Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Vian-Bella


__ADS_3

Vian dan Bella saling diam, mereka canggung karena omongan Gilang dan


teman-temannya.


“Gue pulang dulu ya.” Kata Bella.


“Gue anterin, udah malam bahaya pulang sendiri.” Kata Vian degan nada datar namun


tidak meninggi.


“Nggak usah, nanti  merepotkan.” Ujar Bella.


“Nggak repot, ayo naik.” Vian menggandeng tangan Bella membawa ke mobilnya. Vian


membukakan pintu lalu menyuruh Bella masuk.


“Makasih.” Kata Bella bersamaan dengan pintu mobil yang di tutup.


Vian mengemudikan mobilnya, mereka kembali berdiam diri lagi. Tidak ada percakapan apa-apa. Mereka selalu tidak punya topik pembicaraan saat berdua.


“Vian, bisa ngobrol bebas dan sangat lucu saat sama orang lain, tapi kenapa sama gue


kaku begini. Bahkan jarang sekali ngomong.” Batin Bella dengan sesekali melirik kearah Vian yang fokus mengemudi.


“Ada apa? Lo mau mengatakan sesuatu?” tanya Vian.


“Nggak.” jawab Bella cepat.


“Oiya, tentang omongan teman-teman gue tadi jangan di ambil hati ya. Mereka memang


seperti itu nggak ada akhlaknya.” Vian menjelaskan agar tidak terjadi salah paham


“Iya, gue tahu kok mereka hanya bercanda.” Kata Bella.


“Kalaubgue nggak bercanda gimana?” Vian menoleh ke arah Bella, dia ingin menunjukan


harinya sekarang. Rasanya sudah cukup dia mencari tahu siapa Bella. Seperti apa


sifatnya dan juga lingkungan hidupnya.


“Em..maksud lo?”


“Teman-teman gue emang mengatakan itu dengan candaan, tapi yang mereka katakan itu ada benarnya juga.” Secara tidak langsung Vian menyatakan perasaannya.


“Benar apanya?” Bella memastikan apakan yang di katakan kebenaran adalah perasaan Vian padanya atau apa.


“Lo pasti tahu jelas lah apa pembahasan tadi, gue rasa gue mulai mempunyai perasaan sama lo. Terlalu terburu-buru pasti buat lo. Tapi apa yang gue memang harus mengatakan sekarang sebelum semuanya terlambat.” Kata Vian lagi. Dia


menghentikan mobilnya di depan rumah Bella.


Bella terdiam mendengar pernyataan cinta Vian, dia bingung mengatakannya dan semua diluar dugaannya. Vian yang selalu bertingkah dingin padanya ternyata


menyukainya.


“Nggak apa-apa lo nggak jawab sekarang, masih banyak waktu kan untuk menjawabnya. Turun gih udah sampai rumah lo.” Kata Vian.


“Ah.. iya.” Bella langsung turun dari mobil Vian.


“Makasih.” Ucapan itu tidak berhenti muncul dari Bella karena perlakuannya yang manis hari ini meskipun membuatnya bingung.


“Sama-sama,


lo pikirkan apa yang gue bilang tadi. Gue menunggu jawaban dari lo. Selamat


istirahat.” Kata Vian sembari menutup kaca mobil lalu melajukan mobilnya


meninggalkan rumah Bella.


Bella


masuk ke rumah pelan, dia masih belum percaya kalau Vian yang cuek itu ternyata


memiliki perasaan sama dia.


“Ini


mimpi bukan sih.” Ujarnya sambil duduk di kursi meja riasnya.


“Ah..


tapi kenapa tiba-tiba. Jangan-jangan dia hanya mau mempermainkan gue.” Bella


berpikir negatif dengan Vian yang tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Tidak ada


angin tidak ada hujan, bahkan dia merasa tidak ada pendekatan sama sekali


selama ini. Dia hanya terus berkata ketus padanya.


“Gue


bingung banget, dia memang dingin, cuek tapi juga manis mau membantu gue keluar


masalah. Bahkan membantu menjelaskan sama semua orang kalau aku tidak


sepenuhnya salah.” Ujarnya lagi.


“Bella,


gimana sih sebenarnya perasaan lo.” Bella menundukan kepalanya hingga keningnya


mengenai meja.


“Entahlah.”


Bella berdiri lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


Bella


buru-buru karena sudah kesiangan ke kantor karena semalam tidak bisa tidur di


dia terus memikirkan ucapan yang di katakan Vian. Kata-kata yang terus


mengiyang di telinganya.


“Pagi..”


“Pagii.”


Bella membelalakan matanya saat melihat Vian yang bersender di mobilnya sembari


memasukan kedua tangannya di saku celana.


“Lo


ngapain disini?”


“Jemput


lo.” Vian berdiri tegak berjalan mendekati Bella.


“Em..


kok tiba-tiba, maksud gue kok nggak bilang dulu mau jemput.” Bella mengigit bibir


bawahnya.


“Udah


bilang kok, dan lo bilang ok tuh.” Kata Vian dengan mengerutkan keningnya.


“Oiya,


kapan?” Bella bingung. Dia rasa tidak ada ucapan atau pesan kalau Vian mau


menjemputnya.


“Lo


lupa kan, orang bilang mau kok.”


“Gue


lupa, pas bagian mana ya? Habis nganterin gue kayak juga lo langsung pulang


tanpa ngomong apa-apa. Gue rasa juga nggak ada pesan masuk dari lo.” Jelas


Bella.


“Ah..


berarti gue yang lupa. Berarti kita ketemunya dalam mimpi.” Katanya sambil


mengangguk-anggukkan kepala. Bella melongo, melihat tingkah absurd Vian.


“Ya


udahlah, ayo buruan naik kita udah telat loh ini. Nanti Mas Win bisa


ngamuk-ngamuk sama kita.” Vian membukakakn pintu mobil untuk Bella.


“Ini


benar deh , Vian benar-benar suka sama gue orang sudah pedekate kayak begini.”


Kata Bella.


Seperti


biasa belum ada topik yang bisa di obrolkan sepanjang perjalan ke kantor,


mereka hanya saling mencuri pandang satu sama lain.


“Em..


lebih baik lo turunin gue di dapan pintu saja nggak usah masuk ke parkiran


kantor.” Pinta Bella.


“Kenapa?”


“Nggak


apa-apa.” Bella menggeleng kepala cepat.


“Lo


malu ya pergi bareng gue?” tanya Vian.


“Bukan


malu, cuman gue takut mereka akan berpikir aneh-aneh sama kita.”


“Mereka?


Aneh-aneh gimana?”


“Iya..


pasti mereka mengira kita ini ada hubungan.”


“Kita


kan memang ada hubungan.”


“A..


ada hubungan?”


“Iya,


kita kan teman sekantor. Satu team pula berarti kita kan ada hubungan yaitu


teman.” Vian menjelaskan panjang lebar.


“Tapi..”


“Nggak

__ADS_1


ada tapi, udah turun udah sampi.” Vian turun dari mobil.


“Udah


sampai saja.” Bella turun langsug lari agar tidak ada orang yang melihatnya.


Vian


hanya tersenyum melihat tingkah Bella yang terlihat seperti pencuri saja.


“Pagi.”


Sapa Bella.


“Pagi.”


Vian datang menyusul Bella.


“Pagi


juga.” Jawab serentak dari Win dan yang lainnya.


“Tumben


berangkatnya bisa barengan?” Gita menatap curiga terhadap Bella dan Vian.


“Iini..


ketemu di depan tadi terus barengan deh.” Jawab Bella dengan ketar-ketir.


“Iya,


barengan tadi.” Vian dia langsung duduk kesal saja karena Bella tidak mau


bilang berangkat bareng dirinya justru mengatakan ketemu di depan.


“Ini


kok beda jawaban ketemu didepan apa bareng dari rumah?” tanya Ina.


“Bareng


dari rumahmasing-masing.” Jawab Vian dengan  nada lumayan ketus.


Bella


menoleh ke arah Vian yang dia rasa marah karena dirinya.


“Biasa


aja kali jawabnya , nggak perlu pakai emosi jiwa dan raga.” Kata Ina.


“Lo


kenapa marah-marah sih? PMS ya?” Fara berdiri di samping Vian yang sudah mulai


fokus sama laptopnya.


“Iya


, gue pms gara-gara dari dulu berteman sama lo orang.” Kata Vian.


“Kita


pula yang kena, lo yang punya masalah kita yang disalahin.” Cerocos Gita.


“Ya


karena semua pokok permasalahan tuh  kalian berdua.”


“Nggak


benar ini mah, jangan pada dekat-dekat sama Vian bahaya. Bisa-bisa nanti


dimakan sama dia.” Fara bergidik lalu kembali ke kursinya.


“Ya


udah sana jauh-jauh lo. Gue juga ogah dekat-dekat sama lo pada.”  Vian memakai earphone dan meutar musik yang


lumayan keras.


“Apa


gue salah ya? Tapi kalau aku bilang di jemput pasti satu kantor heboh.” Batin


Bella.


Sepert


rutinitas biasa saat jam makan siang mereka langsung menyerbu kantin, dan team


Winlah paling nomor satu datangnya.


“Vian


duduk sini.” Kata Bella saat Vian mau gabung.


“Git..


geseran kesana dong.” Vian meminta Gita untuk pindah di sebelah Bella.


“Lo


kan bisa duduk disini  Vian.” Jawab Gita


dengan malas. Vian  mendorong Gita agar


dia mau pindah.


“Ish..


nyebelin banget sih lo.” Gita akhirnya pindah meskipun dengan mengomel.


Bella


menghela napas, kini bukan hanya perasaanya tapi memang Vian marah sama


dia pun tidak mau duduk di sebelahnya.


“Bella,


lo kenapa diem saja? Sakit?” tanya Gita sambil memegang kening Bella.


“Nggak


kok, gue nggak apa-apa.”


“Vian,


pasti ini ulah lo ya?” Gita langsung menuduh Vian membuat Bella terdiam.


“Gue


lagi, kenapa sih gue mulu yang salah.” Vian menusuk bakso lalu memasukkan ke


dalam mulut.


“Ya


salah sendiri lo disini cowok sendiri. Lo apain Bella.”


“Ibu


Gita kartini, gue ngapa-ngapain jadi kenapa lo selalu nyalahin gue?”


“Ibu


Gita kartini nggak tuh.... ngarang lo. Semua masalah dan kesalahan yang terjadi


disini itu salah lo.” Fara menyentuh lengan Vian pelan.


“Mas


Win..Mas Nino ajakin gue, please kalau mau pergi gue benar-benar jadi korban


disini.” Keluh Vian.


“Vian


tunggu?” Bella berlari mengejar Vian yang sejak tadi di panggil-panggil tidak


menyaut.


“Ada


apa?” jawabnya malas.


“Lo


marah sama gue?”


“Nggak.”


“Kalau


nggak marah kenapa lo dari tadi gue panggil nggak degerin, di ruangan gue ajak


ngomong nggak jawab. Dan lagi tadi di kantin lo juga nggak mau di sebelah gue.”


“Perasaan


lo saja. Biasanya kan kita juga seperti ini.” Vian membuka pintu mobil  dan langsung menghidupkan mesin.


Tiin..tiin..


Vian mengklakson agar Bella minggir, Bella pun memundurkan kakinya.


“Katanya


nggak marah kok begitu, pergi begitu saja tanpa menawari gue ikut nebeng.”


Bella manyun.


“Sebenarnya


maunya apa sih,  tadi pagi baik banget


sekarang cuek banget. Dasar orang aneh.” Bella mengacak-acar rambutnya.


Vian


pulang dari kantor langsung ke rumah Gilang, dia  mengetuk pintu dengan lumayan keras setelah


di bukakan langsung nyelonong masuk dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


“Bik,


Gilangnya kemana?” tanya Vian.


“Mas


Gilang ada di atas, mau bibik panggilin?” tanya BikSiti.


“Boleh


Bik, bilang saja ada  aku disini.”


“Siap


Mas Vian.”


Gilang


menuruni tangga dengan terseyum, karena dia tahu sahabatnya itu pasti sedang


galau berat.

__ADS_1


“Hai.”


Gilang menepuk pundak Vian.


“Hai


Lang, ganggu nggak nih gue?” tanya Vian.


“Nggak,


gue lagi nggak ngapa-ngapain.”


“Gita?”


“Biasa,


lagi nonton drakor. Dia mau turun kalau udah kelar nanggung katanya.”


“Lebih


baik juga nggak turun deh.”


Gilang


terkekeh, “Kenapa emang, ada masalah apa?”


“Entahlah,


ini masalah atau bukan gue juga bingung.” Vian menghela napas dia dibuat


bingung sama dirinya sendiri.


“Masalah


Bella?” Gilang menebak.


“Iya.


Gue bingung sama dia jelas-jelas nih dia itu tadi berangkat bareng gue. Eh


ditanya yang lain katanya ketemu tuh di depan.” Vian cerita dengan kesal.


“Jadi


masalahnya?”


“Ya


kenapa dia nggak jujur saja, memangnya kenapa kalau sampai yang lain tahu. Dia


bilang juga kalau nggak mau yang lain berpikir aneh-aneh tentang kita. Memang


kalau aku berhubungan sama dia aneh begitu?”  Vian kesalnya menjadi.


“Vian,


coba deh cueknya lo di kurangin. Dan lo ikutin saja permainanya jangan langsung


putus asa begini dong.”


“Maksud


lo ikutin permainananya?”


“Iya,


mungkin nih dia kaget kalo lo tiba-tiba baik sama dia, jemput atau yang lain


kan dia jadi berpikir kenapa lo deketin dia jelas-jelas selama ini lo cuek


banget sama dia.”


“Tapi


kan gue kemarin udah menyatakan perasaan sama dia. Harusnya nih dia pahamlah


kenapa gue melakukan itu.”


“Vian,


cewek itu tidak se simple pikiran kita. Lo tahu kan betapa ribetnya gue dulu


untuk dapetin Gita.  Banyak sekali yang


dipikirkan, dipertimbangkan sama perempuan sampai dia akhirnya mau memutuskan


menerima atau nggak.” Gilang memberikan pengertian sama Vian.


“Benar


perempuan emang ribet, tinggal jawab ya atau tidak saja repot banget.” Ujar


Vian.


“Vian,


lo jangan kendor lah kejar Bellanya. Siapa tahu nih dia hanya menguji


perjuangan lo. Seberapa besar lo menginginkan dia. Cewek itu mau melihat


segigih apa dia mendapatkan lo.”


“Huh!


Ribet banget deh ah. Mager gue jadinya.”


“Vian,


semakin ribet perempuan yang lo dapatkan semakin spesial. Percaya deh sama


gue.” Gilang menepuk pundak Vian.


“Terus,


sekarang gue harus gimana?”


“Minta


maaf lo sama dia. Lo tadi bikin Bella kesal kan?”


“Lo


tahu dari mana? Gita pasti yang ngadu.”


“Tentu


saja, semau hal yang terjadi pasti dia akan mengadu sama gue. Bahkan nih dia


beli makan salah sambal saja cerita sama gue.” Jelas Gilang.


“Bagus


deh, kalau nggak ada yang di tutup-tutupin. Gita memang orang yang sangat


cerewet tapi dia sangat perhatian dan baik. Jangan sekali-kali sakiti dia ya


Lang. Jaga dia dan selalu buat bahagia.”


“Tentunya,


kita akan selalu bersama-sama tumbuh bersama dan menua bersama.”


“Siip,


kang bucin beraksi.”


“Lo


juga akan melakukanya setelah mendapatkan perempuan yang benar-benar tepat.”


“Hay..


Vian. Ada apa nih datang kesini?” Seru Gita sambil menuruni tangga Gita duduk


di samping Gilang.


“Kabar


nggak baik, lo terus salahin gue mulu.” Kata Vian.


“Gue


salah apaan?”


“Aish,


sok berlagak ngak punya salah lo. Tahu nggak Lang, dia sama Fara baru datang


beberapa menit ke kantor udah bikin onar. Mas Win sama Mbak Ina di buat perang


sama mereka berdua.” Giliran Vian yang ngadu sama Gilang.


“Eh..


bukan gue kali. Emang mereka saja yang mau perang sendiri. Lagian orang saling


suka kok ribet banget tinggal terima ya pacaran, tunangan, dan menikah.” Jawab


Gita enteng.


“Enteng


sekali efribadeh ngomongnya. Nggak sadar lo bikin Gilang balik jungkir nggak


karuan buat mendapatkan jawaban iya dari lo.”


“Emang


iya sayang?” Gita menoleh ke arah Gilang.


Gilang


mengangguk, “Sayang, bahkan kamu lebih ribet dari perempuan yang lainnya.


Jangankan dulu waktu masih negjar aku sekarang yang sudah memiliki kamu saja


kadang suka dibikin jungkir balik.” Kata Gilang.


“Oiya...


memangnya aku kenapa?”


“Lo


lihat kan Vian, jadi lo jangan menyerah kalau baru segitu.” Kata Gilang.


“OK,


makasih Gilang.”


“Sayang,


aku kenapa sih?” Gita masih menanyakan kenapa dirinya masih membuat Gilang


jungkir balik.


“Kamu


cantik sayang.” Gilang mencium bibir Gita.


“Pulang


lah gue, daripada disini jadi nyamuk. Penonton kebucinan kalian.” Vian beranjak


dari sofa dan berpamitan pulang.


“Buru-buru amat Vian, lo belum di buatin minum juga loh.”

__ADS_1


“Gue udah dari tadi, lo nya aja yang sibuk sama oppa-oppa korea.”


“Heheh, ya gimana lagi lo datangnya tanggung.”


__ADS_2