
Vian dan Bella saling diam, mereka canggung karena omongan Gilang dan
teman-temannya.
“Gue pulang dulu ya.” Kata Bella.
“Gue anterin, udah malam bahaya pulang sendiri.” Kata Vian degan nada datar namun
tidak meninggi.
“Nggak usah, nanti merepotkan.” Ujar Bella.
“Nggak repot, ayo naik.” Vian menggandeng tangan Bella membawa ke mobilnya. Vian
membukakan pintu lalu menyuruh Bella masuk.
“Makasih.” Kata Bella bersamaan dengan pintu mobil yang di tutup.
Vian mengemudikan mobilnya, mereka kembali berdiam diri lagi. Tidak ada percakapan apa-apa. Mereka selalu tidak punya topik pembicaraan saat berdua.
“Vian, bisa ngobrol bebas dan sangat lucu saat sama orang lain, tapi kenapa sama gue
kaku begini. Bahkan jarang sekali ngomong.” Batin Bella dengan sesekali melirik kearah Vian yang fokus mengemudi.
“Ada apa? Lo mau mengatakan sesuatu?” tanya Vian.
“Nggak.” jawab Bella cepat.
“Oiya, tentang omongan teman-teman gue tadi jangan di ambil hati ya. Mereka memang
seperti itu nggak ada akhlaknya.” Vian menjelaskan agar tidak terjadi salah paham
“Iya, gue tahu kok mereka hanya bercanda.” Kata Bella.
“Kalaubgue nggak bercanda gimana?” Vian menoleh ke arah Bella, dia ingin menunjukan
harinya sekarang. Rasanya sudah cukup dia mencari tahu siapa Bella. Seperti apa
sifatnya dan juga lingkungan hidupnya.
“Em..maksud lo?”
“Teman-teman gue emang mengatakan itu dengan candaan, tapi yang mereka katakan itu ada benarnya juga.” Secara tidak langsung Vian menyatakan perasaannya.
“Benar apanya?” Bella memastikan apakan yang di katakan kebenaran adalah perasaan Vian padanya atau apa.
“Lo pasti tahu jelas lah apa pembahasan tadi, gue rasa gue mulai mempunyai perasaan sama lo. Terlalu terburu-buru pasti buat lo. Tapi apa yang gue memang harus mengatakan sekarang sebelum semuanya terlambat.” Kata Vian lagi. Dia
menghentikan mobilnya di depan rumah Bella.
Bella terdiam mendengar pernyataan cinta Vian, dia bingung mengatakannya dan semua diluar dugaannya. Vian yang selalu bertingkah dingin padanya ternyata
menyukainya.
“Nggak apa-apa lo nggak jawab sekarang, masih banyak waktu kan untuk menjawabnya. Turun gih udah sampai rumah lo.” Kata Vian.
“Ah.. iya.” Bella langsung turun dari mobil Vian.
“Makasih.” Ucapan itu tidak berhenti muncul dari Bella karena perlakuannya yang manis hari ini meskipun membuatnya bingung.
“Sama-sama,
lo pikirkan apa yang gue bilang tadi. Gue menunggu jawaban dari lo. Selamat
istirahat.” Kata Vian sembari menutup kaca mobil lalu melajukan mobilnya
meninggalkan rumah Bella.
Bella
masuk ke rumah pelan, dia masih belum percaya kalau Vian yang cuek itu ternyata
memiliki perasaan sama dia.
“Ini
mimpi bukan sih.” Ujarnya sambil duduk di kursi meja riasnya.
“Ah..
tapi kenapa tiba-tiba. Jangan-jangan dia hanya mau mempermainkan gue.” Bella
berpikir negatif dengan Vian yang tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Tidak ada
angin tidak ada hujan, bahkan dia merasa tidak ada pendekatan sama sekali
selama ini. Dia hanya terus berkata ketus padanya.
“Gue
bingung banget, dia memang dingin, cuek tapi juga manis mau membantu gue keluar
masalah. Bahkan membantu menjelaskan sama semua orang kalau aku tidak
sepenuhnya salah.” Ujarnya lagi.
“Bella,
gimana sih sebenarnya perasaan lo.” Bella menundukan kepalanya hingga keningnya
mengenai meja.
“Entahlah.”
Bella berdiri lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Bella
buru-buru karena sudah kesiangan ke kantor karena semalam tidak bisa tidur di
dia terus memikirkan ucapan yang di katakan Vian. Kata-kata yang terus
mengiyang di telinganya.
“Pagi..”
“Pagii.”
Bella membelalakan matanya saat melihat Vian yang bersender di mobilnya sembari
memasukan kedua tangannya di saku celana.
“Lo
ngapain disini?”
“Jemput
lo.” Vian berdiri tegak berjalan mendekati Bella.
“Em..
kok tiba-tiba, maksud gue kok nggak bilang dulu mau jemput.” Bella mengigit bibir
bawahnya.
“Udah
bilang kok, dan lo bilang ok tuh.” Kata Vian dengan mengerutkan keningnya.
“Oiya,
kapan?” Bella bingung. Dia rasa tidak ada ucapan atau pesan kalau Vian mau
menjemputnya.
“Lo
lupa kan, orang bilang mau kok.”
“Gue
lupa, pas bagian mana ya? Habis nganterin gue kayak juga lo langsung pulang
tanpa ngomong apa-apa. Gue rasa juga nggak ada pesan masuk dari lo.” Jelas
Bella.
“Ah..
berarti gue yang lupa. Berarti kita ketemunya dalam mimpi.” Katanya sambil
mengangguk-anggukkan kepala. Bella melongo, melihat tingkah absurd Vian.
“Ya
udahlah, ayo buruan naik kita udah telat loh ini. Nanti Mas Win bisa
ngamuk-ngamuk sama kita.” Vian membukakakn pintu mobil untuk Bella.
“Ini
benar deh , Vian benar-benar suka sama gue orang sudah pedekate kayak begini.”
Kata Bella.
Seperti
biasa belum ada topik yang bisa di obrolkan sepanjang perjalan ke kantor,
mereka hanya saling mencuri pandang satu sama lain.
“Em..
lebih baik lo turunin gue di dapan pintu saja nggak usah masuk ke parkiran
kantor.” Pinta Bella.
“Kenapa?”
“Nggak
apa-apa.” Bella menggeleng kepala cepat.
“Lo
malu ya pergi bareng gue?” tanya Vian.
“Bukan
malu, cuman gue takut mereka akan berpikir aneh-aneh sama kita.”
“Mereka?
Aneh-aneh gimana?”
“Iya..
pasti mereka mengira kita ini ada hubungan.”
“Kita
kan memang ada hubungan.”
“A..
ada hubungan?”
“Iya,
kita kan teman sekantor. Satu team pula berarti kita kan ada hubungan yaitu
teman.” Vian menjelaskan panjang lebar.
“Tapi..”
“Nggak
__ADS_1
ada tapi, udah turun udah sampi.” Vian turun dari mobil.
“Udah
sampai saja.” Bella turun langsug lari agar tidak ada orang yang melihatnya.
Vian
hanya tersenyum melihat tingkah Bella yang terlihat seperti pencuri saja.
“Pagi.”
Sapa Bella.
“Pagi.”
Vian datang menyusul Bella.
“Pagi
juga.” Jawab serentak dari Win dan yang lainnya.
“Tumben
berangkatnya bisa barengan?” Gita menatap curiga terhadap Bella dan Vian.
“Iini..
ketemu di depan tadi terus barengan deh.” Jawab Bella dengan ketar-ketir.
“Iya,
barengan tadi.” Vian dia langsung duduk kesal saja karena Bella tidak mau
bilang berangkat bareng dirinya justru mengatakan ketemu di depan.
“Ini
kok beda jawaban ketemu didepan apa bareng dari rumah?” tanya Ina.
“Bareng
dari rumahmasing-masing.” Jawab Vian dengan nada lumayan ketus.
Bella
menoleh ke arah Vian yang dia rasa marah karena dirinya.
“Biasa
aja kali jawabnya , nggak perlu pakai emosi jiwa dan raga.” Kata Ina.
“Lo
kenapa marah-marah sih? PMS ya?” Fara berdiri di samping Vian yang sudah mulai
fokus sama laptopnya.
“Iya
, gue pms gara-gara dari dulu berteman sama lo orang.” Kata Vian.
“Kita
pula yang kena, lo yang punya masalah kita yang disalahin.” Cerocos Gita.
“Ya
karena semua pokok permasalahan tuh kalian berdua.”
“Nggak
benar ini mah, jangan pada dekat-dekat sama Vian bahaya. Bisa-bisa nanti
dimakan sama dia.” Fara bergidik lalu kembali ke kursinya.
“Ya
udah sana jauh-jauh lo. Gue juga ogah dekat-dekat sama lo pada.” Vian memakai earphone dan meutar musik yang
lumayan keras.
“Apa
gue salah ya? Tapi kalau aku bilang di jemput pasti satu kantor heboh.” Batin
Bella.
Sepert
rutinitas biasa saat jam makan siang mereka langsung menyerbu kantin, dan team
Winlah paling nomor satu datangnya.
“Vian
duduk sini.” Kata Bella saat Vian mau gabung.
“Git..
geseran kesana dong.” Vian meminta Gita untuk pindah di sebelah Bella.
“Lo
kan bisa duduk disini Vian.” Jawab Gita
dengan malas. Vian mendorong Gita agar
dia mau pindah.
“Ish..
nyebelin banget sih lo.” Gita akhirnya pindah meskipun dengan mengomel.
Bella
menghela napas, kini bukan hanya perasaanya tapi memang Vian marah sama
dia pun tidak mau duduk di sebelahnya.
“Bella,
lo kenapa diem saja? Sakit?” tanya Gita sambil memegang kening Bella.
“Nggak
kok, gue nggak apa-apa.”
“Vian,
pasti ini ulah lo ya?” Gita langsung menuduh Vian membuat Bella terdiam.
“Gue
lagi, kenapa sih gue mulu yang salah.” Vian menusuk bakso lalu memasukkan ke
dalam mulut.
“Ya
salah sendiri lo disini cowok sendiri. Lo apain Bella.”
“Ibu
Gita kartini, gue ngapa-ngapain jadi kenapa lo selalu nyalahin gue?”
“Ibu
Gita kartini nggak tuh.... ngarang lo. Semua masalah dan kesalahan yang terjadi
disini itu salah lo.” Fara menyentuh lengan Vian pelan.
“Mas
Win..Mas Nino ajakin gue, please kalau mau pergi gue benar-benar jadi korban
disini.” Keluh Vian.
“Vian
tunggu?” Bella berlari mengejar Vian yang sejak tadi di panggil-panggil tidak
menyaut.
“Ada
apa?” jawabnya malas.
“Lo
marah sama gue?”
“Nggak.”
“Kalau
nggak marah kenapa lo dari tadi gue panggil nggak degerin, di ruangan gue ajak
ngomong nggak jawab. Dan lagi tadi di kantin lo juga nggak mau di sebelah gue.”
“Perasaan
lo saja. Biasanya kan kita juga seperti ini.” Vian membuka pintu mobil dan langsung menghidupkan mesin.
Tiin..tiin..
Vian mengklakson agar Bella minggir, Bella pun memundurkan kakinya.
“Katanya
nggak marah kok begitu, pergi begitu saja tanpa menawari gue ikut nebeng.”
Bella manyun.
“Sebenarnya
maunya apa sih, tadi pagi baik banget
sekarang cuek banget. Dasar orang aneh.” Bella mengacak-acar rambutnya.
Vian
pulang dari kantor langsung ke rumah Gilang, dia mengetuk pintu dengan lumayan keras setelah
di bukakan langsung nyelonong masuk dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Bik,
Gilangnya kemana?” tanya Vian.
“Mas
Gilang ada di atas, mau bibik panggilin?” tanya BikSiti.
“Boleh
Bik, bilang saja ada aku disini.”
“Siap
Mas Vian.”
Gilang
menuruni tangga dengan terseyum, karena dia tahu sahabatnya itu pasti sedang
galau berat.
__ADS_1
“Hai.”
Gilang menepuk pundak Vian.
“Hai
Lang, ganggu nggak nih gue?” tanya Vian.
“Nggak,
gue lagi nggak ngapa-ngapain.”
“Gita?”
“Biasa,
lagi nonton drakor. Dia mau turun kalau udah kelar nanggung katanya.”
“Lebih
baik juga nggak turun deh.”
Gilang
terkekeh, “Kenapa emang, ada masalah apa?”
“Entahlah,
ini masalah atau bukan gue juga bingung.” Vian menghela napas dia dibuat
bingung sama dirinya sendiri.
“Masalah
Bella?” Gilang menebak.
“Iya.
Gue bingung sama dia jelas-jelas nih dia itu tadi berangkat bareng gue. Eh
ditanya yang lain katanya ketemu tuh di depan.” Vian cerita dengan kesal.
“Jadi
masalahnya?”
“Ya
kenapa dia nggak jujur saja, memangnya kenapa kalau sampai yang lain tahu. Dia
bilang juga kalau nggak mau yang lain berpikir aneh-aneh tentang kita. Memang
kalau aku berhubungan sama dia aneh begitu?” Vian kesalnya menjadi.
“Vian,
coba deh cueknya lo di kurangin. Dan lo ikutin saja permainanya jangan langsung
putus asa begini dong.”
“Maksud
lo ikutin permainananya?”
“Iya,
mungkin nih dia kaget kalo lo tiba-tiba baik sama dia, jemput atau yang lain
kan dia jadi berpikir kenapa lo deketin dia jelas-jelas selama ini lo cuek
banget sama dia.”
“Tapi
kan gue kemarin udah menyatakan perasaan sama dia. Harusnya nih dia pahamlah
kenapa gue melakukan itu.”
“Vian,
cewek itu tidak se simple pikiran kita. Lo tahu kan betapa ribetnya gue dulu
untuk dapetin Gita. Banyak sekali yang
dipikirkan, dipertimbangkan sama perempuan sampai dia akhirnya mau memutuskan
menerima atau nggak.” Gilang memberikan pengertian sama Vian.
“Benar
perempuan emang ribet, tinggal jawab ya atau tidak saja repot banget.” Ujar
Vian.
“Vian,
lo jangan kendor lah kejar Bellanya. Siapa tahu nih dia hanya menguji
perjuangan lo. Seberapa besar lo menginginkan dia. Cewek itu mau melihat
segigih apa dia mendapatkan lo.”
“Huh!
Ribet banget deh ah. Mager gue jadinya.”
“Vian,
semakin ribet perempuan yang lo dapatkan semakin spesial. Percaya deh sama
gue.” Gilang menepuk pundak Vian.
“Terus,
sekarang gue harus gimana?”
“Minta
maaf lo sama dia. Lo tadi bikin Bella kesal kan?”
“Lo
tahu dari mana? Gita pasti yang ngadu.”
“Tentu
saja, semau hal yang terjadi pasti dia akan mengadu sama gue. Bahkan nih dia
beli makan salah sambal saja cerita sama gue.” Jelas Gilang.
“Bagus
deh, kalau nggak ada yang di tutup-tutupin. Gita memang orang yang sangat
cerewet tapi dia sangat perhatian dan baik. Jangan sekali-kali sakiti dia ya
Lang. Jaga dia dan selalu buat bahagia.”
“Tentunya,
kita akan selalu bersama-sama tumbuh bersama dan menua bersama.”
“Siip,
kang bucin beraksi.”
“Lo
juga akan melakukanya setelah mendapatkan perempuan yang benar-benar tepat.”
“Hay..
Vian. Ada apa nih datang kesini?” Seru Gita sambil menuruni tangga Gita duduk
di samping Gilang.
“Kabar
nggak baik, lo terus salahin gue mulu.” Kata Vian.
“Gue
salah apaan?”
“Aish,
sok berlagak ngak punya salah lo. Tahu nggak Lang, dia sama Fara baru datang
beberapa menit ke kantor udah bikin onar. Mas Win sama Mbak Ina di buat perang
sama mereka berdua.” Giliran Vian yang ngadu sama Gilang.
“Eh..
bukan gue kali. Emang mereka saja yang mau perang sendiri. Lagian orang saling
suka kok ribet banget tinggal terima ya pacaran, tunangan, dan menikah.” Jawab
Gita enteng.
“Enteng
sekali efribadeh ngomongnya. Nggak sadar lo bikin Gilang balik jungkir nggak
karuan buat mendapatkan jawaban iya dari lo.”
“Emang
iya sayang?” Gita menoleh ke arah Gilang.
Gilang
mengangguk, “Sayang, bahkan kamu lebih ribet dari perempuan yang lainnya.
Jangankan dulu waktu masih negjar aku sekarang yang sudah memiliki kamu saja
kadang suka dibikin jungkir balik.” Kata Gilang.
“Oiya...
memangnya aku kenapa?”
“Lo
lihat kan Vian, jadi lo jangan menyerah kalau baru segitu.” Kata Gilang.
“OK,
makasih Gilang.”
“Sayang,
aku kenapa sih?” Gita masih menanyakan kenapa dirinya masih membuat Gilang
jungkir balik.
“Kamu
cantik sayang.” Gilang mencium bibir Gita.
“Pulang
lah gue, daripada disini jadi nyamuk. Penonton kebucinan kalian.” Vian beranjak
dari sofa dan berpamitan pulang.
“Buru-buru amat Vian, lo belum di buatin minum juga loh.”
__ADS_1
“Gue udah dari tadi, lo nya aja yang sibuk sama oppa-oppa korea.”
“Heheh, ya gimana lagi lo datangnya tanggung.”