
Hari ini Gita sengaja nungguin Gilang di dekat ruang osis, dia sejak tadi cemas bingung cara ngomomg sama Gilang. Dia takut Gilang akan marah dan tidak mau bicara lagi sama dia.
"Gita.. apa kita janjian hari ini?" Gilang sedikit berlari menuju Gita.
Gita menggeleng lalu tersenyum, "Nggak, kita nggak janjian tapi gue yang sengaja ingin ketemu sama lo."
"Kenapa nggak wa atau telpon."
"Takut ganggu lo, jadi gue tungguin aja."
"Udah lama?" Gilang cemas takut Gita menunggunya terlalu lama.
"Lumayan." Gita meringis sampai terlihat barisan giginya yang rapi.
"Ayo gue anterin pulang." Gilang mengajak Gita pulang.
"Gue mau ngobrol sebentar sama lo bisa?"
"Sambil perjalanan pulang atau kita mau ke kantin dulu?" tanya Gilang.
"Kantin aja deh. Sekalian makan gue laper."
"Ok."
Mereka berdua langsung pergi ke kantin dan memesan makan.
"Mau ngomong apa?" tanya Gilang.
"Dua hari ke depan ulang tahun Kak Qila, dan Kak Qila minta lo datang dan mau jadi patner dansanya." Gita ngomong sambil memainkan tangannya. Dia menjadi sangat panik, rasanya tidak siap melihat reaksi Gilang.
"Ok." jawab Gilang santai bahkan sambil menikmati makananya.
Deg!
Kedua mata Gita langsung menatap lekat Gilang. Dia tidak menyangka Gilang akan menyanggupi dengan secepat itu. Gita sebenarnya kecewa dengan jawaban Gilang namun dia harus pura-pura biasa saja.
"Makasih Kak." kata Gita pelan.
...◇◇◇◇◇...
Ada rasa penyesalan yang menyelimuti Gita. Jawaban Gilang yang masih terngiyang di kepala buat dia tidak tidur nyenyak, makan tak enak.
"Ta, kenapa makananya cuma di aduk-aduk?"
"Gita lagi nggak nafsu makan Kak, Gita langsung aja ya." Gita beranjak meninggalkan meja makan.
"Nanti lo sakit Ta, hari ini juga upacara nanti lo pingsan lagi." Qila menahan Gita.
"Nggak apa-apa Kak, Gita nanti bisa makan di luar kalau usah pingin."
"Ya udah, biar Kak Genta antar ya. Bareng sekalian sama Kak Qila." Genta menawarkan diri mumpung dia sedang tidak kuliah.
__ADS_1
"Gita duluan aja, ada urusan sama Fara dan Anita." Gita langsung cabut sebelum di paksa untuk tetap bareng. Gita sedang malas ketemu Qila, dia merasa kesal saja saat bersama.
"Astaga, Kak Gilang." Gita terperanjat melihat Gilang sudah ada di depan pintu.
"Kebetulan sekali lo udah keluar."
"Mau kemana?" tanya Gita sewot. Dia jadi malas juga ketemu dan ngobrol sama Gilang.
"Ke sekolahlah masa iya ke KUA." Jawab Gilang dengan senyum jahil.
Gita hanya berekspresi datar, dia kesal karena Gilang seperti tidak merasa bersalah. Bahkan seprti tidak terjadi apa-apa. Gilang bersikap seperti biasa kepada Gita.
"Dasar ngeselin." Batin Gita sambil masuk ke mobil.
Sesampai di sekolah Gita pun langsung turun tidak menunggu Gilang.
"Ta.. tunggu." Gilang berlari menyusul Gita. "Kenapa sih buru-buru?"
"Gita belum ngerjain pr." jawabnya dengan jalan lebih cepat namun Gilang masih bisa mengimbanginya.
"Kenapa nggak minta ajarin gue."
"Anita yang akan ngajarin gue." jawabnya jutek.
"Ok, nih sarapan buat lo. Jangan lupa di makan takutnya pingsan nanti pas upacara." Gilang mengacak-acak rambut Gita. Gita mengindar lalu pergi sampai lupa mengucapkan terim kasih pada Gilang.
Gita sampai di kelas langsung duduk dengan bibir manyun. Anita dan Fara langsung menoleh ke belakang.
"Kesel gue," Gita makin manyun.
"Berantem sama Gilang?" Fara pindah tempat duduk.
"Nggak."
"Terus?" Anita dan Fara makin penasaran dengan galaunya Gita. Semenjak ada Devan dan dekat dengan Gilang, Gita sering banget uring-uringan, galau nggak jelas. Padahal dulu dia ceria.
"Kak Gilang mau aja terima ajakan Kak Qila."
"Kak Gilang nggak nolak?" Fara kaget.
"Nggak. Dia bahkan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa setelah mengiyakan ajakan itu." Gita meletakkan kepalanya di meja.
"Keterlaluan nggak sih, dasar semua cowok sama aja." Maki Fara.
"Jangan salahin orang lain kalau yang buat lo sendiri." Raka menarik kerah baju Fara agar beranjak dari kursinya.
"Ih.. Ka, bisa nggak lo nggak usah tarik-tarik baju gue. Kebiasaan banget deh." Omel Fara.
"Nggak bisa." Raka melet sambil duduk.
"Untung lo cowok, kalau cowok udah gue jambak-jambak lo." Fara duduk dengan kesal.
__ADS_1
"Kaya nggak asing sama kata-kata itu." ujar Raka yang langsung kena serangan dari Fara.
"Darimana aja lo, setiap pagi tinggalin gue." Gita semekin manyun.
"Lah.. lo kan sudah punya pacar buat, jadi gue juga bisa pacaran." Raka mengangkat dua alisnya.
"Emang ada orang yang suka sama lo?" kata Fara julid.
"Wah.. penghinaan ini. Orang ganteng kayqk gue ini banyak kali yang antri."
"Idiih... narsis. Palingan yang naksir emak-emak dekat ojek pengkolan sekolah itu."
"Nggak usah pada beratem aja ntar naksir." kata Anita.
"Amit-amit, pacaran sama Raka." Fara bergidik.
"Idih... sok lo pacar gue juga lebih cantik."
Fara dan Raka mendadak diem saat Devan mendekati meja mereka.
"Mau apa lo?" tanya Fara sewot.
"Biasa aja kali, gue mau ngobrol sama Gita bukan lo." Devan melirik tajam kearah Fara lalu menatap Gita dengan senyuman.
Raka hanya mengamati gerak-gerik Devan tanpa berkomentar.
"Bisa ngobrol sebentar?"
"Bel udah bunyi tuh, saatnya upacara." Gita mengangkat jari telunjuknya supaya yang lain ikut mendengarkan bel.
Gita mendorong Raka agar segera beranjak dari kursinya untuk mengindari Devan. Devan tak mau menyerah dia berjalan berjejer dengan Gita.
"Lo nggak punya teman ya, ngekor Gita mulu." Celoteh Fara dengan julid.
"Gita kan juga teman gue bukan lo doang." jawab Devan. Raka hanya tersenyum mendengar jawaban Devan, dia benar-benar punya banyak kepribadian aneh.
Gita menghentikan langkahnya ketika melihat Gilang dan Qila jalan bareng sambil bergurau.
"Apa gue salah ya mendekatkan Kak Gilang sama Kak Qila. Hati gue kok jadi nggak enak gini." Gita manyun. Gita memegang dadanya, kemudian dia menunduk kaget karena tidak ada dasi. Dia lupa memakai dasinya, Gita pun langsung lari cepat.
"Ta mau kemana?!" teriak Raka hingga membuat Gilang menoleh.
"Ambil dasi di kelas." Seru Gita.
"Kebiasaan banget tuh anak." kata Anita sambil segera masuk ke barisan. Devan hendak berbalik menemani Gita namun di tahan Raka.
"Udah mau mulai." Dia menarik Devan ke barisan. Dia nggak mau Devan mencuri kesempatan berduan bersama Gita. Raka takut Gita masih mudah di pengaruhi Devan.
Gita buru-buru masuk kelas dan mencari dasi di tasnya.
"Gue taruh mana ya?" Gita mulai panik karna dasinya nggak kunjung ketemu. Dia merasa tidak pernah mengeluarkan dasinya dari tas kecuali mau di cuci.
__ADS_1