Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Honeymoon


__ADS_3

Acara sudah selesai semua, Gita pulang ke rumah lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur sebelum mengganti pakaiannya.


"Cukup sekali lah Gita menikah, capek banget mana sakit semua ini kaki Gita. Badan pegal-pegal." keluhnya sembari memijat pundaknya.


"Heh.. memangnya lo kepikiran mau nikah berapa kali. Ngomongnya sika sembaranga " Anita menempeleng kepela Gita.


Memangnya aku salahnya dimana, kan aku bilang cupuk sekali berarti kan selamanya." Ujar Gita.


“Bisa aja ngelesnya.” Kata Anita.


Kedua mata Gita sudah tidak kuat lagi, dia sangat mengantuk dan lelah. Ketika dia


sudah hampir masuk ke dalam mimpi mendengar celetukan Anita membuatnya langsung terbangun dan duduk dengan mata yang terbuka lebar.


“Ngomong apa lo, gue barusan agak samar-samar dengarnya?” Gita meminta Anita mengulang ucapannya.


“Tidur yang nyenyak, nanti malam kan lo pastinya lembur biar tidak capek.” Kata Anita.


“Nanti malam...” Ucapnya pelan. Hari itu juga sudah di depan mata hanya nunggu


beberapa jam sampai malam. Gita menjadi deg-degan karena gugup.


“Kenapa nggak bisa di skip aja sih bagian ini Tuhan, aku benar-benar takut.” Ujarnya.


“Untuk pertama takut sih wajar, tapi kedepanya lo bakal menyukainya dan ke tagihan. Pasti doa lo pun akan berubah.” Anita terkekeh.


“Sok tahu lo, lo aja belum pernah kan. Ah..” Gita menatap Anita dengan tatapan mengintrogasi.


“Heh.. pikiran lo jangan macam-macam. Cepat beberes lo akan di bawa pergi sama Kak Gilang. Menikmati surga dunia yang tiada tara.”


“Cih...dramatis.” Kata Gita sembari beranjak.


Gita berpamitan kepada keluarganya dan juga keluarga mama mertuannya untuk pergi honey moon selama tiga hari.


“Pergi dulu ya Ma.” Gita mencium tangan mamanya, dan mencium pipi dan juga keningnya.


“Iya sayang, kamu hati-hati jangan bertindak aneh-aneh kalau kamu mau kemana-mana minta Gilang temani kamu.” kata Wanda.


“Ma, anak kita itu udah besar bukan anak TK lagi.” kata Seno.


“Iya Ma, Gita kan udah gede.” Gita berpindah mencium tangan Seno lalu memeluknya.


“Ya kan dia suka sekali petakilan, kesana kemari nggak jelas. Kalau hilang bagaimana?”


“Tenang Ma, Gilang udah pasangin magnet kok jadi nanti pasti kembali.” Canda Gilang.


“Kamu bisa aja, jagain anak mama ya Gilang.” Wanda mengusap lengan Gilang.


“Pasti Ma.”


“Mama Rima, Kita pergi dulu ya.”


“Iya sayang hati-hati.”


“Ma, Gilang berangkat ya.”


“Iya sayang, jangan lupa kamu pulang harus cepat bawa cucu buat mama.”


“Ma, mau cucu juga proses. Dan prosesnya bukan sehari langsung jadi.”


“Ya mama tahu.”


Gita, Gilang melambaikan tangan, mereka berdua langsung meluncur meninggalkan rumah menuju hotel yang sudah di pesannya. Hotel bintang lima yang sangat bagus dimana pemandangannya langsung ke pantai.

__ADS_1


Gita sudah sangat menganntuk, namun dia menahannya sampai dia kaget saat dia hendak


masuk ke alam mimpinya lagi.


“Tidur aja sayang, kita masih lumayan lama sampai sana.” Ujar Gilang.


“Nggak ah, aku mau temani kamu.”


“Kamu terlihat capek begitu, udah buruan tidur.”


“Aduhbgimana ya, kalau gue tidur nanti pasti diajak lembur tapi kalau tidak tidur


ngantuk banget lagi. Aduh mata bekerjasamalah jangan tidur dulu disini.” Batin Gita.


“Hey.. kenapa melamun seperti itu?” tanya Gilang.


“Lapar.” Jawabnya tanpa sadar.


“Lapar, kamu mau makan apa?” tanya Gilang.


“Em.. makan?”


“Iya, katanya lapar?”


“Ah iya.. makan apa ya?”


“Mau cari makan saja, apa nati di hotel?” tanya Gilang.


“Dibhotel aja.” Jawabnya dengan ragu-ragu.


Setelah hampir tiga jam perjalanan mereka sampailah di hotel, Gita meregangkan kedua


tangannya. Gilang mengambil koper di bagasi, Gita hanya berdiri dengan


“Ayo sayang.” Gilang menggandeng tangan Gita lalu chek-in. Setelah mendapatkan kunci kamar mereka langsung pergi ke kamarnya.


“Fara sama Raka udah sampai belum ya?” tanya Gita.


“Mungkin sudah, mereka kan lebih dulu datangnya.” Jawab Gilang sambil mendorong pintu kamar.


Gita melepaskan tangan Gilang, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dia sebenarnya ingin berkeliling dulu melihat ruangannya namun karena lelah dia


memilih untuk menundanya.


“Mau tidur dulu apa mandi?” tanya Gilang sambil merebahkan tubuhnya di sebelah Gita.


Gita yang memejamkan kedua matanya langsung mendelik, “Mandi.” Jawabnya dengan cepat.


“Baiklah, kamu atau aku yang mandi dulu?” tanya Gilang.


“Kamu saja yang duluan.” Kata Gita alu beranjak mengambilkan handuk untuk Gilang.


“Ya udah, kamu istirahat.”  Gilang mengusap


rambut Gita.


“Iya sayang.” Gita tersenyum.


“Aduh,


habis ini gue harus bagaimana ya?” Gita tidak bisa istirahat dia mondar-mandir


terus.

__ADS_1


“Fara.” Gita mengambil ponselnya. Tak lama sambungan telpon Fara langsung tersambung.


“Halo Git.. ada apa?”


“Lonudah sampai hotel?” tanya Gita.


“Sudah, sekitar lima belas menit yang lalu. Lo udah sampai?”


“Iya sudah. Apa yang lo lakuin sekarang?”


“Menunggu Raka mandi, baru gue mau mandi.” Kata Fara.


“Apa setelah mandi kalian mau tidur?” tanya Gita pelan-pelan dengan sedikit


memberikan jeda setiap ucapannya.


“Ya.” Kata Fara.


“Lo udah siap?”


“Ah.. benar, kenapa gue bisa lupa. Tidur berarti...” Fara menghentikan ucapannya.


“Ya..”


“Aduh gimana nih gue gugup.”


“Sama gue juga gugup.”


“Sayang, buruan mandi.” Terdengar Raka memanggil Fara.


“Gue matiin dulu, nanti kita ngobrol lagi.”


“OK.”


Gita gugup, dia memainkan tangannya sembari melihat ke arah pintu kamar mandi terus. Kedua matanya kemudian terpaku melihat Gilang yang telanjang setengah badan. Dia melihat dengan sangat jelas tubuh Gilang yang sixtpack. Tubuhnya terlihat sangat kekar, selama ini Gita hanya melihat tubuh Gilang yang di balut dengan


pakaiannya. Sehingga tidak kepikiran jika tubuhnya itu sangat sexy dan bisadi


bilang sempurna menurut versinya.


“Bengong saja.” Ucap Gilang dengan tangan yang masih sibuk mengusap ramburnya dengan handuk.


Gita tersadar lalu memnutupi wajahnya dengan kedua tanganya, “Kak, kenapa nggak pakai baju?” tanya Gita.


“Memangnya kenapa kita kan sudah sah jadi suami istri.” Gilang berjalan mendekati Gita. Jiwa isengnya mulai muncul untuk menggoda Gita.


“Ya..ya..”


“Ya apa?” Gilang membuka tangan Gita dan menempelkan tangan Gita di perutnya. Gita


menelan ludahnya, tubuhnya tiba-tiba memanas. Gita sangat gugup, dia ingin


segera lari namun aroma tubuh Gilang seakan menahannya.


Gilang kemudian mendorong Gita pelan ke kasur dengan tubuhnya yang mengikutinya.


Gilang semakin dekat, Gita semakin bergetar tangannya masih menyentuh perut


sixpack milik Gilang.


“Apa kamu siap?” bisik Gilang di telinga kanan Gita sembari mencium di bagian


belakang telinganya.

__ADS_1


“Sayang, aku mau mandi dulu.” Gita mendorong kuat tubuh Gilang dan berlari menuju kamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi dengan rapat. Dia memegangi dadanya yang terus berdegup kencang.


__ADS_2