
Malam ini Qila sangat senang, dia terus tersenyum sepanjang pesta. Dia merasa kalau keinginanya akan tercapai di ulang tahun ini.
"Makasih ya Lang." katanya sambil tersenyum manis.
"Jangan makasih sama gue, tapi sama Gita. Gue melakukan ini semua karena permintaannya. Agar lo mimpi lo terwujud." jawab Gilang datar. Bahakan selama dia dansa tidak sedikitpun tersenyum. Wajahnya flat.
"Jadi semua itu karena Gita?" Qila tercengang dengan jawaban Gilang.
"Tentu saja, jadi jangan pernah lo menyimpan perasaan, atau berniat menyatakan cinta sama gue. Lo tahu kan gue sama Gita sedang dekat. Dan gue rasa lo juga tahu kalau Gita itu punya perasaan sama gue."
Mereka berdua berhenti berdansa, Qila menarik tangannya. Mereka berhenti di tengah-tengah teman-temannya yang sedang berdansa. Jantung Qila berdebar cepat, bukan karena dia sedang bahagia namun karena kesal, kecewa dengan jawaban Gilang.
"Tapi kenapa Gita melakukan itu, dia tidak bilang kalau suka sama lo." Mata Qila berkaca-kaca. Hatinya sepeti tertusuk pisau mengetahui kebenaranya.
"Karena dia sesayang itu sama lo, dia rela melakukan apapun agar lo bahagia. Hanya saja lo nggak peka dengan adik lo. Apa masih mau merebut kebahagiaan Gita dengan apa yang sudah dia lakukan sama lo. Bukankah Gita melakukan ini tidak hanya sekali."
"Apa lo pernah mikir saat Gita mengalah, saat dia mengiyakan permintaan lo dia bahagia atau sedih. Atau dia menangis sendirian karena dia tak ingin lo dan orang lain melihat dia terluka." Tambah Gilang.
Qila menggelengkan kepala, dia merasa menjadi kakak yang buruk. Sudah banyak penderitaan yang dia alami hanya untuk menyenangkan dirinya.
"Gilang, gue minta maaf. Gue.." Qila menangis.
"Lo jangan menangis disini, harusnya lo minta maaf sama Gita. Dia sekarang sedang cemburu karena ulah lo ini." Jelas Gilang.
"Yah gue tahu, lo boleh sekarang pergi dan cari dia." suruh Qila.
"Ok, gue yakin dengan lo akan mendapatkan orang yang benar-benar lo butuhkan. Bukan hanya lo inginkan." Gilang memegang pundak Qila lalu pergi dari tempat dansa.
...♡◇◇◇♡...
Gita sedang duduk sendirian, dia mengambil hidangan pesta banyak banget. Dia akan melampiaskan kemarahannya dengan makan. Dia tidak peduli lagi dengan dietnya karena merasa sudah tidak ada gunanya lagi. Semangatnya diet itu karena Gilang bukan yang lain.
Gita mulai memasukkan kue kedalam mulutnya tanpa jeda. Sakitnya itu lebih dari ketika di permalukan sama Devan. Belum jadian tapi sudah kehilangan.
"Pelan-pelan makannya." Gilang menarik kursi lalu duduk di depan Gita. Gita memperlambat kunyahannya. Dia melihat ke bawah memastikan Gilang menginjak lantai atau tidak. Takutnya hanya halusinasinya, atau hantu dan semacamnya.
__ADS_1
Gilang berdiri lalu duduk di sebelah Gita, karena Gita mematung. Mata mereka saling berpandangan, Gilang semakin mendekat, dia mengusap bibir Gita yang gelepotan dengan tangannya perlahan.
Saat Tangan Gilang menyentuh bibir Gita, jantung Gita rasanya panas mau meledak namun tubuhnya membeku.
"Ya Tuhan, jantung gue." batin Gita tidak bisa bergerak.
"Cantik-cantik gini kok makan gelepotan." Gilang memberika jarak kepada Gita setelah bibir Gita bersih agar mereka berdua bisa bernapas dengan sedikit lega. Dan membiarkan jantungnya berdegup normal.
"Kak Gilang kenapa kesini pestanya kan belum selesai." Kata Gita dengan gugup.
"Lo sendiri kenapa disini, kan pestanya disana?"
"Karena gue lebih suka disini, gue nggak suka keramaian."
"Sama, gue kesini karena gue lebih suka lo daripada pestanya." Kata Gilang membuat Gita menelan kue mendadak. Untung saja tidak tersedak.
"Dasar tukang gombal." gumam Gita lirih.
"Bangun." Gilang berdiri dan meminta Gita mengikutinya.
"Em." Gita mengangkat kepalanya.
"Kita mau kemana?" tanya Gita sambil menaruh garpu kecil di tangannya lalu menerima uluran tangan Gilang.
"Ikut aja."
Gilang membawa Gita ke tengah-tengah pesta. Dia bahkan mengajak Gita dansa saat semua orang dansa.
"Gue nggak mau." Gita hendak lari tapi di tahan Gilang. Gilang langsung memegang pinggang Gita erat.
"Udah mau tengah malam, nanti gue jelek lagi." katanya konyol.
"Lo itu Gita bukan cinderella." Kata Gilang tidak mau melepaskan Gita.
Gita melihat sekeliling, dia malu dia takut orang-orang mencibirnya. Dia kemudian menunduk.
__ADS_1
"Gita tatap mata gue." Pinta Gilang. Gita belum mau dia terus menunduk.
Gilang mengangkat dagu Gita, "Tatap mata gue dan ikuti gerakan gue, lo tidak perlu melihat yang lain. Cukup lihat gue, bayangin saja ini adalah moment indah lo. Dan di sini hanya ada kit berdua." kata Gilang. Gita mengangguk, dia mencoba untuk fokus melihat Gilang dan mengabaikan yang lain.
Meskipun sangat kaku, Gita terus mengikuti gerakan Gilang. Banyak netijen mulai berkomentar tentang Gita dan Gilang. Devan terbakar cemburu, dia merasa kalah lagi dari Gilang.
Bayu hanya bisa menatap lekat sahabatnya dengan orang yang mulai menarik hatinya. Sedangkan sahabat-sahabat Gita heboh, dan sangat bahagia melihatnya.
"Malam ini gue berubah menjadi cinderella beneran, gue harap malam ini tidak berakhir. Gue ingin terus bersama Gilang seperti ini." Batin Gita. Dia terus memandangi wajah tampan Gilang. Dia sangat terpesona dengan Gilang. Malam ini Gilang adalah pngeran berkuda putihnya Gita.
...♡◇◇◇♡...
Kriiiiingggg.....kring....... alaram jam Gita berdering sangat keras. Gita hanya mengambil lalu mematikannya.
"Brisik banget sih." Gita ngomelin jam bakker. Dia membalikan tubuhnya membelakangi jam bakkernya lalu menyelimuti tubuhnya lagi sampai di bawah leher.
"Ta..Ta.. bangun!" teriak Raka sambil menggedor-gedor pintu.
"Lo nggak bangun gue tinggal!" teriaknya lagi.
"Ih.. kebiasaan banget si lo Ka, bisa nggak bangunin gue pelan." Omel Gita sambil beranjak membukakan pintu.
"Buruan bangun, lihat jam berapa?" Raka menunjuk jam dinding di kamar Gita.
"Jam setengah eman, masih lama masuk sekolah. Lo kenapa teriak-teriak?" Gita manyun.
"Nggak tahu, iseng aja godain lo." katanya sambil lari turun dengan tertawa terbahak-bahak.
"Raka! awas lo ya. Kurang kerjaan banget sih lo." Gita marah-marah. Raka suka banget jahilin Gita ketika gabut.
Gita kembali lagi ke kamarnya, dia duduk ke tempat tidurnya. Lalu bangun lagi berjalan di depan kaca.
"Ini gue." Gita menepuk pipinya sendiri.
"Tadi malam itu gue mimpi atau apa ya, kok berasa kayak jadi cinderella." Ujarnya sambil memggaruk kepalanya. Dia kemudian turun mengecek halaman bawah.
__ADS_1
"Nggak ada bekas pesta, beneran mimpi kali ya gue." Gita melihat halaman bawah rapi seperti biasa tidak ada sisa pernak-pernik pesta.
"Dah lah.. mandi aja. Kembali ke dunia realita Gita." Gita berlari untuk mandi dan bersiap pergi ke sekolah.