Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Hari Libur


__ADS_3

Gita pagi-pagi sudah dandan cantik


hendak pergi sama Gilang, mereka kan menghabiskan waktu libur untuk pergi


berdua. Gita meminta kepada Gilang hari ini berduaan dari pagi sampai malam


tiba. Hanya berdua tidak mau ada yang lain. “Mau kemana nih anak mama udah


cantik banget?” tanya Wanda.


“Kencan dong ma, sudah lama banget nggak


main sama Kak Gilang.” Kata Gita.


“Ok deh, anak mama kan sudah besar jadi


weekendnya sama pacar bukan sama mama dan papa lagi.” Kata Wanda.


“Kan Gita memberikan kesempatan buat


mama sama papa pacaran lagi dan nggak ada yang ganggu” Gita merenges. Dia


mencium tangan mamanya lalu mencium keningnya.


“Kamu tuh bisa saja.”


“Gita pergi dulu ya ma.” Kata Gita.


“Iya hati-hati.”


Gita menuju  rumah Gilang diantar sama sopirnya, dia sudah


tidak sabar bertemu dengan Gilang.  Gita


bergegas turun setelah sampai di depan rumah Gilang.


“Eh mantu mama sudah datang.” Sambut


Rima yang sedang menyirami tanaman.


“Ma.” Gita meraih tangan Rima lalu


menciumnya. “Kak Gilang mana Ma?” tanya Gita.


“Masih tidur tuh di kamar, sana


bangunin.” Kata Rima.


“Gita ke atas ya Ma.” Gita minta izin.


“Iya.”


Gita mendorong pintu kamar Gilang pelan,


Gita menghela napas panjang saat melihat kamar Gilang yang masih gelap. Dia


masuk lalu membuka tirai lebar-lebar agar cahaya matahari menyinari dirinya dan


cepat bangun.


“Masih nggak bangun juga, katanya mau


pergi pagi-pagi” Keluh Gita lalu berjalan mendekati Gilang.


Gita duduk di samping Gilang, melihat


wajahnya yang sangat lelah membuat Gita enggan untuk membangunkannya. Dia tidak


tega, apa lagi melihat kamar Gilang yang masih berantakan ada laptop dan


beberapa laporan yang berceceran di meja membuat Gita menyimpulkan kalau Gilang


semalam lembur.


Gita mengusap wajah Gilang, dia jadi


teringan saat karyawan itu bertanya bagaimana Gita bisa mencintai Gilang


setelah beberapa kali menolaknya.


Gilang mengulurkan tangan kepada Gita


yang sedang ngumpet karena dia terlambat masuk ke sekolah. Gita menolak dan


siap untuk pergi namun dengan sengaja Gilang memanggil Pak Rudi membuat dia


tidak bisa berkutik dan mengikuti semua keinginan Gilang dan juga menyanggupi


ajakan untuk dinner.


Gita tersenyum dengan licik, dia ingin


mempermalukan Gilang dengan dia memesan banyak makanan yang mahal agar Gilang tidak


bisa membayarnya. Sayangnya gagal karena Gilang sangat tajir jangankan


makanannya restaurannya saja bisa dia beli. Karena cara pertama gagal dia


memakan dengan cara yang tidak biasa yaitu dia pesan beberapa porsi makanan dan


memakan dengan cara sangat berbeda dengan perempuan biasanya.


“Hoooekkk...!!! Gita sengaja sendawa


keras agar Gilang ilfil tapi nyatanya itu tidak mempengaruhinya.


Berbagai cara dia lakukan tapi tetap


saja tidak berhasil, sampai suatu saat dia pernah mendengar ucapannya sama


Raka.


“Kenapa lo nggak berhenti mengejar Gita.


Dia jelas-jelas menolak lo dan sudah menyukai orang lain.”


“Gue akan berhenti ketika Tuhan sudah


berkata waktunya berhenti, dan sekarang ini tinggal doa siapa yang paling kuat


gue yang meminta dia dekat, atau do’a Gita yang ingin jauh dari gue. Lihat saja  siapa yang akan menyerah lebih dulu. Gue


karena penolakannya, atau Gita yang akan menyerah karena ketulusan gue.”  Jawab Gilang dengan penuh keyakinan.


Pernyataan itu membuat Gita bergetar, dia


yang merasa jauh dari kata cantik dan  cewek impian itu bisa membuat Gilang yang notabennya cowok keren dan


populer jatuh hati padanya.


Meskipun hatinya sudah mulai bergetar


namun dia masih saja belum menanggapi dengan serius perasaanya, dia mulai merasa


kehilangan Gilang saat dia dekat dengan Qila. Semua perhatiannya seakan sirna


bahkan dia tidak memperdulikannya di saat dia ingin mulai mendekatinya.


Gita sempat hancur, dan menyalahkan diri


sendiri yang begitu bodoh lebih memilih Devan daripada memilih Gilang.  Namun semua sudah  terlambat dan tinggal penyesalan.


“Kalau ada kesempatan kedua, gue bakalan


menerima lo menjadi pacar gue. Dan gue akan mencintai lo sampai maut memisahkan


kita.” Gita mengaitkan kedua tangannya, dia menadahkan kepalanya ke atas


sembari melihat bintang yang berkelipan di langit.


Gita seperti mendapatkan keajaiban saat


do’a terkabul, dengan Raka menyarankan pelatihan pacaran. Gita sedikit menahan


diri agar tidak dikatakan hanya menjadikan Gilang pelampiasannya.


“Hah.. kenapa jadi mengenang masa lalu


itu. Itu memang sangat bodoh.” Gita berdiri. Dia menaruh tas dan melepas


jaketnya. Dia mulai merapikan kamar Gilang yang sangat berantakan.


Gita merapikan dengan sangat pelan-pelan


agar tidak membangunkan Gilang. Gita tersenyum melihat wallpaper di laptop


Gilang yaitu foto mereka masih SMA mana dia masih terlihat gendut.


“Bukanya ini foto pertama kali yang kita


ambil.” Kata Gita sambil tersenyum.


Setelah selesai merapikan kamar Gilang,


Gita kembali turun pergi ke dapur. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk Gilang.


“Gita, kamu ngapain ke sini?” tanya


Rima.


“Mau buatin sarapan Kak Gilang.”  Gita mengambil gelas panjang untuk membuat


susu hangat.


“Gilang belum bangun?”


“Belum Ma.” Gita mengeleng kepala.


“Ish.. gimana sih itu bocah. Pacarnya


sudah datang dandan cantik seperti ini kok dia belum bangun.” Kata Rima

__ADS_1


beranjak pergi ke kamar Gilang.


“Ma, biarin saja. Kak Gilang pasti


lembur sampai pagi soalnya banyak berkas berserakan di kamar.” Gita melarang


Rima membangunkan Gilang.


“Baiklah, kamu yang sabar ya ngadepin


Gilangnya. Dia memang seperti itu.” Kata Rima.


“Iya Mama, kalau Gita nggak sabar nggak


akan bertahan sampai selama saat ini.” Gita tersenyum.


“Kamu memang calon mantu mama yang the


best deh.” Kata Rima.


“Gita bawa sarapan ke kamar Kak Gilang


dulu ya Ma, sekalian mau tungguin dia bangun.”  Gita membawa susu putih hangat dan sandwich


buatannya.


 Kali ini dia membuat sarapan untuk Gilang,


biasanya dia terus yang di buatin sama Gilang. Gita menaruh susu dan sandwich


di meja kecil kemudia dia duduk di samping Gilang.


Dia senang melihat wajah Gilang yang


sangat teduh, sangat manis dan imut. Beda kalau saat bangun Gilang terlihat


tampan dan berdemage bahkan kadang terlihat sangat garang kalau di kantor.


“Nggak capek apa cakep tiap hari, nggak


tidur, nggak terjaga sama saja gantengnya.” Puji Gita.


Gita mengelus rambut Gilang kemudian


mengusap wajahnya yang lembut. Gilang membuka matanya perlahan, dan Gita


buru-buru menarik tangannya. Dia menggaruk kepalanya karena salah tingkah.


Gilang tersenyum lalu memejamkan matanya lagi.


“Tidur lagi?” kata Gita.  Dia sedikit membungkukan tubuhnya dan


menggerak-gerakan tangannya di wajah Gilang mengecek Gilang beneran tidur lagi


atau hanya pura-pura.


Gilang dengan cepat langsung menarik


tangan Gita hingga dia jatuh diatas tubuhnya. Gilang memberikan kecupan kecil


di bibir Gita lalu menarik ke atas tempat tidur. Dia memeluk erat Gita, dan


matanya kembali terpejam. Gilang masih sangat ngantuk, pukul lima pagi dia baru


selesai menyelesaikan pekerjaan kantornya.


“Kak Gilang jangan begini, nanti kalau


mama lihat gimana?” Gita panik.


“Biarin saja, mama juga nggak akan ke


atas.” Kata Gilang dengan santainya.


Jantung Gita berdegup sangat kencang,


suhu tubuhnya memanas.


“Kak...” rengek Gita agar Gilang


melepaskannya.


“Ssst... diam jangan berisik, nanti mama


naik kesini. Diam sebentar biarkan gue memeluk kamu.” Gilang mencium pelipis


Gita.


Napas Gilang mulai teratu, dia terlelap


lagi sambil memeluk Gita, Gita memutar tubuhnya sampai berhadapan dengan


Gilang.


“Kenapa aku bisa sangat jatuh cinta sama


kamu, dan semua yang ada padamu itu sangat indah. Alis yang melengkung indah,


bibir Gilang bergantian dengan tangannya. Gita memeluk Gilang erat, dia masuk


di dalam dada gilang yang sangat bidang.


“kamu sangat wangi dan cantik pagi ini.”


Bisik Gilang.


“Tentu saja, aku kan sudah mandi


memangnya kamu masih bau jigong.” Kata Gita.


“Meskipun belum mandi kamu tetap bilang


aku tampan kan.” Kata Gilang sembari sedikit membuka matanya.


“Kapan aku mengatakannnya, kamu pasti


sedang mengigau.” Gita tidak mau mengakuinnya.


“Oiya, Alis yang melengkung indah,


hidung mancung dan bibir yang sangat lembut. Kamu sangat tampan mau tidur


ataupun terjaga apa itu juga mimpi?” tanya Gilang sembari menatap Gita semakin


lekat.


“Tentu saja kamu bermimpi.”


“Aaah..”


Gilang menarik Gita semakin dekat,


jantung Gita semakin tidak karuan tangannya berkeringat. Gilang mendekatkan


wajahnya, hidungnya sudah menyentuh hidung Gita. Bibir Gilang dan Gita sedikit


lagi menempel.


“Gilang..! Gita...!”  Panggil Rima.  Gita panik, dia menundukan kepalanya masuk ke selimut Gilang.


“Gilang kamu masih saja tidur, dimana


Gita?” Tanya Rima.


“Di kamar mandi Ma.” Tunjuk Gilang.  Gilang juga deg-degan hampir saja dia ketahuan


mamanya.


“Kamu buruan bangun, kasihan Gita terus


kamu tinggal tidur.” Kata Rima sambil menutup pintu kamarnya.


“Iya Mama.”


Gilang mengehela napas panjang, Gita


menurunkan selimutnya perlahan.


“Apa mama sudah pergi?” tanya Gita.


“Iya sudah.” Jawab Gilang.


Gita langsung keluar dari selimut dan


juga menjauh dari Gilang, wajah merona karena malu.


“Sayang.”


“Iya.” Gita tidak mau melihat ke arah


Gilang. Gilang beranjak lalu memeluk Gita dari belakang.


“Bisa kita tidur lagi, aku masih


ngantuk.” Kata Gilang pelan.


“Ya kamu tidur saja lagi.”


“Nanti mama ngomel-ngomel lagi kalau aku


tidur lagi.”


“Biar nanti aku yang bilang , pasti mama


akan ngerti.” Kata Gita.


Gilang memutar tubuh Gita, dia ingin


mencium Gita sebelum dia kembali tidur. Gita sudah memejamkan matanya, dan...


“Gilang!” Rima kembali memanggil Gilang

__ADS_1


dan membuka pintu, Gita dengan cepat mendorong Gilang hingga dia jatuh ke


kasur.


“Ya ampun Gilang masih saja kamu itu


malas-malasan. Untung mama naik kalau nggak kamu pasti buat Gita kesusahan


bangunin kamu.” Rima marah-marah.


“Mama, kenapa berisik dan sangat


mengganggu pagi-pagi. Biarkan anakmu ini senang sedikit.” Gilang kesal karena


gagal mencium Gita kedua kalinya.


“Mama nggak akan ngomel kalau kamu nggak


cuekin Gita, kasian dia kesini pagi-pagi sudah siapin makanan, beresin kamar,


kamu masih saja di tinggal tidur. Buruan mandi!” Rima mendorong Gilang masuk


kamar mandi.


“Dasar Mama.” Gerutu Gilang.


“Gita jangan di biasakan Gilang itu


tidur terus, nanti kebiasaan kamunya di tinggal tidur terus.” Kata Rima.


“Iya Ma.”


“Wajah kamu kok merah begitu apa sakit?”


Rima memegang kening Gita.


“Nggak ma, Gita baik-baik sana mungkin


terkena sinar matahari jadi sedikit memerah.” Gita mencari alasan, dan


untungnya lumayan tepat bukan hal konyol.


“Syukurlah, mama takut kalau kamu sampai


demam.Takutnya kamu kecapean karena lembur terus. Mama bakalan marahin Gilang


kalau kamu sampai kecapean.”


“Ma, mama tenang saja Gita nggak apa-apa


kok, jangan cemas. Kak Gilang snagat memperhatikan Gita jadi mama jangan cemas.”


Kata Gita.


“Bagus deh, mama suka dengarnya. Tapi


kamu jangan belain dan tutup-tutupi dari mama kalau memang Gilang itu bikin


kamu kesusahan. Mama nggak terima menantu mama di bikin capek.” Kata Rima.


Gita memeluk Rima, dia sangat senang


memiliki calon mertua yang sayang banget sama dirinya. Meskipun dulu Gita


sempat marah karena Rima menginginkan dirinya pisah namun dia bersukur dengan


apa yang dia lakukan.


“Makasih ya Ma. Mama sayang banget sama


Gita padahalkan Gita bukan siapa-siapanya mama.”


“Bukan siapa-siapanya gimana, kamu itu


calon mantu mama yang sangat mama sayangi.”


“Dan mama calon mertua yang sangat Gita


sayangi.”


“Kapan kamu mau menikah sama Gilang.”


Tanya Rima.


“Menikah?” Gita terkejut dengan


permintaan Rima.


“Iya menikah, mama kan juga mau menimang


cucu dari kalian. Kalian sudah lama pacaran masa ya nggak mau menikah.” Kata


Rima.


“Gita belum kepikiran menikah Ma, lagian


kakak Gita juga belum mau menikah jadi ya gantian. Biar Kakak Gita dulu sama


Kak Andini.”


“Baiklah, padahal mama sudah tidak sabar


tinggal satu rumah sama Mama.”


Rima pergi setelah mengungkapkan


perasaanya, dia yang ingin segera meminangkan Gita untuk Gilang. Sepeninggalan


Rima, Gita merapikan tempat tidur dia melipat selimutnya.


Gilang keluar kamar mandi dengan


santainya menggunakan handuk setengah badan, Gita sedikit berterik lalu menutup


wajahnya dengan kedua tangannya. Namun Dia memberikan sela sedikit untuk


mengintip tubuh Gilang yang sixpack.


“Kamu kenapa sih?”


“Ihh.. kamu itu tidak sopan, telanjang


dada di depan gadis.” Kata Gita.


“Kamu juga biasanya melihat oppa-oppa


korea kamu itu.”


“Itu beda konteks, kalau oppa-oppa korea


itu tidak bisa di gapai kalau kamu kan bisa di gapai.” Kata Gita.


Gilang tersenyum jahil, mendengar itu


justru dia sengaja mendekati Gita ingin menggodanya.


“Seperti itu.” Kata Gilang.


“Kamu jangan medekat, nanti aku tidak


hati aku meleh tubuhku meleyot.” Celoteh Gita.


“Oiya..” semakin di larang Gilang


semakin mendekati Gita.


“Aahhhhh... “Gilang memegangi dadanya


pura-pura kesakitan. Gita membuka wajahnya, dia bingung mau menyentuh dada


Gilang yang bertelanjang dada.


“Ah..aduh Gimana nih.” Gita panik, dia


mau pegang dada Gilang tapi dia tidak pakai baju. Tapi kalau tidak di pegang


takutnya Gilang semakin kenapa-kenapa.


“Kak Gilang mana yang sakit?” Gita


memegang dada Gilang.


“Yang sakit hatiku.” Ujar Gilang sambil


tertawa karena berhasi membuat Gita panik.


“Kamu ya bercandanya nggak lucu.” Gita


merengut, dia melipat tangannya di dada lalu duduk di sofa.


“Bercanda sayang, jangan ngambek ya.”


Gilang duduk di sebelah Gita, tapi Gita membuang muka.


“Memamngnya seperti itu bagus di bercandaain.”


Gita ngomel.


“Iya deh maaf, nggak bakalan begitu lagi


maaf ya.” Kata Gilang.


“Buruan ganti baju nanti sakit beneran.”


Gita makin ngomel sama Gilang.


“Iya sayang, udah deh


ngomelnya.” Gilang bergegas gantti baju sebelum Gita ngambek dan pulang gara-gara


keisengannya.

__ADS_1


__ADS_2