
...Gilang...
...Ta.. sudah tidur?...
...Gita...
...Belum, ada apa?...
...Gilang...
...Masih ngambek kah?...
...Gita...
...Siapa sih yang ngambek, udah di bilang dari tadi nggak ngambek juga....
...Gilang...
...Gita Saquena pacarnya Gilang...
...Gita...
...Nggak ya, gue nggak ngambek, nggak cemburu...
...Gilang...
...Terus kenapa manyun aja dari tadi?...
...Gita...
...Siapa yang manyun orang gue biasa aja....
Gilang gemas dengan Gita karena tidak mau mengaku dan terus mengelak. Dia langsung video call Gita agar semuanya cepat clear dan bisa tidur dengan nyenyak.
"Aduh.. pakai video call." kata Gita langsung memasang wajah senyum. Biar tidak ketahuan kalau dia sebenarnya kesal dan cemburu.
"Hai Ta.." sapa Gilang.
"Iya." jawabnya singkat.
"Ih.. jawabnya kenapa ketus banget sih." Gilang memasang wajah sedih.
"Siapa yang ketus, orang biasa aja. Lo aja yang sensitif." jawab Gita datar.
"Bukan gue yang sensitif tapi lo, dari tadi marah-marah, ngambek, nggak mau makan."
"Siapa juga yang marah-marah," Masih saja ngeles.
"Anak tetangga gue yang marah-marah. Ok gue minta maaf deh. Lo mau apa biar lo nggak ngambek lagi?" Gilang mengalah meskipun tidak melakukan kesalahan apa-apa.
__ADS_1
"Apa hubungan Kakak sama Kak Monika." Pertanyaan tadi siang di ulang karena dia belum mendaparkan jawaban yang tepat menurutnya.
"Ya Tuhan, jadi gara-gara masalah Monika lo ngambek." Gilang menghela napas panjang. Gita hanya diam tidak merespon omongan Gilang.
"Gini ya, gue menolong Monika bukan bermaksud apa-apa dan juga bukan karena punya hubungan spesial. Tapi karena rasa kemanusiaan lagian kan dia juga teman sekelas gue masa iya gue tinggalin aja." Jelas Gilang. "Sekarang kalau posisi lo jadi gue apa yang akan lo lakuain, pasti sama kan?"
"Benar juga, kenapa gue jadi kekanak-kanakan gini sih. Lagian kalau sampai Kak Monika kenapa-kenapa karena Kak Gilang tidak peduli." batin Gita.
"Diem lagi, jangan buat gue begini dong. Nggak bisa tidur, nggak enak makan gue."
"Lebay deh.. orang gue juga masih pacar lo."
"Iya... kalau pacar jangan di galakin gitu dong. Bilang jangan lupa makan sayang, istirahat yang banyak ya sayang, gue kangen sama lo. Begitu." kata Gilang dengan nada yang di buat-buat membuat Gita tertawa.
"Ih.. geli tahu." Gita jadi senyum-senyum malu.
"Geli kenapa?" Gilang sudah mulai lega melihat Gita tersenyum.
"Nggak tahu, gue mau tidur."
"Ok sayang. Selamat tidur semoga mimpi indah. Jangan ngambek-ngambek lagu. I love you." Cerocos Gilang.
"Iya lo juga." Gita langsung mematikan ponselnya.
"Iya lo juga," Gilang mengulang ucapan Gita. "Nggak bisa apa bales i love you to Gilang." Omel Gilang. Sebenarnya Gita membalas perkataan Gilang namun setelah mematikan ponselnya karena dia masih ngambek sama Gilang gara-gara Monika.
Ucapan selamat malam itu membuat Gita guling-guling, dan tertawa kecil. Dia sangat bahagia mendengarnya.
"Ta bangun.. lo hari ini berangkat sendiri gue mau jemput pacar." Raka membangunkan Gita.
"Iya. buruan deh sana. Ntar pacar lo marah-marah lagi kalau telat." kata Gita.
"Iya, lo buruan bangun di rumah nggak ada orang sudah berangkat semua. Tinggal lo." Kata Raka.
"Hem.. tumben kenapa pada berangkat pagi. Kak Qila juga ada acara apa jam segini sudah pergi." Kata Gita dengan mata masih terpejam.
"Nggak tahu osis kali, buruan bangun ntar lo nggak ada yang bangunin. Bibik udah ke pasar juga." Kata Raka sambil menarik tangan Gita.
"Iya...iya...." Gita beranjak dari tempat tidurnya.
Gita langsung pergi ke kamar mandi, dia buru-buru mandi. Gita langsung bergegas turun untuk sarapan setelah selesai siap-siap.
"Yah.. sarapan sendiri mana enak. Ini kenapa semua orang di rumah pergi pagi-pagi." Gita beranjak dari ruang makan, dia tidak selera untuk sarapan.
Gita membawa tasnya, dia begegas berangkat meskipun masih pagi menurutnya.
Gita membuka pintu melihat ada tempelan kertas dengan satu bunga mawar.
"Selamat pagi." baca Gita.
__ADS_1
"Ih. siapa sih iseng banget. Pasti Kak Gilang." tebak Gita. Dia menarik kertas dan mengambil kertas dan bunganya. Dia melihat tulisan dan bunga lagi di pintu gerbang.
"Maafin gue ya." baca Gita lagi.
"Iseng banget sih, dimana sih Kak Gilang." Gita menoleh kanan kiri tapi tidak melihat keberadaan Gilang. Gita melihat satu tulisan lagi menepel di pohon.
"Nggak usah di cari, gue ada di hati lo kok. Dasar gombal." kata Gita sambil tertawa. Gita kemudian berjalan lagi menuju halte.
Gita melambaikan tangannya agar angkot yang berhenti di halte jangan jalan dulu. Gita lari, dia takut bapak sopirnya tidak mendengar.
"Pak..tunggu!" kata Gita sambil terengah-engah saat sampai di depan pintu.
"Masuk saja Dek, saya tidak akan pernah meninggalkan pelanggan saya." jawab sopie angkot. Gita mengernyitkan keningnya. Tumben-tumben sopir angkotnya baik.
"Iya Pak, terima kasih." Gita masuk matanya langsung terbelalak melihat Gilang sudah duduk di pojok angkot sambil membawa boneka besar dengan tulisa minta maaf.
"Kak Gilang, ngapain?" Gita duduk di sebelah Gilang.
"Mau minta maaf sama pacar gue yang dari kemarin ngambek terus." ujar Gilang.
"Ih.. jangan keras-keras malu nanti kalau ada orang."
"Nggak ada orang, angkotnya udah gue sewa." kata Gilang sambil tersenyum.
"Ada-ada saja, jangan-jangan semua keluarga gue pergi pagi gara-gara lo lagi." Tuduh Gita.
"Menuduh, Raka yang bilang lo nggak ada yang nganterin. Gimana nih.. maafin enggak?" tanya Gilang.
"Iya.. di maafin." Kata Gita pelan.
"Apa nggak dengar?" Goda Gilang.
"Gue maafin lo sayang." kata Gita agak keras.
"Makasih sayang." Gilang memeluk Gita erat.
"Kak...Kak... lepasin malu di lihat orang. Masih pagi kok peluk-pelukan."
"Memangnya kalau udah siang atau sore boleh peluk lo?" Goda Gilang.
"Ya nggak juga."
"Kirain, oh ya.. nih boneka buat teman yang kemarin." Gilang memberiak teddy bear ukuran besar.
"Makasih." Gita memeluk bonekanya. "Ka, Gita lapar belum sarapan."
"Ya udah kita cari sarapan dulu. Pak.. cari bubur ayam dulu ya." Kata Gilang.
"Siap Mas." sopir angkot langsung tancap gas.
__ADS_1
Pagi yang cerah dan serasa bagai dunia milik berdua, Gita sangat bahagia dia di perlakuka seperti seorang ratu sama Gilang. Tidak hanya saat dia sudah berubah langsing namun di saat dia merasa jelek pun Gilang tetap memperlakukan dirinya sepeeti itu.