Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Di Rawat II


__ADS_3

Gita memasukan pitzza ke dalam mulutnya dengan sangat lahap, Dia sangat lapar.


Gilang tersenyum melihat Gita, dia merasa sangat lega kekasih hatinya itu


kembali lagi dalam pelukannya. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya kalau


Gita tidak selamat.


“Aaaaa...” Gita menyuapi Gilang. Gilang menggelngkan kepalanya, lalu mengambil pitzza dari


tangan Gita dan menyuapi balik.


“Kak


Gilang nggak mau?” kata Gita kemudian membuka mulutnya sedikit lebar.


“Habisin


kamu saja, aku masih kenyang.” Gilang mengusap rambut Gita.


“Em..


Fara,Raka sama Vian kemana?” Gita saking asiknnya makan sampai lupa sama yang


lain padahal awalnya mereka mau parti.


“Tadi


kan pamit mau pergi, kamunya ha..he..ha..he aja ke asyikan makan.”


“Ah..


hehe.” Gita meringis.


Gita


menggeserkan tubuhnya lalu menepuk samping kasurnya agar Gilang naik di


sebelahnya.


“Duduk.”


Gilang


bangkit lalu duduk di sebelah Gita, Gita langsung memeluk Gilang sagat erat.


“Gita


kemarin takut baget nggak bisa ketemu Kak Gilang dan juga yang lain.” Ucapnya


sambil mempererat pelukannya.


“Udah


jangan diingat lagi, sekarang kamu sudah disini selamat.” Gilang mengelus


lembut Gita.


“Kak


Gilang, Gita mau tanya?”  Gita ngangkat


kepalanya.


“Apa?”


“Kalau


Gita mati lebih dulu, apa Kak Gilang mau cari yang lain?” tanya Gita.


”Ngomong


apa sih kamu?”


“Ihh...


jawab saja. Gita mau tahu jawaban Kak Gilang.” Gita merengek.


“tentu


saja tidak, aku cinta sama kamu. Kalau perlu kalau kamu mati aku pun harus


mati.” Jelas Gilang.


Gita


berdesis, “Dasar pembohong, gombal banget. Bilangnya nggak bisa hidup kalau


nggak sama dia, eh tahunya belum ada sebulan masih hidup mana udah punya


gandengan lagi. dasar buaya.” Omel Gita nggak jelas.


“Salah


ya?”


“Iya


salah. Jawab saja pasti akan datang orang sebagai pengganti namanya juga hati


manusia tidak ada yang tahu. Bukan tidak setia, tapi manusia di bumi kan pasti


butuh pasangan biar ada yang merawat saat kita sakit atau kita butuh bersandar.”  Jawab Gita panjang lebar.


“Oooo,


jadi itu yang akan kamu lakukan kalau aku mati lebih dulu.” Gilang melepaskan


pelukan Gita lalu membuang muka.


“Ih..


nggak gitu. Ini itu misalnya bukan jawaban Gita.”

__ADS_1


Gilang


tidak mendengarkan Gita, dia membelakangi Gita dengan melipat kedua tangannya


di dada.


“Kak..”


Gita menarik baju Gilang.


Gilang


masih tidak bergeming. Dia kesal karena Gita menganggap jawabanya itu hanya


sebuah omong kosong. Baginya ucapanya adalah sebuah kebenaran, dia memang tidak


ingin menikah selain sama Gita. Sejak dia memutuskan jatuh cinta dengan cewek


yang dulunya gendut dan bar-bar, dia tidak akan berpaling. Meskipun suatu saat


jika memang harus berpisah dia akan tetap teguh mencintainya.


“Kak..


Gita baru saja pulang dan mau pulih masa sudah di ambekin sih. Kan nggak asik,


Gita kangen banget dan pingin peluk Kak Gilang lama-lama.” Gita menarik kaos


Gilang lagi. Gilang masih diam, namun dia menahan tawa mendengar rengekan Gita.


“Baiklah,


kalau emang Kak Gilang masih mau ngambek biar Gita pergi saja lagi.” Gita melepaskan


selimutnya dan siap turun dari kasur.


Tangan


Gilang langsung sigap menariknya, “Eh.. mau kemana?”


“Senyum-senyum


lagi, nggak merasa bersalah sama sekali.” Omel Gilang, Gita hanya


senyum-senyum. Gita menatap Gilang lekat, beberapa hari tak melihat Gilang dia


berubah lebih tampan menurutnya. Gita mencium bibir Gilang cepat, membuat


Gilang yang masih ngomel terdiam.


Gilang


mendekatkan wajahnya, dia hendak memberikan imbalan kepada Gita yang sudah


berani memberikan ciuman kepadanya meskipun sangat kilat. Wajah mereka yang


sudah sangat dekat, hidung mereka sudah bersentuhan. Gita mulai memejamkan


“Aaaaaaa...


apa nih, gue nggak lihat..beneran gue nggak liha.” Fara masuk sambil menutup


tangannya. Gilang dan Gita langsung menarik diri masing-masing hingga menjauh.


Gilang dan Gita jadi salah tingkah karena ketahuan.


“Emang


lo lihat apaan?” Vian dari belakang berlari, dia kepo dengan apa yang di lihat


Fara.


Wajah


Gita langsung memanas dan memerah, dia malu banget mencium Gilang dan di lihat


oleh Fara.


“Eh..


wajah lo kenapa merah banget. Demam?”


“Memang


apa hubungannya wajah merah sama demam, lo semakin kesini bukannya semakin


pintar tapi semakin oon banget ya.” Fara menggeleng kepala, sedangkan Vian


nyengir.


“Apa


merah?” Gita memegang dengan kedua tangannya.


“Coba


sini lihat, nanti aku dinginkan.” Gilang menarik perlahan dagu Gita kemudian


menaruh kedua tangannya di pipi Gita. Bukanya memerahnya hilang justru wajahnya


semakin memerah dan panas.


“Ya


Tuhan kuatkan hambamu ini yang jomblo, bisa-bisanya mereka bermesraan di depan


jomblo. Apa mereka tidak takut kalau jomblo bertindak menyingkirkan mereka.”


Kata Vian sambil menadahkan tangannya ke atas.


“Heh!


Do’a apaan sih lo nggak jelas banget.” Gita melepar bantal.

__ADS_1


“Tapi


doa Vian itu benar, lagian di depan jomblo masih berani-beraninya seperti itu.”


Kali ini Fara sepakat sama Vian.


Vian


menepuk tangan dengan terharu, Fara membela dirinya. Biasanya dia sama aja akan


mengejek dirinya.


“Tumben


lo belain gue.”


“Siapa


yang belain lo, orang gue belain diri sendiri.” Kata Fara sembari menyeret


kursi dan duduk di situ.


“Lah..


lo jomblo juga, sejak kapan lo putus dari Raka?” Vian menggaruk kepala.


“Sejak


kita nggak jadian lah.” Jawab Fara sewot, dia melirik Raka sekilas.


“Kita


nggak putus.” Raka nggak terima di katakan putus sama Fara.


“Kita


sudah putus ya.” Fara menggeser tubuhnya dan berhadapan dengan Raka.


“Sayang


kita nggak putus.” Raka memegang pundak Fara.


“Jangan


panggil gue sayang lagi, karena hubungan kita ini sudah berakhir.” Fara


melepaskan tangan Raka dari pundaknya.


“Kalian


berdua lebih baik duduk di sofa, dan selesaikan masalah kalian dengan baik-baik


jangan pada berantem begitu.” Gilang menenangkan Fara dan raka.


“Tidak


ada masalah diantara kami berdua, jadi nggak ada yang diselesaikan karena semua


sudah selesai. Gita gue pulang dulu, nanti gue telpon.” Fara kabut tidak mau


ngobrol dan berujung berdebat dengan Raka.


“Ok,


hati-hati.”  Kata Gita sambil melambaikan


tangan.


“Fara...Fara..


tunggu.” Raka mengejar Fara.


“Kalau


gitu gue balik dulu ya, Gita semoga cepat sembuh ya.” Vian lebih baik pamit


daripada dia haus bertahan di sana dan melihat keuwu-uwuan dari Gilang dan


Gita.


“Ok,


hati-hati Vian.”


“Sip.”


Setelah


Vian pergi, Gita tiba-tiba diam melamun menatap depan dengan tatapan kosong.


“Hey,


kok melamun sih?” Gilang menyentuh pipi Gita.


“Kak,


kira-kira Raka sama Fara bakalan putus beneran atau tidak ya?” Gita sebenarnya


cemas kalau Fara dan Raka putus. Meskipun dia masih marah sama Raka namun dia


kasihan dengan Raka.


“Tergabtung


dengan mereka sendiri, kalau mereka bisa meredam ego mereka masing-masing pasti


hubunngan mereka bakalan lanjut.” Kata Gilang.


“Sudahlah


jangan di pikirkan lagi, sekarang kamu istirahat biar cepat pulih.” Gilang


menyuruh Gita tiduran.

__ADS_1


__ADS_2