
Gita memainkan ponselnya, dia masih
memikirkan cara bagaimana agar Raka mau ikut ke pantai. Gita mengacak-acak
rambutya saat dia tidak menemukan ide yang tepat untuk membawa Raka kepantai.
“Kenapa, mau pergi kok kayak nggak
senang gitu?” Gilang merapikan rambut Gita yang berantakan.
“Gimana mau senang, Raka saja nggak mau
ikut. Harusnya kan ini acara agar Raka move on.” Gita menghela napas panjang. Dia kesal nggak berhasil membujuk Raka ikut pergi bersama mereka.
“Ya sudah biarin saja kalau memang menurut Raka kesendiriannya membuat dia tenang, dan bisa move on.” Gilang mengelus rambut Gita lembut. Gilang membukakan pintu untuk Gita, dan mengajak yang lain untuk masuk ke dalam agar tidak kesiangan.
“Tunggu!” Teriak Raka sambil lari saat
mobil hendak berjalan.
“Ada apa Ka?” tanya Gilang sambil menurunkan kaca mobilnya.
“Buka, gue ikut.” Ujarnya dengan meminta pintu untuk di buka.
“Beneran lo mau ikut Ka?” Gita heboh.
“Ya, buruan buka. Dan cepat pergi dari
sini.” Raka masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Vian.
“Ada angin apa nih tiba-tiba ikut setelah
drama berkepanjangan.” Nyinyir Fara.
“Takut aja nanti ada yang gangguin lo,
nanti nangis kan nggak ada yang jagain lo.” Goda Raka.
“Dih... kenapa jadi bawa-bawa gue.”
“Katanya lo naksir sama gue, gimana sih
nggak konsisten banget.” Kata Raka yang membuat seisi mobil tertawa. Hanya Fara
yang merasa kesal.
“Gue tahu nih kenapa lo mendadak ikut.”
Gita membalikan tubuhnya ke belakang.
"Sok tahu."
“Emang tahu, Prisil mau datang ke rumah kan?” Tebak Gita. Raka hanya tersenyum menyimpulkan kalau perkataan Gita benar.
“Menghindar nih ceritanya.” Sahut Fara dengan ekspresi mengejek.
“Kalau menghindar lebih aman kenapa
harus perang.” Jawab Vian membela Raka.
“Wuiih, keren Ian. Gue suka gaya lo.” Raka dan Vian tos sedangkan Gita berdesis.
Keriuhan di dalam mobil berakhir saat
Bayu memparkirkan mobilnya di tepi pantai. Gita, Anita dan Fara langsung lari
keluar. Mereka bertiga langsung bermain air.
Gilang menghirup napas dalam-dalam lalu
menghembuskan perlahan, dia kemudian duduk sambil melihat kegirangan Gita bersama dua sahabatnya.
“Guys... gue ikutan!” teriak Vian sambil
berlari dia ikut meramaikan keseruan Gita, Fara dan Anita. Bayu tanpa babibu langsung ikut gabung.
Gilang menoleh ke arah Raka, “Lo nggak
ikut?”
__ADS_1
“Lo aja ke sana dulu, gue di sini dulu.”
Kata Raka. Gilang mengangguk lalu berlari ikut bermain dengan yang lain.
Mereka berlima berlari, mereka bermain
air sampai basah kuyup. Gita mulai sadar kalau di situ tidak ada Raka.
“Ada apa?” Gilang menatap Gita yang tiba-tiba diam.
“Kak, Raka mana?” tanya Gita.
Gilang menunjuk ke tempat duduk Raka di
tepi pantai, Gita langsung lari mendekati Raka. Gita menarik tangan Raka agar
berdiri dan ikut bermain air dengan dia dan yang lainnya.
“Ta, lepasin gue mau disini.” Kata Raka.
“Udah jauh-jauh pergi ke pantai masih aja duduk diem kayak kambing congek.” Gita menarik Raka bersama yang lain.
“Ombak, bawa kesedihan Raka donk. Gue
benci Raka yang lemah!” teriak Gita membuat Raka dan yang lain bengong melihat ke arah Gita. Gita tersenyum ke arah mereka dan mengkode agar mengikuti
dirinya.
“Matematika lenyaplah dari bumi ini, gue
nggak benci tapi lo selalu bikin gue pusing. Jadi pergi sajalah!” Teriak Gita Lagi.
“Iya, benar gue juga nggak suka lo
matematika selalu nyusahin!” Fara ikut teriak.
“Gue mau punya pacar!” Teriak Vian.
Raka pun akhirnya terbawa suasana dia
biasa tertawa lepas dan bercanda dengan yang lain. Seakan segala masalah sudah
Gita masih asyik bermain air, sedangkan
yang lain sudah duduk di tepi sambil menikmati sejuknya kelapa muda.
“Gita.” Panggil Gilang.
“Hem.” Jawab Gita sambil terus memainkan
air dengan kakinya.
“Gabung sama yang lain yuk.” Gilang menggandeng tangan Gita, Gita menoleh dan tersenyum.
"Nanti, Gita masih mau main." Ujarnya.
"Kalau Gitu ikut gue yuk."
“Eh mau kemana yang lain kan di sana kenapa kita jalannya justru kesini?” Gita menatap Gilang heran karena berbeda arah dengan yang lain.
“Kita jalan-jalan sebentar, sudah
beberapa hari ini lo sibuk ngurusin Raka. Dan gue di abaikan.” Kata Gilang sambil berjalan.
“Siapa yang mengabaikan lo, kita juga
telpon setiap hari.” Gita tidak mau di bilang mengabaika Gilang.
“Iya benar, tapi yang lo bahas setiap
hari juga Raka.” Gilang berheti, dia melepaskan tangan Gita lalu melipat di
dadanya. Mulutnya manyun, dia merasa cemburu karena beberapa hari kurang
perhatian.
“Kak, jangan ngambek donk.” Gita menekan
lengan Gilang dengan jari telunjuknya. Gilang tidak bergeming dia justru melihat ke laut luas.
__ADS_1
“Kak..” Gita mengulangi menyolek Gilang.
Tapi Gilang masih diam.
Kaki Gita berjinjit, dia mencium lembut
pipi Gilang untuk meredakan amarah Gilang. Ujung bibir Gilang tertarik hingga mebentuk lengkungan senyuman di bibirnya.
Gilang menarik Gita dalam pelukannya,
dia mencium keningnya lalu memeluknya erat.
“Kangen banget gue, rasanya nggak ketemu
bertahun-tahun.” Bisik Gilang.
“Kita ketemu setiap hari, bahkan sejak
tadi kita bersama bagaimana bisa kangen?” Gita tersenyum.
“Gue kangen seperti ini, gue mau lo
manja sama gue.” Kata Gilang. Gilang melepaskan pelukanya, kedua tangannya pindah memegang wajah Gita. Dia menatap lekat wajah putih Gita.
Gita menelan ludah dan perlahan menutup
matanya saat Gilang mulai mendekatkan wajahnya. Jantungnya berdetak semakin
keras, kedua tangannya menggenggam erat kemeja yang di pakai Gilang.
Gita bisa merasakan hembusan napas
Gilang di wajahnya, “Gita apa lo udah siap melakukan ini? Apa sudah boleh?”
Tanyanya dalam hati.
“Ah.. bukannya ini sangat sempurna, di tepi pantai dengan desiran angin yang lembut membuat sangat romantis. Bukankah ini impian semua cewek bisa seperti ini. Ciuman pertama dengan cowok cinta pertama yang keren, pintar, tajir. Hampir sempurna bukan.” Katanya dalam hati.
Cup!
Kecupan mendarat di kening Gita. Seketika dia membuka mata ada rasa lega dan bingung. Dia kira Gilang akan
mencium bibirnya sehingga dia mempersiapkan diri namun ternyata dia salah.
“Kenapa?” Tanya Gilang sambil tersenyum
seakan tahu apa yang di pikirkan Gita.
“Hehe.. nggak.” Gita memeluk Gilang lagi.
“Ya..ya...ya... dunia berasa milik
berdua.” Kata Vian.
“Brisik lo, mengganggu saja.”
“Maaf suhu.” Vian mengangkat tangannya. “Tapi para tamu yang mampir di dunia anda berdua sudah kelaparan.” Kata Vian lagi.
Gilang menggeleng kepala mendengar ocehan Vian, dia menggandeng tangan Gita lalu pergi untuk gabung sama yang lain.
“Di tinggal lagi, udah di suruh lihat uwu..uwu.. sekarang di tinggal nasib jomblo.” Omelnya.
“Kalian berdua darimana aja sih, perut
gue udah lapar banget nih.” Omel Fara.
“Kalau lapar itu makan bukan ngomel.”
Kata Gita.
“Ada yang kurang kali Git kalau nggak
ngomel tuh. Berasa belahan jiwanya pergi.” Tambah Anita.
“Ck.” Fara siap menyemprot Gita dan
Anita dengan kata-kata mutiaranya, namun di tahan sama Bayu.
“Udah-udah ayo buruan makan.”Ajak Bayu
__ADS_1
agar drama cewek-cewek itu semakin panjang dan memperlambat untuk makan.