
Gita memasukan pitzza ke dalam mulutnya dengan sangat lahap, Dia sangat lapar.
Gilang tersenyum melihat Gita, dia merasa sangat lega kekasih hatinya itu
kembali lagi dalam pelukannya. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya kalau
Gita tidak selamat.
“Aaaaa...” Gita menyuapi Gilang. Gilang menggelngkan kepalanya, lalu mengambil pitzza dari
tangan Gita dan menyuapi balik.
“Kak
Gilang nggak mau?” kata Gita kemudian membuka mulutnya sedikit lebar.
“Habisin
kamu saja, aku masih kenyang.” Gilang mengusap rambut Gita.
“Em..
Fara,Raka sama Vian kemana?” Gita saking asiknnya makan sampai lupa sama yang
lain padahal awalnya mereka mau parti.
“Tadi
kan pamit mau pergi, kamunya ha..he..ha..he aja ke asyikan makan.”
“Ah..
hehe.” Gita meringis.
Gita
menggeserkan tubuhnya lalu menepuk samping kasurnya agar Gilang naik di
sebelahnya.
“Duduk.”
Gilang
bangkit lalu duduk di sebelah Gita, Gita langsung memeluk Gilang sagat erat.
“Gita
kemarin takut baget nggak bisa ketemu Kak Gilang dan juga yang lain.” Ucapnya
sambil mempererat pelukannya.
“Udah
jangan diingat lagi, sekarang kamu sudah disini selamat.” Gilang mengelus
lembut Gita.
“Kak
Gilang, Gita mau tanya?” Gita ngangkat
kepalanya.
“Apa?”
“Kalau
Gita mati lebih dulu, apa Kak Gilang mau cari yang lain?” tanya Gita.
”Ngomong
apa sih kamu?”
“Ihh...
jawab saja. Gita mau tahu jawaban Kak Gilang.” Gita merengek.
“tentu
saja tidak, aku cinta sama kamu. Kalau perlu kalau kamu mati aku pun harus
mati.” Jelas Gilang.
Gita
berdesis, “Dasar pembohong, gombal banget. Bilangnya nggak bisa hidup kalau
nggak sama dia, eh tahunya belum ada sebulan masih hidup mana udah punya
gandengan lagi. dasar buaya.” Omel Gita nggak jelas.
“Salah
ya?”
“Iya
salah. Jawab saja pasti akan datang orang sebagai pengganti namanya juga hati
manusia tidak ada yang tahu. Bukan tidak setia, tapi manusia di bumi kan pasti
butuh pasangan biar ada yang merawat saat kita sakit atau kita butuh bersandar.” Jawab Gita panjang lebar.
“Oooo,
jadi itu yang akan kamu lakukan kalau aku mati lebih dulu.” Gilang melepaskan
pelukan Gita lalu membuang muka.
“Ih..
nggak gitu. Ini itu misalnya bukan jawaban Gita.”
__ADS_1
Gilang
tidak mendengarkan Gita, dia membelakangi Gita dengan melipat kedua tangannya
di dada.
“Kak..”
Gita menarik baju Gilang.
Gilang
masih tidak bergeming. Dia kesal karena Gita menganggap jawabanya itu hanya
sebuah omong kosong. Baginya ucapanya adalah sebuah kebenaran, dia memang tidak
ingin menikah selain sama Gita. Sejak dia memutuskan jatuh cinta dengan cewek
yang dulunya gendut dan bar-bar, dia tidak akan berpaling. Meskipun suatu saat
jika memang harus berpisah dia akan tetap teguh mencintainya.
“Kak..
Gita baru saja pulang dan mau pulih masa sudah di ambekin sih. Kan nggak asik,
Gita kangen banget dan pingin peluk Kak Gilang lama-lama.” Gita menarik kaos
Gilang lagi. Gilang masih diam, namun dia menahan tawa mendengar rengekan Gita.
“Baiklah,
kalau emang Kak Gilang masih mau ngambek biar Gita pergi saja lagi.” Gita melepaskan
selimutnya dan siap turun dari kasur.
Tangan
Gilang langsung sigap menariknya, “Eh.. mau kemana?”
“Senyum-senyum
lagi, nggak merasa bersalah sama sekali.” Omel Gilang, Gita hanya
senyum-senyum. Gita menatap Gilang lekat, beberapa hari tak melihat Gilang dia
berubah lebih tampan menurutnya. Gita mencium bibir Gilang cepat, membuat
Gilang yang masih ngomel terdiam.
Gilang
mendekatkan wajahnya, dia hendak memberikan imbalan kepada Gita yang sudah
berani memberikan ciuman kepadanya meskipun sangat kilat. Wajah mereka yang
sudah sangat dekat, hidung mereka sudah bersentuhan. Gita mulai memejamkan
“Aaaaaaa...
apa nih, gue nggak lihat..beneran gue nggak liha.” Fara masuk sambil menutup
tangannya. Gilang dan Gita langsung menarik diri masing-masing hingga menjauh.
Gilang dan Gita jadi salah tingkah karena ketahuan.
“Emang
lo lihat apaan?” Vian dari belakang berlari, dia kepo dengan apa yang di lihat
Fara.
Wajah
Gita langsung memanas dan memerah, dia malu banget mencium Gilang dan di lihat
oleh Fara.
“Eh..
wajah lo kenapa merah banget. Demam?”
“Memang
apa hubungannya wajah merah sama demam, lo semakin kesini bukannya semakin
pintar tapi semakin oon banget ya.” Fara menggeleng kepala, sedangkan Vian
nyengir.
“Apa
merah?” Gita memegang dengan kedua tangannya.
“Coba
sini lihat, nanti aku dinginkan.” Gilang menarik perlahan dagu Gita kemudian
menaruh kedua tangannya di pipi Gita. Bukanya memerahnya hilang justru wajahnya
semakin memerah dan panas.
“Ya
Tuhan kuatkan hambamu ini yang jomblo, bisa-bisanya mereka bermesraan di depan
jomblo. Apa mereka tidak takut kalau jomblo bertindak menyingkirkan mereka.”
Kata Vian sambil menadahkan tangannya ke atas.
“Heh!
Do’a apaan sih lo nggak jelas banget.” Gita melepar bantal.
__ADS_1
“Tapi
doa Vian itu benar, lagian di depan jomblo masih berani-beraninya seperti itu.”
Kali ini Fara sepakat sama Vian.
Vian
menepuk tangan dengan terharu, Fara membela dirinya. Biasanya dia sama aja akan
mengejek dirinya.
“Tumben
lo belain gue.”
“Siapa
yang belain lo, orang gue belain diri sendiri.” Kata Fara sembari menyeret
kursi dan duduk di situ.
“Lah..
lo jomblo juga, sejak kapan lo putus dari Raka?” Vian menggaruk kepala.
“Sejak
kita nggak jadian lah.” Jawab Fara sewot, dia melirik Raka sekilas.
“Kita
nggak putus.” Raka nggak terima di katakan putus sama Fara.
“Kita
sudah putus ya.” Fara menggeser tubuhnya dan berhadapan dengan Raka.
“Sayang
kita nggak putus.” Raka memegang pundak Fara.
“Jangan
panggil gue sayang lagi, karena hubungan kita ini sudah berakhir.” Fara
melepaskan tangan Raka dari pundaknya.
“Kalian
berdua lebih baik duduk di sofa, dan selesaikan masalah kalian dengan baik-baik
jangan pada berantem begitu.” Gilang menenangkan Fara dan raka.
“Tidak
ada masalah diantara kami berdua, jadi nggak ada yang diselesaikan karena semua
sudah selesai. Gita gue pulang dulu, nanti gue telpon.” Fara kabut tidak mau
ngobrol dan berujung berdebat dengan Raka.
“Ok,
hati-hati.” Kata Gita sambil melambaikan
tangan.
“Fara...Fara..
tunggu.” Raka mengejar Fara.
“Kalau
gitu gue balik dulu ya, Gita semoga cepat sembuh ya.” Vian lebih baik pamit
daripada dia haus bertahan di sana dan melihat keuwu-uwuan dari Gilang dan
Gita.
“Ok,
hati-hati Vian.”
“Sip.”
Setelah
Vian pergi, Gita tiba-tiba diam melamun menatap depan dengan tatapan kosong.
“Hey,
kok melamun sih?” Gilang menyentuh pipi Gita.
“Kak,
kira-kira Raka sama Fara bakalan putus beneran atau tidak ya?” Gita sebenarnya
cemas kalau Fara dan Raka putus. Meskipun dia masih marah sama Raka namun dia
kasihan dengan Raka.
“Tergabtung
dengan mereka sendiri, kalau mereka bisa meredam ego mereka masing-masing pasti
hubunngan mereka bakalan lanjut.” Kata Gilang.
“Sudahlah
jangan di pikirkan lagi, sekarang kamu istirahat biar cepat pulih.” Gilang
menyuruh Gita tiduran.
__ADS_1