Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Baikan


__ADS_3

Gilang melihat sekilas ke arah Gita,


lalu menjalankan mobilnya. Mereka berdua hanya diam nggak ada yang memulai


obrolan dulu. Setelah hampir setengah jam perjalanan akhirnya Gita yang tidak


kuat.


“Kita mau kemana sih?” tanya Gita.


Gilang mengabaikan pertanyaan Gita, dia fokus menyetir.


“Kak..”


“Kemana saja yang penting berdua,


mungkin kita akan ke pluto.” Jawab Gilang.


“Pluto, bukanya dia sudah hilang.” Kata


Gita.


“Ya kita cari dulu biar ketemu.” Jawab


Gilang lagi.


“Nggak jelas.” Gita manyun.


Gilang memparkirkan mobilnya di restaura


favorit mereka berdua. Wajah Gita langsung sumringah, bibirnya tersenyum lebar.


“Tumben tempatnya sepi, apa sudah tutup


ya?” Gita celingukan saat turun dari mobil. Tidak biasanya restauran favoritnya


sepi pengunjung.


“Kak Gilang, apa restaurannya sudah


tutup?” Tanya Gita saat Gilang sudah ada di sebelahnya.


“Masuk saja dulu.” Gilang menggandeng Gita.


Gita terpesona saat masuk, kali ini restaurannya sangat berbeda dengan biasanya. Ada dekorasi yang sangat indah, banyak bunga-bunga.


“Apa ada yang mau jadian ya disini sampai mempersiapkan hal romantis begini.” Bisik Gita sama Gilang.


“Duduk.”


Gilang duduk di depan Gita, dia menyuruh pramusaji menyediakan makanan yang telah


di  pesannya. Gita kembali di buat


melongo saat semua menu makanan di restauran itu di sajikan di mejanya.


“Ini kenapa pesan banyak banget, siapa yang mau makan?” Gita menatap Gilang.


“Kamu.” Kata Gilang.


“Aku?” Gita tersenyum kegirangan.

__ADS_1


“Hem.. kamu bisa makan sepuasnya, dengan syarat kamu mau memaafkan aku.” Kata Gilang.


“Jadi kamu kesini menyegokku agar mau memaafkan kamu?” Gita menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi, sembari melipat kedua tangannya di dada.


“Bisa di bilang begitu.” Gilang tersenyum.


“Nggak mau Gita masih kesal sama Kak Gilang.” Kata Gita.


“Baiklah, kalau gitu kamu temani aku makan saja.” Gilang mengabil sendok dan garpunya, kemudian dia siap menyantap makanannya.


Gilang mengambil cumi-cumi asam manis, dia makan sembari memameri kepada Gita. Gita


menelan ludah saat Gilang terus memasukan cumi-cumi ke mulutnya.


“Minta sedikit boleh nggak?” kata Gita.


“Kamu kan masih ngambek sama aku, bagaimana bisa aku kasih kamu.” Jawab Gilang dengan mulut penuh.


“Iya deh..iya.. Gita mau maafin Kak Gilang.” Gita langsung mengambil garpunya. Dia tidak bisa menahan godaan dari makanan yang seakan memanggilnya untuk memakannya.


Dia makan dengan sangat lahap, Gilang menaruh sendoknya. Dia tersenyum, karena cara yang satu ini memang sangat ampuh. Gita tidak akan pernah bisa menolak makanan dari restauran favoritnya.


Gita mengelus perut karena kekenyangan, dia melibat semua menu yang ada.


“Gita kenyang.” Katanya sambil kembali menyeder ke kursinya. Gilang beranjak lalu


memberikan satu tangkai bunga mawar.


“Satu saja?” Gita mengerutkan keningnya.


“Ya. Karena kamu kan nggak suka bunga. Bunga yang kemarin mungkin juga sudah kamu buang kan?”


“Nggak, bungannya masih Gita simpan. Pemberian kamu mana ada yang Gita buang.” Jawab Gita. Gilang tersenyum, dia memberikan satu berkas kepada Gita.


“Buka saja.”


Gita mendelik saat tahu isi berkas itu adalah sertifikat tanah dan restauran yang


sedang dia dudukki itu.


“Kak Gilang, ini apa?”  Gita melihat Gilang


heran.


“Itu sertifikat tanah beserta restauran ini, dan itu atas nama kamu.” Kata Gilang


sambil menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya.


“Serius?” Gita mendelik. Gilang mengangguk sembari tersenyum.


“Wah..Kak Gilang, nggak perlu membujuk Gita seperti ini. Gita nggak butuh semua ini.” Gita memberikan sertifikat kepada Gilang lagi.


“Ambil saja, ini hadiah buat kamu karena memberika ide yang sangat keren buat proyek kemarin. Dan kamu bisa makan sepuasnya di tempat ini kapan pun kamu mau, kamu bisa menambahkan menu dan juga mendapatkan keuntungan lebih dari sini. Kamu bisa lakukan apa saja.” Kata Gilang.


“Wah.. keren. Tapi ini berlebihan Gita nggak mau. Gita cukup datang dan makan saja.”


Kata Gita. Dia belum mau menerima hadiah yang begitu besar dari Gilang.


“Damar, kemari.” Gilang memanggil manajer restauran itu.


“Iya Pak.”

__ADS_1


“Ini namanya Gita, calon istri saya sekaligus pemilik restauran ini meskipun restauran ini dalam kepemimpinan saya. Jadi saat dia datang layani dia dengan baik.”


“Baik Pak, saya akan memberi tahu semua para pekerja disini.”


“Sayang kalau kamu butuh apapun saat disini, kamu bisa panggil Damar.” Jelas Gilang.


“Iya Buk, saya siap melayani.”


“Baik, makasih ya Damar.”


“Kamu boleh kembali kerja.”


“Iya Pak.” Damar kembali ke bekerja.


“Kak Gilang, tapi ini berlebihan lebih baik buat atas nama Kak Gilang saja. Bagaimana kalau nanti aku hanya memanfaatkan kamu.” kata Gita.


“Ini tidak berlebihan sayang, karena apa yang aku punya itu juga punya kamu. Kalau


kamu mau pesawat pribadi juga bakalan aku kasih. Kan aku juga sudah bilang ini


buat hadiah kamu.”


“Tapi kan aku tidak berhasil meyelesaikan proyeknya, bahkan aku mengacaunya membuat perusahaan kamu merugi.”


“Kamu tidak mengacau, hanya kamu harus lebih berhati-hati di lingkungan sekitar kamu. Aku nggak mau ada orang yang menyakiti kamu.” Kata Gilang.


Gita berdiri dan langsung memeluk Gilang, Gilang pun membalas pelukan Gita.


“Aku kangen banget sama Kak Gilang.” Kata Gita semakin mempererta pelukannya.


“Aku juga sangat kangen sama kamu, aku tuh nggak betah tahu di cuekin kamu mana mama marah-marah mulu.” Kata Gilang.


“Mama marah?” Gita melepaskan pelukannya dan kembali ke kursinya.


“Hem, mama bilang awas saja kalau sampai calon manti mama pergi. Kalau sampai Gita tidak jadi menantu mama, kamu harus meninggalkan rumah ini.” Gilang menirukan mamanya saat mengomel.


“Benarkah?” Gita tertawa.


“Yah, mama sekarang lebih sayang sama menantunya daripada anaknya sendiri.” Omel Gilang, dan Gita hanya tertawa puas karena di bela calon ibu mertuannya.


“Sayang.”


“hem..”


“Menurut kamu kopi itu bisa tumpah sendiri atau ada orang yang jahat sama kamu?” tanya Gilang sama Gita.


“Em..” Gita menggaruk-garuk kepalanya.  “Gita nggak mau berpikir negatif sama orang, jadi ya udahlah Gita nggak mau mengingatnya.” Jalas Gita.


“Apa kamu tidak mau hanya sekedar tahu saja siapa dia.”


“Memangnya Kak Gilang tahu siapa yang melakukannya?” Gita menatap lekat Gilang. Gilang mengangguk, sebenarnya dia sudah tahu sejak awal hanya saja dia diam karena ada beberapa hal yang tidak mungkin dia putuskan saat itu juga.


“Em.. Kak Gilang tidak perlu memberi tahu Gita. Takutnya Gita menjadi benci sama


orang itu. Kali ini Gita memaafkan orang itu nanti kalau dia berani melakukannya lagi. Maka Gita akan meminta Kak Gilang memberi tahu Gita.”


Gilang berdiri, dia meminta Gita berdiri lalu memeluknya.


“Kamu memang orang yang sangat baik, sekali lagi maafin aku yang pernah membentak kamu.” Jelas Gilang.


“Aku juga minta maaf karena sering ngambek, dan makasih sama hadiah ini Gita senang banget.”

__ADS_1


“I love you.” Ucap Gilang sembari mencium kening Gita.


“I Love you too.” Gita mengeratkan pelukannya.


__ADS_2