
“Pagi..” Gita menyapa Fara, Anita yang
sudah berbaris di lapangan. Dan seperti biasa dia selalu saja setiap hari senin dia selalu terlambat.
“Pagi.” Sahut mereka heboh.
“Gita buruan, lo kebiasaan banget ya
terlambat datang ke sekolah.” Kata Fara.
“Pagi-pagi udah berisik, upacara udah
mau mulai bukannya diem sibuk main-main.”
Omel Mita. Dia merasa terganggu dengan kehebohan Gita dan teman-temannya.
“Daripada elo pagi-pagi udah ngomel
kayak emak-emak.” Gita menimpali omongan Mita.
“Kelas kayak begini gimana anak-anaknya
mau maju, kalau ketua kelasnya saja diam.” Mita ngedumel melihat ketua kelas tidak pernah menegur anak buahnya yang berisik dan main-main di jam kerja.
“Kalau lo nggak suka pindah aja dari
kelas kita ya nggak?” kata Fara.
“Iya, pindah aja lo ke kelas lain yang
hidupnya nggak berwarna sama sekali hanya belajar-belajar.” Kata Fara.
“Udah jangan ribut terus nanti kena
hukum loh.” Kata Anita.
“Dengerin tuh teman lo yang masih waras.”
Mita melirik tajam.
“Lo tuh yang nggak waras." Gita ingin menjambak mulut Mita.
“Ehhem..” Seketika mereka diam saat
mendengar orang berdehem di belakang. Gita menoleh perlahan untuk memastikan
yang sedang jaga Gilang atau bukan. Gita
tersenyum saat melihat Gilang berjaga di belakangnya.
“Siapa Git?” Bisik Fara.
“Ssttt...Kak Gilang.” Gita menaruh jari
telujuknya di bibir, mengkomando agar Fara Nggak ribut lagi. Dia lebih takut di jaga Gilang daripada Pak Rudi.
Empat puluh lima menit sudah berjalannya
upacara, dan akhirnya komandan upacara membubarkan barisan. Gita mengehela
napas panjang dan mengusap keringat yang ada di keningnya.
Gilang berjalan mendekati Gita lalu
__ADS_1
menjewer telinga kanan Gita.
“Kak Gilang kenapa Gita di jewer.” Rengek Gita.
“Bercanda terus. Lo contoh teman-teman
yang ada di depan lo bisa tenang mengikuti upacara. Lo malah heboh sendiri.” Gilang masih memegang telinga Gita.
“Ini tuh bukan upacara tapi lebih ke
penyiksaan. Panas banget nih rasanya kulit Gita mau meleleh.” Gita memperlihatkan kedua lengannya.
“Gita aja yang lebay Ka, gue sama yang lain
saja tidak meleleh. Bisa mengikuti upacara dengan nyaman.” Mita caper kepada Gilang merasa dia lebih baik daripada Gita. Dia juga berniat menjatuhkan Gita di depan Gilang.
“Nggak usah kompor lo, pakai senyum-senyum genit gitu.” Omel Gita.
“Gue Kompor? Ini kenyataan nggak di
lapangan, nggak di kelas selalu berisik mengganggu saja." Mita menyenggol Gita hingga dia kegeser ke sampingm
"Oiya Ka, kenalin gue Mita. Kakak ini Kak Gilang anak kelas XII yang selalu mendapatkan peringkat pertama dan memenangkan beberapa pertandingan ya?” Mita Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Gilang.
“Lancar amat ya ngegodanya.” Cibir Gita
pelan.
“Ya, gue Gilang.” Gilang memberikan tangan
Gita untuk berjabat tangan dengan Mita. Seketika Mita menarik tangannya, merasa
jijik jabat tangan dengan Gita.
Kalau aja gue nanti butuh bantuan kalau nggak bisa mengerjakan soal.” Mita
dengan pede mengeluarkan ponselnya.
“Modus banget lo! Lo pikir pacar gue yang ganteng ini guru les yang bersedia membantu semua tugas milik lo. Kalau
nggak bisa ya les modal dikit kenapa. Jangan terus ngrepotin pacar gue.” Omel Gita sambil menggandeng Gilang meninggalkan lapangan. Dia menunjukkan kalau Gilang itu miliknya. Gita menarik Gilang membawa pergi dari hadapan Mita.
“Nggak salah nih, ya kali anak jenius
pacaran sama cewek modelan kayak dia.” Mita tidak percaya.
...♡♤♤♤♡...
Gita melepaskan tangan Gilang, dia melipat
kedua tangannya di dada di tambah mulutnya yang manyun.
“Bangga pasti kan di deketin cewek, mana
dia pintar lagi. Pasti sangat serasi."
“Ngomong apaan sih lo, nggak jelas.”
Gilang memegang kedua pipi Gita.
“Udah nggak usah pura-pura, pasti senang
kan di puji bahkan mau di minta nomor hp.” Gita masih manyun.
__ADS_1
“Astaga, gue nggak kepikiran mau
ngasih juga. Lagian pujian dia nggak se tulus pujian lo sama gue. Jadi buat
apa, perasaan tadi gue nggak dengar dia ngomong apa.” Kata Gilang melepaskan
lipatan tangan Gita. Dia memegang ke dua tangan Gita lalu menciumnya.
“Eh.. ini sekolah main cium-cium.Nanti
kalau lo kena skors gimana, kalau gue mah nggak masalah.” Gita menarik tangannya.
“Kalau di skors bareng ya kita jalan-jalan
donk.” Jawabnya sambil tertawa kecil.
“Waduh bahaya nih, udah mulai tertular
sifat gue.” Gita panik. Dia takut Gilang berubah menjadi seperti dirinya. Tidak lagi Gilang yang tertib, rajin dan pintar.
“Seru tahu. Kapan-kapan ajakin gue bolos
ya loncat pager belakang.” Gilang menyindir Gita yang dulu sering kabur lewat gerbang belakang.
Plak!
“Ngeledek ya.” Gita manyun lagi.
Sedangkan Gilang hanya bisa tertawa melihat ekspresi pacarnya itu.
"Dah yuk.. gue anterin ke kelas." Gilang merangkul Gita.
Gita sekarang sering menjadi sorotan di sekolah karena bisa mengaet Gilang. Banyak cewek yang mencoba mendekatnya namun selalu dia tolak. Sedangkan Gita justru selalu di uber sama Gilang.
Gita melambaikan tangan saat dia mau kembali lagi ke kelasnya.
"Pakai pelet apa lo bisa menggaet Kak Gilang." Mita nyinyir sama Gita.
"Kenapa iri ya lo karena gue bisa pacaran sama Kak Gilang. Lo mau link dukunnya." Kata Gita.
"Dih.." Mita menatap hina Gita.
"Dengerin gue. Lo emang pinter, cantik tapi nggak akan pernah dapatin orang yang tulus kalau pikiran lo licik dan busuk." Kata Gita.
"Lo jangan bangga dulu, gue yakin Kak Gilang itu pacaran sama lo juga nggak tulus. Mana mungkin seorang Kak Gilang mau sama cewek modelan kayak lo." Mita melihat Gita dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Oiyaa... kenyaataanya Kak Gilang terus ngejar gue tuh. Bahkan dia bersumpah tidak akan menikah kalau bukan sama gue." Gita mengarang cerita agar Mita berhenti mengatainya.
Mita melipat kedua tangannya di dada, kemudian dia memutari Gita.
"Lihat saja, sebentar lagi Kak Gilang juga akan meninggalkan lo. Dan jatuh di pelukan gue." Mita tersenyum sinis lalu masuk ke kelas lebih dulu.
"Pede benar tuh cewek mau ngerebut pacar gue. Lihatin aja kalau lo berani menyentuh pacar gue." Ancam Gita.
"Siapa yang mau merebut pacar lo?" Tanya Fara yang ada di belakang Gita.
"Mita."
"Cewek itu emang rese deh, baru aja masuk di kelas kita udah berani-beraninya cari masalah sama lo." Fara menyodorkan plastik berisikan es teh pesanan Gita.
"Monika mulai diem nggak rese, ada lagi satu." Kata Fara.
"Mesti di beri pelajaran ini mah." kata Gita sambil melihat ke arah Fara.
__ADS_1
"Gue setuju." Jawab Fara semangat.