Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Part Vian dan Bella


__ADS_3

Bella berjalan sambil menahan air mata yang hendak menetes, sakit banget mendengar seseorang yang dia cintai. Mengatakan kalau dirinya membuatnya sakit hati. Dia tidak bermaksud melakukannya seperti itu, hanya keadaan yang memang ak bisa terelakan.


“Bella, lo dari mana gue tunggu dari tadi nggak nongol-nongol.” Kata Ina.


“Ada apa Mbak?” tanya Bella.


“Kita mau jengukin Vian, lo nggak tahu dia kecelakaan?” Tanya Nino.


“Tahu, tadi Gita sudah ngabarin gue. Cuman nggak tahu kalau mau pergi sekarang.” Kata Bella menyimpan semua agar dia terlihat biasa saja.


“Ah.. ku kira kalian itu istimewa. Ya udah yuk kita pergi ke sana sekarang.” Ajak Win.


“Boleh nggak kalau gue nggak ikut sekarang, soalnya ada file aku yang belum kelar.” Bella mencoba membuat alasan agar bisa tidak ikut ke rumah sakit. Dia tidak mau membuat Vian sakit hati.


“Nggak boleh begitu, kerjaan bisa nanti. Bos Gilang juga akan memklumi semua ini. Jadi nggak usah khawatir.” Ia meggandeng tangan Bella.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Bella menunduk, dia sudah membayangkan wajah Vian nanti saat menemuinnya.


“Bella, lo sakit atau kenapa kok diam saja sih?” tanya Ina.


“Lo pasti sedih ya karena Vian kecelakaan.” Kata Nino.


“Iya, kaget saja padahal kemarin dia nganterin aku pulang. Kok sekarang udah sampai di rumah sakit.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


“Nganterin lo, apa kalian punya hubungan special?” Ina penasaran.


“Nggak sih, aku sama dia hanya berteman saja. Tapi..” Kata tapi terdengar sangat lirih hanya Ina yang mendegarnya.


“Tapi apa?” tanya Ina.


“Ha?"


“Tadi lo bilang tapi, tapi apa, cinta kan?” Goda Ina.


“Mbak Ina ngaco deh. Kita itu berteman kok beneran tanya saja dia nanti.” Kata Bella.


“Masih saja mau sembunyi-sembunyi, jelas-jelas matanya menyiratkan hal lain.’ Kata Ina pelan.


Mereka semua bergegas ke ruangan Vian, satu persatu masuk dan menyapa Vian. Hanya Bella yang tak kunjng masuk. Dia takut, karena dalang terjadinya kecelakaan adalah dirinya.


“Eh.. kemana si Bella?” tanya Win.


“Tadi di belakang.” Tunjuk Ina. “Eh, kemana dia?” Ina mencari Bella yang tiba-tiba menghilang tidak ada di belakangnya lagi.


“Tadi kesini sama Bella?” tanya Gita.


“Iya, sebentar gue cari keluar.” Ina langsung keluar lagi mencari Bella.


“Bella-Bel.. “ panggil Ina.


“Iya, Mbak.” jawab Bella dengan cepat.


“Lo darimana aja sih tiba-tiba ngilang saja?” tanya Ina.


“Dari toilet Mbak, udah kebelet banget soalnya. Langsung aja, melipir ke sana.” Kata Bella. Dia tidak berbohong kalau dari toilet, tapi dia kesana untuk cuci muka supaya muka sembabnya bukan karena kebelet.


Bella berjalan pelan di belakang Ina, dia tidak berani menatap Vian yang terbaring. Yang ada dia hanya akan merasa semakin bersalah saja. Bella mencuri-curi pandang saat dia ngobrol sama yang lain. Bella memperhatikan luka-luka yang ada di tubuh Vian.


“Kenapa bisa kecelakaan?’ tanya Nino.


“Tadi tidak sengaja ada orang yang lewat, jadi gue banting stir dan yah lo tahu kan akhirnya gue disini.” Jelas Vian.


“Bella bilang lo semalam nganterin pulang, apa dari situ lo kecelakaannya?” tanya Ina.


“Jadi lo kemarin kecelakaan habis nganterin Bella pulang Vian?” Nino mempertegas lagi pertanyaan Ina.


“Iya.” katanya sambil mengangguk.


“Lo ngelamunin Bella pasti, makanya kalau masih kangen stay aja dulu nggak usah pulang daripada akhirnya seperti ini. Kan lo sendiri yang sakit.” Jelas Ina.


“Bella, diam saja lo. Sini lah tanyain gitu.” Nino menarik tangan Bella hingga dia berada di samping Vian.

__ADS_1


Bella semakin tidak bisa berbicara matanya berkaca-kaca, dia ingin sekali memeluk Vian namun semua itu mustahil.


Vian langsung memalingkan muka kea rah Gita, dia pun ngobrol dan bercanda dengan Gita dan yang lain. Dengan jelas Vian mengabaikan Bella.


Gita mengkode yang lain agar keluar dan membiarkan Vian dan Bella berdua untuk ngobrol.


“Vian, gue mau pulang sebentar ya nanti gue kesini lagi. Mama bilangn masakin makanan buat kamu. Gue ambil dulu ya.”


“Okay.”


“Far, yuk.” ajak Gita.


“Bentar ya Vian.” Kata Fara sambil menepuk pundak Vian.


“Nino, file yang ini belum lo kirim ya? Ini bos Gilang wa. Gue telpon dulu ya.” Win beralasan akan menghubungi Gilang.


“Gue kirim e-mail bentar ya di depan ya.” Kata Nino.


“OK.”


“Eh Ina, lo pakai diam disitu. Filenya mana yang lain kok baru dikirim satu.” Nino mengkode Ina agar ikut keluar.


“Ah... iya-iya, sorry lupa gue.” Katanya sambil berjalan mengikuti Nino.


Kini di ruangan itu tinggal mereka berdua, Bella masih berdiri memandangi Vian. Vian memalingkan pandangannya.


“Vian.” Bella memberanikna diri untuk memulai percakapan dulu. Vian tidak menjawab, terlalu sakit untuk berbicara dengan Bella saat ini.


“Gue tahu lo pasti marah dan kecewa sama gue, tapi gue nggak ada maksud sama sekali untuk membuat lo terluka. Gue juga nggak tahu kenapa menjadi seperti ini.” Bella mencoba menjelaskan sama Vian.


“Aku selama ini tidak mengatakan bukan karena gue tega sama lo, tapi karena gue bingung. Gue memang sudah memiliki tunangan tapi sisi lain gue mencintai lo. Gue tidak bisa jika harus kehilangan lo.” Bella mulai menitikan air matanya.


“Kalau memang lo menyuka gue, kenapa lo tidak melepaskannya.” Jawab Vian dengan nada datar.


“Gue juga tidak bisa melakukannya, dia adalah donatur terbesar di panti asuhan. Selain itu banyak sekali hutang budi keluarga gue sama dia.” Kata Bella.


“Kalau begitu lepaskan gue, mari kita saling tak mengenal satu sama lain seperti dulu.” Kata Vian lagi.


“Vian, gue nggak bisa melepaskan lo. Gue sayang sama lo.” Bella memegangi kedua tangan Vian.


“Bukan begitu Vian.” Kata Bella terbata-bata menahan sesaknya dada.


“Terus maksud lo gimana? Jelaskan sama gue, apa mau lo sekarang?” tanya Vian dengan tatapan yang sangat tajam.


Bella diam, dia juga tidak tahu harus bagaimana tapi yang dia mau Vian tetap mencintinya. Dan mereka bisa bersama-sama, menjemputnya lalu mengantar pulang, mengajak makan dan hal-hal lain yang membuatnya bahagia dan merasa dicintai.


“Lo sendiri nggak bisa jawab kan, Bella kita memang dari awal sudah tidak bisa berdekatan, atau menjalin hubungan dari segi berteman ataupun berpasangan. Jadi mulai sekarang anggap saja kita tidak saling mengenal.” Kata Vian.


Ucapannya sudak keputusa akhir dari segalanya. Sudah tidak ada lagi yang bisa di lakukan.


Hanya saling mengiklaskan kalau mereka tidak berjodoh.


Bella mengusap air matanya, “Aku masih berharap ada keajaiban datang ke mari dan menyatukan kita. Aku berharap Tuhan mendengarkan doaku ini.” Ucap Bella yang di amini oleh Vian dalam hati.


...♡♡♡◇◇...


Selepas dari rumah sakit Bella langsung kembali ke rumahnya, dia tidak kuat lagi jika harus ke kantor. Ucapan Vian sangat menohok, dia bingung jika boleh memilih dia pasti akan memilih Vian dari pada Edo.


Dia bisa senang sama Eda karena dialah orang pertama yang au berteman, namun selepas itu dia juga pergi dan hanya sesekali menjenguk itupun tak pasti.


Sedangkan bersama Vian, dia sangat bahagia merasakan sseorang bersamanya dengan sosok yang sangat nyata.


“Gue harus bertindak.” Ucapnya dengan memantapkan pilihan. Dia meutuskan memilih Vian sebagai masa depannya.


Bella mengambil tasnya, dia bergegas pergi ke panti asuhan sebelum Edo kembali lagi ke Surabaya. Dia ingin mengakhiri semuanya saat ini juga.


“Buk…ibuk…” panggil Bella. Sambil lari-lari masuk ke ruangan.


“Ada apa Bel?” Ibu panti keluar dari dapur.


“Kak Edo mana Buk?” tanya Bella

__ADS_1


“Ada di belakang, lagi main sama anak-anak. Ada apa kok panic begitu, ada masalah?” tanya Bella.


“Nggak kok Buk, Bella ke belakang dulu ya Buk.” Kata Bella langsung bergegas menemui Edo.


“Kak Edo..” Panggil Bella.


“Iya, ada apa?” Edo berjalan mendekati Bellla.


Bella mengaturnapasnya yang ngos-ngosan, “Gue mau ngomong saa Kak Edo.”


“Gimana kalau kita cari tempat yang sejuk deat-dekat sini, gue juga ingin mengatakan sesuatu sama lo.” Edo mengajak Bella pergi dari panti asuhan.


Edo mengemudi mobilnya dengan santai, dia mau menikmati moment-moment kebersamaan bersama dengan Bella sebelum menikah.


“Lo mau ngomong apa?” tanya Edo.


“Kak Edo saja dulu.” Bella ingintahu apa sebenarnya yang ingin Edo katakana dengannya.


“Bentar, kita turun dulu yuk ke taman itu kita ngobrol disana.” Kata Edo sembari mencari tempat untuk parkir.


“Iya Kak.” Jawab Bella.


Mereka berdua jalan-jalan sebentar, menikmati suasana yang sagat tenang. Edo mengajak Bella duduk di kursi panjang di pojok taman. Dia juga mebelikan makanna ringan dan minuman.


”Apa yang mau Kak Edo katakana?” Tanya Bella setelah mereka duduk.


“Bella, sebentar lagi kita akan menkah dan hidup bersama. Gue ingin lebih mengenal lo lebih dalam lagi.” Kata Edo.


“Kak, apa Kak Edo yakin akan menikahi Bella?” Bella meyakinkan Edo apa dia benar-benar akan menikahi dirinya.


“Yakin, kenapa?” Edo megerutkan keningnya. Dia merasa tidakenak dengan pertanyaan Bella.


“Kita itu hanya bertemu setahun sekali pun jarang. Apa iya kita akan menikah?”


“Yak arena kita jarang ketemu, makanya sekarang ini aku ingin mengenal lo lebih dalam lagi. Kita harus sering bertemu, makan bareng dan melakukan aktivitas bersama agar kita saling mengenal satu sama lain.”


“Bella, apa lo meragukan ketulusan gue?” Edo menatap Bella yang sejak tadi hanya diam. Wajahnya sama sekali tidak ceria.


“Bella tidak meragukan, hanya saja…” Bella menghentikan ucapannya, dia mengambil napas, agar dia bisa mengatak kata-kata selanjutnya.


“Apa?” Edo sudah tidak sabar.


“Sebelumnya gue mau minta maaf sama Kak Edo, gue akan terlihat jahat dan Egois tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku sudah mencintai orang lain.” Kata Bella dengan hati-hati.


“Maksud lo?” seperti ada jarum kecil yang menusuk-nusuk, meskipun kecil namun membuatnya berdarah dan tersayat.


“Gue ingin membatalkan pertunangan Kita, maafkan Bella Kak Edo.” Bella memegang tangan Edo.


“Membatalkan pertunangan kita?” Edo tertawa ketir. Seperti ada petir yang tiba-tiba menyambar di suasana yang sangat cerah. Seketika hidupnya berubah mendung.


“Iya, Kak. Aku tidak mau membuat meneruskan hubungan ini karena hanya akan membuat kita saling menyakiti saja.” Kata Bella.


“Bella, lo nggak sungguuh-sungguh kan dengan perkataan lo.”


“Kak, aku sangat serius aku ohon pengertian Kak Edo agar mau melepaskan Bella.”


“Nggak Bella, Gue sangat mencintai lo bagaimana bisa gue melepaskan lo dengan mudahnya. Memangnya apa kelebihan dia sehingga lo lebih memilih dia daripada gue?” Edo memegang kedua lengan Bella.


“Kak Edo..”


“Katakan Bella, apa dia lebih kaya, lebih ganteng atau lebih apa sampai lo bisa lebih meilih dirinya dariapada gue. Katakan!”


“Kak kalian tidak bisa di bandingkan, hanya saja aku sudah sayang sama dia. Kami bertemu setiap hari, dia selalu ada untuk aku dalam keadaan susah maupun senang. Dia selalu melindungi Bella. Sedangkan Kak Edo, satu pesan pun tidak pernah ada yang masuk. Jangkan untuk ngobrol masalah lain, menanyakan kabar saja tidak pernah.” Ucap Bella dengan menangis.


“Kak maaf, Bella tidak bermaksud membeda-bedakan kalian. Tapi Bella butuh seseorang yang nyata yang bisa di gapai. Bukan hanya anga-angan. Hanya bisa menghaluka besok gue akan pergi kesana. Tanpa kepastian.”


“Bella, kita bisa melakukannya asal lo mau ikut sama gue ke Surabaya. Kita akan hidup bahagia. Gue akan berikan apapun yang lo minta, apa rumah mewah, mobil, atau villa katakana saja akan gue penuhi semuanya.


“Bella nggak butuh itu Kak, dan semuanya sudah terlambat semuanya. Bella sudah mencintai orang lain. Maafin Bella Kak, Bella berdoa agar Kak Edo mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Bella.” Bella beranjak meningglkan Edo. Dengan tangkas Edo langsung meraih tangan Bella dan memeluknya dengan erat.


“Bella, please. Jangan batalkan pertunangan kita. Gue sungguh sudah mencintai lo, gue sudah menyediakan semua yang akan kita butuhkan. Aku menyiapkan semua untuk masa depan kita, untuk keluarga kecil kita.” Kata Edo.

__ADS_1


“Maafin Bella Kak. Sungguh Bella minta maaf. Kalau Kak Edo memang sayang sama Bella, maka lepaskan Bella. Biarkan Bella dengan pilihannya Bella. Karena kebahagiaan Bella adalah dia.” Bella melepaskan pelukan dari Edo, dia bergegas meninggalkan taman sebelum Edo mengejarnya.


“Ya Tuhan, maafkan Bella, karena menyakiti banyak orang. Tapi Bella melakukan ini untuk kebahagiaan Bella. Apa Bella salah Tuhan?” Batin Bella sambil menangis.


__ADS_2