
Gilang duduk di depan Raka yang duduk santai sambil mengangkat satu kakinya. Sedangkan Gilang semakin panik.
"Raka, lo kok tenang aja sih?" Gilang bingung melihat Raka yang santai meskipun Gita masih ngambek.
"Udah lo tenang aja, bentar lagi juga bakalan baik sendiri." Kata Raka sambil makan gorengan.
"Yakin lo?"
"Iya, kita sudah minta maaf. Jadi biarin aka dia menjadi dingin dulu. Kalau masih marah begini bakalan susah bujuknya." jelas Raka.
"Lo paham banget ya soal Gita, apa benar lo nggak punya perasaan sama dia?" Gilang meragukan Raka kalau nggak jatuh cinta sama Gita setiap hari ketemu.
"Gue udah mati rasa sama dia, lagian sampai kapan pun gue nggak akan mungkin sama Gita. Gue sama dia itu seperti kakak adik jadi nggaka akan ada cinta-cintaan di antara kita. Oiya.. lo katanya mau lupain Gita mau cuek sama dia. Apa lo belum ada rasa sama kakak gue yang cantik itu."
"Nggak semudah itu kali pindah perasaan, gue lebih baik jomblo dulu aja sampai ada yang menggantikan Gita di hati gue. Raka terima kasih udah bantuin gue." Gilang menepuk pundak Raka.
"Ok. Lang ingat jangan bunuh diri dan tetap sehat ye jangan sampai gila." kata Raka sambil tertawa
"Sialan lo, gue nggak selemah itu."
"Bagus...bagus.." Raka manggut-manggut.
"Gue cabut."
"Ok."
Gilang pergi ke kelasnya, "Gilang, mulai sekarang lo harus benar-benar melupakan Gita." gumam Gilang pelan. Kali ini dia benar-benar menyerah. Dia merasa kalau dirinya dekat dengan Gita membuat Gita banyak masalah. Bahkan dia sekarang terlihat sering manyun dan uring-uringan daripada sebelum dirinya mendekatinya.
Gilang memutuskan untuk tidak peduli lagi sama Gita. Dia akan menjadi Gilang yang dulu lagi.
"Lang." Panggil Bayu ragu.
"Ya." jawab Gilang langsung menoleh ke arah belakang.
"Gue mau minta maaf sama lo." Bayu minta maaf dengan nada ragu takut Gilang tidak akan memaafkannya.
Gilang tersenyum, "Kenapa lo minta maaf?"
"Karena gue salah, terlalu ikut campur sama urusan lo."
"Sudah nggak usah dipikirkan, sini duduk sebelah gue. Lo nggak kangen apa duduk sama gue." Gilang menarik tangan Bayu agar duduk di sampingnya.
__ADS_1
Bayu duduk dengan ragu, setelah beberapa hari dia menghindari Gilang. Bahkan sampai pindah tempat duduk.
"Lang, pulang sekolah nongkrong tempat biasa yuk. Lama kita nggak main."
"Ok."
...◇◇◇◇◇...
Gilang dan Bayu langsung cabut setelah bel pulang sekolah berbunyi. Gilang memakai helmnya dan menghidupkan motornya.
"Lang." Bayu menepuk pundak Gilang pelan.
"Ada apa Bay?"
"Tuh Gita, lo nggak mau samperin dia?" Bayu menunjuk Gita yang sedang berada di depan gerbang.
Gilang melihat sebentar lalu memutar motornya, "Ayo buruan naik."
"Lo nggak mau samperin dia?" Bayu bingung. Biasanya dia antusias banget kalau tentang Gita.
"Nggak."
"Kenapa?" tanya Bayu kepo.
"Kenapa sekarang gue malah jadi merasa sedih Gilang nggak dekat lagi sama Gita. Aduh Bay, lu ini gimana sih?" Batin Bayu dalam hati.
"Bay, ayo naik kok malah bengong." Kata Gilang membuyarkan lamunan Bayu.
"Ah.. ok." Bayu langsung naik sambil memakai helmnya.
Kini giliran Gilang yang terdiam tidak kunjung menjalankan motornya. Dia melihat Gita yang sedang ngobrol sama Devan.
"Gilang, lo jangan begini. Lo harus segera melupakannya." Gilang menguatkan dirinya sendiri.
"Lang, lo masih berat ya lepas dari Gita?"
"Nggak juga." Gilang menjalankan motornya lagi.
...◇◇◇◇◇...
"Ta..Ta.. mau sampai kapan sih lo ngambek." Raka menggedor-gedor pintu kamar Gita. Tapi Gita tidak menyahut dia anteng aja di dalam kamar.
__ADS_1
"Ta buka pintu atau gue dobrak nih." Seru Raka.
"Brisik lo, gue nggak mau ngomong sama lo!" teriak Gita.
"Ta jangan gitu dong, kita kan sudah minta maaf." Qila membantu membujuk Gita.
"Kak Qila lagi, baru juga pedekate sudah lupa sama adik sendiri. Gimana kalau udah jadian." Seru Gita.
"Nggak gitu, siapa juga yang pede lkate. Sebenarnya lo itu marah karena di tinggalin apa karena cemburu sih Ta?"
"Idiih.. cemburu apaan?"
"Iya, cemburu karena gue dekat sama Gilang."
"Gue nggak cemburu ya, sebentar lagi Devan juga bakalan tembak gue." Kata Gita pede.
"Ya udah kalau lo nggak mau buka pintu gur keluar dari team basket." ancam Raka.
"Bodo amat!"
"Baiklah, kalau lo emang nggak mau ketemu gue lagi. Gue bakalan balik ke rumah dan pindah sekolah." Raka mencoba mengancam untuk meninggalkan Gita.
"Raka, lo ngomong apaan sih." Qila panik.
"Nggak apa-apa Kak, biar Gita bisa bebas dari gue." Raka pergi ke kamarnya.
"Raka lo bercanda kan?" Qila mengikuti Raka.
Awalnya Raka memang bercanda, namun karena Gita tidak kunjung datang untuk menahannya dia benar-benar pergi.
"Raka, lo bercanda kan?" Qila semakin panik saat Raka mengemsi pakaiannya.
"Nggak Kak, lagian gue kangen banget sama papa dan mama."
"Ih.. lo ya. Lo kan setiap minggu juga selalu pulang."
"Iya, ini kangenny nambah." Raka menggendong tas punggung.
Raka kembali ke kamarnya Gita yang masih tertutup rapat.
"Ta, gue pamit ya. semoga hidup lo bisa lebih tenang setelah nggak ada gue. jaga kesehatan lo jangan makan sembarangan. Kalau lo kangen tinggal datang ke rumah." Raka pamit kemudian berlalu.
__ADS_1
Di dalam kamar Gita tertawa kecil, "Sorry Raka, kali ini gue nggak akan ketipu sama lo."