
Liburan usai, Gilang dan Gita sudah kembali ke rumahnya dan mereka pun harus kembali
bekerja lagi. Gita menggeliat, dia memutar tubuhnya lalu memegang sebelahnya namun sudah tidak ada orang.
“Sayang..” panggil Gita sambil beranjak. Gita berjalan menuruni tangga untuk ke meja makan.
“Pagi menantu mama?” kata Rima dengan memberikan senyuman seperti biasa.
“Mama.. eh.. ini jam berapa?” dia baru sadar kalau dia sudah tidak ada di hotel melainkan di rumah mertuannya.
“Baru pukul delapan.” Kata Rima
“Oh.. baru pukul delapan. Eh..delapan?” Gita kaget.
“Iya..kenapa sayang?” Rima cemas lalu mendekati Gita.
“Mama maaf, Gita tidak bisa menjadi menantu yang baik. Harusnya kan Gita bangun pagi, siapin sarapan untuk Kak Gilang, Mama. Tapi Gita malah kesiangan?” Gita memasang wajah melas takut mertuanya itu marah dan mengecap dirinya menantu yang tidak tahu diri.
“Ah cuman itu, ya ampun sayang mama kira kenapa. Kamu mau bangun jam berapa pun
nggak masalah. Disini sudah ada bik Siti yang melaukan semuanya jadi kamu jangan cemas ok.” Rima mengusap rambut Gita.
“Wow.. amazing sekali mertua aku ini. Memang mertua idaman banget deh.” Batin Gita.
“Kalau begitu Gita pergi siap-siap mau ke kantor ya ma.” Gita bergegas naik ke kamarnya lagi untuk pergi ke kantor.
“Pelan-pelan saja sayang, nanti mama anterin.” Seru Rima.
“Iya Ma.”
Gita turun dari mobil mamanya langsung berlari, dia sudah telat hampir dua jam. Dia
langsung absen dan masuk ke ruangannya.
“Selamat pagi nyonya bos.” Sapa teman sekantornya.
“Selamat pagi, eh kenapa panggil nyonya bos sih panggil saja Gita.” Gita tidak enak
mendengarnya.
“Ya kan lo udah jadi istri Bos Gilang jadi boleh dong kita panggil nyonya bos.”
Kata Ina.
“Tidak boleh.” Gita tidak mau di panggil nyonya bos. Semua orang cukup memanggil Gita saja saat di kantor. Dan di perbolehkan memanggil nyonya Gilang saat di luar kantor.
“Win.. lo hati-hati loh kalau ngomel-ngomel sama Gita nanti di marahin balik sama Pak
Bos.” Nino menggoda Win. Karena Win memang sering ngomel sama Gita dengan semua tingkah kekonyolannya.
“Ya kalau memang dia salah bakalan aku marahi lah.” Win sok-sokan berani.
“Berani?” tanya Vian.
“Berani lah.” katanya masih pede.
“Pagi Bos Gilang..” Nino mengangkat tangannya.
Semua orang bergegas menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Win.
“Maaf bos, maafin saya hanya bercanda.” Kata Win sembari mengangkat kepalanya ke arah pintu. Suara tawa langsung menggelegar di ruangan itu.
“Sialan lo ya pada, buruan kerja atau aku akan potong gaji kalian.” Kata Win dia kesal
karena di kerjain sama Nino.
“Sadis banget bung.”
“Eheemm, kalian pasti udah begini-begini ya?” kata Ina sambil mengerak tangannya
membentuk ciuman. “Gimana rasanya?”
“Ish.. Mbak Ina ini ya. Kalau mau tahu buruan deh nikah sama Mas Win. Nanti kalau kita ceritain jadi kepingin kan bahaya.”
“Apaan sih, siapa juga yang mau menikah sama Win.” Kata Mbak Ina.
“Mas Win, Mbak Ina mau dinikain nih. Dia udah pingin honeymoon loh.” Seru Fara.
“Iya Mas, katanya kapan sih Mas Win mau melamarnya.” Gita tambah membubuinya.
“Nggak-nggak mereka berdua ngaco,jangan pada ngarang ih. Lagian siapa yang mau menikah sama Win.” Kata Ina.
“Heh.. kalian jangan gitu. Ina tuh udah punya pacar sekarang jadi menikahnya bukan sama Win.” Ujar Nino.
“Beneran nih Mbak Ina udah move on sama Mas Win?” Gita kepo.
“Sejak kapan?” Bella yang sedari tadi diam ikut kepo.
“Kalian nggak tahu, kemarin dia habis pulang kerja lalu pergi makan sama cowok.” Nino mulai memanasi Win.
“Oiya..” Fara tidak percaya.
“Iya, gue juga lihat kok. Pakai gandengan tangan lagi. Wah kayak remaja lagi pacara
begitu.” Vian ikut memanasi Win.
“Kalian jangan ngadi-ngadi deh.” Ina ketar-ketir kalau sampai Win berpikiran seperti itu.
“Braakkk!” Win menggebrak meja, semua langsung menoleh ke arah Win dan diam.
“Bisa nggak kalau kalian mau gosip tuh pas jangan ada orangnya. Nggak pada punya
akhlak nih semua anak buah.” Win geleng kepala.
“Ya kan biar kita gosipnya nggak dosa, karena ada orangnya sekalian.” Ujar Gita
dengan wajah tanpa dosa.
“Benar, lagian Mas Win kenapa marah-marah. Cemburu ya?” Bella menunjuk tangannya ke arah Win.
“Siapa yang cemburu, orang kita berdua Cuma temenan kan ya Ina.”
“Iya, kita itu temenan nggak lebih.” jawab In
“Kalau emang temenan kenapa waktu itu bilang tunanganya pas sama Mbak Ratna, ish.. Mas Win lelaki tidak tanggung jawab, PHP.” Bella menyudutkan Win.
“Gue pula yang salah, jelas-jelas dia sudah punya cowok bagaimana aku bisa bertanggung jawab.” Win melirik kearah Ina.
“Siapa juga yang punya cowok, gue masih singgel emang lo nya aja yang phpin. Lo selalu buat gue melayang tapi habis itu lo jatuhkan lagi. Selalu saja Ratna-Ratna
jelas-jelas dia sudah meninggalkan lo sama cowok lain.”
“Jangan bawa-bawa Ratna, ini urusan kita.”
“Urusan kita, apa emang kita nggak pacaran kok ada urusan.” Kata Ina.
“Waduh..., kenapa jadi pada berantem begini.” Vian menoleh ke arah teman-temannya.
“Entahlah, mereka itu saling cinta tapi entah apa yang merasukinya sampai nggak ada yang maju.” Kata Bella.
“Belum juga ada sehari Gita sama Fara balik, udah membuat keributan disini.” Nino
mengeleng kepala sambil berjalan keluar meninggalkan Win dan Ina yang sedang
berdebat.
“Kenapa kita pula yang kena?” kata Gita.
“Iya, kita nggak melakukan apa-apa.” Tambah Fara.
“Ayo kita pergi, biarkan mereka menyelesaikan urusannya kita nggak perlu ikut campur.” Vian mengajak yang lain keluar.
“Eh tapi emang beneran Mbak Ina pergi sama cowok?” Gita penasaran.
“Tentu saja tidak, memangnya Ina berani pergi sama cowok selain sahabatnya.” Kata
Nino.
__ADS_1
“Terus kenapa kalian pada bilang seperti itu?”
“Biar rame saja, sudah beberaa hari kan kantor sepi.” Sahut Vian.
“Kalau begitu bukan kita dong biang onarnya.” Ujar Fara.
“Udahlah... kalian tuh biang onar dari segela biang onar. Kita disini cuman bumbunya saja.”
“Ish..”
Gita, Fara, Vian, Bella dan juga Nino pergi ke kantin meninggalkan Win dan Ina yang sedang berdebat.
“Kira-kira mereka bakalan jadian dan menikah nggak ya?” tanya Bella.
“Tergantung Win sih sebenarnya, kalau dia berinisiatif mau ngomong pelan-pelan dan jujur dengan hatinya bakalan jadi. Dianya sih udah suka sok-sokan nggak mau move on.” Kata Nino.
“Segitu cintanya ya sama Mbak Ratna sampai benar-benar nggak mau move on dari Mbak Ratna.” Kata Gita. Antara salut sama kasihan juga dengan Win yang mempunyai cinta dan kesetiaan yang luar biasa. Namun sedih karena dia menjadi tidak bisa melihat seseorang yang tulus mencintainya.
“Ya begitulah Win, dia akan sangat cinta kalau sudah jatuh cinta. Itu menyebalkan
karena dia menyi-nyiakan perempuan yang hebat seperti Ina yang selalu ada saat
dia benar-benar terjatuh.”
“Sayang sekali ya.”
“Lo sendiri gimana Bella?” tanya Gita.
“Gue kenapa?”
“Lo sama Vian, jadinya gimana?”
“Kita nggak gimana-gimana.” Kata Bella gugup.
“Satu pasangan friendzone tercipta.” Kata Nino dengan lantang.
“Friendzone apaan sih Mas Nino, kita ini teman kerja sama seperti aku berteman sama kalian.” Kata Vian yang masih menjaga gengsinya karena dia belum bisa
memutuskan apakah dia benar-benar suka atau hanya sekedar tersentuh hatinya.
“Sama saja pasangan yang susah aturannya, gengsinya pada gede-gede.” Ujar Fara.
“Kalian kan pada bahas Mas Win sama Mbak Ina, kenapa jadi bahas gue sama Vian.” Bella
meminta mereka agar tidak membahasnya.
“Eh.. jangan terlalu membahas mereka karena nggak ada orangnya nanti dosanya banyak.” Celoteh Gita.
“Lo pikir kalau gue ada disini nggak dosa apa lo bicarain gue.” Vian menggelengkan kepala.
“Nggak lah kan kalian dengar, lagian ini adalah nasehat buat kalian agar segera jadian menikah. Jangan jomblo aja kayak Mas Nino.” Fara menunjuk Nino
“Lololo.. kok bawa-bawa gue sekarang. Nggak sopan ya kalian.” Nino tidak mau di kecengin sama juniornya.
“Tuh kan kalau Mas Nino yang di gosipin nggak mau kalau ngecengin nomor satu.” Omel Bella.
“Ya kalau aku kan senior kalian jadi itu nggak masalah, tapi kalau kalian menggolokku namanya nggak sopan mengolok orang tua.”
“Baiklah orang tua.” Goda Gita sambil tersenyum jail. Nino mengangkat gelas siap
melempar ke arah Gita.
“Ehmm.” Gilang berdehem mereka kaget karena melihat Gilang sudah ada di belakang
mereka.
“Bos.” Sapa mereka serentak.
“Nanti sepulang kantor kita akan makan malam bersama. Aku akan menraktir kalian. Ajak Win sama Ina sekalian.”
“Baik Bos.”
“Sayang, ikut aku keruangan.”
“Iya.”
“Uuhuuuy, sayang.” Goda yang lain membuat Gita buru-buru mengejar Gilang karena malu.
Gilang membalikan tubuhnya lalu mencium bibir Gita cepat.
“Ih.. baru juga di bilang jangan bilang sayang. Sekarang main cium saja.” Omel Gita.
“Memangnya kenapa? Ini ciuman untuk tadi pagi, kan kamu belum memberikan ciuman karena kamu masih tidur. Jadi aku menagihnya sekarang.”
“Sayang, biar kita profesional. Kalau di kantor ini kan aku bawahan kamu jadi bisa nggak kalau panggil nama saja seperti yang lain.”
“Itu kamu sendiri yang panggil sayang.” Gilang duduk di kursinya dan kembali
memeriksa berkasnya.
“Ini aku sedang memberi contoh, oiya kamu ngapain suruh aku kesini? Apa ada kerjaan
buat aku sama team?” tanya Gita.
“Nggak, cuman mau melihat kamu saja.” Kata sambil mengedipkan mata kirinya.
“Ya ampun sayang kamu mah ada-ada saja deh.”
“Kenapa sih, orang kamu penyemangat aku apa salahnya kalau aku mau menambah semangat aku. Tahu nggak kalau ada kamu tuh otak aku bekerja sangat lancar. ” Gilang terkekeh.
Gita berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada, dia menghela napas kasar.
“Pak Bos Gilang, jangan lebay deh.” Gita menggelengkan kepalanya. Dia mau
meninggalkan ruangan Gilang karena dia tidak ada kerjaan di situ.
“Eh.. mau kemana?”
“Mau kembali ke ruangan.”
“Siapa yang suruh?”
“Nggak ada yang suruh inisiatif diri sendiri saja, kenapa?”
“Sini, ada kerjaan penting sekarang buat kamu.”
“Apa?”
“Ya sini mendekat, kamu nggak sopan di panggil bos bukannya langsung amaju kesini.” Kata Gilang.
“Baiklah.” Gita berjalan mendekat ke sebelah Gilang.
“Tugas ini sangat rahasia, kamu jangan memberi tahu siapapuna karena ini kerjaan yang akan membuat semua orang iri sama kamu.”
“Apa itu? apa ini pekerjaan individual?”
“Ya.”
“Apa?”
“Sini lebih mendekat.” Gita pun menuruti
ucapan Gilang.
“Cium aku, aku tidak semangat pagi belum mendapatkan vitamin dari kamu.” Kata Gilang.
“Ya Tuhan, ini mah bukan kerjaan.” Gita menepuk lengan Gilang dan berlalu pergi.
Pulang kerja mereka langsung pergi ke tempat makan, sesuai janji yang diberikan oleh Gilang. Gilang sudah memesankan ke
restauran yang sangat mewah.
“Wah.. ini mewah banget.” Kata Ina.
“Iya Bos, ini terlalu mewah buat kita makan-makan.” Tambah Win.
“Kenapa Win, dompet lo ngab..ngab.. ya.” Nino terkekeh dan dia pun langsung dapat
__ADS_1
pukulan dari Win.
“Tempat yang mewah ini memang pantas buat team aku yang sangat hebat, solit dan
terpercaya. Jadi kalian jangan sungkan pesan makanan yang kalian mau.” Kata
Gilang.
“Ayolah, kita akan di tlaktir tenang saja.” Vian menarik kursi dan meminta Bella duduk
kemudian dia duduk di sebelahnya.
“Iya, buruan gih pada duduk.” Kata Gita.
“Kamu mau makan apa sayang?” tanya Gilang sambil duduk di sebelahnya.
“Em..” Gita membolak-balikan menu.
“Ah...” Ina menghela napas lalu bertopang dagu saat melihat kemesraan Gita dan Gilang.
“Kenapa Mbak Ina?”
“Lihat noh, bos kita romantis banget jadi pengin.” Kata Ina.
Bella ikut menopang dagu, “Benar, sangat romantis.”
“Pak-Buk jangan romantis-romantisan disini lihat lah para jomblo lovers pada mengiri.” Celoteh Fara yang tahu apa pembicaraan Ina dan Bella.
“Makanya buruan pada nikah.” Kata Gilang.
“Nikah mah gampang bos, yang susah tuh cari pendampingnya.” Jawab Win.
“Ngapain cari yang jauh-jauh, kalau depan mata saja ada.” Jawab Gilang sambil melirik kearah Ina.
“Depan mata gue bini lo, gimana coba?” Vian menggoda Gilang.
“Kalau berani coba aja.”
“Kalau Gitanya mau sama gue?”
“Mau sayang?”
“Em.. gimana ya?” Gita menatap Gilang dengan senyuman lebar. Dia sengaja menjawab itu untuk menggoda Gilang.
“Nah tuh.. di tawarin segala sih lo.” Vian ngakak karena Gita justru ikut menggoda
Gilang.
“OK, Fine.” Gilang melipat kedua tangannya sembari membuang muka.
“Enggak sayang, mana mungkin aku berpaling dari kamu.” Gita ingin melepas lipatan tangan Gilang tapi Gilang terlanjur merajuk.
“Jangan marah Gita bercanda.” Gita mengoyangkan tangan Gilang.
“Ya ampun gemes banget sih. Vian senang banget sih lo mancing-mancing keadaan.”
Punggung Vian dengan mulus mendapat pukulan dari Ina.
“Salah sendiri cemburuan, bucin akut.”
“Hey.. lebih baik bucin dari pada lo sadboy.” Kini Giliran Gita menyerang Vian.
“Mana ada cerita gue sadboy.”
“Ada, lo kan nggak di terima sama Bella.” Fara membantu Gita.
“Jangan begitulah kasian tuh anak orang, bilang saja kalau memang ketampanannya di
bawah standar.” Kata Nino sambil tertawa.
“Mas Nin.. ngecengin gue. Lonya aja belum laku.”
“Eh.. apaan nih Mas Nin nama gue Nino.” Nino protes karena namanya disingkat.
“Yaelah, namanya Cuma disingkat sedikit aja protes ih..”
“Ya emang protes.”
“Bella, gimana kelanjutan huubungan lo sama Vian. Apa sahabat gue ini benar-benar tidak masuk kriteria lo?” Tanya Fara.
“Ah..” Bella mendadak gagap.
“Iya, menurut lo Vian itu cocok nggak buat lo.”
“Eh.. apaan sih kalian. Bel nggak usah jawab emang rese mereka.” Vian meminta Bella
untuk tidak menanggapi pertanyaan Fara danGita.
“Kalian berdua tuh biarin saja mereka menyatu dengan caranya, jangan di gangguin gitu.” Kata Gilang.
“Noh dengerin suami lo tercinta itu ibu Gita.”
“Ya daripada keburu ilang diambil orang, mana orangnya nggak inisiatif sama
sekali.” Celoteh Gita.
“Win, gimana nih lanjut apa enggak?” tanya Gilang.
“Apanya Bos?”
“Kemarin kamu bilang udah tunangan sama Ina? Kapan kepelaminan?”
“Eh.. ini kenapa berita sampai ke Bos ya? Gita pasti yang cerita ya?”
“Enggak, Gita nggak ngomong apa-apa. Suer.” Gita mengangkat dua jari.
“Udahlah Win, lo udah tua bukan anak remaja lagi masih aja berantem-berantem nggak jelas. Udah buru nikahin Ina kasian dia nagis mulu tiap hari.” Kata Gilang.
“Eh.. nangis??” Ina gagap.
Ina bingung kenapa Gilang bisa tahu kalau dia sering menangis,padahal dia sudah
bersembunyi di tempat yang aman agar tidak ada orang yang tahu tapi nyatanya
Gilang masih saja tahu.
Nah lo Win, lo udah tua juga masih suka bikin nangis anak orang. Mendingan bikin
anak saja.” Celoteh Nino.
“Woy.. mulut Mas Nino.” Fara tertawa sambil tepuk tangan.
“Savege!” tambah Gita.
“Gimana Win?” Gilang kembali menanyai Win.
“Gimana, gimananya ya Bos.”
“Issh.. lo ya emang tidak dapat diandalakan masalah ini. Lamar lah Ina kasih dia
kepastian atau lepaskan agar dia mencari kebahagiaanya jangan tarik ulur. Lo
juga Vian mau lo apa sekarang?”
“Lah kenapa jadi merembet ke gue, emang gue kenapa?” Vian yang anteng saja kena
juga.
“Ya buruan kejar, atau usaha apa begitu jangan kayak anak-anak yang beraninya
melihat doang tanpa berani mendekati.”
“Kenapa jadi biro jodoh ya disini?” Ujar Gita.
“Lang, kerasukan apaan lo bisa ngomong begini.”
“Kerasukan lo, tiap kali lo curhat melow mulu.”
__ADS_1
“Bagini ya bapak-bapak ibuk-ibu sekalian, makaanya sudah datang sekarang kita makan. Urusan perjodohan Tuhan yang mengatur, kalian diam jangan ikut campur karna aku sendiri bingung. Selamat makan.” Ujar Vian.
“Pinter banget mengalihkan pembicaraan.” Kata Gita.