
Gita menata bantal, dan siap untuk
bermimpi malam ini. Gita meregangkan kedua tangannya dan menjatuhkan tubuhnya.
Derrttzz...deertttzzz... deerrtttt...
Panggilan masuk dari Fara, “Halo Far,
ada apa?” tanya Gita.
“Gita.. gue udah keterima baru saja gue
dapat telpon besok jam delapan pagi sudah harus di kantor.” Fara teriak ke
girangan.
“Kok gue belum dapat panggilan sih,
jangan-jangan gue nggak di terima nih.” Gita manyun.
“Sabar, siapa tahu operatornya satu kan
jadimenghubunginya orang banyak. Jadi sabar.” Fara mencoba menenangkan Gita.
“Kita sambungkan sama Vian ya, dia sudah
di hubungi belum.”
“Oke.”
Mereka berdua terdiam sesaat saat
menunggu Vian mengangkat panggilannya.
“Lama banget nih bocah, lagi ngapain
sih.” Omel Fara.
“Tidur kali nih bocah.”
“Halooo ciwi-ciwi yang selalu bikin gue
kekki.” Sahut Vian.
“Darimana saja sih lo, lama banget
angkat telponya.” Fara mengomeli Vian. Para cewek-cewek sehari tanpa ngomel
sama Vian bagai sayur tanpa bumbu.
“Ada dih pada bawel saja.”
“Vian, lo sudah keterima belum?”
“Oooo ya tentu saja sudah, baru saja gue
di telepon.” Kata Vian sambil menggerak-gerakan kedua alisnya.
“Ihh.. benarkan, gue yang nggak keterima
sendiri.” Gita manyun.
“Jangan sedih dulu, kan bergilir pasti
sebentar lagi di terima percaya deh sama gue.” Jelas Fara.
“Iya Git, jangan pesimis dulu.” Vian
juga ikut menenangka Gita.
“Baiklah, gue tidur dulu.” Gita
mematikan sambungan ponsel.
“Kenapa aku jadi nggak di terima
sendiri, apa tadi gue wawancara jawabnya ngaco ya?” Gita mengingat wawancara
pagi tadi.
“Sepertinya nggak, gue cuma perkenalan
terus menyampakain visi misi kan. Gimana ni kalau gue nggakdi terima disana.
Masa iya harus meminta bantuan dari Kak Gilang. Kan nggak adil sama yang lain.”
Gita galau dan juga dilema.
“Tidur saja lah, siapa tahu ada
keajaiban yang datag kepada gue.”
Gita langsung menarik selimut sampai di
baawah leher dan mematika lampu utama. Dia berusaha memejamkan matanya, namun
karena terus kepikiran membuatnya tidak bisa tidur.
“Ahhh... bagaimana ini kenapa nggak bisa
tidur.” Rengek Gita pada dirinya sediri.
Dia membuka ponselnya siapa tahu
keajaiban sudah datang kepadanya, dan nihil belum ada perubahan.
__ADS_1
Gita menghidupkan lampunya lagi, lalu
duduk bersila dan mencoba menelpon Gilang.
“Kenapa nggak di angkat-angkat apa sudah
tidur?” Gita mendengus pelan.
Gita keluarr kamar dan pergi ke dapaur,
perasaanya sedang tidak karuan membuatnya menjadi sangat lapar. Dia ingin
memasak nasi goreng, tapi dia tidak bisa memasak akhirnya dia hanya memasak mie
instan saja. Dia nggak mau merepotkan Bik Nana yang sudah tidur.
Selesai memasak Gita duduk dimeja makan,
karena dia masih belum tenang dia mencoba menelpon Gilang lagi.
“Haloo, apa sayang.” Gilang mengangkat
telponnya.
“Kamu sudah tidur?”
“Iya, kamu kenapa masih belum tidur?”
tanya Gilang.
“Aku tidak bisa tidur, kamu mau temani
aku nggak?” tanya Gita.
“Baikalah, ceritakan apa yang membuat
kau nggak bisa tidur.” Gilang pasti akan mendengarkan keluh kesah Gita meskipun
dia sudah mengantuk. Dan dia juga tidak merasa terganggu atau marah walapun
sedang tidur lalu di bangunkan.
“Fara sama Vian sudah mendapatkan
panggilan di perusahaan kamu, tapi aku belum.” Rengek Gita.
“Ya sabar, mungkin belum sampai di kamu.”
“terus gimana kalau aku nggak bisa masuk
di perusahaan kamu. Kan aku sudah janji bakalan masuk ke perusahan kamu biar
kita bisa sama-sama. Aku ingin menggunakan nama kamu biar aku bisa masuk, tapi
rasanya nggak adil untuk orang berbakat yang sudah mendaftar ke sana.” Ucapnya.
“Ah..”
“Kamu sedang makan mie instan pakai
telor dan irisan cabe kan.”
“hehehe.. iya.”
“Kebiasaan banget, sudah buruan habiskan
makannya dan segera tidur.”
“Tapi aku tidak bisa tidur.”
“Sekarang kamu sikat gigi, cuci kaki
cuci tangan.”
“Ya.”
Gita nurut saja apa yang di katakan
Gilang, dan Gilang masih setia menemani Gita meskipun kadang suka kaget karena
tertidur.
“Sudah?” tanya Gilang.
“Iya.”
“Naik ke kasur, matikan lampunya, pakai
selimut dan jangan lupa kecilkan acnya.” Gilang masih memberikan aba-aba.
“Sudah.”
“Coba pejamkan mata kamu, jangan lupa
berdoa. Terus bayangin hal yang menyenangkan.”
“Em.” Gita mengubah posisi tidurnya
menjadi miring. Dia membayangkan kebersamaanya dengan Gilang yang sangat
menyenangkan, hingga dia lupa kecemasannya. Napas Gita sudah semakin teratur,
dia sudah mulai menuju ke alam mimpi.
“Sayang..” Panggil Gilang namun tidak
__ADS_1
ada sahutan. Gilang mencoba beberap kali memanggil juga sudah tidak di sahut
menandakan Gita benar-benar sudah terlelap.
“Selamat tidur sayang.” Ucap Gilang
sambil memaikan sambungan telponnya.
Ayam jantan sudah mulai konser, Gita
mengucek matanya lalu meregangkan kedua tangannya.
“Haooaam, tidur yang sangat nyenyak.”
Gita kembali meregangkan tangannya. Gita turun dari kasurnya lalu ke meja makan
tanpa mandi dulu.
“Ih.. lo jam segini baru bangun mana
nggak mandi lagi.” Omel Qila.
“Mandi juga mau kemana coba.” Gita
mengambil roti dan mengolesi dengan selai coklat.
“Ya mandi kan nggak harus kemana-mana
dulu, jadi cewek itu harus bersih.”
“Gita juga bersih, orang sudah gosok
gigi.”
“Gita kamu belum dapat panggilan?” tanya
Wanda.
“Belum.”
“Kamu kerja sama mama saja gimana?”
“Iya Ta, nggak perlu pakai wawancara.”
Ujar Qila.
“Iya, kamu cukup jadi asisten mama saja
dulu sembari belajar bisnis.”
“Apa nanti nggak kebalik ma, bisa-bisa
mama yang jadi asisten Gita.” Qila tertawa.
“Sembarangan saja, nggak percaya kalau
gue bisa melakukannya.” Gita manyun.
“Qila, jangan godain adiknya terus.”
“Iya tuh Ma, seneng banget Kak Qila senang
banget kalau Gita sengsara.”
“Kok sengsara gimana sih, malah enak kan
ikut mama.”
“Ck.” Gita berdecak manyun.
“Ta.. tuh ponselnya bunyi.” Tunjuk Qila,
Gita melirik sekilas lalu mengabaikannya.
“Palingan juga penelpon penipuan orang
nggak ada namanya.” Gita meneruskan menggigit rotinya.
“Eh.. Ta, siapa tahu itu panggilan kerja
buat lo.” Kata Qila. Gita berhenti mengunyah lalu menggeser tombol hijau, dia
tidak lupa loundspeaker agar mama dan kakaknya mendengar.
“Apa benar ini nomornya Gita Saquena.”
“Iya Pak benar, ini saya sendiri.”
“Selamat Mbak, anda di terima bergabung
di perusahaan GG Entertaiment. Silahkan anda anda datang ke perusahaan hari
ini, kami tunggu sampai pukul sembilan melewati batas waktu itu kami anggap
disqualifikasi.”
“Baik Pak, terima kasih.”
Setelah sambungan telepon mati, Gita
langsung teriak lompat-lompat.
“Akhirnya Gita keterima juga Ma, Kak.” Gita girang banget.
“Kalau keterima buruan mandi ini sudah
__ADS_1
jam delapan.”
“Ok..ok.. Gita mandi sekarang.”