
Gita mulai mencium bau-bau mencurigakan pada Fajar, ketika ada satu kebohongan yang sudah dia buat. Gita menulis di nota kecil kejanggalan yang ada terjadi sama
Fajar.
“Teman-teman, habis pulang kantor kita ngopi dulu yuk.” Ajak Nino.
“Iya nih, udah lama kita nggak keluar bareng nih.” Ina antusias.
“Boleh juga nih, gue juga udah lama nggak ngopi-ngopi.” Kata Vian.
“Gimana Bella, Fajar, Gita dan Fara.” Ina menatap Gita.
“Gue sama Fara sih ngikut saja.”
“Bella juga ikut kok.”
“Fajar?” tanya Gita sambil menatap Fajar.
“Iya boleh.”
Jam pulang kerja mereka langsung berangkat ngopi. Mereka keluar sembari
bersendau gurau. Mereka berpapasan dengan Gilang dan Lila yang baru selesai
meeting.
“Bos, Mbak Lila.” Sapa mereka serentak kecuali Gita yang hanya diam dan memalingkan pandangannya karena tidak mau memandang Gilang.
“Kalian udah mau pulang?”
“Iya, cuman kita mau ngopi dulu.” Jawab Nino.
“Mau ngopi bareng juga Bos?” ajak Win yang membuat yang lain saling berpandangan. Gita pun yang memalingkan muka langsung menatap Win.
“Memangnya nggak apa-apa saya gabung ngopi sama kalian?” tanya Gilang sambil melirik kearah Gita. Gita pun kembali membuang muka.
“Boleh, boleh kan teman-teman.” kata Win sembari menatap satu-satu wajah temannya. Dia minta persetujuan yang lain meskipun kalau ada yang tidak setuju bakalan tetap setuju.
“Ah.. tentu saja boleh bos.” Jawab mereka dengan sedikit tertekan. Bukan mereka tidak mau atau takut sama Gilang. Hanya saja merasa sungkan saat ngopi bareng bos.
“Ih.. Mas Win, kenapa pakai ajak-ajak sih. Mana Kak Gilang mau lagi bikin bete aja.”
Batin Gita.
Gita masih saja tidak mau berdekatan sama Gilang, dia sudah di berikan kursi kosong
di sebelah Gilang namun dia lebih memilih duduk di depan Gilang bersebelahan
dengan Fara.
Win bingung, dia kemudian dia mendekati Gita lalu membisikinya.
“Kenapa nggak duduk sama bos Gilang?” Win heran dia sudah menyiapkan kursinya malah
duduk di hadapannya.
“Nggak apa-apa, biar lebih enjoy aja kan.” Jawab Gita.
“Ehhm..” Gilang berdehem. Win langsung berbalik ketempat duduknya.
“Saya boleh duduk disini?” tanya Bella dengan hati-hati. Dia bingung karena sudah
tidak ada lagi tempat duduk untuknya.
“Duduk saja, nggak perlu canggung.” Kata Gilang.
Bella menganguk di tambah senyuman, wajahnya sumringah karena dia bisa dekat dengan Gilang.
Mereka ngobrol banyak dari kerjaan, liburan dan makanan. Sayangnya Gita tidak begitu
tertarik karena ada Gilang.
“Eh teman-teman gimana kalau kita main game aja, boring gini-gini saja.” Kata Nino.
“Wah, gue setuju banget nih. Biar nggak krik..krriikkk nih dari tadi kita diem-dieman
aja.”
“Mau main apaan?” tanya Bella.
“Truth or dare. Kalau dear kita akan dapat pilihan setiap dare minum satu gelas full
air mineral ini.” Kata Fara.
“Harusnya amer.” Celetuk Gita dengan santainya.
__ADS_1
Semua orang langsung mengarah ke arah Gita dengan kedua mata mereka yang melotot. Apalagi Gilang langsung shock mendengar omongan Gita.
“Heh.. kelakuan siapa yang ngajarin. Awas lo macem-macem.” Vian melempar Gita dengan kentang goreng.
“Iya ih.. lo serem. Lo suka party sama anak mana? Nggak pernah ngajakin gue?” kata
Fara sambil nyengir.
“Elo lagi.. gue sambit piring nih.” Vian mengangkat piringnya.
“Sorry salah ngomong, minum soju harusnya biar kayak drama korea.” Jawab Gita tanpa dosa.
“Itu sama aja. Ngeri juga ini anak kelihatanya polos begitu banyak banget merk yang dia tahu.” Nino menggelengkan kepala.
Gilang menatap tajam Gita, tangannya gemas banget pengin sekali menjitak kepala Gita. Gita hanya memberikan lirikan, seperti nggak ada takut-takutnya sama Gilang
kali ini.
“Udah ayo mulai, keburu malam darenya kita kasih pilihan. Yaitu minum satu gelas full
air mineral, mie level 35, atau makan lemon.” Tambah Win.
“Setuju.”
Mereka memutar botol, dan yang dapat pertama itu Fajar. Gita dan Fara saling
berpandangan untuk memberikan pertanyaan sama dia.
“Gue dulu yang akan memberikan pertanyaan.” Fara mengangkat tangannya.
“Ok, lo boleh mengajutan pertanyaan pertama.”
“Fajar, truth or dare seberapa loyal lo terhadap pekerjaan lo?” tanya Fara dengan
menatap Fajar. Pertanyaan Fara membuat mereka saling berpandangan.
“Truth, gue sangat loyal. Bahkan lebih dari siapapun.” Jawab Fajar.
“Fara, kenapa tanya kerjaan sih. Yang lain kenapa biar lebih happy begitu.” Kata Ina.
“Iya nih Fara.” Bella setuju dengab ucapan Ina.
“Ok, kita putar saja lagi.” Kata Nino.
“Kenapa lo lagi Far, gantian yang lain lah.” Kata Nino.
“Ck!” Fara berdecak karena tidak boleh mengajukan pertanyaan sama Bella.
“Bella, apa ada orang yang lo sukai di perusahaan kita. Dan siapa dia?” Tanya Ina
sambil mengangkat tangannya.
“Bella, truth or dare?” Kata Nino.
“Truth saja lah, emang lo mau perut lo kembung atau nggak mencret-mencret?”
“True. Ada satu orang yang sejak awal gue masuk ke perusahaan ini gue suka.” Katanya
lalu diam, dia melirik ke kana kiri melihat ekspresi teman-temannya.
“Siapa?” tanya Nino sampai menaikan tubuhnya di atas meja.
“Em.. gue dare aja. Gue bakalan minum ini air mineral.” Kata Bella dengan sangat
gugup mengambil gelas. Namun Win langsung mengambil dengan cepat gelasnya.
“Tidak boleh curang. Lo harus jawab jujur.” Kata Win.
“Em..”
“Bos Gilang kah?” celetuk Fara tanpa di filter membuat Gita langsung melihat ke arah Fara kemudian menatap Gilang.
“Mana ada sama aku, ngaco lo.” Gilang melipat kedua tangannya. Dia langsung membuka mulutnya takut Gita salah paham sama dirinya.
“Bella, kok diam. Benar ya yang di katakan Fara?” tanya Ina. Bella tangannya gemetar, dia melirik kearah Gilang sedikit lalu kembali ke depan. Dia benar-benar takut dapat semprotan Gilang.
“Benar-benar ini cewek, masih berani-beraninya ngomong begitu di depan gue. Calon istrinya di depan mata masih saja ganjen. Nyesel banget gue bawa ke team gue, tahu begini gue pecat dari kemarin.” Omel Gita dalam hati.
“Bukan begitu, gue cuma kagum saja bukan cinta yang seperti kalian pikirkan.” Kata
Bella. Dia mecoba mengklarisifikasi ucapannya.
“Oooo, kalau begitu sih nggak masalah.”
“Sekarang Gita, lo truth or dare?”
__ADS_1
“Hah.. kan belum di putar kenapa tiba-tiba jadi gue?”
“Ya kita urutin aja biar dapat semua.” Kata Vian.
“Siapa yang mau tanya?” kata Win. Fajar dan Bella langsung mengangkat tangannya.
“Bella sama Fajar suit aja deh.” Kata Win.
“Biar adil gue aja yang tanya.” Kata Ina.
“Gita, andai saja lo bisa memutar waktu dan memilih siapa yang akan menjadi masa
depan kita dan bareng di kehidupan selanjutnya. Siapa yang akan lo pilih?”
Gita terdiam, dia melihat mie yang sangat pedas dan juga lemon yang terasa asam. Dia sedang tidak ingin menjawab secara jujur. Dia sengaja mau membuat Gilang kesal.
“Gita, truth or dare?” kata Nino.
“Em...” Gita mengerutkan kening, seakan jawabanya sangat susah. Gilang duduk tegak sembari melipat kedua tangannya di dada. Dia menunggu jawaban Gita yang dia
rasa pasti bukan dia orangnya melihat dari ekspresi dan cara jawabnya yang
lambat.
“Apa sesusah itu?” celetuk Bella.
“Tentu saja susah, gue harus pikir baik-baik sama pilihan gue. Mana bisa sembarangan untuk kesempatan bisa memilih masa depan.” Jawab Gita membuat Gilang panas. Dia mengangguk-anggukan kepala, gemas banget sama Gita ingin sekali menjitaknya. Bagaimana bisa dia menganggap pilihannya saat ini sembarangan.
Jawaban Gita itu tak hanya membuat Gilang kesal, tapi membuat teman-temannya ketar-ketir.
“Heh.. kalian itu bagaimana bisa menanyakan hal semacam ini. Itu pasti jawaban sangat mudah buat Gita. Ya nggak Git?”
“Nggak juga, ini sangat sulit. Jadi gue pilih dare saja.” Gita mengambil piring mie lalu melahap tiga suapan.
“Ok.. lo tidak boleh minum selama lima menit.” Kata Fara.
“Lo ..aaaah... gila, pedas banget ini.” Gita berusaha mengambil gelas berisikan air
minum namun di ambil sama Gilang.
“Kalau main nggak boleh curang.” Dia sengaja sekali untuk menjaili balik Gita.
“Hiissh.” Gita berdesis.
Permainanbdimulai lagi, Gita masih saja belom boleh minun. Gilang memandangi Gita terus, lama-lama tidak tega melihat Gita wajahnya sampai berkeringat. Gilang menaruh satu gelas susu di depan Gita, dia diam-diam pergi memesan susu untuk Gita.
“Minum.” Kata Gilang. Gita pun langsung mengambil dan meminumnya, dia tidak peduli belum ada lima menit. Karena mulut dan perutnya sudah panas banget.
“Hey.. Gita. Lo melanggar aturan. Lo harus makan lagi dong.” Kata Bella.
“Benar Git, lo makan lagi.” Fara menyodorkan mie ke hadapan Gita.
“Gue nggak kuat. Boleh milih yang lain nggak?”
“Tentu saja tidak.” Kata Win.
“Biar gue saja yang makan.” Kata Gilang dan Fajar bersamaan.
Keramaian pun menjadi hening, Gilang menghela napas sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Biar gue makan saja.” Gita mengambil piring berisikan mie. Gilang kembali duduk
tegak dan langsung mengambil piringnya.
“Fajar, kamu bilang mau menggantikan Gita kan? Ambil gih.” Kata Gilang dengan senyuman tajam. Perlahan Fajar menerima piringnya.
“Wah.. ini akan makin panas kalau permainan di teruskan.” Bisik Gita sama Win.
“OK, karena sudah malam kita sudahi saja nongkrong kita.” Kata Win.
“Yah.. padahal lagi seru-serunya nih. Udahan saja, baru juga pukul sembilan.” Protes Ina.
“Iya lo Win, terusin saja lah.” Kata Nino.
Win mengkode Nino dengan melirikan matanya ke arah Gilang.
“Oh.. iya gue lupa. Hari ini di suruh pulang cepat. Nenek gue datang.” Kata Nino.
“Bukanya nenek lo udah meninggal?” kata Ina.
“Iya.. ini nenek gue dari bokap gue.”
“Balik yuk, gue juga udah capek.” Kata Vino. Dia tahu jelas saat teman-temannya mulai
beralasan.
__ADS_1