Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kisah Win


__ADS_3

Semua orang melakukan pergangan setelah bangun, mereka langsung sarapan sebelum


melakukan pekerjaan selanjutnya.


“Makan-makan.” Kata Fara.


“Kalau soal makan mah si Fara nomor satu.” Kata Vian.


“Dan biasanya yang ngatain itu sebenarnya yang sering melakukannya.” Balas Fara.


“Semua sudah siap nih?” tanya Win memastika semua anggotanya berkumpul.


“Siap.” jawab serempak.


“Ok, selamat makan.” Ucap Win.


“Selamat makan.” Jawab mereka serentak lagi. Mereka seperti anak Tk yang sedang di absen sama guru.


Nino meminta Ina untuk  menemuinya di depan tenda setelah sarapan, Win yang mengetahui langsung kepo dan mengikut Ina diam-diam.


“Nino, ada apa ngajakin gue ngobrol disini?” tanya Ina yang baru saja sampai di depan Nino.


“Gue, mau ngomong sesuatu ini penting banget.” kata Nino.


“Apa? Soal kerjaan atau apa?” Ina cemas apa lagi wajah Nino tidak seperti biasanya.


Dia sangat serius kali ini membuatnya ketar-ketir. Takut kalau tiba-tiba ada masalah yang tak terduga.


“Gimana perasaan lo sama Win?” tanya Nino.


“Perasaan gue sama Win? Lo suruh gue kesini Cuma mau menanyakan hal macam ini. Ya ampun Nino kayak nggak ada yang lain saja.” Wajah Ina berubah menjadi badmood. Jelas-jelas Nino tahu pasti keadaannya masih saja memnanyakannya.


“Ina, gue serius menanyakan hal ini. Gue paham kalau perasaan lo ini susah hilang.


Tapi bagaimana kalau lo coba menghapus nama Win dan mengganti dengan nama gue.” Kata Nino.


“Maksud lo gimana nih? Gue kok nggak ngerti ya.” Ina agak ngegas.


“Ina, sudah lama lo bertahan mencintai Win. Bahkan lo beberapa kali mengungkapkan


tapi Win tak kunjung membalasnya juga. Apa lo nggak capek?” Nino menatap Ina dengan lekat.


“Gue capek banget Nino, capek banget dan lo tahu jelas itu. Tapi kenapa lo terus membahas ini. Gue semakin capek kalau lo terus menanyakan ini.” Ina mulai menitihkan air matanya. Dia selalu saja menangis jika topik pembahasannya itu Win.


“kalau begitu lepaskan Win, ganti saja nama Win di hati lo menjadi gue. Meski susah, coba saja." Nino sedikit mendesak Ina.


“Nino, lo sudah gila. Kita itu berteman sudah sangat lama. Bagaiman mungkin aku bisa mungukir nama lo di hati gue selain sahabat. Yang namanya perasaan itu tidak bisa tiba-tiba muncul begitu saja." Kata Ina.


“Tentu saja bisa, kenapa nggak. Lo saja bisa mengukir nama Win saat dia masih bersama Ratna saat kalian masih berteman. Kenapa nggak sama gue? Apa yang salah lo juga sudah bertema lama sama Win.” Kata Nino nggak mau kalah.


“Nino,vlo bisaa mendapatkan yang lebih dari gue. Kenapa harus gue?” Ina bingung dengan pemikiran Nino.


“Karena gue nggak mau melihat lo sedih setiap hari, dengan hanya memikirkan Win..Win.. terus. Ina coba lo buka mata lo lebar-lebar. Di dunia ini tidak hanya ada Win


seorang. Dan lo berhak bahagia.” Kata Nino.


Ina terdiam, memang benar selama ini dunianya hanya Win meskipun tidak pernah di respon. Dan dia sendiri yang menyakiti perasaannya dengan menganngap apa yang


di lakukan sama Win  kepadanya itu sebuah


perhatian lebih. Padahal Win melakukan itu tidak hanya kepada dirinya saja melainkakan sama orang lain juga.


“Tapi.. gue sangat mencintainya.”


“Lalu gunanya apa cinta, kalau lo sengsara. Cinta itu membahagiakan Ina, lo pantas


memilih orang yang membuat lo bahagia.” Kata Nino.


“Pilihlah dan terima gue, maka gue akan membahagiakan lo.” Kata Nino lagi. Dia menarik Ina dalam pelukannya, mengusap penuh dengan kasih sayang.


“Tapi Nino, semua itu tidak mudah.” Kata Ina mulai sesenggukan.


“Gue tahu ini nggak akan mudah, kamu harus bahagia buat Win menyesal karena telah menelatarkan lo. Menolak cinta lo yang tulus ini, kita jalani ini bareng-bareng


ya.” Nino mengusap tambut Ina lembuat.


“Apa bisa aku berjalan tanpa dia.” Ina ragu.


“Lo pasti bisa, yakin saja sama diri lo sendiri.” Nino terus meyakinkan Ina kalau dirinya mampu berdiri sendiri.


Kekesalan Win sampai ubun-ubun, bagaimana bisa Nino mempengaruhi Ina untuk melepaskan cintanya. Dan dia tidak bisa terima.


“Nino!” bentak Win.


Nino melepaskan pelukannya, dia mengerutkan keningnya melihat Wi yang mode bacok.


“Kenapa Win?” tanya Nino santai. Seperti tidak terjadi sesuatu padanya.


“Kenapa lo tanya?! Nino lo sebagai teman dekat gue sendiri beraini-beraninya mencuci otak Ina untuk melupaka gue.” Win emosi.


“Mencuci otaknya bagaimana, gue hanya menyadarkan dia kalau dia itu terlalu cinta buta dan tak bisa melihat cinta di sekelilingnya.” kilah Nino.


“Bulsit, itu Cuma ide lo agar dia mau sama lo kan.”


“Kalau iya kenapa? Apa urusannya sama lo. Bukan kah lo nggak suka sama Ina lalu kenapa lo marah?” Nino meladeni Win.


“Sudah kalian jangan berantem. Nino ayo pergi dari sini.” Ina mengajak Nino pergi dari situ meninggalkan Win.


“Sebentar Ina, kita harus selesaikan masalah ini.” Kata Nino.


“Nino,masalah ini sudah selesai. Gue nggak punya masalah dan urusan sama Win. Jadi


jangan membuat masalah baru.” Ina mearik tangan Nino namun langsung di hempasnya.


“Gue nggak marah sama lo, cuman gue nggak suka cara lo membuat Ina melupakan gue.”


“Kenapa lo tidak boleh di lupakan, jangan sok penting lo Win. Jangan mentang-mentang Ina menyukai lo jadi lo bisa bertindak seenaknya.”


“Gu nggak bertindak seenaknya, semua itu gue lakukan demi dia. Ina jangan memaksakan diri berhubungan sama orang yang tidak lo suka. Itu hanya akan menyakitimu.”


“Lalu bagaiaman dengan lo, apa tidak menyakitinya kalau harus terus mencintai lo tanpa balasan. Lebih sakit mana, orang yang di cintainya tapi menyakti terus


atau orang yang tidak dicintai tapi memberikan kebahagian penuh terhadap


dirinya?”  Win benar-benar di bantai sama


Nino. Dia tidak bisa membalas apa-apa karena semua yang di omongkan Nino benar.


“Ina, apa benar lo bakalan melupakan gue?” Win mulai ketar-ketir takut Ina menjawab


dengan benar kalau dirinya bakal melupakannya.


“Iya.” jawabnya tegas.


“Kenapa?” kata Win melemah.


“Lo masih tanya kenapa? Apa kurang jelas semua penjelasan Nino tadi. Gue berhak


bahagia Win. Gue juga capek terbelenggu seperti ini. Jadi untuk saat ini gue

__ADS_1


akan melepaska lo. Gue akan berjalan menjadi Ina yang baru.”


“Nggak, lo nggak boleh.” Win memegang kedua tangan Ina.


“Kenapa nggak boleh?” Ina langsung menepis tangannya. Air matanya kembali mengucur dengan deras.


“Karena gue suka sama lo, gue cinta sama lo!” teriak Win. Ina membulatkan kedua


matanya.


“Cinta..” Ina tertawa. “Lo nggak cinta, lo hanya takut kehilangan gue sebagai orang yang mengejar lo kan.”


“Nggak Ina, gue benar-benar cinta sama lo.”


“Janganvmembuat Win, lepaskan Ina karena dia resmi menjadi milik gue.”


“Tidak!” bentak Win. Dia melepaskan pukulan ke wajah Nino dengan sangat kuat hingga Nino oleng hampir saja terkapar namun dia masih bisa mengimbanginya.


“Lo tidak bisa mengambil Inadari gue,” Win menarik kerah baju Nino lalu melakukan


pukulan lagi.


Win dan Nino akhirnya saling pukul, mereka tidak ada yang saling mau menagalah. Dan


Nino terus mengompori Win kalau dia tidak pantas untuk Ina sehingga dia semakin


kesal. Dan tak berhenti untuk terus memukulnya.


“Berhenti! Tolong..! tolong...! Ina berteriak meminta bantuan.  Semua orang langsung berkumpul. Radit menarik


Nino sedangkan Vian menarik Win.


“Mas-masvsudah.” Kata Vian.


“Ada apa ini kenapa kalian bertegkar?” tanya Gita.


“Dia tuh mausia sok benar saja.” Kata Win.


“Memang gue benar, kenapa lo nggak terima kan kalau Ina lebih memilih gue.” Kata Nino


yang masih bisa tertawa dengan sakit yang ada di tubuhnya.


“Lo hanya bermimpi, Ina hanya akan menyukai gue sampai kapan pun.”


“Cukup kalian berdua!” bentak Ina. Hingga mereka semua terdiam. Ina meminta mereka membawa Win pergi.


Ina duduk mendekati Nino sambil membawa p3k untuk mengobati luka-luka memar di tubuhnya.


“Kenapa lo lakuin ini?” Kata Ina sambil menyeka luka milik Nino.


“Memangnya kenapa nggak boleh?” Nino meringis menahan perih.


“Gue tahu lo nggak sungguh-sungguh kan seperti ini, perasaan lo sama guetu bohong


kan.” Kata Ina.


Nino tertawa, “ Lo jeli sekali. Akting gue kurang bagus yah ternyata. Sampai lo bisa


melihat kalau gue hanya pura-pura saja.” Kata Nino.


“Nino, gue kenal lo sangat lama bagaimana bisa gue nggak tahu. Tujuan lo apa melakukan ini?”


“Gue capek saja melihat kalian berdua terus berantem, dan juga Win yang tak kunjung


memberikan kepastian sama lo. Itu membuat gue muak. Gue nggak tega melihat lo


yang setiap hari menangisi Win.” Kata Nino.


sendiri juga.” Kata Ina.


“Gue gampang, gue hanya mau memastikan sahabat gue ini benar-benar bahagia. Sini


biar gue obatin sendiri. Lo samperin saja Win.” Kata Nino.


“Nggak, gue nggak mau nyamperin dia.”


“Jangan sia-siakan perjuangan gue yang sampai babak belur ini, buruan.” Nino mengambil kapas dan obat dari tangan Nino.


Sekerang Ina beralih mencari keberadaan Win. Ina duduk di sebelah Win yang sedang


menyendiri.


“Ngapain lo kesini.” Katanya ketus.


Ina tidak menjawab, dia membuka kotak p3k lalu mengoobati luka milik Ina.


“Gue bilang ngapain lo kesini, jangan sok peduli lo sama gue.”


Ina masih saja diam tidak memperdulikan ocehan dari Win.


“Ah.. lo mau mengayakan sekarang lo senang berhasil balas dendam menyakiti gue. Gue tahu gue salah tapi nggak begitu juga, lo bersama sahabat gue sendiri.” Win


mulai di buat emosi lagi. tapi Ina sudah tidak mau lagi berdebat, dia terus


mengobati Win.


“Ina..kenapa lo diam saja. Membuat gue kesal.”


Kesabaran ina sudah di ujung tanduk banget, dia ingin meluapkan kekesalanya namun dia justru memajukan tubuhnya dan membungkam mulut Win dengan ciuman.


Win yang sejak tadi mengoceh seketika terdiam, kaget dan bingung dengan Ina yang sanagt berani menciumnya tanpa ijin. Setelah beberapa saat Win diam, Ina


melepaskan ciumannya. Dia kembali mengoati luka milik Win.


“Apa ini? Lo menggoda gue dengan ciuman?” katanya lagi. Ina masih saja tidak


menjawab. Dia malah sibuk memasukan obat ke kotak.


“Ina.”


Ina memutar tubuhnya lalu memberikan ciuman lagi sama Win, dia tidak mau


menjawabnya dengan bicara. Dia ingin Win mengartikan sendiri.


“Apa lo memilih gue?” tanyanya ketika dia mulai sadar.


“Tentu saja gue meilih lo.” Ina menjawab ketika Win sudah lebih tenang.


“Benarkah?”


“ya, Nino hanya pura-pura dia hanya ingin memancing lo saja. Dia ingin tahu perasaan


lo sama gue.” Ucap Ina.


Wina tersenyum, dia menarik Ina dalam pelukannya.


“Syukurlah, gue lega kalau semua ini pura-pura. Ina gue sungguh-sunggu mencintaimu. Gue nggak mau kehilangan lo, masalah Ratna gue sudha move on sejak lama hanya saja gue takut menjalin hubungan lagi. Gue takut akan tersakiti lagi.” Jelas Win.


“Aku janji akan selalu setia sama lo.” Bisik Ina.

__ADS_1


“Yah, gue percaya sama lo.” Win meregangkan pelukannya. Dia kemudian memberikan ciuman hangat di bibir Ina. Mereka saling melepas kebahagiaan.


Prokk...!Prook...!


Prokk.! Satu team tepuk tangan melihat Ina dan Win akhirnya bersama.


“Akhirnya jadian juga setelah sekian lama.” Kata fara.


“Akhir yang bahagia buat mbak Ina.” Kata Gita.


“Yah, meskipun gue bonyok-bonyok seperti ini nggak masalah asal sahabat gue bahagia


selalu.”  Kata Nino.


“Maafin gue Nino, gue kira lo akan menikung gue.” Kata Win dengan malu-malu.


“Makanya Mas kalau suka tuh langsung saja jangan jaim-jaim giliran mau di ambil orang


kelabakan kan lo.” Kata Fara.


“Ya begitulah cinta, sekali ada di cuekin giliranmau di ambil orang ngamuk. Dan


kalau kehilangan baru merasakan.” Kata Nino.


“Makasih ya, karena kalian telah menyadarkan gue.” Kata Win.


“Sama-sama.”


Win menoleh kearah Ina, dan kembali mencium Ina.


“Wah pelanggaran dia, nggak tahu tempat saja main cium-cium di depan umum.” Kata


Nino sembari mengajak yang lain cabut agar tidak mengganggu Ina sama Win.


“Makasih Ina, lo masih mau memberikan kesematan kedua sama gue.”


“Iya, aku juga makasih karena lo mau mencintai gue,” Kata Ina.


Win menautkan tangan Ina di lehernya, dia kembali mencium Ina sebaga kebahagiannya.


Win terus mengecup bibir manis milik Ina. Ina pun tak hanya diam dia juga


membalas kecupannya dengan lembut.


Win menatap Ina, lalu memeluknya erat. Dia bersyukur tidak kehilangan oranga yang


sudah menyayangi dan juga mencintainya dengan sangat setia.


“Kenapa lo memandangku seperti itu?” tanya Ina.


“Entah, aku hanya senang saja memandang seperti ini. Rasanya nyaman, bahagia saja aku hari ini. Aku bisa memelukmu, menciumu tanpa rasa takut dan ragu lagi.” Kata Win.


“Oiya, aku pun sangat lega karena akhirnya aku memilikimu.” Jelas Ina.


“Tahu nggak tadi aku sangat takut, aku ingin sekali melompat ke jurang itu.” Win


menunjukan jurang di depan mereka.


“Kenapa?”


“Karena rasa bersalah, menyesal begitu terlambat menyadari kalau sebenarnya aku juga mencintaimu.”


“Untung saja datang tepat waktu ya gue, kalau nggak pasti gue akan ikut melompat. Karena gue nggak bisa hidup tanpa lo.” Kata Ina.


“Benrkah?”


“Masih meragukan kesungguhan gue?”


“Tentu saja tidak, bisakah sekarng kita mengganti panggilan lo gue dengan kata sayang?” pinta Win.


“Sayang?”


“Iya sayang, apa terlalu menggelikan?” tanya Win.


“Tentu saja tidak aku sangat menyukainya dan menginginkan sejak dulu.”


“Bagulah, bersiaplah sayang sepulang dari sini aku akan langsung melamarmu. Aku akan segera menikahimu.”


“Secepat itu.” Ina dibuat kaget. Win betubi-tubi sekali memberikan kebahagian kepada dirinya.


“Yah, aku tidak mau kamu lepas lagi.” Win memajukan wajah Ina dan kembali memberikan ciuman. Meraka berdua terus menautkan bibirnya,menikmati sejuknya pagi dengan kehangatan. Dan mereka melupakan pekerjaan merek ahingga di tanggung sama anggota teamnya. Dan mereka pun tidak keberatan menanggungnya asal ketua team


mereka itu bahagia bersama Ina.


“Dunia milik kalian berdua yang lain ngontrak!” seru Nino dan yang lain.  Win hanya tersenyum mendengar ejekan dari


mereka.


Win mengajak Nino ngobrol sebelum pulang ke rumah, dia memberikan satu cangkir kopi


panas buatannya.


“Makasih.” Kata Nino.


“Sama-sama. No, gue mau minta maaf sama lo soal kejadian tadi.” Dia minta maaf  lagi sama Nino.


“Sudahlah Win, jangan terlalu dipikirkan.” Kata Nino sambil menyerutup kopi di tangannya.


“Gue jadi nggak enak, dan pastinya malu sama lo. Harusnya gue tidak berlaku seperti


itu.”


“Itu wajar saja Win, kalau orang cemburu tuh nggak pandang bulu.” Kata Nino.


“Benar, sebenarnya gue sedang mempersiapkan diri untuk menyatakan perasaan gue sama Ina. Hanya saja kita selalu berdebat hingga akau tidak mempunyai kesempatan untuk bicara.”


“Gue tahu, lo terlalu lama. Jadi gue harus berakting daripada lo kehilangan Ina. Lo


tahu tidak Ina itu mencoba berkenalan dengan cowok-cowok melalu aplikasi jodoh.


Gue takut saja dia dapat yang nggak benar.”


“Yang benar?”


“Iya, dia sudah putus asa sama lo makanya dia ingin mencari kesenangannya melewati


aplikasi itu. Untungnya gue tahu makanya gue terus mata-matainya.”


“Gue benar-benar menjadi cowok yang sangat buruk,”


“Win, uang llau biarlah berlalu gue hanya mau lo jaga baik-baik ina sekarang, jangan


sakiti dia. Dia cewek yang benar-benar setia. Dia rela menolak siapapun karena dia


yakin cintanya akan terbalaskan.”


“Iya ina. sekali lagi terima kasih karena lo telah menjadi sahabat keren gue dan juga


Ina. Lo selalu ada buat kita.”

__ADS_1


“Hey.. itulah namanya sahabat. Terus saling membantu dan saling menjaga.”


Win mengangguk-angguk, semua yang di katakan Nino itu benar. Sahabat memang ada untuk membantu, menjaga dan melindungi. Sahabat sejati tidak akan pernah mendukung hal-hal yang buruk. Dan tidak akan pernah menjermuskan tentunya.


__ADS_2