekarang, atau tante akan marah sama kamu." Bentak Marina.
"Kamu bisa bicara pelan nggak sama anak-anak, tingkah kamu seperti ini kok mau membawa Raka."
"Diam kamu Faisal."
Perdebatan pun di mulai lagi, Gita menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia ingin bernegosiasi agar Raka tidak di ajak pindah. Namun yang dia hanya melihat pertengkaran Marina dan Faisal.
Di depan pintu Gita berpapasan dengan Raka, Gita nyelonong saja tanpa menyapa
Raka.
“Ta..” panggil Raka dan Gita pun menghentikan langkah kakinya.
“Maafin gue, karena nggak jujur sama lo dari awal tentang kepergian gue ini. Ini tidak mendadak sebulan kemarin mama telpon mau mejemput aku.”
Gita membalikan badan lalu mendekati Raka, “Dan lo menerimanya?”
“Tentu saja, sudah lama gue tidak bertemu dengan mereka. Kapan lagi gue mendapatkan kesempatan tinggal bareng mereka. Selama ini gue selalu iri melihat lo, Kak Qila dan juga Kak Genta yang bisa bermanja. Sedangkan gue..”
“Raka, mama nggak pernah membedakan kita. Mama juga sayang sama kamu.”
“Iya, tapi mereka buka orang tua kandung aku, itu beda Gita.”
“Nggak Raka, nggak ada yang beda. Kalau memang beda mama nggak akan mungkin merawat lo sampai sekarang. Mama nggak akan pernah mencemaskan kamu sampai setiap malam tidak bisa tidur gara-gara memikirkan lo.”
Raka mengacak-acak rambutnya, dia mulai gemas dengan Gita yang tak kunjung mengerti dengan perasaannya sekarang.
“Raka, kamu tidak akan tinggal dengan mereka berdua. Melainkan memilih di antara om sama tante. Karena mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Mama kamu juga sudah menikah lagi dan memiliki kehidupan yang baru, keluarga baru. Apa lo
masih mau berada di dalam orang-orang asing yang tidak lo kenal.”
“Gita cukup!” bentak Raka membuak Gita kaget.
“Ta.. kita saudara dan tinggal sudah
lama tapi bukan berarti lo bisa mengatur gue seenak hati lo. Gue juga butuh orang tua kandung lo, dan gue nggak terima lo mengatakan seperti itu sama gue. Lebih baik lo sekarang pulang dan jangan ganggu gue lagi.”
"Raka, gue seperti ini karena gue sayang dan peduli sama lo."
“Gue tahu lo sayang sama gue, tapi bukan begini caranya. Dengan liciknya lo menuduh
mama gue yaitu tante lo sendiri melakukan hal memalukan ini. Gue benar-benar
kecewa sama lo.” Raka pergi meninggalkan Gita, bahkan Raka menutup keras-keras
pintunya.
__ADS_1
Gita berjalan meninggalkan rumah Raka sambil menangis, dia tidak menyangka Raka
bakalan membentaknya dan juga tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan