Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Raka Tidak Boleh Pergi


__ADS_3

Fara terdiam seperti membeku melihat Raka tepat di hadapannya, saat dia membuka pintu. Matanya berkaca-kaca dan air yang tertahan di pelupuk mata kini sudah berubah menjadi buliran-buliran air mata.


Fara langsung memeluk Raka dan


tangisanya pun pecah, “Aku nggak mau diabaikan lagi sama kamu sayang.” Fara


memeluk erat. “Aku minta maaf kalau aku egois sama kamu.” Tambah Fara. Penyesalan muncul saat mengingat dia yang marah sama Raka.


“Harusnya aku yang minta maaf


sama kamu, aku yang salah dan egois.” Raka melepaskan pelukan Fara, dia mengusap air mata Fara.


“Kamu kenapa keluar kuliah?” Fara mulai mengeluarkan pertanyaan yang menumpuk di otaknya dari beberapa hari lalu.


“Ada kuliah?” tanya Raka. Dia belum mau menjawab pertanyaan Fara kalau Fara belum free. Fara menjawab dengan anggukan pelan.


“Aku antar kamu ke kampus dulu, nanti akan ku ceritakan semua yang terjadi.” Jelas Raka.


“Aku nggak mau kuliah, aku butuh


penjelasannya sekarang.” Fara memegang tangan Raka.


“Kalau kamu nggak berangkat kuliah, maka aku tidak akan pernah menjelaskan apapun sama kamu.” Raka mengancam Fara.


Fara melepaskan pegangan tangannya, dia memilih mengikuti permintaan Raka daripada dia tidak megetahui apa-apa.


...♡♤♤♤♡...


Di dalam kelas Fara terus melihat


jam di tangannya, dia merasa hari berjalan lambat. Jam tidak berputar seperti biasanya.


“Ada apa?” tanya Gita dengan berbisik saat melihat Fara yang begitu gelisah.


“Kapan makul ini selesai?” tanya Fara.


“Baru juga di mulai lo sudah tanya kapan selesai, ya masih satu jam lagi lah. Lo kenapa gelisah begini sih?”


“Raka sudah menunggu gue di kantin kampus,.”


“Raka, dia sudah kembali lagi ke kampus.” Wajah Gita sumringah.


“Entah kembali atau tidak yang


pasti dia sedang menunggu gue mau memberikan penjelasan.” Jelas Fara.


“Kenapa lo nggak cabut aja,

__ADS_1


nanti gue kasih pinjam bukunya. Gue bakalan jelasin materi ini sama lo.” Kata


Gita.


“Maunya tadi juga begitu tapi nggak boleh sama Raka. Dia mau gue tetap kuliah baru dia akan memberikan gue penjelasan kenapa kemarin dia marah.”


“Curang banget dia.”


Gita juga merasa waktu berubah jadi lama, dia juga butuh penjelasan dari Raka.


Makul usai, Fara langsung kabur meninggalkan Gita.


"Mau kemana tuh anak?" tanya Vian.


"Ketemu Raka, gue juga mau kesana." Kata Gita sambil buru-buru memasukkan buku-bukunya.


"Mendingan lo ketemu Raka setelah Fara saja deh, biar dia selesaikan dulu masalahnya." Kata Vian dengan sangat bijak.


Gita memperlambat memasukkan bukunya, "Benar juga, prioritas Raka sekarang itu kan Fara. Baiklah.. gue tunggu mereka menyelesaikan masalahnya." kata Gita.


Fara mengatur napasnya ketika sampai di kantin. Dia ngos-ngosan karena berlari sangat cepat.


Raka menarik kursi, "Duduk." Raka menyuruh Fara duduk. Raka juga sudah menyiapkan es jeruk.


"Sayang..."


"Sudah, aku sudah minum dan aku sudah siap mendengarkan penjelasan kamu." kata Fara sambil memegang tangan Raka.


Raka tersenyum, tangan kanannya mengelus rambut Fara. Dia sayang bangey sama Fara sampai tidak tega untuk mengatakannya.


"Sayang..."


"Ok. Aku belum resmi keluar masih di pikirkan. Tapi kemungkinan terbesar aku akan keluar dari kampus ini." Kata Raka dengan nada berat.


"Kenapa? terus kamu mau kuliah dimana?" Mata Fara berubah nanar.


"Belum tahu juga, terserah nanti mama aku akan mndaftarkanny. Kamu pernah bertanya kan kenapa aku tinggal di rumah Gita. Dan kalau liburan ke rumah nenek bukan pulang ke rumahku sendiri."


"Iya."


"Itu karena orang tuaku tidak ada di rumah. Mereka pergi kemana aku nggak tahu, bahkan aku pun tak punya kontak mereka berdua. Mama wanda yang mengurus aku dari kecil, dan aku mendapatkan kabar tentang kedua orang tuaku dari mama Wanda. Jadi..." Raka masih menahan ucapannya melihat Fara yang sudah mulai menangis.


Raka mengusap air mata Fara, "Jadi aku akan ikut mereka pindah. Dan nggak tahu akan kembali atau tidak."


"Lalu bagaimana dengan aku, dengan hubungan kita."


Raka terdiam, dia bingung mau menjawabnya.

__ADS_1


"Apa kita akan putus?" Pancaran mata Fara yang sangat sedih membuat Raka semakin tidak tega.


"Aku tidak mau putus." Fara berdiri lalu berlari meninggalkan Raka, dia tidak bisa putus dengan Raka.


"Sayang.." Raka hendak mengejar Fara namun tertahan saat melihat Gita yang sudah bercucuran air mata.


Dia juga tidak percaya kalau Raka bakalan meninggalkan dirinya. Meskipun terdengar egois namun Gita tidak bisa juga di tinggalkan Raka.


"Ta..."


Gita sesenggukan lalu dia berbalik meningagalkan Raka. Raka terduduk, dia benar-benar sedang bingung.


"Raka..." Vian duduk di samping Raka.


"Aku sudah menyakiti dua wanita yang paling aku sayangi."


...♤♡♡♡♤...


"Fara...Fara... tunggu!" Teriak Gita.


Fara berhenti dia membalikan badan langsung memeluk erat Gita.


"Gita, gue nggak mau putus sama Raka." Tangisan Fara semakin pecah.


"Iya Fara, gue juga nggak mau kalian putus. Gue juga belum siap harus di tinggalkan Raka."


"Tapi bagaimana, Raka pasti sangat merindukan orang tuanya bukan."


"Nggak, mama Raka adalah mamaku. Jadi tidak akan ada keluarga lain bisa membawa Raka pergi." Gita melepaskan pelukan Fara. Dia menghapus air mata Fara. Dan sebaliknya Fara juga menghapus air mata Gita.


"Apa tidak egois lo melakukan itu, meskipun mama lo yang merawat Raka. Namun mereka tetap orang tua kandungnya.


"Aku tidak peduli, Raka itu kakak gue dan nggak ada yang bisa membawanya pergi. Fara, lo tenang saja aku akan mempertahankan Raka. Lo jangan menangis lagi."


"Gita.. lo emang sahabat gue paling baik. Tapi kalau saja Raka tidak bisa di tahan, biar kan dia pergi. Aku tahu rasanya jadi dia, kita di tinggal beberapa hari sama orang tua kita saja sudah kangen berat. Apa lagi Raka yang bertahun-tahun tidak bertemu."


"Lalu bagaimana dengan lo, apa lo iklas melepaskan Raka begitu saja."


"Gue akan baik-baik saja, asalkan Raka bahagia. Aku.."


"Bulsit, nggak ada yang bahagia melihat orang yang kita sayangi pergi." Gita memotong omongan Fara.


"Lo tenang saja, Raka akan tetap tinggal disini." kata Gita dengan kekeh.


Fara cukup mengerti perasaan Raka, meskipun dia tidak mau putus hubungan keluarga lebih segalanya daripada hubungan orang yang baru saja di kenalnya.


Tapi disini Gita yang tidak bisa menerima begitu saja, tante dan omnya sudah lama mengabaikan Raka sekarang main bawa pergi. Itu tidak bisa di terima sama Gita.

__ADS_1


__ADS_2