
"Ssst." Panggil Fara. Gita tersenyum lebar lalu mendekat ke gerbang belakang.
"Bisa nggak naiknya?" tanya Fara.
"Lo pegangin gerbangnya gue naik." Kata Gita sambil melempar tasnya dulu.
"Ok..ok."
Gita langsung memanjat ketika Fara memegangi gerbangnya.
"Untung lo kurusan jadi peganginnya nggak terlalu berat." Kata Fara dengan menahan berat.
Bruuukkk! suara sepatu Gita saat tertumpu dengan lantai.
"Benar, untung diet gue nggak gagal-gagal amat. Ini sudah lumayan semua lemak menghilang." kata Gita.
"Iya, lo terlihat semakin cantik kayak anak-anak yang populer. Turun sepuluh kilo lagi lo benar-benar akan jadi primadona sekolah tahu nggak." Fara takjub dengan perubahan Gita.
"Gue nggak mau jadi primadona sekolah, gue mau jadi primadonanya Kak Gilang aja." katanya sambil cengar-cengir.
"Cieee... udah mulai suka nih sama Kak Gilang." Fara menyentuh dagu Gita dengan tangannya.
"Cewek mana yang nggak meleleh diperlakukan kayak gitu coba." Kata Gita.
"Iya juga sih, Kak Gilang emang the best deh bisa meluluhkan lo. Sampai lo mau diey segala. Lo nggak ada niatan tuh buat balas dendam sama Devan?" tanya Fara.
"Gita, Fara, ngapain kalian ngobrol di situ?!" Panggil Pak Rudi.
Gita sama Fara langsung saling berpandang, setalah itu memutar pelan.
"Ini Pak, tadi habis ke toilet." kata Fara sambil menendang tas Gita ke samping agar Pak Rudi tidak melihatnya.
"Toilet mana? Kalian berdua mau bolos ya?"
"Nggak Pak, kita itu beneran dari toilet yang ujung." Gita menunjuk toilet paling ijung dekat kantin.
"Alasan, cepat kalian berdua lari keliling lapangan lima kali. Setelah itu ke ruangan saya tulis saya tidak akan mengulangi lagi seratus kali." Suruh Pak Rudi.
"Lima kali Pak?" tanya Gita dan Fara bersamaan.
"Iya, buruan."
"Jangan lima dong Pak, nanti kita pingsan." Ujar Gita.
"Ok, sepuluh putaran."
"Lima aja Pak, kita lari sekarang." Gita dan Fara berlari menuju lapangan.
"Lo sih Far malah ngajakin ngobrol ketahuan kan jadinya." Gita menyalahkan Fara.
"Keterlaluan lo ya, udah di tolongin juga masih nyalahin gue. Nggak ada rasa terima kasihnya lo. Gue sampai di hukum begini gara-gara siapa coba?" Fara ngomel.
"Hehe.. iya...iya... maafkan diriku ini. Nanti gue traktir makan enak deh." Gita merayu Fara.
"Janji ya." Fara mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya." Gita pun menyambut.
__ADS_1
"Git, sebenarnya kita beruntung lo lari mengelilingi lapangan daripada di kelas." Jelas Fara sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Kok bisa?"
"Di kelas itu sedang di hukum selain itu juga di ceramahin." Kata Fara.
"Kenapa di hukum?"
"Karena kita nggak ada yang bisa menyelesaikan soal matematikanya itu."
"Devan? Dan gimana lo bisa keluar?"
"Nggak tahu tuh Devan, dia ogah-ogahan hanya diem nggak kayak biasanya. Terus gue pura-pura sakit perut mau ke UKS." Kata Fara dengan bangga bisa meloloskan diri dari kelas.
"Gila lo." Gita menggelengkan kepala.
Gita dan Fara mulai lelah, tenggorokan pun mulai kering. Gita dan Fara duduk di bawah pohon dekat lapangan. Mereka menselonjorkan kedua kakinya.
"Haus banget, mau ke kantin rasanya nggak kuat." Kata Fara.
"Benar, ini membakar lemaknya lumayan juga." Gita ngos-ngosan.
"Minum." Bayu menyodorkan botol mineral. Tidak hanya Bayu, Devan pun tiba-tiba ada di sebelah Bayu dan menyodorkan botol air meneral.
Gita menoleh ke arah Fara, Fara mengangkat kedua pundaknya.
"Minum punya gue aja Git, ini nggak dingin bagus buat lo yang habis lari." kata Bayu.
"Punya gue juga nggak dingin kok, lagian kita kan satu kelas gue." Kata Devan.
"Ya ada, kalau yang satu kelas itu pasti teman. Tapi kalau nggak satu kelas bisa aja modus mau berbuat jahat." Devan pun ikut nyolot.
"Picik ya pikiran lo."
"Orang-orang kayak lo itu nggak bisa di percaya."
"Idiih.. nggak sadar diri." gumam Fara pelan.
"Ayo Far, kita pergi aja." Gita memilih meninggalkan mereka berdua yang berdebat. Gita nggak mau ikut campur meskipun Bayu dan Devan ribut karena dirinya.
"Mereka berdua kenapa aneh gitu, kemarin-kemarin maki-maki lo tapi sekarang sok-sokan baik. Pasti ada udang di balik bakwan nih." kata Fara dengan julid.
"Entah." Gita juga berpikir begitu. Di tambah lagi dengan perubahan fisiknya dia semakin sadar kalau orang-orang menjadi lebih baik padanya.
"Pada lihat apaan?" Raka yang baru datang langsung ikut melongok ke arah lapangan.
"Lihat orang-orang aneh." Tunjuk Gita.
"Bayu sama Devan." Raka tertawa kecil.
"Nih minum." Raka menyodorkan dua botol air mineral.
"Thanks, kita cabut ke ruangan Pak Rudi dulu ya." Pamit Gita.
"Ok."
...◇◇◇◇◇...
__ADS_1
Gita dan Fara meregangkan kedua tangannya ketika keluar dari ruangan Pak Rudi.
"Tangan gue..." Rengek Fara.
"Sama, tangan gue juga pegel." Gita memijat tangan kanannya.
"Gita..Fara.." panggil Anita.
"Ya Nit." jawab Gita dan Fara bersamaan.
"Kalian darimana aja? kenapa nggak kembali ke kelas?"
"Kita kena hukuman Pak Rudi." Gita meringis.
"Pantesan."
"Kantin yuk, lapar nih habis keliling lapangan." Ajak Fara.
"Yuk, sebelum jam pelajaran mulai lagi." Gita merangkul Anita dan Fara.
"Lo jadi kan traktir gue?"
"Iya, lo sekalian Nit mau makan apa biar gue yang bayar." kata Gita.
"Asiiap."
Setelah memesan beberapa makanan dan siap menyantap Gita baru ingat kalau tasnya nggak ada.
"Tas gue mana ya?" Gita menoleh ke kanan dan kiri.
"Lo dari tadi nggak bawa tas." Jawab Anita mulai makan.
"Masa?" Gita mulai mengingat.
"Emm.. kita tadi ngobrol depan gerbang belakang terus ketemu Pak Rudi.." Fara menghentikan ucapanya. Lalu memandang Gita.
"Di gerbang belakang." Gita dan Fara mengingat bersamaan. Gita beranjak untuk pergi ke gerbang belakang namun di tahan sama Gilang.
"Ini tasnya." Gilang menaruh di kursi sebelah Gita.
"Makasih, kok tasnya bisa ada sama lo Kak?" tanya Gita malu-malu.
"Iya, gue tadi lihat lo panjat gerbang. Pas gue samperin nggak ada. Tinggal tasnya doang." jelas Gilang.
"Makasih Kak." Jawab Gita malu-malu lagi dengan wajah yang tiba-tiba merona.
"Makasih doang Git, ajakin dong Kak Gilang makan bareng." Kata Fara.
"Ah.. iya Kak, ikut gabung?" tanya Gita ragu.
"Kalian makan aja, gue masih ada kerjaan." Gilang pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Aduh manis banget ya Kak Gilang, andai aja lo bukan sahabat gue udah gue gebet dia." Kata Anita.
"Emang lo bisa dapetin hatinya Kak Gilang, Kak Monika yang cantik dan sangat populer aja nggak bisa apa lagi lo yang burik." Fara mengejek Anita.
"Sialan lo." Anita mengangkat tangannya hendak memukul Fara namun Fara langsung kabur di sebelah Gita.
__ADS_1