Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Makan malam II


__ADS_3

Gita mencari keberadaan Gilang, semenjak makan malam dia tiba-tiba menghilang tidak


gabung ngobrol.


“Kak, Gita mau ke toilet dulu.” Gita minta izin.


“Ok, lo masih tahu kan toiletnya dimana?”


“Masih Kak.” Gita tersenyum.


“Kenapa Kak Andini sangat welcome banget sama Gita, sedangkan sama gue kelihatan lebih cuek.” Batin Monika.


Gita sebenarnya tidak ingin ke toilet tapi dia mau pergi mencari Gilang. Gita


celingukan kayak maling sedang cari barang-barang berharga di rumah Gilang.


“Cari apaan?” Gilang memegang pundak Gita.


“Astaga.” Gita kaget lalu memegang dadanya. “Ish.. lo kenapa dateng nggak ngomong-ngomong bikin kaget saja.”


“Lo ngapain celingukan kayak mau maling.” Gilang menatap Gita, dia ingin tahu alasan Gita.


“Gue cariin lo, lagian habis makan langsung menghilang.” Kata Gita.


“Kangen ya.” Gilang mencolek dagu Gita.


“Siapa yang kangen.” Gita memegang kening Gilang dia mau ngecek suhu badan Gilang.


“Gue sudah baikan apalagi makan masakan lo.” Kata Gilang mengajak Gita duduk di


sofa.


“Itu bukan gue yang masak tapi Bik Nana.” Jelas Gita. Dia tidak mau Gilang salah


paham, takutnya kalau suatu hari nanti di suruh masak dan rasanya nggak enak


dia juga yang repot.


“Tahu, tapi lo juga ikut bantuin kan.” Gilang memegang jari Gita. “Ini buktinya tangan


lo di kasih plester.” Gilang mencium jari Gita yang di plester.


“Cepat sembuh ya jari-jari manis, terima kasih dan maaf gara-gara gue kalian terluka.” Gilang ngomong sama jari-jari Gita.


“Apaan sih Kak, aneh banget sih.” Gita tertawa lalu geleng kepala melihat tingkah


Gilang yang konyol.


Mendengar kehebohan di dalam Monika masuk ke dalam, dia kesal melihat Gita dan Gilang dekat dan bercanda gurau sedangkan dia yang sejak datang di cuekin terus sama


Gilang.

__ADS_1


“Kalian kenapa nggak ngajakin gue ngobrolnya, Gita lo sengajakan ngajak Gilang disini biar nggak gabung sama gue dan Kak Andini.” Omel Monika kesal.


“Kenapa lo suka sekali menyalahkan Gita, gue kok yang ngajakin dia disini. Lagian kita


kan pacara terus kenapa lo yang repot sama kedekatan kita.” Ujar Gilang.


“Gilang, gue tahu kalian pacaran. Tapi apa lo nggak lihat gue selama ini. Hampir dua


tahun gue selalu ada buat lo, perhatian dan mencintai lo. Tapi kenapa lo tega sekali sama gue.” Monika mulai menitikan air mata. Dia seolah menjadi korban


yang di sakiti Gilang dan juga Gita.


“Monika, bahkan gue sudah bilang semenjak kita kenal. Jangan pernah jatuh cinta sama gue karena gue nggak akan pernah menerima lo.” Kata Gilang sangat menusuk hati Monika.


“Tapi kenapa?” Monika meminta penjelasan kenapa Gilang selalu melarangnya jatuh cinta padanya.


“Ya karena gue hanya menganggap lo teman tidak lebih.” Jawab Gilang dengan jelas.


“Terus kenapa lo selalu baik sama gue, tolongin gue ketika gue kesusahan. Apa lo sama sekali melakukan itu tanpa perasaan?” Monika mengungkit kenangannya saat Gilang perhatian sama dirinya.


“Lo salah mengartikan semua yang gue lakukan. Tidak pernah ada hati setiap gue


memberikan bantuan kepada lo ataupun perempuan lain. Gue hanya membantu karena kemanusiaan, karena lo teman gue. Tidak lebih.” Gilang menjelaskan semuanya


agar Monika tidak salah paham terus dengan kebaikan yang di lakukan Gilang.


Sebenarnya hanya Monika yang baper, dia merasa di spesialkan sama Gilang. Padahal Gilang juga memperlakukan semua temannya sama tidak pilih-pilih.


“Lo jahat Gilang.” Monika keluar sambil menangis, Andini berlari mengejar Monika.


“Kenapa gue harus mengejar dia?” Gilang mengerutkan kening lalu duduk.


“Ya kalau Kak Monika kenapa-kenapa gimana, dia sedang patah hati gue takut kalau dia melakukan hal-hal yang tidak-tidak.” Gita duduk dan membujuk Gilang agar dia mau mengejar Monika dan menenangkannya.


“Itu hanya akan memperburuk keadaan, dia akan melunjak dengan mengancam dan meminta yang tidak-tidak. Biarkan saja ini tidak ada urusannya sama kita. Jangan


terlalu baik kepada orang yang hanya akan memanfaatkan kebaikan kita.” Gilang


menasehati Gita agar tidak mudah untuk percaya sama orang.


“Tapi kalau dia kenapa-kenapa gimana?” meskipun dia tidak suka sama Monika namun dia masih memikirkan Monika takut dia kenapa-kenapa.


“Dengerin gue, Monika itu orangnya licik. Kalau gue ataupun lo yang datang dia hanya akan memanfaatkan kita. Apa lo nggak paham juga dengan apa yang gue bicarakan.” Jelas Gilang.


“Gue jelas, hanya saja gue suka takut menyakiti orang lain.”


“Sudah lupakan dia.” Gilang mengelus kepala Gita agar dia tenang dan tidak lagi


memikirkan Monika.


“Gilang, Gita kalian berdua sudah jadian?” Andini yang baru saja masuk langsung heboh. Dia tidak membahas tentang Monika justru lebih antusias dengan hubungan asmara adiknya.

__ADS_1


“Iya Kak.” Jawab Gilang dengan lantang.


“Akhirnya adik gue nggak galau lagi.” Andini memeluk Gita erat. Dia senang sekali karena Gita mau menjadi pacar adiknya itu.


“Gita, Kakak jadi kepo bagaimana lo bisa menerima adik gue yang malang ini setelah


beberapa kali lo tolak?” Andini antusias.


Gita menoleh kearah Gilang, dia agak terkejut karena Andini tahu kalau dia beberapa kali menolaknya.


“Gita tidak tahu Kak. Sampai sekarang juga masih bingung kenapa gue pacaran sama Kak


Gilang.” Gita meringis sampai seluruh giginya yang berderet rapi kelihatan.


“Jadi sampai sekarang lo belum tahu kenapa jatuh cinta sama gue?” Gilang shock.


“Iya.” Gita meringis lagi.


“Jangan-jangan lo kesambet lagi jadi mau sama Gilang.” Ceplos Andini.


“Kalau nggak Gita kena pelet kali, Kak Gilang kan sering bawain Gita makanan.”Gita makin menjadi mengerjai Gilang.


“Ah bisa saja, saat dia membawa makanan suka komat-kamit.” Tambah Andini.


“Terus..terus, kompak banget ya kalian berdua buat jailin gue.” Gilang ngomel. Gita dan Andini langsung tertawa, melihat Gilang yang ngomel.


“Yah apapun yang akhirnya membuat lo jatuh cinta gue terima kasih karena


menyelamatkan adik gue dari gila karena terus memikirkan lo.” Andini mengelus


kepala Gita lembut. Dia sangat sayang kepada Gita sama seperti dia menyayangi


Gilang.


“Apaanbsih Kak, lebay mana mungkin gue gila.”


“Gita yang beruntung kak bisa menjadi pacar Gilang, Kak Gilang selalu saja suport dan jaga Gita. Apalagi punya kakak ipar seperti Kak Andini yang menyayangi Gita.


Gita sangat beruntung.” Gita melihat kearah Gilang, malam ini dia sangat bahagia meskipun awalnya kesal karena Monika.


“Sekarang gue anterin pulang, nanti di cariin sama keluarga lo.” Kata Gilang.


“Eh.. nggak usah biar gue naik taksi saja. Lagian Kak Gilang juga harus banyak


istirahat bukan.” Gita menolak diantar pulang.


“Gue sudah sembuh, gue itu Cuma nggak enak badan bukan sakit yang parah.” Jelas


Gilang.


“Iya Gita, biar dianatar Gilang saja lebih aman.”

__ADS_1


“Ya sudah, lo ambil jaket dulu biar nggak dingin.”


“Siap komandan.” Gilang hormat lalu bergegas mengambil jaket di kamarnya.


__ADS_2