
Gita pagi-pagi sudah dandan cantik
hendak pergi sama Gilang, mereka kan menghabiskan waktu libur untuk pergi
berdua. Gita meminta kepada Gilang hari ini berduaan dari pagi sampai malam
tiba. Hanya berdua tidak mau ada yang lain. “Mau kemana nih anak mama udah
cantik banget?” tanya Wanda.
“Kencan dong ma, sudah lama banget nggak
main sama Kak Gilang.” Kata Gita.
“Ok deh, anak mama kan sudah besar jadi
weekendnya sama pacar bukan sama mama dan papa lagi.” Kata Wanda.
“Kan Gita memberikan kesempatan buat
mama sama papa pacaran lagi dan nggak ada yang ganggu” Gita merenges. Dia
mencium tangan mamanya lalu mencium keningnya.
“Kamu tuh bisa saja.”
“Gita pergi dulu ya ma.” Kata Gita.
“Iya hati-hati.”
Gita menuju rumah Gilang diantar sama sopirnya, dia sudah
tidak sabar bertemu dengan Gilang. Gita
bergegas turun setelah sampai di depan rumah Gilang.
“Eh mantu mama sudah datang.” Sambut
Rima yang sedang menyirami tanaman.
“Ma.” Gita meraih tangan Rima lalu
menciumnya. “Kak Gilang mana Ma?” tanya Gita.
“Masih tidur tuh di kamar, sana
bangunin.” Kata Rima.
“Gita ke atas ya Ma.” Gita minta izin.
“Iya.”
Gita mendorong pintu kamar Gilang pelan,
Gita menghela napas panjang saat melihat kamar Gilang yang masih gelap. Dia
masuk lalu membuka tirai lebar-lebar agar cahaya matahari menyinari dirinya dan
cepat bangun.
“Masih nggak bangun juga, katanya mau
pergi pagi-pagi” Keluh Gita lalu berjalan mendekati Gilang.
Gita duduk di samping Gilang, melihat
wajahnya yang sangat lelah membuat Gita enggan untuk membangunkannya. Dia tidak
tega, apa lagi melihat kamar Gilang yang masih berantakan ada laptop dan
beberapa laporan yang berceceran di meja membuat Gita menyimpulkan kalau Gilang
semalam lembur.
Gita mengusap wajah Gilang, dia jadi
teringan saat karyawan itu bertanya bagaimana Gita bisa mencintai Gilang
setelah beberapa kali menolaknya.
Gilang mengulurkan tangan kepada Gita
yang sedang ngumpet karena dia terlambat masuk ke sekolah. Gita menolak dan
siap untuk pergi namun dengan sengaja Gilang memanggil Pak Rudi membuat dia
tidak bisa berkutik dan mengikuti semua keinginan Gilang dan juga menyanggupi
ajakan untuk dinner.
Gita tersenyum dengan licik, dia ingin
mempermalukan Gilang dengan dia memesan banyak makanan yang mahal agar Gilang tidak
bisa membayarnya. Sayangnya gagal karena Gilang sangat tajir jangankan
makanannya restaurannya saja bisa dia beli. Karena cara pertama gagal dia
memakan dengan cara yang tidak biasa yaitu dia pesan beberapa porsi makanan dan
memakan dengan cara sangat berbeda dengan perempuan biasanya.
“Hoooekkk...!!! Gita sengaja sendawa
keras agar Gilang ilfil tapi nyatanya itu tidak mempengaruhinya.
Berbagai cara dia lakukan tapi tetap
saja tidak berhasil, sampai suatu saat dia pernah mendengar ucapannya sama
Raka.
“Kenapa lo nggak berhenti mengejar Gita.
Dia jelas-jelas menolak lo dan sudah menyukai orang lain.”
“Gue akan berhenti ketika Tuhan sudah
berkata waktunya berhenti, dan sekarang ini tinggal doa siapa yang paling kuat
gue yang meminta dia dekat, atau do’a Gita yang ingin jauh dari gue. Lihat saja siapa yang akan menyerah lebih dulu. Gue
karena penolakannya, atau Gita yang akan menyerah karena ketulusan gue.” Jawab Gilang dengan penuh keyakinan.
Pernyataan itu membuat Gita bergetar, dia
yang merasa jauh dari kata cantik dan cewek impian itu bisa membuat Gilang yang notabennya cowok keren dan
populer jatuh hati padanya.
Meskipun hatinya sudah mulai bergetar
namun dia masih saja belum menanggapi dengan serius perasaanya, dia mulai merasa
kehilangan Gilang saat dia dekat dengan Qila. Semua perhatiannya seakan sirna
bahkan dia tidak memperdulikannya di saat dia ingin mulai mendekatinya.
Gita sempat hancur, dan menyalahkan diri
sendiri yang begitu bodoh lebih memilih Devan daripada memilih Gilang. Namun semua sudah terlambat dan tinggal penyesalan.
“Kalau ada kesempatan kedua, gue bakalan
menerima lo menjadi pacar gue. Dan gue akan mencintai lo sampai maut memisahkan
kita.” Gita mengaitkan kedua tangannya, dia menadahkan kepalanya ke atas
sembari melihat bintang yang berkelipan di langit.
Gita seperti mendapatkan keajaiban saat
do’a terkabul, dengan Raka menyarankan pelatihan pacaran. Gita sedikit menahan
diri agar tidak dikatakan hanya menjadikan Gilang pelampiasannya.
“Hah.. kenapa jadi mengenang masa lalu
itu. Itu memang sangat bodoh.” Gita berdiri. Dia menaruh tas dan melepas
jaketnya. Dia mulai merapikan kamar Gilang yang sangat berantakan.
Gita merapikan dengan sangat pelan-pelan
agar tidak membangunkan Gilang. Gita tersenyum melihat wallpaper di laptop
Gilang yaitu foto mereka masih SMA mana dia masih terlihat gendut.
“Bukanya ini foto pertama kali yang kita
ambil.” Kata Gita sambil tersenyum.
Setelah selesai merapikan kamar Gilang,
Gita kembali turun pergi ke dapur. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk Gilang.
“Gita, kamu ngapain ke sini?” tanya
Rima.
“Mau buatin sarapan Kak Gilang.” Gita mengambil gelas panjang untuk membuat
susu hangat.
“Gilang belum bangun?”
“Belum Ma.” Gita mengeleng kepala.
“Ish.. gimana sih itu bocah. Pacarnya
sudah datang dandan cantik seperti ini kok dia belum bangun.” Kata Rima
__ADS_1
beranjak pergi ke kamar Gilang.
“Ma, biarin saja. Kak Gilang pasti
lembur sampai pagi soalnya banyak berkas berserakan di kamar.” Gita melarang
Rima membangunkan Gilang.
“Baiklah, kamu yang sabar ya ngadepin
Gilangnya. Dia memang seperti itu.” Kata Rima.
“Iya Mama, kalau Gita nggak sabar nggak
akan bertahan sampai selama saat ini.” Gita tersenyum.
“Kamu memang calon mantu mama yang the
best deh.” Kata Rima.
“Gita bawa sarapan ke kamar Kak Gilang
dulu ya Ma, sekalian mau tungguin dia bangun.” Gita membawa susu putih hangat dan sandwich
buatannya.
Kali ini dia membuat sarapan untuk Gilang,
biasanya dia terus yang di buatin sama Gilang. Gita menaruh susu dan sandwich
di meja kecil kemudia dia duduk di samping Gilang.
Dia senang melihat wajah Gilang yang
sangat teduh, sangat manis dan imut. Beda kalau saat bangun Gilang terlihat
tampan dan berdemage bahkan kadang terlihat sangat garang kalau di kantor.
“Nggak capek apa cakep tiap hari, nggak
tidur, nggak terjaga sama saja gantengnya.” Puji Gita.
Gita mengelus rambut Gilang kemudian
mengusap wajahnya yang lembut. Gilang membuka matanya perlahan, dan Gita
buru-buru menarik tangannya. Dia menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
Gilang tersenyum lalu memejamkan matanya lagi.
“Tidur lagi?” kata Gita. Dia sedikit membungkukan tubuhnya dan
menggerak-gerakan tangannya di wajah Gilang mengecek Gilang beneran tidur lagi
atau hanya pura-pura.
Gilang dengan cepat langsung menarik
tangan Gita hingga dia jatuh diatas tubuhnya. Gilang memberikan kecupan kecil
di bibir Gita lalu menarik ke atas tempat tidur. Dia memeluk erat Gita, dan
matanya kembali terpejam. Gilang masih sangat ngantuk, pukul lima pagi dia baru
selesai menyelesaikan pekerjaan kantornya.
“Kak Gilang jangan begini, nanti kalau
mama lihat gimana?” Gita panik.
“Biarin saja, mama juga nggak akan ke
atas.” Kata Gilang dengan santainya.
Jantung Gita berdegup sangat kencang,
suhu tubuhnya memanas.
“Kak...” rengek Gita agar Gilang
melepaskannya.
“Ssst... diam jangan berisik, nanti mama
naik kesini. Diam sebentar biarkan gue memeluk kamu.” Gilang mencium pelipis
Gita.
Napas Gilang mulai teratu, dia terlelap
lagi sambil memeluk Gita, Gita memutar tubuhnya sampai berhadapan dengan
Gilang.
“Kenapa aku bisa sangat jatuh cinta sama
kamu, dan semua yang ada padamu itu sangat indah. Alis yang melengkung indah,
bibir Gilang bergantian dengan tangannya. Gita memeluk Gilang erat, dia masuk
di dalam dada gilang yang sangat bidang.
“kamu sangat wangi dan cantik pagi ini.”
Bisik Gilang.
“Tentu saja, aku kan sudah mandi
memangnya kamu masih bau jigong.” Kata Gita.
“Meskipun belum mandi kamu tetap bilang
aku tampan kan.” Kata Gilang sembari sedikit membuka matanya.
“Kapan aku mengatakannnya, kamu pasti
sedang mengigau.” Gita tidak mau mengakuinnya.
“Oiya, Alis yang melengkung indah,
hidung mancung dan bibir yang sangat lembut. Kamu sangat tampan mau tidur
ataupun terjaga apa itu juga mimpi?” tanya Gilang sembari menatap Gita semakin
lekat.
“Tentu saja kamu bermimpi.”
“Aaah..”
Gilang menarik Gita semakin dekat,
jantung Gita semakin tidak karuan tangannya berkeringat. Gilang mendekatkan
wajahnya, hidungnya sudah menyentuh hidung Gita. Bibir Gilang dan Gita sedikit
lagi menempel.
“Gilang..! Gita...!” Panggil Rima. Gita panik, dia menundukan kepalanya masuk ke selimut Gilang.
“Gilang kamu masih saja tidur, dimana
Gita?” Tanya Rima.
“Di kamar mandi Ma.” Tunjuk Gilang. Gilang juga deg-degan hampir saja dia ketahuan
mamanya.
“Kamu buruan bangun, kasihan Gita terus
kamu tinggal tidur.” Kata Rima sambil menutup pintu kamarnya.
“Iya Mama.”
Gilang mengehela napas panjang, Gita
menurunkan selimutnya perlahan.
“Apa mama sudah pergi?” tanya Gita.
“Iya sudah.” Jawab Gilang.
Gita langsung keluar dari selimut dan
juga menjauh dari Gilang, wajah merona karena malu.
“Sayang.”
“Iya.” Gita tidak mau melihat ke arah
Gilang. Gilang beranjak lalu memeluk Gita dari belakang.
“Bisa kita tidur lagi, aku masih
ngantuk.” Kata Gilang pelan.
“Ya kamu tidur saja lagi.”
“Nanti mama ngomel-ngomel lagi kalau aku
tidur lagi.”
“Biar nanti aku yang bilang , pasti mama
akan ngerti.” Kata Gita.
Gilang memutar tubuh Gita, dia ingin
mencium Gita sebelum dia kembali tidur. Gita sudah memejamkan matanya, dan...
“Gilang!” Rima kembali memanggil Gilang
__ADS_1
dan membuka pintu, Gita dengan cepat mendorong Gilang hingga dia jatuh ke
kasur.
“Ya ampun Gilang masih saja kamu itu
malas-malasan. Untung mama naik kalau nggak kamu pasti buat Gita kesusahan
bangunin kamu.” Rima marah-marah.
“Mama, kenapa berisik dan sangat
mengganggu pagi-pagi. Biarkan anakmu ini senang sedikit.” Gilang kesal karena
gagal mencium Gita kedua kalinya.
“Mama nggak akan ngomel kalau kamu nggak
cuekin Gita, kasian dia kesini pagi-pagi sudah siapin makanan, beresin kamar,
kamu masih saja di tinggal tidur. Buruan mandi!” Rima mendorong Gilang masuk
kamar mandi.
“Dasar Mama.” Gerutu Gilang.
“Gita jangan di biasakan Gilang itu
tidur terus, nanti kebiasaan kamunya di tinggal tidur terus.” Kata Rima.
“Iya Ma.”
“Wajah kamu kok merah begitu apa sakit?”
Rima memegang kening Gita.
“Nggak ma, Gita baik-baik sana mungkin
terkena sinar matahari jadi sedikit memerah.” Gita mencari alasan, dan
untungnya lumayan tepat bukan hal konyol.
“Syukurlah, mama takut kalau kamu sampai
demam.Takutnya kamu kecapean karena lembur terus. Mama bakalan marahin Gilang
kalau kamu sampai kecapean.”
“Ma, mama tenang saja Gita nggak apa-apa
kok, jangan cemas. Kak Gilang snagat memperhatikan Gita jadi mama jangan cemas.”
Kata Gita.
“Bagus deh, mama suka dengarnya. Tapi
kamu jangan belain dan tutup-tutupi dari mama kalau memang Gilang itu bikin
kamu kesusahan. Mama nggak terima menantu mama di bikin capek.” Kata Rima.
Gita memeluk Rima, dia sangat senang
memiliki calon mertua yang sayang banget sama dirinya. Meskipun dulu Gita
sempat marah karena Rima menginginkan dirinya pisah namun dia bersukur dengan
apa yang dia lakukan.
“Makasih ya Ma. Mama sayang banget sama
Gita padahalkan Gita bukan siapa-siapanya mama.”
“Bukan siapa-siapanya gimana, kamu itu
calon mantu mama yang sangat mama sayangi.”
“Dan mama calon mertua yang sangat Gita
sayangi.”
“Kapan kamu mau menikah sama Gilang.”
Tanya Rima.
“Menikah?” Gita terkejut dengan
permintaan Rima.
“Iya menikah, mama kan juga mau menimang
cucu dari kalian. Kalian sudah lama pacaran masa ya nggak mau menikah.” Kata
Rima.
“Gita belum kepikiran menikah Ma, lagian
kakak Gita juga belum mau menikah jadi ya gantian. Biar Kakak Gita dulu sama
Kak Andini.”
“Baiklah, padahal mama sudah tidak sabar
tinggal satu rumah sama Mama.”
Rima pergi setelah mengungkapkan
perasaanya, dia yang ingin segera meminangkan Gita untuk Gilang. Sepeninggalan
Rima, Gita merapikan tempat tidur dia melipat selimutnya.
Gilang keluar kamar mandi dengan
santainya menggunakan handuk setengah badan, Gita sedikit berterik lalu menutup
wajahnya dengan kedua tangannya. Namun Dia memberikan sela sedikit untuk
mengintip tubuh Gilang yang sixpack.
“Kamu kenapa sih?”
“Ihh.. kamu itu tidak sopan, telanjang
dada di depan gadis.” Kata Gita.
“Kamu juga biasanya melihat oppa-oppa
korea kamu itu.”
“Itu beda konteks, kalau oppa-oppa korea
itu tidak bisa di gapai kalau kamu kan bisa di gapai.” Kata Gita.
Gilang tersenyum jahil, mendengar itu
justru dia sengaja mendekati Gita ingin menggodanya.
“Seperti itu.” Kata Gilang.
“Kamu jangan medekat, nanti aku tidak
hati aku meleh tubuhku meleyot.” Celoteh Gita.
“Oiya..” semakin di larang Gilang
semakin mendekati Gita.
“Aahhhhh... “Gilang memegangi dadanya
pura-pura kesakitan. Gita membuka wajahnya, dia bingung mau menyentuh dada
Gilang yang bertelanjang dada.
“Ah..aduh Gimana nih.” Gita panik, dia
mau pegang dada Gilang tapi dia tidak pakai baju. Tapi kalau tidak di pegang
takutnya Gilang semakin kenapa-kenapa.
“Kak Gilang mana yang sakit?” Gita
memegang dada Gilang.
“Yang sakit hatiku.” Ujar Gilang sambil
tertawa karena berhasi membuat Gita panik.
“Kamu ya bercandanya nggak lucu.” Gita
merengut, dia melipat tangannya di dada lalu duduk di sofa.
“Bercanda sayang, jangan ngambek ya.”
Gilang duduk di sebelah Gita, tapi Gita membuang muka.
“Memamngnya seperti itu bagus di bercandaain.”
Gita ngomel.
“Iya deh maaf, nggak bakalan begitu lagi
maaf ya.” Kata Gilang.
“Buruan ganti baju nanti sakit beneran.”
Gita makin ngomel sama Gilang.
“Iya sayang, udah deh
ngomelnya.” Gilang bergegas gantti baju sebelum Gita ngambek dan pulang gara-gara
keisengannya.
__ADS_1