Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menunggu Panggilan II


__ADS_3

Gita menata bantal, dan siap untuk


bermimpi malam ini. Gita meregangkan kedua tangannya dan menjatuhkan tubuhnya.


Derrttzz...deertttzzz... deerrtttt...


Panggilan masuk dari Fara, “Halo Far,


ada apa?” tanya Gita.


“Gita.. gue udah keterima baru saja gue


dapat telpon besok jam delapan pagi sudah harus di kantor.” Fara teriak ke


girangan.


“Kok gue belum dapat panggilan sih,


jangan-jangan gue nggak di terima nih.” Gita manyun.


“Sabar, siapa tahu operatornya satu kan


jadimenghubunginya orang banyak. Jadi sabar.” Fara mencoba menenangkan Gita.


“Kita sambungkan sama Vian ya, dia sudah


di hubungi belum.”


“Oke.”


Mereka berdua terdiam sesaat saat


menunggu Vian mengangkat panggilannya.


“Lama banget nih bocah, lagi ngapain


sih.” Omel Fara.


“Tidur kali nih bocah.”


“Halooo ciwi-ciwi yang selalu bikin gue


kekki.” Sahut Vian.


“Darimana saja sih lo, lama banget


angkat telponya.” Fara mengomeli Vian. Para cewek-cewek sehari tanpa ngomel


sama Vian bagai sayur tanpa bumbu.


“Ada dih pada bawel saja.”


“Vian, lo sudah keterima belum?”


“Oooo ya tentu saja sudah, baru saja gue


di telepon.” Kata Vian sambil menggerak-gerakan kedua alisnya.


“Ihh.. benarkan, gue yang nggak keterima


sendiri.” Gita manyun.


“Jangan sedih dulu, kan bergilir pasti


sebentar lagi di terima percaya deh sama gue.” Jelas Fara.


“Iya Git, jangan pesimis dulu.” Vian


juga ikut menenangka Gita.


“Baiklah, gue tidur dulu.” Gita


mematikan sambungan ponsel.


“Kenapa aku jadi nggak di terima


sendiri, apa tadi gue wawancara jawabnya ngaco ya?” Gita mengingat wawancara


pagi tadi.


“Sepertinya nggak, gue cuma perkenalan


terus menyampakain visi misi kan. Gimana ni kalau gue nggakdi terima disana.


Masa iya harus meminta bantuan dari Kak Gilang. Kan nggak adil sama yang lain.”


Gita galau dan juga dilema.


“Tidur saja lah, siapa tahu ada


keajaiban yang datag kepada gue.”


Gita langsung menarik selimut sampai di


baawah leher dan mematika lampu utama. Dia berusaha memejamkan matanya, namun


karena terus kepikiran membuatnya tidak bisa tidur.


“Ahhh... bagaimana ini kenapa nggak bisa


tidur.” Rengek Gita pada dirinya sediri.


Dia membuka ponselnya siapa tahu


keajaiban sudah datang kepadanya, dan nihil belum ada perubahan.

__ADS_1


Gita menghidupkan lampunya lagi, lalu


duduk bersila dan mencoba menelpon Gilang.


“Kenapa nggak di angkat-angkat apa sudah


tidur?” Gita mendengus pelan.


Gita keluarr kamar dan pergi ke dapaur,


perasaanya sedang tidak karuan membuatnya menjadi sangat lapar. Dia ingin


memasak nasi goreng, tapi dia tidak bisa memasak akhirnya dia hanya memasak mie


instan saja. Dia nggak mau merepotkan Bik Nana yang sudah tidur.


Selesai memasak Gita duduk dimeja makan,


karena dia masih belum tenang dia mencoba menelpon Gilang lagi.


“Haloo, apa sayang.” Gilang mengangkat


telponnya.


“Kamu sudah tidur?”


“Iya, kamu kenapa masih belum tidur?”


tanya Gilang.


“Aku tidak bisa tidur, kamu mau temani


aku nggak?” tanya Gita.


“Baikalah, ceritakan apa yang membuat


kau nggak bisa tidur.” Gilang pasti akan mendengarkan keluh kesah Gita meskipun


dia sudah mengantuk. Dan dia juga tidak merasa terganggu atau marah walapun


sedang tidur lalu di bangunkan.


“Fara sama Vian sudah mendapatkan


panggilan di perusahaan kamu, tapi aku belum.” Rengek Gita.


“Ya sabar, mungkin belum sampai di kamu.”


“terus gimana kalau aku nggak bisa masuk


di perusahaan kamu. Kan aku sudah janji bakalan masuk ke perusahan kamu biar


kita bisa sama-sama. Aku ingin menggunakan nama kamu biar aku bisa masuk, tapi


rasanya nggak adil untuk orang berbakat yang sudah mendaftar ke sana.” Ucapnya.


“Ah..”


“Kamu sedang makan mie instan pakai


telor dan irisan cabe kan.”


“hehehe.. iya.”


“Kebiasaan banget, sudah buruan habiskan


makannya dan segera tidur.”


“Tapi aku tidak bisa tidur.”


“Sekarang kamu sikat gigi, cuci kaki


cuci tangan.”


“Ya.”


Gita nurut saja apa yang di katakan


Gilang, dan Gilang masih setia menemani Gita meskipun kadang suka kaget karena


tertidur.


“Sudah?” tanya Gilang.


“Iya.”


“Naik ke kasur, matikan lampunya, pakai


selimut dan jangan lupa kecilkan acnya.” Gilang masih memberikan aba-aba.


“Sudah.”


“Coba pejamkan mata kamu, jangan lupa


berdoa. Terus bayangin hal yang menyenangkan.”


“Em.” Gita mengubah posisi tidurnya


menjadi miring. Dia membayangkan kebersamaanya dengan Gilang yang sangat


menyenangkan, hingga dia lupa kecemasannya. Napas Gita sudah semakin teratur,


dia sudah mulai menuju ke alam mimpi.


“Sayang..” Panggil Gilang namun tidak

__ADS_1


ada sahutan. Gilang mencoba beberap kali memanggil juga sudah tidak di sahut


menandakan Gita benar-benar sudah terlelap.


“Selamat tidur sayang.” Ucap Gilang


sambil memaikan sambungan telponnya.


Ayam jantan sudah mulai konser, Gita


mengucek matanya lalu meregangkan kedua tangannya.


“Haooaam, tidur yang sangat nyenyak.”


Gita kembali meregangkan tangannya. Gita turun dari kasurnya lalu ke meja makan


tanpa mandi dulu.


“Ih.. lo jam segini baru bangun mana


nggak mandi lagi.” Omel Qila.


“Mandi juga mau kemana coba.” Gita


mengambil roti dan mengolesi dengan selai coklat.


“Ya mandi kan nggak harus kemana-mana


dulu, jadi cewek itu harus bersih.”


“Gita juga bersih, orang sudah gosok


gigi.”


“Gita kamu belum dapat panggilan?” tanya


Wanda.


“Belum.”


“Kamu kerja sama mama saja gimana?”


“Iya Ta, nggak perlu pakai wawancara.”


Ujar Qila.


“Iya, kamu cukup jadi asisten mama saja


dulu sembari belajar bisnis.”


“Apa nanti nggak kebalik ma, bisa-bisa


mama yang jadi asisten Gita.” Qila tertawa.


“Sembarangan saja, nggak percaya kalau


gue bisa melakukannya.” Gita manyun.


“Qila, jangan godain adiknya terus.”


“Iya tuh Ma, seneng banget Kak Qila senang


banget kalau Gita sengsara.”


“Kok sengsara gimana sih, malah enak kan


ikut mama.”


“Ck.” Gita berdecak manyun.


“Ta.. tuh ponselnya bunyi.” Tunjuk Qila,


Gita melirik sekilas lalu mengabaikannya.


“Palingan juga penelpon penipuan orang


nggak ada namanya.” Gita meneruskan menggigit rotinya.


“Eh.. Ta, siapa tahu itu panggilan kerja


buat lo.” Kata Qila. Gita berhenti mengunyah lalu menggeser tombol hijau, dia


tidak lupa loundspeaker agar mama dan kakaknya mendengar.


“Apa benar ini nomornya Gita Saquena.”


“Iya Pak benar, ini saya sendiri.”


“Selamat Mbak, anda di terima bergabung


di perusahaan GG Entertaiment. Silahkan anda anda datang ke perusahaan hari


ini, kami tunggu sampai pukul sembilan melewati batas waktu itu kami anggap


disqualifikasi.”


“Baik Pak, terima kasih.”


Setelah sambungan telepon mati, Gita


langsung teriak lompat-lompat.


“Akhirnya Gita keterima juga Ma, Kak.”  Gita girang banget.


“Kalau keterima buruan mandi ini sudah

__ADS_1


jam delapan.”


“Ok..ok.. Gita mandi sekarang.”


__ADS_2