Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Part Raka


__ADS_3

Raka membukakan pintu mobil untuk Prisil, dia tersenyum manis. Raka membawa Prisil


ke kafe favorit mereka kalau kencan. Dan kafe itu juga pertama kali mereka kenal dan menjadi tempat jadian mereka berdua.


“Kenapa tiba-tiba ngajakin gue kesini?” tanya Prisil.


“Tiba-tiba? apa lo punya janji lain?” Tanya Raka.


“Iya.. gue nanti jam delapan ada janji sama Fanya. Tapi udah gue batalin kok.” Kata


Prisil.


“Sebenarnya kita sudah janjian dua hari yang lalu lo pasti lupa karna terlalu sibuk." Kata Raka.


“Oiya lupa maaf, sibuk belajar soalnya. Kan sebentar lagi kita mau kelulusan dan nyokap


bokap gue maunya nanti gue kuliah di tempat yang bagus.” Kata Prisil. Raka


mengangguk, Prisil sudah terlalu sering mengatakan hal itu.


Raka mengambil ponselnya saat ada pesan masuk banyak sekali, Prisil pun menjadi kepo lalu melihat ke arah layar Raka.


“Gita lagi, selalu saja rese saat kita kencan.” Katanya merengut sambil melipat kedua tangannya.


Raka tersenyum lalu mengusap rambut Prisil, “Namanya juga anak kecil pastilah akan selalu cari kakaknya.” Kata Raka.


“Nggak bisa apa satu hari saja nggak ganggu lo, pergi gitu dari hidup lo. Lo punya


kehidupan sendiri bukan hanya ngurusin dia.” Prisil kesal sekali karena selalu di ganggu Gita.


“Dia hanya meminta gue membelikan makanan saat pulang, apanya yang mengganggu. Oiya gue ingat ada yang gue ingin tanyain sama lo, soal...” Belum selesai Prisil memotong obrolan Raka.


“Pasti soal gue pergi sama cowok di restauran kemarin kan, dia pasti sudah ngadu macam-macam sama lo. Gue nggak ngerti mau gimana lagi sama adik lo itu dia


memaki, menjambak dan menampar gue di tempat umum. Tega sekali dia memperlakukan gue seperti itu.” Prisil nyerocos.


“Pergi sama cowok di restauran?” Raka kaget. “Jadi selama ini lo pergi sama cowok


tanpa ijin sama gue.Dan lo selalu tuntuk gue untuk memberi tahu dengan siapa


saja gue pergi.” Raka tertawa sambil tertawa tidak menyangka paca!r yang sangat dia cintai dan percaya itu mengkhianatinya.


“Bukan begitu, gue bisa jelasin. Dia itu teman sekolah gue Gita pasti salah paham.”

__ADS_1


“Gita..Gita..Gita... lo terus menyalahkan Gita. Asal lo tahu kalau lo tadi nggak ngomong lo pergi sama cowok gue nggak tahu. Gita nggak pernah ngomong apa-apa sama gue.” Kata Gilang sambil menatap tajam Prisil dengan penuh kekecewaan.


Prisil gelagapan, ternyata dia justru mengaku sendiri. Dia pikir Gita sudah ngadu


padanya.


“Dan ini, lo bisa jelaskan?” Raka memutar video yang dia temukan dari galeri Gita.


“Itu..itu... salah paham, nggak seperti yang lo lihat."


“Salah paham apa ? Lo masih mau menyalahkan Gita karena dia merekam ini meskipun gue tahu dia akan merahasiakannya. Gita itu terlalu sayang sama gue sampai menyembunyikan semua ini agar gue nggak sakit hati. Tapi Tuhan memberikan jalan lain dengan menunjukan semua ini sama gue.” Kata Raka.


“Raka dengerin gue dulu..” Prisil memegang tangan Raka.


“Dengarin apa lagi, cerita lo pergi sama cowok-cowok?”


“Semua ini bukan salah gue, tapi salah lo. Lo cuek banget sama gue selalu Gita-Gita.


Nggak ada waktu buat gue, jadi gue mencari mencari kesenangan. Tapi jujur gue hanya main-main sama mereka. Gue cintanya sama lo, hanya lo Raka.”


"Salah Gue ya. Jadi yang selama ini anter jemput, bayarin belanjaan, makan bareng, telponan tiap malam itu setan?! Lo anggap apa gue selama ini." Raka geleng kepala.


"Raka maksud gue bukan begitu, setiap hari lo terus menomor satukan Gita. Dan gue nomor dua kalau gue butuh lo sering lo nggak ada." Prisil masih kekeh dirinya selingkuh bukan sepenuhnya kesalahan dirinya tapi juga Raka.


"Hidup gue itu nggak hanya tentang lo, gue punya kehidupan pribadi. Sekolah, bareng keluarga. Kalau lo mau pacar yang dua puluh empat jam non stop lo pacaran aja sama operator." Ketus Raka.


"Kasar ya, lo sakit hati dengan ucapan gue. Apa lo pikir dengan lo selingkuh sampai lo bercumbu seperti itu. Menurut lo gimana hati dan perasaan gue?"


"Raka gue khilaf, maafin gue."


"Prisil, sebenarnya gue ajak kesini mau membicarakan univesary kita. Tapi lo mengecewakkan gue. Mulai saat ini kita putus, kita sudah tidak ada hubungan lagi." Raka meninggalkan Prisil yang terus menangis.


Sesampai depan pintu Raka berhenti, "Gue sudah pesankan taksi. Lo pulang naik taksi."


"Raka gue nggak mau putus sama lo!" teriak Prisil sambil mengejar Raka. Raka mengabaikan Prisil.


...♡♤♤♤♡...


"Ta, belajar sana. Main hp mulu." kata Qila.


"Gita seharian udah belajar di sekolah masa di rumah suruh belajar lagi. Pusing kepala Gita tahu." Gita nggak mau dia masih asik tiduran di pangkuan Genta dengan tangan kiri memegang kantong kompres perut dan tangan kanannya memainkan ponselnya.


"Ya kan emang di rumah lo harus mengulang biar nilainya bagus. lo nggak mau apa kuliah di tempat gue sama Kak Genta?"

__ADS_1


"Masih lama juga Gita kuliahnya, lagian Gita juga nggak mau satu kampus."


"Kenapa?" tanya Genta.


"Palingan cuma di banding-bandingin sama orang-orang. Itu kakaknya pandai kok adiknya bego. Nggak mau lah." kata Gita.


"Ih.. kok jadi neting begini. Lo harus percaya diri donk." Genta mengelus rambut Gita.


Raka berlari dari luar, "Ta..Gita!" Teriak Raka.


"Apa, gue disini."


"Katanya nggak ada orang di rumah, gue udah buru-buru pulang juga." Katanya sambil menaruh makanan pesanan Gita.


"Ya habis lo lama, gue telpon Kak Genta. Eh Kak Qila nggak lama juga pulang."


"Ya udah tuh pesanannya." kata Raka.


"Makasih."


"Katanya perutnya sakit, kok malah makan makanan pedas." Omel Qila.


"Biarin wek." Gita melet.


Raka mengkode Gita untuk naik ke atas, dia ingin mengobrol.


"Gita ke atas dulu ya." Gita bergegas ke atas mengikuti Raka.


"Ada apa?" tanya Gita setelah sampai di kamar.


"Terima kasih ya." Raka memeluk Gita.


"Terima kasih atas apa? lo kesambet apaan sih?" Gita heran.


"Gue putus sama Prisil."


"Kok bisa?" Gita melepakan pelukan Raka.


"Yah, kita nggak cocok." jawabnya sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Lo baik-baik saja?" Gita mendekati Raka.


"Iya, gue pinjam kamar lo sebentar gue mau tidur dulu." Rara tidur telungkap. Dia memilih tidur agar untuk menahan emosinya.

__ADS_1


Gita perlahan mendekat, dia tidak berani bertanya lebih banyak lagi. Gita melihat luka di jari dan punggunh tangan kanan milik Raka.


"Pasti sakit banget kan hati lo." Katanya sambil duduk melihat lebih dekat lukanya. Gita meletakkan barang yang di bawanya lalu mencari kapas dan obat merah untuk mengobatinya.


__ADS_2