
Gilang membawa Gita, Fara dan Anita ke rumah. Mereka bertiga langsung di sidang di depan rumah. Gita menggigit bibir bawahnya sambil melirik ke dua sahabatnya. Yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya.
"Ide siapa seperti ini?" tanya Gilang. Gita dan Anita langsung menunjuk ke arah Fara. Raka langsung menatap Fara tajam. Dia terlihat marah sekali kepalanya seperti keluar tanduk merah.
"Ya kan mereka menyetujuhi." jawab Fara nggak mau di salahkan sendiri.
"Ya tapikan itu ide lo." kata Anita.
"Gita Saqueena, kenapa kamu ikut-ikutan?" Gilang berjalan di depan Gita dengan kedua tangan di lipat di dada. Wajahnya tampak kesal ingin sekali dia memakan Gita.
"Ya kan Fara bestie aku sama Anita, makanya kita ngikut. Masa ya nggak ditemani kasihan kan kalau Fara sendirian." Jawab Gita tanpa beban sama sekali.
"Iya, kalau terjadi apa-apa gimana coba?" tambah Anita.
"Kalau memang takut kenapa-kenapa, harusnya di cegah bukanya kalian ikutin. Sekarang kalau tadi kesana terus kenapa-kenapa sama kalian. Siapa yang mau menolong?" Bayu nggak kalah gemesnya.
"Kalian main ikut-ikut saja, nih ya kalau Fara mengajak terjun ke sumur. Apa kalian juga mau ikut?" Kata Gilang.
"Ya ikut, kan udah bilang kita bestie. Cuman dia loncat aku sama Anita nontonin saja lah." kata Gita sambil tertawa kecil yang diikutin Anita.
Fara membalikan badan, "Wah.. kalian ya nggak setia kawan banget. Masa cuma lihatin gue. Katanya solid, bestie kok malah cuma luhatin doang." Omel Fara.
"Terus kita harus ngapain? ikut terjun.. ya pastinya nggak lah. Tahu nggak kalau sumur itu dalam yang ada kita kedinginan nggak bisa naik mati dong kita."
"Iya, nggak jadi nikah nanti. Lagian nih ya kalau kita semua ikutan siapa yang bakal doain lo pas nggak ada." kata Gita.
"Ya Tuhan, punya teman akhlaknya pada kemana." Fara geleng kepala.
"Kalian cukup, malah berdebat sendiri. Kalian sebenarnya tahu nggak itu tempat apa?"tanya Bayu.
"Tempat senang-senang." jawab Fara.
"Tempat senang-senang, disana itu banyak lelaki buaya. Gimana kalau kalian di tawar om-om." Ingin sekali Raka menyentil Fara.
"Ya nggapapa, tergantung harga." Celetuk Gita sambil terkekeh.
"Heh!" Seru Fara dan Anita. Gita langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
"Ini bukan saatnya bercanda seperti itu." Fara menepuk lengan Gita.
"Ya kalau cuma di tawar, kalau di culik paksa terus di jual keluar negeri."
"Nggak apa-apa, ketemu bule nanti aku reques ke korea biar bisa ketemu oppa-oppa.." Gita masih saja menjawab dengan bercanda.
Gilang menghela napas panjang, kemudian dia siap menyentil Gita dengan kekuatan yang tinggi.
Gita langsung menutup mata, agar tak melihat tangan Gilang mendarat di jidatnya. Gilang kemudian menyeret Gita ke teras. Kalau terus di satuin sama Fara dan Anita nggak bakalan kelar sidangnya.
"Mau kamu apa sebenarnya?" tanya Gilang.
"Nggak mau apa-apa, tadi itu cuma di ajakin sama Fara. Dan kita juga cuma mau lihat nggak mau ngapa-ngapain kok. Beneran." Gita memberikan penjelasan sembari mengangkat dua jarinya.
"Oiya, apa kamu menjamin bakalan masuk langsung keluar lagi?"
"Ya."
"Yakin?"
"Em..." pertanyaan ulang Gilang membuat Gita bingung. Karena dia juga tidak tahu apa yang akan terjdi setelah mereka masuk ke sana.
"Yang bantuin aku kamu."
"Gita... aku bukan superhero yang kalau kamu telpon atau panggil dalam sekejab langsung datang. Kamu perlu menelpon, menunggu jawaban aku, masih menunggu jalan masih juga kalau kena macet. Apa kamu masih bisa di selamatkan? Ini dunia nyata bukan dunia fantasi." Gilang gemas banget pingin menggigit Gita. Ada saja jawaban yang di berikan.
"Aku tahu kalau ini dunia nyata, makanya aku memanggil kamu. Karena kamu nggak bakalan jauh dari aku."Kata Gita sambil memeluk Gilang.
"Nggak usah peluk-peluk, aku belum selesai marahnya." Gilang melepas pelukan Gita. Dia nggak mau di peluk Gita.
"Sayang, maafin aku nggak bermaksud pergi ke situ. Fara yang ngajakin." Rengek Gita.
"Coba kalau Vian nggak ngasih tahu aku, apa kamu bakalan ngomong. Kita udah mau nikah loh, harusnya kamu diem saja di rumah jaga diri bukan malah keluyuran nggak jelas. Kecewa aku sama kamu." Gilang memutar tubuhnya dia hendak masuk ke rumah namun Gita mendekap Gilang dari belakang.
"Maafin aku."
"Renungkan dulu apa yang kamu lakukan baru kamu datang ngomong sama aku. Dari tadi bercanda mulu jawabnya. Ingat ya jangan ngomong sama aku kalau kamu belum menyadari kesalahan kamu." Kata Gilang sambil melepaskan dekapan Gilang.
__ADS_1
Gita menyusul Gilang masuk, Gita berjalan pelan saat sampai ruang tamu. Melihat temannya duduk di sofa dengan wajah yang lesu, dia pun ikut gabung.
"Git, gimana kalau Raka nggak jadi nikahin gue." Kata Fara.
"Iya, Kak Bayu juga marah besar. Kita belum lama loh balikannya kenapa udah gini lagi." rengek Anita.
"Iya nih, lo sih Far aneh-aneh aja idenya. Sekarang kita harus apa coba?" kata Gita sambil berpangku tangan mengikuti Fara dan Anita.
"Gue juga nggak tahu kalau jadinya bakalan begini. Gara-gara Vian nih kita bisa saja batal menikah." Omel Fara.
"Gimana coba bujuknya?" Tanya Gita sambil melihat ke arah kedua sahabatnya.
"Gue juga nggak tahu, biasanya gue yang ngambek dan dia yang bujuk gue." kata Anita dengan kembali bertopang dagu.
"Benar juga, gue selama ini juga hampir nggak pernah bujuk Raka." Fara menggelengkan kepala.
"Terus apa yang harus kita lakukan, gue juga belum pernah membujuk." Rengek Gita.
"Ah! Vian. Dia harus tanggung jawab dengan masalah kita ini. Enak sekali dia tertawa di penderitaan kita." Gita memberikan ide.
"Yah... semua bakal berjalan sesuai rencan kalau Vian tidak mengadu." kata Anita.
"Lagian juga lo, kemarin mengajak Vian segala."
"Ya gue kira dia bestie kita, ternyata..." kata Fara kesal.
"Wah.. jangan-jangan selama ini Vian menjadi mata-matany mereka bertiga." Kata Anita.
"Ah.. benar. Awas saja tuh bocah, Git telpin dia dong. Dan ajak ketemuan."
"Siap."
"Pantesan saja, Raka suka tahu kalau aku sering melakukan hal-hal yang tidak di sukai dia. Dan gue pasti kena marah." kata Gita.
"Emang dasar dia, gue juga salalu di omelin sama Kak Gilang."
"Hanya gue yang aman." kata Anita dengan bangga. Karena dia jauh jadi tidak ada yang mata-matai dia.
__ADS_1
"Benar juga."