
Gita menggeliat dia meregangkan kedua tangannya, dia perlahan menurunkan tangannya hingga berada di tubuh Gilang. Gita kaget lalu menggeser tubuhnya sedikit,
setelah itu dia melihat ke tubuhnya. Dia menghela napas lega karena pakaiannya
masih sangat lengkap.
Gita bebaring menatap Gilang, dia mengusap rambut Gilang lembut. Setelah
bertahun-tahun lamanya akhirnya bisa tidur bareng dengan satu ranjang. Dengan mata masih tertutup Gilang menarik Gita
dalam pelukannya.
“Kenapa sudah bangun sayang, masih pagi ini.” Kata Gilang dengan suara serak.
“Karena matahari sudah muncul, makanya kita harus bangun.”
“Aku nggak mau bangun, aku hanya ingin memeluk kamu seperti ini.” Jawab Gilang
sembari mempererat pelukannya.
“Tapi mau jalan-jalan, bermain di pantai.” Rengek Gita.
“Baiklah,” Gilang menuruti Gita. Sebenarnya dia malas pergi keluar, dia hanya ingin
menghabiskan hari liburannya di kamar saja.
Selesai mandi mereka langsung mencari sarapan, Gita melambaikan tangannya saat melihat Raka dan Fara sudah lebih dulu makan.
“Selamat pagi.” Kata Gita sambil menarik kursi untuk di dudukkinya.
“Udah pada pesan belum?” tanya Gilang.
“Udah kok.”
Mereka sarapan sambil ngobrol kesana kemari, setelah kenyang Gita sama Fara pergi lebih dulu ke pantai. Mereka sudah tidak sabar untuk bermain air.
“Gimana semalam?” bisik Fara.
“Nggak gimana-gimana, gue belum melakukan apa-apa.” Jawab Gita.
“Lo belum memulainya?”
“Belum, nggak tahu gue rasa belum siap dan selalu bergetar.” Katanya.
“Lo sendiri gimana?” tanya Gita lagi.
“Sama, gue juga tegang, gugup sampai bergetar. Baru juga dicium rasanya mau lari.” Ujar Fara.
“Gimana dong, gue jadi merasa bersalah gitu sama Kak Gilang. Dan gue juga takut kalau sampai Kak Gilang nanti malah melakukan sama orang lain karena gue nggak siap-siap.” Ketakutan Gita double.
“Apa kita coba nanti malam melakukannya?” kata Fara.
“Iya kali ya. Tapi gue beneran takut.”
“Eh.. pada ngobrolin apaan sih? Serius amat?” tanya Raka.
“Kalian nggak mau ngelakuin hal aneh-aneh kan?” Gilang mecurigai Gita dan Fara.
“Ihh.. curigaan deh. Orang kita cuman bahas makanan kok. Ya nggak Far.”
__ADS_1
“Iya, negatif lo.”
“Udahlah, lo nggak usah berdebat sama dua perempuan ini. Nggak ada selesainya, lo juga nggak akan menang.” Bisik Raka.
“Benar juga, cuman bikin capek mulut gue saja.” Kata Gilang.
“Sana gih kalau mau main air, kita tunggu di situ ya?” tunjuk Gilang.
“Ok.” Jawab Gita dan Fara. Mereka bergegas berlari bermain air, berlari kesana kemari
seperti anak kecil.
Gita dan Fara menyudahi bermainnya setelah mereka merasa capek dan juga haus. Mereka berdua berjalan menuju Gilang dan Raka, namun saat perjalan mereka menghentikan perjalannya saat melihat bule yang sedang lewat.
“Gila, keren banget mereka.” Kata Fara.
“Iya, itu oppa-oppa korea bukan sih? Mirip banget.” Kata Gita.
“Iya kayaknya, uuh meloyot gue.” Kata Fara.
“Ehmm.” Raka berdehem. Seketika Gita dan Fara memutar tubuhnya, mereka berdua ketahuan ngecengin bule-bule.
Gilang memegang dagu Gita, “Masih berani ya di depan suaminya ngecengin cowok.”
“Ng..” Belum selesai ngomong Gilang sudah membungkam mulut Gita dengan bibirnya. Tak hanya Gita, Fara pun di perlakukan hal yang sama oleh Raka.
“Ih.. sayang. Ini kan tempat umum kenapa kamu cium aku sih?”
“Memangnya kenapa kamu kan istri aku, mau aku cium kamu dimana pun juga nggak ada yang melarang.” Jawab Gilang. Sembari menarik tangan Gita agar meninggalkan Fara dan Gilang yang masih menikmati ciumannya. Dia tidak mau mengganggu keromantisan mereka berdua.
“Tetap nggak boleh cium sembarangan, kasihan yang jomblo. Pastikan mereka jadi
“Oiya.. disini nggak ada jomblo tuh. Lihat tuh semua orang membawa pasangannya.” Gilang memumutar jari telunjuknya ke semua penjuru.
“Atau malah aku yang jomblo.” Celetuk Gita membuat Gilang menyentil kening Gita.
“A...” Gita mengusap keningnya.
“Suami di depan mata masih bilang jomblo-jomblo.” Gilang manyun. Gita meringis, dia senang sekali menjahili Gilang.
Gita berjinjit lalu mencium bibir Gilang, “Jangan suka marah-marah nanti cepat tua
loh.” Katanya sambil melepaskan ciumannya.
Gilang menahan tubuh Gita kemudian menarik sedikit hingga mendekat. Dia membalas memberikan ciuman kepada Gita. Akhirnya mereka berdua benar-benar menikmati ciuman yang lumayan lama. Deburan ombak seakan seperti alunan musik yang memberikan irama kepada mereka.
...♡♡♡♡♡...
Dan sore pun sudah tiba lagi, Gita , mulai ketar-ketir lagi.
“Kenapa malam cepat datang sih, kan akunya jadi deg-degan keras banget.” Ucap lirih Gita sembari memandangi langit yang sudah mulai menguning.
“Sayang, mau kemana lagi kita?” Gilang merangkul Gita.
“Pulang saja yuk capek.” Jawab Gita.
“Ok, mau jalan sendiri atau mau aku gendong?” tanya Gilang.
“Jalan saja, masih kuat.” Ucapnya.
__ADS_1
Gita masih senyum-senyum sambil bercanda sama Gilang, namun saat melewati lorong
menuju kamarnya dia baru keingetan lagi.
“Eh.. kenapa gue ngajak ke kamar sih?” Gita menepuk jidatnya.
“Kenapa sayang?” tanya Gilang.
“Nggak.”
Gita masuk lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur, “Sayang, mandi dulu. Atau aku dulu
nih?” tanya Gilang.
“Aku dulu, udah lengket banget nih tubuh aku.” Kata Gita.
“Ok.”
“Eh.. kenapa gue juga sih yang mandi duluan.” Gita menpuk jidatnya lagi. Dia memilih pilihan yang salah sudah dua kali. Dia yang ingin menghindari ke kamar tapi
mulutnya menuntunya ke kamar.
Gita mengatur napas, agar dia lebih relex dan rasa gugupnya menghilang. Dia mencoba
memainkan ponselnya melihat video-video lucu.
Klek..! pintu kamar mandi terbuka Gita pun langsung terdiam meskipun dia mencoba
mengalihkan namun tetap tidak bisa. Dia melihat Gilang yang telanjang dada
lagi. Gita mencoba kembali fokus ke ponselnya.
“Ponsel kamu emang lebih menarik ya dari aku, jadi ponselnya aja terus di pandangin.
Cuekin aja akunya.” Kata Gilang sambil merebahkan tubuhnya.
“Siapa yang cuein kamu sih, aku kan menunggu kamu selesai mandi.” Gita menaruh ponselnya lalu menoleh ke arah Gilang.
“Ih.. sayang kamu kenapa nggak pakai baju? Sengaja ya mau godain aku?”
“Iya.” Jawab Gilang dengan senyuman jahil.
Gilang membuka tangan Gita, kemudian dia berada posisi di atas Gita mengunci Gita
dengan kungkungan tangannya hingga dia tidak bisa kemana-mana.
Gita menelan ludah, aroma tubuh Gilang semakin hari semakin menghipnotisnya. Dia
tubuhnya yang sixpack membuat dia sangat tergiur ingin memeluknya.
“Sayang.. kamu wangi banget sih aku jadi ingin menciun dan memeluk, dan juga meilikinya.” Kata-kata yang tersimpan di otak Gita bertahu-tahun tiba-tiba meluncur dengan mulut dari bibirnya.
Gilang tesenyum, “Bukannya memang kamu sudah memiliki aku seuntuhnya.”
Gilang mengusap rambut Gita, dia mulai mencium di bagian belakang telinga Gita dengan sangat lembut. Ciuman itupun beralih ke bibir Gita yang selalu saja menggoda Gilang untuk terus menciumanya. Bibir yang mungil namun sangat manis dan lembut.
Gilang melepaskan ciumannya, kemudian mengangkat tengkuk Gita dan kembali menciumnya. Gita malam ini tidak melawan, dia ikut menikmati kecupan demi kecupan yang di berikan sama Gilang. Gita melepaskan tangannya dari kukungan Gilang, dia memeluk tubuh Gilang yang sangat kekar itu. Dia bisa menghirup dengan sangat puas aroma tubuh Gilang yang maskulin. Ciuman mereka berdua sangat dalam, mereka saling membalas kecupan.
Gilang melepskan ciumannya untuk memberika Gita napas, agar dia lebih relax lagi. Gilang tersenyum, lalu melakukan ciumannya di mulai dari kening, hidung dan
__ADS_1
sampailah ke bibir Gita lagi.