
Gilang mengucek kedua matanya ketika alaramnya sudah berbunyi, dia berajak dari
kasurnya menuju jendela di samping meja belajarnya. Dia membuka lebar-lebar
mebiarkan udara memasuki seluruh sudut kamarnya. Dia masuh saja menguap karena
semalam begadang sampai pagi, mengerjakan tugasnya.
Tiga bulan ini, bulan yang sangat berat baginya. Dia harus mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang-orang terdekatnya, dia juga harus beradap tasi dengan lingkungannya.
Sebenarnya Monika menawarkan Gilang untuk tinggal bersama dia di rumah keluarganya, namun Gilang menolak dia lebih memilih untuk tinggal di rumah sewaanya. Lebih nyaman dan tidak merepotkan orang lain. Selain itu dia bisa bebas melakukan apapun di rumahnya.
“Kotak apaan tuh?” katanya saat melihat kotak kecil warna hitam jatuh di bawah meja. Gilang mengambil langsung membukanya.
“Astaga, ini bukannya kotak pemberian Raka. Bagaimana gue bisa lupa." Gilang menepuk jidatnya.
Gilang merasa tidak enak hati, harusnya dia membuka saat sampai di Australia atau di pesawat. Karena kegalauan hatinya, dan kesibukan merapikan tempat tinggalnya dia jadi lupa.
Gilang memakai earphone, Gilang mengatur napas lalu menekan tombol play.
..."Raka."...
..."Sekarang menyesal? Makanya...
...kalau mau melakukan sesuatu itu di pikir dulu. Sekarang kalau sudah begini...
...siapa yang sakit hati?...
..."Gue."...
..."Kenapa lo nggak ngomong jujur sama Gilang. Ngomong baik-baik agar Gilang pergi tanpa kalian harus berpisah."...
..."Lo tuh nggak ngerti, gue kan sudah bilang dari kemarin. Lagian Kak Gilang juga lebih...
...baik tetap pergi."...
..."Kenapa begitu?"...
..."Ya kan seandainya, nanti, besok atau kapan gitu..."...
..."Ngomong apa sih lo belibet banget."...
..."Seandainya Kak Gilang nggak berjodoh sama gue kan kasian nggak dapat dua-duanya, jadi lebih baik sekarang aja dia kecewanya."...
..."Gue mau tanya, kalung pemberian Gilang beneran lo jual?"...
..."Tentu saja tidak, nih masih gue pakai,mana mungkin gue jual, ini benda paling...
...berharga."...
..."Ngomong-ngomong...
...Davit lo kasih apaan, kok mau bantuin lo?"...
..."Rahasia."...
..."Gilang...
...besok berangkat, lo mau nganterin nggak?"...
__ADS_1
..."Nggak, nanti gue nggak bisa melepaskan dia. Biar gue di rumah aja. Oiya.. kasiin...
...gelang ini ya. Tapi jangan bilang ini dari gue nanti nggak di terima. Sama...
...tolong fotoin Kak Gilang."...
Gilang menekan paus, dia tidak kuat mendengar isa tangis Gita. Dia tidak menyangka Gita mau menderita demi dirinya.
“Kenapa lo lakuin ini Gita.” Katanya kemudian play rekamannya lagi.
...“Kalau lo sudah mendengarkan ini, lo langsung saja telpon gue. Lo masih mau berhubungan dengan Gita atau tidak. Jika lo nggak menghubungi gue berarti lo memang ini melepaskan Gita.”...
Gilang mengusap air matanya yang menetes membasahi pipinya, dia langsung mengambil
ponselnya. Dia langsung menelpon Raka, dia sudah sangat terlambat. Dia berharap Raka masih menunggunya.
Derrrtttzzz.....deerrrrtttzzz....
deerrrtttzzzzz
Ponsel Raka getar, dengan mata terpejam tangannya mencari keberadaan ponselnya. Setelah menemukan dengan mata yang terbuka sedikit dia menggeser tombol warna hijau.
“Halo, ini masih pagi banget kenapa lo telpon gue Vian. Kita kan nanti bertemu di sekolah apa lo serindu itu sama gue.” Cerocos Raka tidak memberikan kesempatan Gilang untuk berbicara dulu.
“Raka ini gue.”
“Ya gue tahu itu lo, udah deh anti lagi telponya.” Raka menarik ponselnya dari telinganyna.
“Raka ini gue Gilang!” Teriak Gilang membuat Raka terkaget dan kedua matanya langsung terbuka lebar. Dia melihat layar ponsel dan ternyata nomor ponselnya berbeda.
“Ah.. lo ada apa pagi-pagi telepon. Lo bangunin gue lebih pagi daripada ayam jago.” Kata Raka sambil menguap.
“Sorry..sorry gue lupa kalau selisih waktu kita empat jam.” Gilang terkekh.
“Gue sudah dengar rekaman yang lo kasih.”
“Terus?”
“Gue tidak bisa kembali saat ini juga, tapi gue juga tidak bisa kehilangan Gita. Apa lo
mau menjaga dia untuk gue?” tanya Gilang.
“Hah.. lo sudah terlambat. Ini sudah tiga bulan lo baru menghubungi gue. Lo benar-benar nggak niat." Kata Raka.
“Apa benar sudah terlambat?” Gilang panik.
“Ya, ini sudah tiga bulan Gilang. Satu menit saja seseorang bisa berubah apalagi tiga bulan.
“Yah gue tahu ini sangat terlambat, gue terlalu kalut waktu itu. Bahkan gue lupa lo memberikan kado ini sama gue."
“Yah mau gimana lagi, gue pikir lo sudah tidak peduli lagi sama Gita."
"Raka, apa benar Gita sudah benar-benar melupakan gue?" Tanya Gilang ragu-ragu.
Menurut lo?"
Gilang menghela napas panjang, sepertinya memang takdir sudah tidak berpihak padanya.
"Mungkin..."
__ADS_1
“Sudah...sudah.. jangan terlalu berpikir keras. Rupanya lo masih belum begitu mengenal Gita."
"Maksud lo?"
"Ya mana mungkin Gita bisa melupakan lo secepat itu. Dia masih saja galau setiap hari. Nangis mulu di kamar."
“Benarkah?” Raka tak percaya mendengar perkataan Raka.
“Hem.”
“Raka gue mohon lo berikan kabar tentang Gita kepada gue setiap hari. Tapi lo jangan bilang sama Gita. Gue selalu ingin tahu apa saja yang dia lakukan.
“Iya, lalu apa yang akan lo lakukan sama dia. Gita nggak akan mungkin bertahan tanpa kepastian kan."
“Gue punya cara, dia selalu main istagram kan. Gue akan kasi kabar dia secara tidak
langsung. Gita pasti akan tahu maksud
dari postingan gue nanti.”
“Baiklah. Gue beritahu lo kalau Gita punya dua akun. Jadi lo tahu kenapa akun itu selalu muncul di instagram lo."
“Raka, gue mohon jaga Gita jangan sampai dia menjadi milik orang lain.” Gilang memohon.
“Baiklah, gue akan jaga dia.”
Makasih, gue tutup dulu telponnya.’
“Ok.”
Selesai menelpon Gilang mendapat pesan masuk dari Raka, yaitu foto Gita yang ikut ke bandara. Yang saat itu di foto sama Genta.
“Maaf Git, selama ini gue salah sangka. Lo selalu ada buat gue. Hanya saja gue yang nggak peka sama lo. Bagaimana bisa gue sebodoh itu menganggap lo penghianat.” Gilang sangat meyesal dengan tindakannya. Apalagi saat dia ingat membentak Gita.
Setiap hari gilang mendapat kabar dari Raka, berupa foto dan video. Bahkan dengan Gita sadar sebenarnya Raka sering datang ke kamarnya dan sedang video call sama Gilang.
Sedang asyik menikmati obrolan Gita sama Raka tiba-tiba Gilang bersin membuat Gita kaget, “ Eh, siapa yang bersin?”
“Hacuuiing...” Gue yang bersin orang cuma kita berdua disini. Masa ya se..."
"Jangan di teruskan Raka, gue nggak suka lo bahas begituan."
"Dasar penakut."
“Biarin, udah sana buruan minum vitamin sebentar lagi kita mau ujian.”
“Iya tuan putri, laksanakan.” Kata Raka sambil menundukan badan ke arah Gita.
“Sana pergi kau pengawalku, tuan putri mau belajar biar bisa lulus dan masuk ke universitas kebanggan tuan putri” kata Gita pura-pura anggun.
“Baiklah, tuan putri. Hamba mohon diri."
Raka menyamber ponselnya lalu pergi ke kamarnya.
“Gilang, lo hutang banyak sama gue.” Kata Raka.
“Tenang saja gue bakalan balas semua kebaikan lo sama gue. Lo akan jadi kaka ipar gue yang ter the best.”
“Pastinya, jadi jangan pernah kecewakan adik gue setelah lo pulang nanti.”
__ADS_1
“Pasti, dia akan selalu menjadi ratu dalam kehidupan gue. Gue akan bekerja keras disini untuk mendapatkan Gita seutuhnya.”
"Gue pegang janji lo Lang."