Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Sakit


__ADS_3

Pagi ini Gita masih terbalut selimut, tubuhnya masih sangat lemas untuk bangun dan bergegas mandi.


Tok...Tok...


"Masuk." jawab Gita lemah.


Pintu terbuka, Genta masuk lalu duduk di sebelah Gita. Dia memegang kening Gita.


"Hhm.. syukurlah demamnya sudah turun." Genta menurunkan tangannya.


"Ka.. apa Gita itu jelek sekali?" tanya Gita kepada Genta.


"Lo itu cantik, cantik banget."


"Kakak bohong kan, nyatanya orang lain memandang Gita jelek. Mereka selalu ngatain Gita." Mata Gita berkaca-kaca.


"Mereka berkata begitu karena hanya mengenal luarnya saja. Mereka tidak kenal lo yang sebenarnya." Genta memeluk Gita.


"Iya Ta, mereka itu hanya bisa mencela padahal mereka belum tentu lebih baik dari lo." Qila menambahi.


"Jangan sedih lagi ya, sekarang lo istirahat biar cepat sembuh. Nanti bibik siapin makan buag lo. Kak pergi kuliah dulu." Genta mencium kening Gita.


"Iya Kak, hati-hati." Gita mencium tangan Genta. "Kakak nggak pergi ke sekolah?" tanya Gita.


"Ke sekolah kok, Ta.. em masalah Devan gue minta maaf. Gue sama sekali nggak tahu." Qila tidak enak hati dengan Gita. Dia merasa merampas kebahagiaan adiknya itu meskipun dia tidak melakukan apa-apa.


"Kenapa Kak Qila minta maaf, nggak ada yang salah tahu. Hanya Gita aja yang kepedean. Lagian itu hak Devan untuk memilih cewek yang lebih cantik, baik sempurna seperti kakak."Ucapnya sambil tersenyum getir. Penantian yang panjang sia-sia.

__ADS_1


"Manusia itu tidak ada yang sempurna Ta. Lagian kakak nggak suka juga sama Devan. Kakak akan kasih pelajaran sama dia nanti." Qila ingin memaki Devan.


"Kakak nggak perlu ngelakuin itu, Raka sudah memberi pelajaran dia. Idah sekarang kakak lebih baik berangkat sekolah dari pada kena hukum." Gita menyuruh Qila agar segera berangkat sebelum terlambat.


"Baiklah, adikku yang cantik nggak boleh galau terus ya. Jangan lupa nanti makan sarapannya.


"Pasti kak, hati-hati ya."


...◇◇◇◇◇...


Gita menaruh mangkuk belas dia makan lalu berjalan mendekati jendela kamarna yang terbuka lebar. Memandang jauh keluar, sembari memutar perkataan yang di ucapkan Devan.


"Gue tekankan sekali lagi ya, kalau gue sama sekali nggak suka orang macam lo. Udah gendut, nggak pintar mana nggak pernah pakai make up lagi. Apa masih berani jadi pacar gue."


"Gita..Gita lo itu polos apa gimana sih, omongan anak kecil lo percaya. Lagian lo harusya sadar diri mana mungkin gue pacaran sama lo."


Dua ucpan Devan yang terus terngiang di kepalanya. Mata Gita pun memanas, satu bulir air mata mulai membasahi kedua pipinya.


"Kalau standar dicintai itu hanya sekedar, cantik, tinggi langsing dan glowing bagaimana orang-orang yang seperti gue gendut, pendek di tambah nggak bisa menggunakannya apa orang semacam gur itu bakalan jomblo seumur hidup." gumam Gita.


"Alam selalu saja tidak pernah mau bersahabat denganku." Air matanya semakin deras.


"Justrunkarena alam berpihak sama lo maka dia menunjukan hal-hal yang tidak baik buat lo." Raka membuak pintu kamar Gita lebar-lebar.


"Raka.. lo kok masih di rumah nanti telat loh." kata Gita.


"Biar saja." Jawab Raka santai. "Lo ngak akan bunuh diri kan?"

__ADS_1


Gita menggelengkan kepalanya cepat, "Gita masih waras tahu." Gita duduk di sebalah Raka. Dia menyenderkan kepalanya di pundak Raka.


"Ka..lo benar gue terlalu percaya sama anak-anak. Dan sekarang ucapan lo benar kalau gue terlalu bodoh menunggu orang yang tak pasti." tambah Gita.


"Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan, itu hanya akan membuat lo gila nantinya. Sekarang lo tahu kan kenapa gue selalu, melarang lo dekat sama Devan. Dia itu tidak bisa menjaga lo." jelas Raka.


"Ka, kalau gue balik ke sekolah apa tidak akan ada apa-apa? atau gue harus pindah sekolah?" Tanya Gita.


"Tentunya tidak, mereka akan bersikap seperti biasa."


"Tapi Ka, gue tidak bisa tanang. Gue takut mereka akan mennggangguku dan juga membuly."


"Tanang saja, gue selalu di belakangmu.


...◇◇◇◇◇...


Gilang berdiri di depan pintu kelas sambil melongok ke dalam untuk mengetahui keberadaan Gita.


"Gita nggak masuk Kak."Kata Fara yang ada di belakangnya.


"Yah... semua ini gara-gara orang yang sok ganteng dan merasa dirinya pintar. Dengan tega membuat Gita kita down. Sampai-sampai nggak masuk sekolah." Anita kesal sama Devan.


Devan yang sedang di gibahin hanya diam, dia memegangi memar karena pukulan dari Raka. Dia masih malas menanggapi Fara dan Anita.


"Kalau Raka?"


"Dia juga nggak masuk, mungkin dia temani Gita."

__ADS_1


"Ok thanks."


Gilang pergi meninggalkan kelas Gita dan bergegas mengambil tasnya ke kelas. Dia pergi tanpa meminta izin.


__ADS_2