Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Gagal Kencan


__ADS_3

"Cie yang mau kencan." Fara menyenggol Gita.


"Apaan sih." Gita tersenyum manis, raut wajahnya tak bisa menyimpan kebahagiaan yang di rasakannya.


"Git, pakai parfum ini biar wangi." Anita memberikan parfum miliknya. "Atau mau pakai lipstik biar lo nggak kelihatan pucat gitu."


Gita mengambil parfum lalu menyemprotkan ke tubuhnya.


"Lipstiknya nggak usah, malu gue nanti kelihatan kayak ondel-ondel lagi." Gita menolak memakai lipstik milik Anita.


"Nit, jangan yang itu. Pakain lipteen lo aja kan warnanya nggak begitu jelas." kata Fara.


"Oiya, sini Git gue pakain." Anita mengambil lepteennya lalu mengoleskan ke bibir Gita.


"Beneran kan ini nggak kayak badut." Gita cemas. Dia yang jarang dandan takut memakai make up yang terlalu mencolok.


"Nggak, lihat nih lo terlihat natural tapi nggak pucat." Anita memberikan kaca. Gita memperhatikan wajahnya lalu tersenyum.


"Lumayan cerah juga ya wajah gue." Gita meringis.


"Lo nggak ganti baju dulu?" tanya Fara.


"Nggak lah kelamaan kalau harus pulang dulu."


"Devan kemana?" tanya Anita.


"Katanya dia lagi ada urusan, jadi kita langsung ketemu di tempat." Jelas Gita.


"Em.. mungkin dia menyiapkan tempatnya dulu. Jadi dia mau lo datang sendiri untuk memberikan surprize." Ujar Fara.


"Itu juga yang gue pikirin, nggak sabar tahu." kata Gita semangat meskipun tubuhnya belum seratus persen fit.


"Ya udah buruan gih berangkat, kasiankan pangeran lo nunggu lama." Kata Anita.


"Iya, doain gue ya." Gita melambaikan tangan lalu pergi ke tempat yang sudah di kirimkan Devan.


Gita pergi naik taksi, sepanjang perjalanan dia tersenyum terus. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


"Gita mau kah lo jadi pacar gue. Ya, gue mau banget." Gita latihan peraga Devan menyatakan perasaan dan dia menjawabnya.


"Ah.. apa nggak terlalu terburu-buru ya gue langsung jawab ya. Atau gue bilang Devan beri gue waktu untuk mikir." Dia kembali latihan meberikan jawaban.


"Ah.. kalau gue terlalu banyak mikir nanti Devan malah cari yang lain. Gimana nih harusnya. Andai aja ada Raka." kata Gita dengan raut muka sedih.


Gita mencoba menghubungi Raka, namun jawabanya masih sama nomornya tidak aktiv.


"Lo kemana sih Ka, apa lo nggak kangen sama gue." Gumamnya pelan sambil menyenderkan tubuhnya.


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Gita sampai di tempat makan yang si share sama Devan.


Tempat yang sangat bagus, sebelum masuk ke tempat makanya ada taman di depannya. bisa untuk sekedar nongrong dengan pemandangan yang indah.


"Dimana ya Devan." Gita masuk lalu mencari keberadaan Devan. Gita berjalan mengitari restauran sembari mencari Devan.


"Mbak permisi, apa ada yang sudah memesan tempat atas nama Devan?" Gita inisiatif bertanya ke weithers.


"Baik sebentar saya cek dulu."


"Iya Mbak."

__ADS_1


"Pesanan atas nama Devan no 36, Mbak tinggal lurus nah di nanti akan menemukan tempatnya."


"Ok Mbak, makasih." kata Gita.


"Sama-sama Mbak."


Gita langsung berjalan ke tempat yang sudah di katakan oleh waithers.


"Benar-benar keren ini tempetnya, pas banget buat nyatain perasaan." katanya sambil mengambil ponsel untuk mengabadikan pemandangan sekitar. Gita juga mengambil beberapa foto selfi lalu di kirim ke Fara dan Anita.


...Fara...


...Keren gila tempatnya...


...Anita...


...Iya, cocok buat nyatain perasaan. Gimana apa udah jadian kalian?...


...Gita...


...Belum, Devan belum datang nih....


...Anita...


...Tungguin aja, mungkin dia masih perjalanan. Atau nggak dia sedang menyiapkan kata-kata buat menyatakan perasaan sama lo...


...Gita...


...Iya...


...Fara...


Gita mencoba menelpon Devan karena sudah hampir lima belas menit dia menunggu.


"Devan kemana sih, udah lapar gue." Kata Gita sambil mengelus perutnya.


Ting! Bunyi pesan masuk di ponselnya.


...Devan...


...Gue otw ke situ, tunggu ya sebentar lagi sampai...


...Gita...


...Ok...


Perut Gita sudah mulai berbunyi, Devan juga tidak kunjung datang. Dia mencoba telpon ponselnya nggak aktiv.


"Udah hampir satu jam gue nunggu, tapi nggak datang-datang. Apa dia otw dari mesir?" gerutu Gita.


Gita sudah bosan duduk sendiri dan menghabiskan dua gelas es jeruk. Dia jalan keluar menunggu Devan. Gita duduk di taman yang mengarah ke tempat parkir jadi kalau Devan datang dia langsung tahu.


Waktu sudah mulai sore Devan tidak kunjung datang juga, perut Gita semakin perih. Dia putus asa kalau Devan tidak akan datang ke tempat itu. Namun Gita masih saja menunggu dia takut kalau dia pulang Devan datang.


...◇◇◇◇◇...


"Makasih Lang, lo udah undang makan di sini. Ini enak banget loh." kata Wahyu anggota basket Gilang.


"Iya, ini sebagai hadiah karena kemarin kita menang. Yakan Bay."

__ADS_1


"Benar, makanya sering-sering kita main basket biar traktiran jalan terus." Kata Bayu lalu tertawa.


"Tapi sayang Raka nggak ada di sini ya, pasti seru kalau ada dia." Tambah Wahyu.


"Benar, dia juga ikut andil dalam kemenangan kita."


"Kapan-kapan kita makan lagi sama Raka, biar gue yang traktir." ucap Bayu.


Sedang asyik ngobrol Bayu menghentikan langkahnya saat melihat Gita duduk sambil memegangi perutnya.


"Tunggu guys, apa itu Gita?" tanya Bayu.


"Mana?" tanya Gilang.


"Itu." tunjuk Bayu. "Kita samperi nggak nih?"


"Biar gue aja, kalian kalau mau pulang dulu nggak apa-apa." kata Gilang.


"Ok, kita balik dulu ya Lang." Pamit Bayu dan yang lain.


"Ok."


Gilang berjalan mendekati Gita, yang duduk meringkuk memegangi perutnya.


"Git.." panggil Gilang.


"Ya Devan." Gita mengangkat kepalanya.


"Gue Gilang bukan Devan." jawab Gilang jutek.


"Sorry, gue kira Devan." Katanya lalu menundukan kepalanya lagi. "Kak, apa lo lihat Devan?" Gita mengangkat kepalanya pelan.


"Nggak,"


Gita mendengus pelan, "Devan kenapa nggak datang-datang." gumamnya lirih tapi terdengar di telingan Gilang.


Gilang mengangkat wajah Gita, "Sudah berapa lama lo nunggu di sini?" tanya Gilang.


"Lebih dua jam." Jawabnya semakin lemah.


"Keterlaluan." Gilang membuka jaketnya lalu memakaikan ke tubuh Gita.


"Bangun."


"Hem."


"Bangun buruan, lo ngapain nungguin dia sampai lo pucat begini." Gilang kesal.


"Tadi dia bilang sudah di jalan."


"Udah makan belum?" tanya Gilang. Gita mengegeleng pelan. Gilang kesal, dia menarik Gita masuk ke dalam. Dia menyuruh Gita duduk dan memesankan beberapa makanan.


"Lo kenapa pesan makanan, mana banyak lagi."


"Lo masih mau menunggu dia yang belum tentu dia datang, lihat badan lo yang udah lemas, muka pucat. Sekarang buruan makan atau lo akan pingsan karena kelaparan." Gilang marah-marah.


"Iya." Gita pun akhirnya nurut apa yang di ucapkan Gilang. Dia memang sidah lapar sekali.


"Boleh gue minta minuman dingin." katanua hati-hati.

__ADS_1


"Nggak boleh, badan lo lagi nggak fit minum aja yang hangat-hangat." kata Gilang masih dengan nada tinggi.


__ADS_2