Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Farhan sang Pengganti? II


__ADS_3

Butiran air hujan menguyur bumi, Gita mendengus pelan karena tidak bisa segera pulang. Di tambah lagi angkot yang membawanya ke rumah tak kunjung datang dan akhirnya dia terjebak di halte.


Gita membuka ponselnya, dia menekan kontak milik Gilang yang lama. Dia membaca pesan dari ujung atas sampai bawah yang memang sengaja tak perah dia hapus.Dia


menganggapnya sebagai kenang-kenangan dan juga obat rindu.


Gita senyum-senyum sendiri membaca chatnya yang menurutnya dia sangat lebay dan bucin.


“Lebay banget ya gue.” Katanya pelan.


Gita memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia melihat orang lari menuju kearahnya


dengan tas di atas kepala. Semakin mendekat semakin jelas, ternyata orang itu adalah Farhan. Pingin banget menghindar tapi apa daya keadaan memaksanya untuk tetap disitu.


Sesampai di halte Farhan mengusap lengannya yang basah, dia sesekali mengusap rambutnya yang juga basah meskipun dia menutupinya dengan tas.


“Belum pulang?” tanya Farhan.


“Menurut lo?” Kata Gita dengan nada ketus.


Farhan mengangguk-angguk, kemudian tersenyum kecil. Meskipun sudah berkenalan Gita masih saja bersikap galak kepada dirinya.


“Pulang kemana?” tanya Farhan lagi.


“Ke rumah.” Jawabnya singkat.


“Iya tahu pulang kerumah nona manis, tapi kan punya alamat.” Kata Farhan.


Gita diam saja, dia tidak mau memberikan alamatnya kepada Farhan. Kalau di kasih


tahu dia pasti akan datang ke rumahnya, yah seperti hukum alam biasanya kalau


seorang cowok sedang mengejar cewek terus  mendapatkan alamat seorang cewek pasti akan di samperin.


Gita melirik ke arah Farhan yang sedang mengusap lengannya, bajunya basah kuyup. Dia juga sangat menggigil, Gita tidak tega melihatnya. Dia mengambil kain selendang


besar warna biru tua  miliknya yang sering dia pakai saat di mobil kalau dingin.


“Nih Kak pakai.”


“Apa ini?” tanya Farhan belum mau menerimanya, karena kainya itu ada motif


bunga-bunga sedikit.


“Ini kain yang gue sering pakai kalau dingin.”


“Nggak usah, lo aja yang pakai ini kan dingin banget.” Kata Farhan.


“Nggak apa-apa, Kakak yang lebih membutuhkan. Lihat tuh badanya basah kuyup, daripada besok sakit kan.” Gita membuka lebar kainya lalu memakaikan ke tubuh Farhan karena tak kunjung menerimanya. Setelah itu dia duduk lagi menunggu angkot datang.

__ADS_1


Seperti dugaan Farhan sebelumnya, Gita itu hanya galak luarnya saja. Dalam hatinya dia


sangat hangat. Dan sudah terbukti saat ini, dia memang gadis yang baik dan dia


tidak salah memilih.


Sementara Farhan kagum dengan Gita dan terus memandangi Gita, Gita justru sedang kembali ke masa lalunya. Butiran air ini kembali membawanya dimana saat dia bersama Gilang.


“Mau 5minuman hangat?” tanya Farhan membuyarkan lamunan Gita. Farhan membawa dua cup minuman hangat.


“Boleh.” Katanya. Minuman panas, sangat cocok untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil karena hujan lebat di tambah angin yang bertiup dengan sedikit


kencang.


“Mau susu atau kopi?”


“Susu saja. Beli dimana?” Kata Gita.


Farhan menyodorkan cup dari tangan kanannya, dia sengaja memesan minuman yang berbeda dan membiarkan Gita memilih dulu dia akan meminum sisanya.


"Tadi di depan sebelum kesini." Tunjuk Farhan.


Sebenarnya Farhan membawa mobil, namun melihat Gita yang tadi pergi ke halte dia memilih menemani Gita.


“Nggak di jemput?” Farhan mulai membuka obrolan.


Gita mengggeleng kepala sambil meniup minumannya, “Lagi pada sibuk jadi nggak bisa jemput.”


“Lagi pada pacaran, lagian gue udah biasa juga pulang sendiri dari dulu.” Jawab Gita


lalu menyeruput minumannya.


“Gimana kalau gue antar jemput lo setiap hari?” Farhan menawarkan diri.


“Makasih, tapi Gita masih bisa pulang sendiri kok. Gita pulang dulu ya, tuh angkotnya sudah datang.” Gita beranjak sambil melambaikan tangannya.


“Iya. Hati-hati.”


“Makasih, susu hangatnya.” Gita mengangkat cupnya  lalu masuk ke angkot.


“Lo emang berbeda dari yang lain. Aduh bego gue lupa pula minta nomor wanya.” Farhan menepuk jidatnya.


Farhan melihat kain bermotif yang dipakaikan sama Gita, dia tersenyum sepertinya dia punya alasan untuk bertemu lagi dengan Gita. Dan memiliki alasan yang tepat.


...♡♤♤♤♡...


Pagi ini Gita masih terbaring di kasurnya, dengan tisu yang bertebaran di kasur. Gita merasa kepalanya berat, suhu tubuhnya meninggi. Yang semakin membuatnya sebal hidungnya yang tersumbat. Dia tidak bisa bebas bernapas.


Sejak malam Gita sudah merasa tidak enak, tapi dia cuek saja dan berusaha memejamkan matanya. Dia pikir setelah tidur dia akan merasa lebih baik.

__ADS_1


"Ya ampun Ta, kenapa berantakan banget ini kamar lo." Qila masuk sambil membereskan kamar Gita.


"Gita nggak enak badan Kak, mana kepala Gita berat banget." Keluh Gita.


Qila memegang kening Gita lalu lehernya, "Panas banget, lo kemarin hujan-hujanan ya?" tanya Qila.


"Huuaaacing! Nggak Gita cuman neduh di halte pas hujan. Ya kena sedikit lah pas lari." Gita mengingat apa yang kemarin dia lakukan.


Qila beranjak mengambilkan teh hangat dan obat untuk adiknya itu.


"Lo nggak usah kuliah dulu." kata Qila memberikan kapsul lalu teh hangat.


Gita menaruh kapsul di mulutnya lalu segera meneguknya dengan air teh. Gita merebahkan tubuhnya lagi.


Qila menyelimuti Gita sampai ke lehernya. Qila mengambil remot ac lalu mengecilkan agar tidak terlalu dingin kamar Gita.


"Ta bangun, lo kuliah apa nggak?!" Raka membuka pintu keras.


"Sstttttt." Qila menaruh jari telunjuknya di bibir.


"Jangan berisik." kata Qila lagi.


"Kenapa Kak?" Raka masuk perlahan mendekati Gita.


"Gita demam, biarin saja dia nggak kuliah dulu." kata Qila.


"Baiklah, gue juga nggak bakalan kuliah." Raka melepas tasnya.


"Heh.. kenapa nggak kuliah?"


"Jagain Gita, kasian di rumah sendiri sebentar lagi Kak Qila juga bakalan ke kampus kan." Kata Raka.


"Iya, tapi kan ada Bik Nana."


"Nggak apa-apa sehari nggak kuliah juga nggak bikin bego kok." Raka meringis.


"Terserah lo deh, kalau gitu gue berangkat dulu ya. Kalau nanti panasnya masih tinggi bawa aja ke dokter." pesan Qila.


"Iya Kakak cantik."


Raka mengirimkan pesan kepada Fara kalau dirinya nggak datang. Setelah itu dia mengambil kompres.


"Kak.. Kak Gilang.... Kaka baik-baik saja kan. Gita kangen.." Gita mengigau.


Raka menempelkan handuk di kening Gita, dia tidak tega mendengar rintihan Gita.


"Lo pasti kangen banget sama Gilang kan." Raka mengusap lembut rambut Gita.


"Kak.. Kak Gilang..." Gita pun tiba -tiba menangis sampai sesenggukan.

__ADS_1


"Ta...Ta... hey bangun." Raka menepuk pelan pipi Gita agar dia bangun. Raka memeluk Gita yang tak kunjung terbangun. Sesenggukanya hilang ketika Gita terlelap. Mungkin obatnya sudah bekerja sehingga Gita terlelep.


__ADS_2