
Gita duduk bersila sambil memakan cemilan, kedua matanya fokus memandangi Qila dan Raka yang siap pergi.
"Ta yakin nih nggak mau ikut?" tanya Raka sambil duduk di sebelah Gita.
"Nggak." katanya jutek. Dia memasukkan beberap cemilan ke mulutnya hingga penuh.
"Beneran nggak ikut?" Qila memastikan.
"Nggak." Katanya dengan mulut penuh makanan.
"Tapi jangan nangis ya nanti di pojokan." goda Qila.
"Idiih.. siapa juga yang nangis itu mah Kakak sukanya nangis di pojokan karena di ghosting sama doi." Gita balik menggoda Qila.
"Suka bener lo Ta kalau ngomong." Kata Raka sambil tertawa.
"Lo sebenarnya team gue apa team Gita sih." Qila menepuk lengan Raka.
"Team lo lah kak, kitakan mau pergi bareng." ujar Raka.
"Yakin nih Ta nggak mau ikut, mumpung kita belum jalan nih." kata Qila lagi.
"Nggak."
...◇◇◇◇◇...
Gita mulai bosan memainkan ponselnya, dia menaruh ponselnya sambil melihat ke arah jam dinding.
"Kenapa baru jam segini sih, harusnya gue ikut kali ya tadi. Mana di rumah sepi banget." Gerutunya sambil kembali membuka ponselnya.
Dia membuka story whatsapp milik Raka yang memamerkan makanan enak dan begitu banyak.
"Ih.. Raka ngeselin banget, kalau pergi sama gue aja makanannya nggak sebanyak ini. Giliran sama Kak Qila banyak banget. Awas lo ya Ka kalau sampai nggak bawain makanan buat gue." Omelnya. Dia kemudia slide foto berikutnya yaitu foto Gilang dan Qila yang sedang saling berpandang dan tertawa.
"Genit banget sih Gilang," ujarnya lalu menutup ponselnya.
Malam ini dia menjadi uring-uringan nggak jelas. Dia jadi bingung sendiri, mau telpon Raka nyusul ke tempat makan malu tapi kalau nggak dia kesepian. Dia telpon Devan juga tidak di angkat.
"Fara." Ucapnya. Gita langsung menelpon Fara.
"Apa?" tak selang lama Fara langsung mengangkat panggilan Gita.
"Pergi yuk, gabut banget gue." ujar Gita.
"Kemana?"
"Kemana aja deh, yang penting pergi."
"Ok, meluncur ke rumah lo. Gue jemput Anita dulu." Kata Fara lalu mematikan ponselnya.
Tak selang lama Fara sudah berdiri di depan rumah Gita, dia mengetuk pintu keras-keras agar Gita buruan keluar.
__ADS_1
"Santai aja kali Far, Anita mana?"
"Lo sih lama. Anita nggak bisa ikut ada acara keluarga katanya."
"Em."
"Mau kemana kita?" tanya Fara.
"Nggak tahu gue, terserah lo deh mau bawa gue kemana."
"Tumben banget lo nggak ada arah dan tujuan. Gimana kalau ke tempat restauran favorit gue, lo pasti senang karena makanannya enak-enak." kata Fara.
"Boleh, pas banget lagi pingin makan banyak gue." kata Gita.
"Malam ini lo aneh banget sih Git, lo sadar kan nggak lagi kesurupan?" Fara agak ngeri dengan Gita malam ini.
"Apaan sih lo, gue sadar kalau kesurupan gue sudah guling-guling sambil makan kaca kali." ujar Gita sambil jalan menuju mobil Fara.
"Ya siapa tahu gitu, lo kesurupan setengah sadar." Sahut Fara sambil mengikuti Gita masuk ke mobilnya.
Setengah jam kemudian mereka berdua sudah sampai di restauran. Gita melihat sekeliling, tempatnya sangat bersih dan nyaman untuk makan dan nongkrong.
"Tempatnya enak kan?" Tanya Fara.
"Iya enak banget, buruan masuk yuk gue udah lapar banget." Gita menarik Fara masuk agar segera bisa pesan.
Mereka berdua memilih tempat yang paling pojok agar bisa bebas bercanda gurau karena tempatnya lumayan luas dan jaraknya lumayan jauh dari tempat duduk sebelah.
"Apa benar itu Raka?" tanya Gita sama Fara kemudian dua menutup wajahnya dengan buku menu.
"Mana?" Fara langsung menengok. "Ah.. iya itu Raka dia jalan sama siapa?" Fara menandang Gita.
"Git, lo kenapa sih?" Fara heran.
"Kita pindah aja yuk." Gita meminta pindah tempat.
"Kita udah pesan, lagian kenapa sih lo?"
"Itu Raka sama Kak Qila sama Kak Gilang, gue nggak mau ketemu sama mereka."
"Kenapa?"
"Tadi gue di ajakin tapi nggak mau."
"Alasan lo nggak mau kenapa?"
"Kak Qila sama Kak Gilang lagi pedekate, udah lo nggak usah banyak tanya. Sekarang kita cabut dari sini sebelum ketahuan." Gita Berdiri sambil menutupi wajahnya. Fara berdiri lalu mengikuti cara Gita.
"Fara! Gita!" panggil Raka sambil berlari mendekati Gita dan Fara sebelum meninggalkan tempat.
"Aduh... Raka kenapa bisa tahu sih." Gita menpok jidat.
__ADS_1
"Mau pada kemana?" tanya Raka.
"Ini mau pindah tempat Ka, tiba-tiba kita pingin makan bakso." Fara membuat alasan asal-asalan.
"Iya, udah lama kita berdua nggak makan bakso." Gita meringis.
"Alasan nggak masuk akal." Raka menggelnh kepala.
"Lo ngikutin kita ya." Kata Gilang yang sudah berada di samping Raka.
"Siapa yang ngikutin lo, orang gue sama Faea nggak sengaja makan di sini."
"Yakin?"
"Yakin lah, lagian kurang kerjaan banget gue ngikutin kalian." Gita mulai kesal.
"Ya udah kita makan bareng aja yok, semakin rame semakin asyik lo." Ajak Qila yang ikut merapat saat melihat keributan. Fara menatap Gita meminta keputusan.
"Udah nggak usah pakai mikir." Qila merangkul Fara. Sedangkan Raka merangkul Gita.
Gita yang keluar rumah mencari udara segar agar nggak badmood justru semakin badmood harus ketemu sama Gilang.
"Lo kenapa tadi nggak langsung ikut aja?" tanya Qila.
"Orang tujuan Gita awalnya nggak kesini, kalau tahu kakak disini Gita juga nggak akan kesini." Omel Gita.
"Ah masa sih, lo pasti modus kan ." Kata Raka sambil tertawa.
"Modus apaan, gue aja datang kesini karena rekomendasi Fara. Tanya aja Fara." Gita menatap Fara tajam yang mengartikan kalau Fara harus mengiyakan omongan Gita.
"Iya Ka, ini kebetulan saja kok."
"Udah-udah nggak perlu debat, sekarang makan aja."
Gita dengan berat hati akhirnya ikut duduk. Dia berada di samping Fara dan Raka.
Gita merasa jengah melihat Gilang yang bercanda dengan Qila. Bahkan dia sesekali menggombali Qila.
"Dasar cowok ganjen, beraninya godain kakak gue. Lihat aja nanti gue beri pelajaran." batin Gita kesal.
"Ta."
"Hem." jawab Gita dengan mulut yang terus di masuki makanan dan mata yang masig fokus kepada Gilang dan Qila.
"Pelan-pelan makannya, nanti kesedak." Raka menasehati Gita.
"Iya." Jawabnya dengan mulut penuh.
"Telan dulu kali Ta baru jawab, nanti bisa keluar semua itu makanan dari mulut lo." Giliran Qila yang mengingatkan Gita.
Gita mengangguk lalu menundukan kepala saat Gilang menatapnya.
__ADS_1
"Semakin gue menghindari lo, kenapa lo semakin dekat dan tetap saja tak bisa gue dapatkan. Mau lo sebenarnya apa sih kenapa senang sekali memainkan perasaa gue." ujar Gilang dalam hati.