
Gilang dan Gita sudah menunggu Vian untuk sarapan dan pergi ke kantor lebih dulu
sebelum menghadiri pernikahan Bella.
“Pagi.” Sapa Vian dengan wajah lebih segar meskipun dia masih menyimpan kesedihannya.
“Pagi Vian, buruan yuk sarapan.” Kata Gilang.
“Makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan hidup ini.” Kata Gita.
“Tenang saja, gue bakalan makan banyak.”
“Lo akan datang ke pernikahan Bella atau lo mau ke kantor saja?” tanya Gilang.
“Gue akan datang.” Katanya dengan menghirup
napas dalam-dalam.
“Yakin lo mau datang?” Gita mencoba meyakinkan Vian, kalau saran Gita sih lebih baik Vian tidak perlu datang kesana.
“Apa keputusan lo?” tanya Gilang.
“Aku ingin menyelamatkanya tanpa mmebawanya kabur. Yah meskipun gue nggak tahu hasilnya. Setidaknya gue akan berusaha. Jadi gue ijin nggak ke kantor hari ini”
“Caranya?” Gilang menanyakan cara Vian melakukannya.
“Yang pertama pastinya membatalka pernikahannya dulu. Setelah itu aku baru mau
mengobrol dengan keluarga besarnya agar mau mengerti putrinya.” Jelas Vian.
“Tapi kalau memang cara itu tidak berhasil, Aku akan merelakan dengan sangat iklas
Bella.”
Gita mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
“Jangan menangis dong Git, gue nggak apa-apa.” Kata Vian dengan tersenyum sok kuat.
“Lo sih pagi-pagi bikin gue terharu, lagian kenapa sih lo haru melakukan ini.”
“Sayang, biarkan Vian memperjuangkan cintanya.” Gilang mengusap air mata yang membasahi pipi Gita.
“Kita langsung ke rumah Bella, gue akan telpon Raka dan Fara biarkan yang lain nanti nyusul saja.” Gilang membatalkan pergi ke kantornya dulu. Dia ingin mengantar sahabatnya mendapatkan cintanya.
“Biar gue sendiri saja Gilang, kalau lo mau ke kantor ke kantor saja.” Vian tidak mau merepotkan Gilang.
“Nggak Vian, dari dulu lo selalu membantu gue, menjaga Gita untuk gue. Kini giliran
gue buat membatu mewujudkan harapa lo. Sayang, buruan ganti baju, aku tunggu di
mobil ya.”
‘Siap.” Gita bergegas ganti baju.
...♡♤♤♤♡...
Jam menunjukan pukul empat pagi, Bella masih duduk memadangi langit, air matanya
mash saja setia membasahi pipinya. Harapannya akan menghilang sebentar lagi.
Kehidupannya akan lenyap sebentar lagi.
“Aku akan menjadi wanita paling menyedihkan seumur hidup, aku tidak akan pernah melakukan apapun.” Katanya pelan.
Hari pernikahan Bella telah tiba, papanya baru saja membukakan pintu untuk dirinya.
Semua makanan tidak Bella sentuh. Semua benda-benada yang sudah di rapikan berantakan semua lagi.
“Ayo sayang, berdiri ini hari pernikahan kamu. Harusnya kamu bahagia.” Kata Mamanya sambil menangis. Bella sudah seperti boneka, dia menurut saja perkataan
mamanya. Dia mau di bawa kemana pun sudah tidak peduli.
“Ini pengantin perempuannya?” tanya periasnya.
“Iya, ini anak saya. Tolong ya dandani dia dengan sangat cantik.” Pinta mamanya.
“Baiklah, kak ayo kita kesana.” Ajak perias ke tempat ruangan sebelah yang rapi.
Mereka menganggap Bella seperti orang yang tidak waras, namun mereka hanya diam dan terus mendandani Bella yang terlihat seperti mayat hidup.
“Kak.. kenapa kaka tidak tersenyum bahagia. Ini kan hari bahagia kakak?” tanya perias.
“Ini bukan hari bahagia, ini adalah hari kematia saya.” Kata Bella dengan sangat
datar, tatapan matanya kosong.
“Kak, Kakak ini ngomong apa?” Perias itu bingung dan pastinya ketakutan. Dia berasa merias di film horor.
Bella diam seribu bahasa lagi, dia tidak menjelaskan apa maksud dari ucapannya. Namun ucapannya mampu membuat bulu kuduk sang perias itu berdiri.
“Ayo kita keluar.” Ajak sang perias. Dia inhin segera menyelesaikan tugasnya dan pulang dengan selamat.
Hiruk pikuk keramaian di rumahnya terasa seperti video yang tidak bersuara, Bella
hanya melihat orang-orang berlalu lalang tanpa suara. Telingannya hanya
menggema suara Vian. Bayangan Vian terus memenuhi otaknya.
Edo yang melihat Bella yang hanya diam seperti orang linglung, tatapan kosong. Air mata tak berhenti mengalir membuatnya ternyuh.
"Dia tidak bisa seperti ini terus." kata Edo. Dua hari dia melihat Bella yang begitu hancur, namun hari ini adalah hari paling hancur yang di lihat Edo.
Dia begitu mencintai orang yang dia juga tidak tahu seperti orangnya, yang katanya
lebih dari dirinya. Yang bisa membuat bahagia, nyaman saat disisinya.
“Baiklah, mari kita lanjutkan acaranya.” Kata papa Bella.
“Haruskah aku lari.” Batin Bella. Tapi niatanya itu tidak mungkin terjadi karena banyak orang yang di sampingnya. Saat dia berdiri pun pasti dia akan di tangkap sama
keluarganya.
“Saudara Edo apakah kamu mau menerima Bella sebagai pasangan suami istri?” tanya penghulu.
Mendengar ucapan penghulu, Bella semakin menjadi tangisanya. Dia benar-benar kehilangan dunianya detik itu juga. Semua impiannya lenyap begitu saja.
“Saya terima Bella sebagai istri saya.” Kata Edo.
Semua acara inti pun selesai di lakukan, dan Bella resmi menjadi istri Edo sekarang.
Vian yang datang terlambat langsung menangis, dia tidak bisa menyelamatkan gadis yang dia cintai. Usahanya telah gagal.
__ADS_1
“Maafin gue Bella, gue terlambat.” Katanya.
“Lo harus kuat Vian, lo sudah berusaha sekuat tenaga untuk memperjuangkannya.” Gilang menepuk pundak Vian.
“Iya, berarti Bella memang bukan jodoh lo, karena mau lo kejar secepat apapun kalau
memang belum jodoh kalian tidak bakalan berjodoh.” Raka menasehati Vian.
Gita datang mendekati Bella, “Bella kenapa lo meninggalkan Vian kami. Dia sangat mencintai lo.” Gita menangis sesenggukan.
“Iya, lo bilang cinta sam Vian. Kenapa lo menikah dengan orang lain. Kamu juga,
kenapa menikahi Bella. Dia kan sudah milik orang. Masih banyak kan perempuan di luar sana yang masih singgel, cantik.” Fara memarahi Edo. Fara dan Gita selalu menjadi garda terdepan untuk membantu sahabatnya. Dia bisa ngamuk dimanapun, dan juga bisa memarahi siapaun mesti tidak kenal.
“Hey, kalian.” Gilang menarik tangan Gita dan Fara yang sudah mulai ngomong
ngelantur. Mereka berdua akan mengacau pernikahan Bella dan Edo.
“Maafkan istri saya, dan juga kakak ipar saya.” Kata Gilang kepada Edo.
“Iya nggak apa-apa.” Jawab Edo.
“Sayang, kamu nggak boleh kayak begitu. Ini acara orang jangan bikin onar.” Gilang
memarahi Gita.
“Tapi dia jahat..” Gita mau mengucap sumpah serapah namun Gilang dengan cepat memegang tangan Gita dan mengkode dengan tatapan tajam.
“Sayang.”
“Aduh, biang onar emang nggak ada takutnya.” Kata Nino sambil geleng kepala.
“Kalian jangan seperti itu. Gue nggak apa-apa kok.” Vian tersenyum. Dia berjalan
mendekati Bella dan Edo.
Melihat Vian, Bella langsung nangis sesenggukan. Dia langsung memeluk Vian erat-erat.
“Vian, bawa gue pergi. Bawa gue jauh-jauh dari sini.Gue nggak mau menikah-gue nggak
mau kalau nggak sama lo.” Katanya dengan sesemggukan.
“Bella, dengarkan gue. Lo nggak boleh begitu sekarang lo itu udah resmi menjadi milik Edo. Jadi lo harus taat patuh sama dia.” Vian mencoba menenangkan Bella dan
pastinya menyadarkan kalau mereka berdua sudah tidak berjodoh.
“Nggak Vian, gue nggak mau.. tolong please bawa pergi dari sini.” Kata Bella merengek sama Vian yang membuatnya makin tersayat.
“Maafin gue Bella, gue sudah tidak bisa membawa lo lagi. Semoga rumah tangga lo bahagia Bella. Dan lo, selamat ya. Gue harap lo membahagiakan Bella dan terus mencintainya lebih dari gue.” Kata Vian sembari melepas pagangan tangan Bella.
“Vian..sayang.. Vian jangan tinggalkan gue. Vian..” Bella jatuh terduduk. Dia menangis sejadinya. Semua yang datang terpaku tidak tega dengan keadaan Bella.
Vian sudah tidak kuat lagi, dia mengajak sahabat-sahabatnya meninggalkan tempat
Bella. Dan mengajaknya pulang lebih cepat.
"Guys, ayo kita pulang." Kata Vian dengan tenggorokan yang rasanya penuh.
"Ok, ayo kita pulang semua." Ajak Gilang.
Edo pun tak kuasa, dia sudah menahan emosinya namun tak bisa.
“Nggak, gue nggak mau.” Kata Bella membangkang.
“Bangun!” Edo menarik tangan Bella sampai Bella berdiri.
“Saudara semua yang hadir, terima kasih atas kedatangan kalian dan menjadi saksi
resminya kesucian cinta kami hari ini.” Kata Edo.
“Dan hari ini juga, kalian menjadi saksi kalau saya menalak Bella. Saya menceraikannya di hari ini juga.” Kata Edo. Bella menatap Edo kaget, dia tiba-tiba
menceraikannya. Padahal dia sejak kemarin kekeh ingin menikahi dirinya.
“Bella, aku lepaskan lo. Kejarlah kebahagiaan lo.” Kata Edo. Meskipun sebenarnya dia sangat mencintai Bella. Namun dia harus merelakannya, dia tidak mungkin hidup dengan orang yang hatinya, jiwanya terus mencintai orang lain.
“Kak Edo, benarkah?” tanya Bella lagi.
Edo menganggukan kepalanya, dia tak kuasa melihat kedua ingsan yang saling mencinta
di pisahkan olehnya. Dia juga tidak mungkin bahagia diatas penderitaan orang
lain. Kalau dia teruskan pun rasanya akan berat sekali karena sampai kapan pun
cinta Bella hanya akan untuk Vian.
Bella memeluk erat Edo, kemudian dia lari dengan cepat mengejar Vian.
“Vian tunggu..!” panggil Bella.
Vian mengabaikan panggilan Bella, dia tidak kuat melihat Bella lagi. Dia juga kasian
kalau Bella terus-terus saja menginginkan dirinya sedangkan dia sudah menjadi
milik orang lain.
“Vian..tunggu jangan pergi.” Bella memeluk Vian dari Belakang.
“Bella, please jangan begini. Lo harus menjaga perasaan suami lo. Asal lo tahu gua akan selalu menyayangi lo. Meskipun kita tidak menjadi sepasang kekasih kita bisa
kan menjadi sahabat.” Kata Vian.
“Nggak Vian, kita hanya bisa menjadi sepasang kekasih. Kak Edo sudah menceraikan gue.” kata Bella dengan terbata-bata.
“Ha? Cerai..” semua kaget tidak percaya dengan ucapan Bella.
“Lo gila kali Bel, masa baru saja menikah udah cerai.” Kata Fara.
“Gue tahu lo sayang sama Vian, tapi tolong lepaskan dia. Dan jalani hidup lo dengan
bahagia.” Kata Win.
"Iya Bella, anggap saja kenangan lo sama Vian itu mimpi yang sangat indah." kata Gita mengusap bahu Bella. Dia meminta Bella lebih kuat dan iklas lagi menjalani tadirnya.
“Beneran aku nggak bohong. Kalau nggak percaya kalian masuk kembali dan tanyakan sama semua orang di dalam kalau gue emang sudah cerai sama Kak Edo.” Bella menarik
Vian dan juga teman-temannya yang lain untuk menanyakan kepada orang-orang di
dalam kalau dia memang sudah resmi bercerai.
“Vian.. nama lo Vian kan?” Tanya Edo sambil keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
“Iya." Jawab Vian sambil melepaskan pegangan tangan Bella. Dia tidak enak dengan Edo.
"Gue titip dia ya. Gue tahu dari awal kalau gue nggak akan mendapatkan cintanya sampai kapan pun. Dan gue sudah menceraikannya, gue hanya ingin merasakan pernah menikah dengan Bella saja. Jadi sekarang gue serahkan dia sama lo.” Kata Edo.
"Benarkah? kenapa lo melakukan ini?"
"Benar yang di katakan teman-teman lo kalau masih banyak perempuan singgel yang lebih baik,cantik di luaran sana."
“Terima kasih.” Vian memeluk Edo erat-erat. Dia kan selalu mengenang kebaikan Edo, karena dia merelakan orang yang dia sayang untuk dirinya.
“Tak perlu berterima kasih, karena gue memang ini adalah hak lo.” Kata Edo.
"Bella, lo sangat beruntung memiliki mereka semua." katanya sambil mengusap rambut Bella dan pamit kembali ke dalam rumah untuk membereskan segala urusan denga keluarganya.
...◇♡♡♡◇...
Bella mengajak Vian pergi meninggalkan rumahnya, mereka pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumahnya.
"Kamu senang?" tanya Vian.
"Sangat senang, aku bisa bersama kamu sekarang. Aku bisa bebas memiliki kamu sekarang." kata Bella sambil memeluk Vian.
"Em.. tapi kita belum mendapatkan restu dari orang tua kamu." kata Vian.
"Apa kamu akan memperjuangkan aku?"
"Tentu saja, kita akan mendapatkan restu orang tua kamu bersama-sama." Kata Vian.
"Bagaimana kalau orang tua ku tidak merestui kita?" Bella mendadak sedih. Dia yakin sekarang ini papanya pasti sangat marah karena ulahnya.
Bahkan dirinya langsung kabur dari rumah pasca perceraian dengan Edo.
"Bagaimana ya kalau aku diusir dari rumah?" Bella baru memikirkan resiko yamg akan dia dapatkan.
"Aku akan menghidupi kamu sayang.".
"Apa tidak apa-apa jika status aku sekarag ini janda."
"Janda apa, kamu bahkan belum ngapa-ngapain. Kamu akan tetap menjadi gadisku."
"Sayang, aku sekarang benar-benar lelah dan mengantuk." Kata Bella.
"Tidurlah, aku akan menjaga kamu." Vian me aruh kepala Bella di pundaknya. Dia memakaikan jaket ke tububnya Bella agar tidak terlalu dingin terkena angin malam.
Vian mengelus rambut Bella lembut, dia hampir saja di buat mati olehnya. Karena dia sudah kehilangan Bella separuh nyawanya.
"Perjuangan kita sangat berat sayang. Aku mau hubungan kita sampai maut memisahkan."
"Terima kasih atas cinta kamu yang sangat besar. Sampai kamu bisa melawan ketakutan kamu selama ini." Vian mencium kening Bella.
...♡♡♡♡♡...
Menjelang pagi, Vian membawa pulang Bella ke rumahnya. Dia ingin menemui keluarganya, serta meminta doa restu agar hubungan mereka di restui.
"Sayang, sekarang aku takut." kata Bella sembari memegangi tangan Vian.
"Apa yang perlu kamu takutkan, mereka itu keluarga kamu. Orang-orang yang menyayangi kamu mereka tidak akan menyakiti kamu. Percaya sama aku." Vian menenangkan Bella.
Mereka berdua masuk, dan benar mereka sudah di tunggu sama keluarga besar Bella.
"Bagus, akhirnya kamu pulang juga Bella!" Bentak ayahnya.
Bella langsung bersembunyi di balik Vian, seakan keberanianya kemarin menghilang.
"Masuk kamu!"
"Nggak mau, Bella nggak mau masuk kalau papa masih marah sama Bella. Papa masih memaksakan kehendak papa." Kata Bella.
"Om, maaf jika saya memotong omongan om. Cuman saya rasa kalau om semakin keras sama Bella. Dia akan semakin membangkang." kata Vian.
"Sok tahu kamu."
"Pak, yang di katakan dia benar. Kalau Papa semakin keras anak kita akan semakin membangkang dan pergi dari rumah." bisik istrinya.
"Om, Tante... perkenalkan saya Vian. Pacar Bella, saya kesini mau menyerahkan Bella kepada om sama tante."
"Sayang, kamu kok menyerahkan aku. Aku nggak mau." Bella memegang erat tangan Vian.
"Dengarkan dulu, jangan memotong omongan aku." Bisik Vian.
"Iya."
"Saya minta maaf karena semalam lancang membawa putri Om, sama tante. Tapi bukan saya bermaksud untuk apa-apa. Saya hanya menenangkan putri Om sama Tante. Dan sekalian saya disini ingin melamar putri om." Kata Vian.
"Kamu mau melamar putri tante?" tanya mamanya Bella.
"Iya tante, sebenarnya sebelum ini saya sudah ingin melamar putri tante, tapi karena Bella tidak memberikan jawaban-jawaban makanya saya menunggunya. Saya memang tidak kaya, dan banyak hal yang kurang di bandingkan Edo. Tapi saya akan berusaha membahagiakan Bella." Vian bicara panjang lebar.
Papanya Bella belum merespon omongan Vian, Bella pun berjalan pelan dan bersimpuh dihadapan papanya. Vian ikut melakukan di samping Bella.
"Pa, Bella mohon sekali ini saja. Kabulkan permintaan Bella. Bella nggak akan meminta apa-apa lagi. Bella hanya mau Vian Pa." Bella meraih tanga Papanya.
"Pa, kasihan Bella berilah dia restu." Pinta mamanya.
Mamanya pun ikut bersimpuh si depan papanya, dia sudah tidak tega melihat penderitaan putrinya. Melihatnya dua hari tidak makan, tidak mau ngapa-ngapain sebagai mama rasanya hancur.
"Bella- Vian berdiri." Kata mamanya kesal.
"Tapi ma.."
"Berdiri mama bilang."
Bella dan Vian berdiri sesuai arahan mamany, "Sayang, kamu anak mama kalau memang papa kamu tidak mau merestui maka restu mama bersama kalian. Papa kamu yang berubah angkuh seperti itu tidak perlu kamu pikirkan."
"Tapi ma.."
"Dengarkan mama, mama yang mengandung kamu sembulan bulan. Mama juga berhak atas kamu. Dan mama memberikan kebebasan kamu untuk memilih pilihan kamu." Mamanya memeluk Bella erat.
"Makasih ma."
"Vian, bawa putri tante kemana pun kamu melangkah. tolong jaga anak tante seperti tante menjaganya. Sayangi dia seperti tante menyayangi Bella." ujar Mamanya.
"Pasti tante, Vian berjanji."
"Tunggu." Papanya menahan Bella. Dia langsung menarik Bella dalam pelukannya.
"Maafkan papa karen terus menekan kamu. Papa akan merestui kalian. Tapi jangan pernah tinggalkan rumah ini kamu putri satu-satunya papa." kata Papanya.
Air mata Bella langsung pecah, dia kembali menemukan sosok papanya yang sangat menyayanginya. Sudah lama dia kehilangan, dan akhirnya kembali lagi.
Vian adalah berkah bagi dirinya, dia mengembalikan semua kebahagiaan yang telah menghilang. Selain itu Vian juga memberikan kehidupan baru baginya.
__ADS_1