
Siang yang luar biasa panasnya, selesai pelajaran olahraga Gita langsung rebahan dengan bantal kaki Raka.
"Ka, gue rasanya mau pingsan." keluh Gita.
"Ya udah pingsan saja, nanti gue tinggalin di sini." kata Raka dengan napas ngos-ngosan juga.
"Jahat banget lo, Vian beli minunnya ke Arab apa lama amat datangnya."
"Lagi ngantri air zam zam dia." sahut Fara sambil mengipasi wajahnya.
"Pasti pada gibahin gue nih." Vian membagikan air mineral yang baru saja di belinya.
"Salah sendiri lo lama banget belinya." Kata Anita sambil membuka tutup botol.
"Ya gimana saingan gue satu sekolah. Salah sendiri kalian nggak ikut antri." omel Vian. "Git.. gue lihat Kak Gilang sama Monika berduaan tuh di kantin."
"Yang benar lo kalau ngomong, tadi katanya di kantin banyak saingin sekarang lo bilang Gilang sama Monika berduaan." Raka memukul Vian pakai botol bekas air mineral.
"Ya maksudnya di sana banyak orang tapi, Kak Gilang sama Monika agar menyingkur dan ngobrol berdua." jelas Vian.
Gita langsung berdiri dan lari ke kantin, dia yang tadi katanya capek hampir pingsan berubah jadi semangat. Gita berhenti di ambang pintu masuk kantin. Dia mencari keberadaan Gilang sambil mengatur napasnya agar normal.
"Gue di tipu nih kayaknya sama Vian, awas aja nanti di kelas. Gue patahi itu lehernya." kata Gita kesal merasa di bohongi sama Vian.
Gita memutar haluan untuk balik ke lapanga gabung sama yang lain. Namu dia mengurungkan niatnya saat sekelebat dia melihat Gilang yang baru memesan makanan sama Monika.
"Untung lo benar Vian, jadi ada yang gantiin yang gue patahin lehernya." Kata Gita langsung berjalan menghampiri Gilang dan Monika.
"Hai sayang," Gita berdiri di samping Gilang dan Monika.
"Hai.. baru istirahat aja? mana yang lain?" Gilang mencari sahabat Gita yang lain.
"Mereka istirahat di lapangan, boleh nggak ikut gabung?" tanya Gita sambil tersenyun melihat ke arah Monika.
"Kenapa nggak gabung sama teman-tema lo sih, ganggu aja." Kata Monika sinis.
"Ya kan gue pingin sama pacar gue." Gita duduk lalu menggenggam tangan Gilang dengan senyum mengejek kepada Monika. Gilang hanya melirik kearah Gita, dia merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik Gita.
"Sayang, boleh tidak gue minta baksonya?" Tanya Gita dengan nada manja sambil tersenyum manis.
"Boleh, makan saja." Gilang mempersilahkan Gita memakan makannaya.
"Suapin dong, kan tangan tangan gue buat gandengan sama lo." Gita mengangkat tinggi tangan yang bergandengan sama Gilang.
__ADS_1
"Sialan banget ini anak, mau pamer sama biakin gue cemburu. Lihatin saja nanti lo akan menyesal." batin Monika kesal.
"Mon, tadi mau ngomong apa?" tanya Gilang.
"Nanti saja di kelas." kata Monika, dia tidak jadi mengatakan maksud dan tujuan dirinya mengajak ngobrol Gilang.
"Sekarang saja, sekalian biar pacar gue ini dengar." Kata Gilang sambil menatap Gita. Gilang lama-lama bisa membaca pikiran Gita.
"Nyokap sama bokap mengundang lo makan malam nanti malam, sebagai ucapan terima kasih karena lo sudah mau menolong gue." Monika berharap Gilang mau datang.
Gita tanpa sadar menggenggam erat tangan Gilang karena kesal, Gilang tersenyum melihat Gita cemburu sama dirinya.
"Sorry Monika, gue sudah ada acara sama Gita malam ini."
"Lo sudah punya acara?"
"Iya, Kak Gilang sama gue mau menonton dan dinner nanti malam." Kata Gita. Gita mengarang agar Gilang tidak pergi ke rumahnya Monika.
"Sorry banget ajakan lo terlalu mendadak." Gilang mengikuti permainan Gita.
"Yah.. Gimana dong Lang, nyokap gue udah masak banyak dan udah nyepatin diri buat libur untuk menyiapkan semuanya." Monika panik. Dia bingung menjelaskan kepada kedua orang tuanya.
"Gimana ya Mon, soalnya kita sudah merencanakanya jauh hari. Nggak mungkin kan kita membatalkannya." jelas Gilang.
"Emang enak gue kerjain." Batin Gita. Gita melepaskan gemnggaman tanyannya lalu kembali bersama kelompoknya setelah mengusir pelakor.
"Mau kemana?" gantian Gilang yang memegang erat tangan Gita.
"Gue mau ke lapangan."
"Katanya lo mau sama gue." Gilang memakan baksonya yang sudah mulai dingin.
"Iya, itu tadi. Sekarang gue mau balik lagi ke sana."
"Tadi lo ngomongnya lembut banget, kenapa sekarang berubah ketus?" Tanya Gilang sambil menatap Gita. Gita langsung gelagapan bingung mau menjawab apa.
"Ah.. lo cemburu kan gue dekat sama Monika."
"Ngapain cemburu. Gue kesini kan nyamperin pacar gue."
"Baiklah, nanti malam gue jemput lo buat nonton sama dinner." kata Gilang sambil kembali memasukan bakso ke mulutnya.
"Nanti malam?" Gita kaget.
__ADS_1
"Iya, nanti malam." Gilang mengangguk.
"Kok dadakan sih, besok aja gimana?"
"Kan lo sendirk yang bilang sama Monika tadi. Jadi nanti malam gue akan jemput lo, atau kalau nggak gue akan datang ke rumah Monika karena gue nggak mau berbohong." Gilang mengancam Gita secara halus.
"Ah.. jadi kak Gilang mau datang ke rumah Kak Monika." Gita naik pitam.
"Ya kalau memang nggak ada acara gue datang ke undangan Monika."
"Ya udah sana datang saja ke undangan Kak Monika." Gita ngambek. Gita menarik tangannya dari genggaman Gilang. Dia membuang muka kearah lain sambil melipat ke dua tangannya.
"Beneran boleh?" Gilang bukanya membujuk Gita tapi terus menjailinya.
"Terserah." Jawabnya ketus sambil pergi meninggalkan Gilang.
Gita jalan sambil manyus, sepanjang lorong menuju ke kelasnya dia terus mengumpat.
"Dasar buaya, baru tadi pagi minta maaf sekarang udah berulah lagi. Maunya apa sih." Gita terus ngedumel.
"Gita, kenapa lo ngedumel gue lihatin dari tadi?"tanya Anita.
"Gue itu kesal banget, Kak Gilang tuh beneran sedang berduaan sana Kak Monika. Tahu nggak dia mau datang ke undangannya Kak Monika." kata Gita dengan nada kesal.
"Dia izin sama lo gitu?"
"Iya, dia ngomong gitu."
"Lo jawab apa?"
"Terserah dia."
"Lo sih cari masalah, harusnya lo bilang nggak boleh gitu bukan malah lo izinin." Anita menyalahkan Gita.
"Ya harusnya dia paham, kan dia sudah ada gue. Lagian nih sekuat apapun gue jaga dia kalau mau pergi ya tetap pergi."
"Iya benar tapi seenggaknya lo tahan, buka malah lo bukain pintu lebar-lebar. Jadi jangan salahin Kak Monika kalau bisa masuk ke hubungan kalian berdua. Jangan menyesal dan menangis."
"Lo kok ngomong gitu sih, bukanya belain gue."
"Mau belain gimana, soalnya sekarang percayanya sama pasangan tapi jangan terlalu di lepas juga. Di pikirnya nanti lo nggak sayang dan nggak peduli lagi sama dirinya. Nanti buat dia pingin mencari sosok lain."
"Ih.. diem ah Nit, lo mulai bikin takut saja."
__ADS_1
"Makannya selagi ada si jaga." Kata Anita yang membuat Gita menjadi takut akan kehilangan Gilang.