
Mulai pagi ini Gita dan Fara mulai melakukan penyelidikan terhadap Fajar, Gita juga
meminta Vian untuk mengawasi gerak-gerik Bella.
“Vian, bisa minta tolong datang sama Nino pergi temui clien? Gue ada meeting sama Bos Gilang.” Win meminta Vian untuk menemani Nino.
“Mas, kalau boleh biar gue yang menemani Mas Nino.” Fajar tiba-tiba mengajukan diri
untuk menemui clien bersama Nino.
“Boleh, kalau lo emang tidak keberata.” Jawab Win.
“Nggak kok mas, lagian dengan sering bertemu clien gue bisa belajar lebih banyak lagi.” kata Fajar. Gita dan Fara saling berpandangan, ini hal langka Fajar mau
berinisiatif ikut bertemu clien. Biasanya dia akan memilih menjaga kantor.
“Ok, Fajar siap-siap lah kita akan berangkat lima menit lagi.” Kata Nino sembari berdiri memnyiapkan laptop dan berkas-berkas penting.
“Git, ada yang aneh nggak sih?” Bisik Fara.
“Iya, nggak biasanya fajar seperti itu. kita harus ikuti mereka.” Ujar Gita.
Gita dan Fara bergegas pergi ke kamar mandi untuk menyamar agar tidak ketahuan. Mereka pergi ke tempat Nino dan Fajar setelah mendapatkan informasi tempatnya.
Hampir satu jam mereka mengintai tidak ada gerakkan yang mencurigakan, meeting bertemu clien berjalan sangat lancar. Bahkan mereka berdua langsung balik ke kantor.
“Git, kita tidak dapat apa-apa.” Kata Fara sambil melepas topi dan kacamata yang dia
pakai untuk mengintai.
“Benar, semua berjalan seperti biasa.” Gita
menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Sekarang kita mau ngapain, Fajar juga tidak mencurigakan sama sekali sekarang.” kata Fara.
“Tapi Git, dia bilang sekarang ingin banyak bertemu clien agar bisa belajar lebih
banyak. Apa dia mau mendirikan perusahaan sendiri, jadi dia sedang belajar
bagaimana menghadapi clien?”
“Itu bukan penghianat namanya, dia hanya belajar untuk merintis karirnya sendiri.”
Gita menjelaskan perbedaanya penghianat dengan orang yang belajar merintis
karir.
“Ah.. pusing gue. Apa kita perlu menyewa detektif buat memecahkan ini?” kata Fara.
“Fara, jangan menyerah dulu dong. Ini baru satu hari kita coba besok lagi.” Gita memberikan semangat Fara, dia menasehati agar tidak cepat menyerah.
“Baiklah, kalau begitu kita balik aja dulu ke kantor.” Ajak Fara.
Mereka berdua pulang dengan sia-sia karena tidak mendapatkan informasi apa-apa. Mereka baru saja melangkahkan kakinya keluar Gita langsung menarik baju Fara agar masuk lagi.
“Gita, kenapa sih lo tarik-tarik baju gue.” Omel Fara.
“Sttt, lihat tuh.” Gita meminta Fara agar mengecilkan volume suaranya. Gita menunjuk keluar kafe.
“Itu Fajar kan, sama siapa?” bisik Fara.
__ADS_1
“Gue juga nggak tahu.” Gita membalas dengan berbisik juga.
“Kita keluar saja.” Kata Fara dengan buru-buru berdiri dan ingin menangkap Fajar.
“Jangan keluar sekarang nanti kita ketahuan dong.” Gita menahan Fara yang gegabah ingin langsung keluar.
“Ya kalau kita disini nggak dengar apa-apa dong.” ujar Fara.
“Kita pakai penyamaran lagi.” Kata Gita. Mereka kembali memakai barang-barang untuk menyamar.
“Fara, buruan mereka udah mau cabut.” Ujar Gita saat melihat orang yang bersama Fajar berjalan ke parkiran.
Gita keluar lebih dulu, dia berjalan lebih cepat untuk mendekati mereka. Sayangnya saat Gita sampai parkiran mereka berdua sudah masuk mobil dan pergi. Gita dengan sigap mengambil foto plat mobil.
“Kemana mereka Git?” Fara celingukan mencari Fajar.
“Udah pergi lo sih kelamaan dandannya.” kata Gita.
“Yah gimana, dadakan banget kan malah jadi bingung gue mau pakai yang mana dulu."
“Tapi tenang saja, gue udah dapatin plat nomor mereka.” Gita menaikan kedua alisnya.
“Wah.. keren. Lo emang pantas jadi detektif.” Fara mengangkat dua jempol.
“Lumayan, sekarang kita pulang ke kantor dulu. Nanti Mas Win bisa ngamuk kalau ke kantor dan kita tidak ada disana.” Jelas Gita.
Gita dan Fara berjalan santai masuk ke ruangannya, mereka berdua masih serius
membahas bagaimana tidakan selanjutnya.
“Buughhh..”
“Eh.. maaf-maaf Mas Win. Kita tidak melihat.” Kata Gita cengar-cengir.
“Darimana saja kalian?” Win dengan muka sangar.
“Dari situ.” Gita menunjuk ke arah belakannya.
“Situ mana, kalau ngomong yang jelas.”
“Ya situ.” kata Gita dengan sedikit terbata-bata.
“Ck!” Win berdecak dan kembali berkacak pinggang, dengan kedua mata yang melotot.
“Ini Mas Win, tadi kita abis ngopi. Soalnya ngantuk jadi ya ngopi sembari cari inspirasi.” Kata Fara cengar-cengir.
“Ngopi.. enak ya kalian jam kerja ngopi.” Win menjewer Gita dan Fara. “Jangan
mentang-mentang kamu calon istri bos jadi bisa seenaknya ya di team gue.”
“Iya Mas maaf-maaf. Gita bisa jelasin sama Mas Win kenapa kita ngopi di jam kerja.”
Kata Gita sembari memegangi tangan Win yang menjewernya.
“Jelasin apa?” Win kembali mendelik.
“Baju kemarin kan udah di jiplak tuh sama orang. Makanya Gita mau bikin lagi yang
baru dan lebih fres dari yang kemarin. Meskipun desain kemarin itu bagus tapi
masih belum terlihat mewah dan elegan. Gita udah ada satu desain lagi yang
__ADS_1
hampir jadi. Jadi tinggal di ajukan lagi sama bos Gilang.” jelas Gita.
“Beneran?” Win melepas tangan dari telinga Gita dan Fara.
“Benar lah Mas, lagian kita bosen kali kalau harus bekerja dalam ruangan. Jadi gue
sama Gita memutuskan bekerja di kafe bawah sembari mencari ide.”
“Bisa aja kalain ngomong cari inspirasi. Ngomong aja males kerja kan.” sahut Vian ingin membuat panas suasana lagi.
“Ih..kompor aja lo. Lo pasti irikan nggak gue ajak ngopi.” Fara melet.
“Idih, siapa juga yang iri. Gue juga bisa ngopi sendiri.”
“Udah-udah, kenapa kalian malah jadi berdebat disini. Udah sana kalian masuk dan mulai kerja lagi." kata Win.
“Kalian ngopi nggak ngajak-ngajak sih.” Kata Ina.
“Dadakan tadi Mbak, kalau sekarang mau ngopi sama Vian dan Bella aja Mbak. Biar kita yang disini sekarang.” Kata Gita.
“Yah, kalau sama mereka berdua jadi nyamuk dong gue.” Kata Ina.
“Apaan sih Mbak Ina, gue sama Vian juga tidak ada apa-apa kok.” Bella klarifikasi.
“Masa sih,” Ina tidak percaya dengan ucapan Bella.
“Kerja-kerja malah ngobrol aja kalian. Eh kalian berdua, enak banget ya suruh yang lain ngopi. Disini gue ya ketuanya, nggak ada yang boleh ngopi di jam kerja.” Win tidak mengijinkan yang lain ngopi.
“Kaku banget sih jadi ketua, pelit banget mau ngopi aja tidak boleh.” Kata Nino yang
baru balik.
“Iya nih Mas Win. Bos kolot.”
“Bos kolot kata lo, coba lihat dari semua team siapa paling santai dan loyal?” Win
menanyakan sama teamnya.
“Yang pasti bukan lo.” Jawab Nino sembari tawa yang diikutin sama yang lain.”
“Oiya, Fajar mana?” tanya Gita.
“Dia mau ke apotik perutnya sakit. Jadi dia minta gue pulang dulu.” Jelas Vian.
“Ohh..”
“Nino, bagaimana kesepakan sama cliennya apa berjalan lancar?”
“Lancar Win, semua sesuai rencana tapi mereka meminta ada beberapa yang di rubah. Jadi ada revisi sedikit, kalau sudah beres mereka meminta bertemu lagi.” Jelas Nino.
“Ok.”
Fara menarik kursinya, dia mendekat sama Gita.
"Git, kenapa Vian polos banget sih. Bisa-bisanya dia nggak curiga."
"Akting Fajar itu natural, jadi banyak orang yang tertipu. Begitu juga dengan Vian." Ujar Gita.
"Gita- Fara masih kurangkah tadi ngobrolnya. Disuruh kerja malah ngobrol terus." kata Win.
Fara langsung menarik kursinya dan kembali ke tempatnya.
__ADS_1