Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Gita kuliah sambil di temani postingan dari Gilang di instagram dia tidak lepas ponselnya karena tidak mau ketinggalan.


“Hey.” Sapa Farhan sembari duduk di depan Gita.


“Hai, Kak.”


“Lagi sibuk ya?” tanya Farhan.


“Lumayan.” Jawabnya.


“Git, malam minggu besok lo ada acara tidak?”


“Em.. belum tahu Kak. Ada apa ya?” Gita menghentikan aktifitasnya. Dia menutup laptopnya lalu fokus ngobrol.


“Gue mau ajak lo jalan."


“Berdua?”


“Nggak, ada beberap teman juga. Lo boleh kok bawa Fara sama teman-teman lo yang lain.”


“Memangnya jalan kemana?” tanya Gita.


“Kita mengadakan camping kecil, di bumi perkemahan dekat-dekat sini. Mau ikut?”


Farhan benar-benar berharap kalau Gita mau ikut.


“Gue coba tanya yang lain dulu.” Kata Gita. Dia tidak mungkin pergi tanpa sahabat-sahabatnya. Terutama Raka, kalau tanpa dia pasti tidak akan di beri ijin sama orang tuanya.


“Baiklah. Gue tunggu kabar gembira dari lo. Oiya.. kita sudah kenal lama tapi belum punya nomor lo. Boleh nggaj gue minta nomor whatsapp lo."


"Iya." Gita mengambil ponselnya lalu membacakan nomornya.


...♤♡♡♡♤...


Fara, Raka dan Vian menyetujuhi ajakan Farhan. Sekalian untuk refresing karena mereka jarang pergi. Gita membawa ransel ukuran karena mereka hanya mengiap satu malam saja.


 Kemah kali ini bukan seperti kemah yang di


gunung, melainkan di bumi pekemahan yang banyak yang jual makanan jadi mereka


tidak perlu repot memasak sendiri.


“Akhirnya kalian datang juga.” Farhan menyambut Gita, Fara, Raka dan Vian.


“Iya Kak.” Jawab Gita.


“Lo undang mereka semua?” tanya Imel dengan wajah tidak suka. Semenjak Gita


menemani Farhan di klinik Imel menetapkan Gita sebagai Rivalnya.


“Iya, bakalan seru kan kalau kita banyakan begini.” Kata Farhan.


"Iya, jadi kita bisa bersosialisasi dengan yang lain juga. Ketemunya bukan hanya lo..lo.. lagi." kata Wahyu.


“Kenapa nggak lo ajak saja satu kampus, biar penuh.” Kata Imel sambil pergi bergabung dengan teman-teman seangkatanya.


"Jangan dengarkan dia, memang orangnya seperti itu.


“Kalian bisa memasang tenda disebelah disana.” Tunjuk Farhan.


Gita berjalan-jalan sebentar melihat sekeliling, sesekali dia mengambil foto dan


juga selfi.


“Gita.” Panggil Farhan.


“Ya.”


“Ikut makan dulu, gue udah siapkan makanan yang banyak buat kalian.” Farhan menarik tangan Gita dan membawanya ke meja yang sudah penuh hidangan.


“Wah, ini keren sekali.” Kata Gita. Dia mengambil ponselnya lalu memotret meja yang penuh makanan itu.


“Tahu banget cara menggaet hati Gita.” Kata Fara pelan sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi dia tidak akan mendapatkan hati Gita dengan mudah." Sahut Vian. Fara mengerutkan keningnya dia heran dengan ketajaman telingan Vian meskipun dia ngomong pelan masih saja dengar. Dan itu sering terjadi.


“Selamat menikmati.” Kata Farhan.


Gita tersenyum lebar, “Makan besar ini mah, sudah lama gue nggak makan seperti ini.” Kata Gita.


“Benar, gue sampai lupa kapan terakhir kita makan besar seperti ini.” Kata Vian

__ADS_1


langsung mengambil makanan satu piring full.


“Makanlah sepuasnya, mumpung grati juga. Kapan lagi kalian makan enak begini." Imel Nyinyir membuat hati Fara panas dan siap meledak. Gita memegang tangan Fara, mengkode agar Fara tidak tersulut emosi.


Sembari makan Gita membuka ponselnya, saat ada notif pemberitahuan instagram dari Gilang.


...“Aku sangat kesal sekarang!”...


Gita menelan bulat-bulat makanan yang baru saja di kunyah dua kali, “Kak Gilang


kesal kenapa? Siapa yang membuatnya kesal?” tanya Gita.


“Kenapa Git?” tanya Fara.


“Lihat, Kak Gilang sedang kesal gue jadi nggak enak hati.” Gita menatap Fara dengan wajah sedih.


“Sudah jangan di lihat terus, sekarang lo nikmati saja kemahnya. Masukkan hp lo. Makan yang banyak.” Fara memasukan ponsel Gita ke dalam tas secara paksa.


Selesai makan Farhan mengajak semua yang datang ke perkemahan untuk bermain. Mereka berkumpul mengelilingi api unggun sambil bergandengan tangan.


Farhan meraih tangan Gita lalu mengenggamnya,  dia tersenyum lalu menarik Gita dalam tarian. Gita awalnya canggung lama-lama dia mengikuti iramanya dan bersenang-senang. Sudah lama dia tidak bernyanyi dan tertawa lepas.


Permainan selesai, mereka langsung berpencar ada yang langsung ke tenda.


“Gita tunggu.” Farhan mencegat Gita yang hendak ke tenda.


“Ya.”


"Bisa kita ngobrol sebentar?"


"Boleh."


"Kita kesana." Farhan menunjuk tempat duduk di pojok dimana disana mereka bisa melihat kelap-kelip lampu kota. Gita mengangguk lalu mengikuti Farhan.


“Wah.. tempat ini memang luar biasa selain makanan yang enak pemandangannya juga


sangat bagus.” Kata Gita.


“Benar, disini memang tempat yang sangat keren. Kalau lo suka gue akan bawa lo ke


tempat-tempat indah seperti ini.” Ujar Farhan.


“Boleh.” Kata Gita sambil tersenyum. Dia memang butuh tempa-tempat yang indah  agar lebih tenang. Farhan senang mendengar jawaban Gita,seakan kesempatan terbuka lebar untuk mendekati Gita.


“Gue emang belum lama kenal sama lo, tapi gue sudah merasa nyaman. Gue sudah pikir


beberapa hari ini dan ternyata gue nggak bisa menyingkirkan lo dari pikiran


gue. Gue suka sama lo, mau nggak lo jadi pacar gue?” Farhan menyatakan


perasaanya.


Gita langsung menarik tangannya sekuat tenaga agar terlepas, dia bingung harus menjawab apa. Pernyataan Farhan sangat mendadak.


“Gue tahu ini sangat mendadak, tapi gue nggak bisa menunggu lama lagi. Gue takut lo keburu di ambil orang dan gue akan menyesal.” Kata Farhan lagi.


"Gue nggak butuh jawaban lo sekarang, yang pasti lo tahu kalau gue suka sama lo."


“Maaf Kak, Gita harus pergi.” Gita langsung kabur tanpa memberikan jawaban apa-apa.


Gita berhenti di depan tenda, dia memegang bandul kalungnya. Jantungnya berdetak


kencang, bukan karena dia suka melainkan dia panik.


“Ta, lo kenapa? Kok panik gitu?” Tanya Raka yang baru saja keluar tenda. Gita menoleh kanan kiri lalu mengajak Raka duduk.


“Ada masalah apa?”


“Ka, gue takut.”


“Takut kenapa?”  Raka berubah cemas.


“Kak Farhan menyetakan cinta sama gue.” Gita memegang tangan Raka. Raka mengerutkan keningnya saat merasakan tangan Gita yang dingin.


“Terus?”


“Gita kabur.” katanya cepat.


“Kenapa kabur?” Kata Fara sembari gabung duduk dengan Gita dan Raka.


“Gue bingung harus menjawab apa? Bukan gue tidak bisa menjawab pertanyaannya.”

__ADS_1


“Lo bukan tak bisa menjawab, hanya sedikit mempertimbangkan bukan. Lo boleh kok


mulai membuka hati untuk orang lain.” Fara menginginkan Gita segera move on.


“Kalian ngobrol dulu, gue ada mau menerima telpon dulu.” Raka beranjak mengangkat


telpon.


“Git,” Fara menyadarkan Gita yang bengong.


“Gue nggak tahu Far, ini sangat mendadak dan hati gue belum siap untuk menerima atau menolaknya.” Jelas Gita.


“Lo hanya masih bimbang sama perasaan lo sendiri, jadi lebih baik lo pikirkan matang-matang. Jangan sampai lo menyesal karena mengambil keputusan buru-buru.


Gita terdiam lagi, dia membuka ponselnya dan langsung membuka instagram milik


Gilang.


...“Ok, aku benar-benar marah...


...sekarang! Aku akan pergi beberapa saat dari sini!”...


“Kenapa tiba-tiba pergi lagi, apa yang harus gue lakukan, Kak Gilang akan menghilang lagi dari dunia maya. Sedangkan di sini ada orang yang menyukaiku.”


Raka melihat sekitar, dia mencari tempat yang sepi agar tidak ada orang yang tahu.


Raka menekan ponselnya lalu menempelkan di telinganya.


“Halo.”


“Kenapa lo kasih gue foto seperti itu? Membuat gue kesal saja.” katanya dengan suara kesal.


“Biar lo tahu situasi yang sebenarnya terjadi.” Jawab Raka sambil terkekeh.


“Ck.. bahagia sekali lo setiap hari mengejek gue seperti itu.” Ujarnya.


“Apa masih lama?”


“Tidak, sebulan lagi semuanya selesai.” Jelasnya.


“Baguslah, jadi gue tidak harus menahanya terlalu lama lagi, asal lo tahu kali ini gue


tidak bisa menahan lagi. Pernyataan cinta.. dan tinggal menunggu jawaban serta


kemantapan hatinya saja.”


“Jangan bercanda.”


“Memangnya gue selalu bercanda masalah seperti ini, jika lo tidak mau menyesal selesaikan lebih cepat dari satu bulan.” Nasehat Raka.


“Baiklah..baiklah.. gue akan usahakan secepat mungkin. Tapi lo harus jaga dia untuk gue”


“Baikalah, gue tutup telpon dulu. Baik-baik lo jaga kesehatan.”


“Pasti.”


Raka memasukan ponselnya lalu hendak berdiri, dia kaget karena Fara sudah ada di


depannya dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Sayang, ngapain kesini?”


“Harusnya aku yang tanya ngapain kamu telpon ngumpet-ngumpet?” Fara manyun, dia curiga Raka memiliki selingkuhan.


“Jangan manyun gitu, gue baru saja telpon Bayu. Dia curhat kalau Anita sekarang ada


yang mendekatinya.” Jelas Raka.


“Kemarin-kemarin di abaikan giliran ada yang suka kebakaran jenggot. Salah siapa dia putusin Anita.” Ujar Fara.


“Merekabbelum putus, hanya sedang intropeksi diri. Sudah jangan bahas mereka lagi sekarang kita tidur.”


“Em.. Raka, apa lo setuju kalau Gita jadian sama Kak Farhan?” tanya Fara.


“Belum tahu, gue belum menyelidikinya.” Jawab Raka sembari merangkul Fara dan


membawanya ke tenda.


“Haruskah lo menyelidikinya.”


“Tentu saja, bagaimana kalau dia brengsek dan hanya mau memanfaatkan Gita.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau justru Gita yang memanfaatkan Kak Farhan, untuk pelariannya.” Fara membalikan perkaraan Raka.


“Maka dari itu jangan biarkan Gita jadian sebelum kita tahu tentang Farhan. Kita baru beberapa bulan disini belum mengenal sifat asli dari mereka. Jadi jangan terlalu percaya dengan ucapan mereka."


__ADS_2