
Tukk...Tuk...
Gilang mengetuk meja dengan bolpen, Gita mengangakat kepalanya. Gilang melihat lingkaran hitam di area mata Gita.
"Begadang?" tanya Gilang. Gita menganggukkan kepala pelan.
"Apa sangat berat untuk belajar?" Gilang mengusap kelapa Gita.
"Yah.. berat banget. Sangat menyiksa otak gue. Dan gue nggak suka belajar." Gita duduk tegak.
"Terus apa yang lo suka?" Gilang menarik kursi lalu duduk di sebelah Gita.
"Lo." Jawabnya sambil terkekeh.
"Bisa aja, sedang pesan sarapan?"
"Nggak, gue nggak enak makan. Terlalu memikirkan ujian ini buat gue nggak nafsu makan." katanya.
"Lo harus sarapan, karena dengan aarapan lo akan punya energi buat berpikir."Gilang memberikan bekal sarapan untuk Gita.
"Baik banget sih, harusnya kan gue yang bawain sarapan karena gue cewek." Kata Gita sambil membuka kotak bekal. Dia yang awalnya nggak nafsu jadi semangat.
"Memangnya itu sebuah keharusan?"
"Ya kalau gue lihat-lihat, akan sweet kalau seorang cewek bawain makanan buat cowoknya. Tapi apalah daya gue yang nggak bisa masak dan hanya bisa makan." katanya sambil melahap sandwich dari Gilang.
"Memangnya kalau gue yang bawa nggak sweet ya?'
Gita berhenti mengunyah lalu menatap Gilang. Dia tersenyum, "Sangat sweet, seumur-umur gue baru kali ini dinperlakukan seperti seorang ratu selain sama Raka." katanya kembali mengambil sandwichnya.
"Oiya?" Gilang hampir tidak percaya.
"Ehem." Gita menganggukan kepala. Gilang senang karena dia menjadi orang asing pertama yang membuat Gita menjadi istimewa setelah keluarganya.
"Kalau makan pelan- pelan biar nggak gelepotan." Gilang mengusap bibir Gita. Gita berhenti ngunyah, jantungnya beberapa detik seakan berhenti dia kembali menjadi patung.
"Hey... pagi-pagi udah uwuu..uwu...aja." Fara datang, suaranya yang lantang menyadarkan Gita. Gita yang baru saja menghilang entah kemana seakan kembali lagi ke raganya yaitu kantin sekolah.
"Iya, Jiwa jomblo gue semakin meronta-ronta melihat kalian berdua tuh." tambah Anita.
"Iri kan lo berdua, makanya buruan punya pacar." Kata Gilang. "Atau nggak Fara buruan tuh jadian sama Raka." Gilang tersenyum sambil menggerakan kedua alisnya.
__ADS_1
"Amit-amit gue jadian sama Raka, bisa-bisa jadi pelakor dadakan gue." Fara bergidik.
"Memangnya kalau bukan pelakor lo mau sama Raka, kalian berdua nanti saudaraan loh." Kata Anita menunjuk Gita lalu Fara dengan wajah senyum-senyum meledek.
"Nggak mau, gue nggak mau saudaraan sama lo. Bisa- bisa Gila saudaraan sama Fara." Kata Gita sambil tertawa.
"Gue juga nggak mau saudaraan sama lo.Fara menjulurkan lidahnya.
Gilang menggeleng kepala melihat perdebatan yang pasti tidak akan ada ujungnya.
"Gue balik ke kelas dulu ya, nih catatan buat lo belajar materi besok. Semangat sayang." Gilang mengacak-acak rambut Gita lalu pergi.
"Oh my god... sayang. Aduh jantung gue.. kenapa yang di acak-acak rambut lo hati gue yang berantakan." Fara heboh sambil memegangi dadanya.
"Rasanya ada yang jedak-jeduk di dalam dada." kata Anita.
"Rasanya ada yang manis tapi bukan ice cream." kata Gita. Dia meleyot di panggil sayang sama Gilang.
"Ah.. Kak Gilang bikin baper aja. Awas aja pacar gue yang se sweet Kak Gilang." Fara mengancam pacar yang masih dalam kehaluannya.
"Idiih.. lo aja garang gitu mana bisa pacarnya sweet." Ejek Gita.
"Lo pikir, lo itu anggun ha.." Fara mengejek balik.
"Amit-amit, mual tiba-tiba perut gue." kata Fara. "Git, lo mau lihat cewek anggun tuh kayak gimana?"
"Kayak gimana?"
"Noh, udah baik cantik, nggak bar-bar, kalau ngomong halus." Tunjuk Fara.
"Kak Qila maksud lo?"
"Iya, kakak kandung lo itu. Sebenarnya nyokap lo ngidam apaan ya kok bisa beda banget gini, perasaan Kak Genta juga kalem ganteng gitu. Lo udah bar-bar, nggak jelas sama sekali." Kata Fara dengan jujur.
"Ngidam Oh sehun nggak kecapaian jadi stres anaknya. Puas lo!" Gita manyun.
"Pantes. Itu sandwich enak banget." Anita menatap ke arah Fara lalu Gita.
"Jangan sentuh, itu ada peletnya dari Kak Gilang. Ntar lo jatuh cinta sama Kak Gilang gue yang repot. Harus saingan, perang, jambak-jambakan sama sahabat sendiri." ujar Gita.
"Idih.. manusia satu ini kenapa jadi pelit, bucin, gila semakin parah." Fara geleng kepala.
__ADS_1
"Biarin yang penting Kak Gilang punya gue." Gita menjulurkan lidahnya.
"Lagian siapa juga yang mau sama Kak Gilang. Kecuali kalau di kasih gue mau." Kata Anita yang langsung dapat tabokan di lengannya dengan keras.
"Wah.. enak nih." Raka datang-datang langsung mengambil sandwichnya di ikuti Vian.
"Eh.. ada peletnya Kak Gilang!" teriak Fara seketika Raka sama Vian memuntahkan sandwichnya.
Gita dan Anita langsung tertawa terbahak-bahak melihat reflek dari Raka dan Vian yang langsung memuntahkan sandwich di dalam mulutnya. Mana punya Raka di tangan Fara.
"Raka Jorok!" Fara langsung lari mencari wastafel.
"Beneran ada peletnya Gilang?" tanya Raka dengan wajah masih bingung.
"Iya, tapi cuma bereaksi kalau gue yang makan." Kata Gita masih dengan tertawa renyah. Anita pun tidak ada henti-hentinya tertawa.
"Raka! lo ya bisa biasa aja nggak. Ini semua bakteri sari mulut lo menempel di kulit gue." Fara marah-marah.
"Ya sorry reflek, salah lio ngoamong kayak gitu. Lagian nih Far sementara biar bakteri gue dulu yang nempel di kulit lo. Besok-besok nyusul orangnya." Goda Raka.
"Orang sinting," Fara bergidik. "Gita, Nit ayo ke kelas, bisa gila gue ngobrol terus sama saudara lo yang otaknya konslet." Fara mengajak Gita dan Anita ke kelas.
"Raka, lo lama-lama suka beneran lo sama Fara." kata Vian.
"Memangnya kenapa kalau gue suka benaran, wajarkan dari gue suka sama lo. Najis tralala trilili." Raka meneruskan memakan sandwich yang di tinggalkan sama Gita.
"Benar juga sih, Fara sebenarnya cantik cuma bawel saja." Kata Vian ikut makan lagi.
"Lo suka?"
"Kagak, gue lebih suka yang anggun."
"Kayak Gita?"
"Gita? nggak kira-kira kalau ngomong. Gita sama Fara sebelas dua belas kali. Otak lo emang konslet benar yang di kata Fara."
"Ah.. Susanti." Kata Raka menunjuk teman sekalasnya yang sangat kalem, lembut.
"Bukan dia juga, kayak Kak Qila gitu. Anggun, pinter, cantik." Vian mengkhayal.
"Bangun Vian, mimpi lo terlalu indah takutnya nggak sesuai kenyataan lo gila." Raka menepuk pundah Vian lalu pergi meninghalkan Vian
__ADS_1
"Raka tungguin gue! emang salah gue berharap kayak gitu!" teriak Vian sambil lari mengejar Raka.
"Berharap yang pasti-pasti saja daripada sakit hati." jawab Raka.