Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Keteledoran III


__ADS_3

Gita duduk di kursinya, melihat laptop yang sudah rusak karenanya, dia memperhatikan


ruangan baiasanya rame berubah kosong dan sunyi. Gita mengambil ponselnya di tas.


“Halo Ma,”


“Halo sayang, ada apa?”


“Gita boleh minta tolong nggak sama mama?” Gita mulai meneteskan air mata, dia selalu bilang kalau dia tidak ingin menyulitkan orang tuanya tapi tetap saja dia terus meyusahkannya.


“Sayang, kamu nangis. Ada masalah apa, bilang sama mama.” Wanda jadi cemas.


“Gita habis membuat kesalahan di kator. Proyek Gita kemarin gagal ma, jadi pindah


tangan karena kecerobohhan Gita. Dan team Gita tidak jadi mendapatkan bonus.


Apa mama bisa pinjamin Gita uang, Gita janji kalau udah gajian nanti Gita


ganti.” Kata Gita.


“Kamu perlu uang berapa?”


Gita menghapus air matanya saat teman-temannya mulai masuk ke ruangan, “Gita tutup dulu ya telponnya.”


“Mama jemput ya, sebentar lagi pulang kerja kan kamu.”


“Iya Ma.” Gita mematikan ponselnya.


Win sebenarnya sudah mendengar percakapan Gita dengan mamanya. Namun dia pura-pura tidak dengar. Dia menatap iba dengan anak baru yang harus menanggung masalah berat.


“Git,bgue anterin pulang yuk.” Vian menawarkan diri mengantar pulang Gita.


“Makasih Vian, gue udah di jemput kok.”


“Kak bGilang?” tanya Fara tanpa bersuara.


Gita menggelengkan kepalanya pelan, “Mama.”


“Ok.” Kata Fara.


“Mas, Mbak gue pulang dulu ya.” Kata Gita sambil menaruh tas di pundaknya.


“Iya Gita, hati-hati ya.” Kata Win sedang kan Nino dan Ina mengabaikan Gita.


Gita sedikit mempercepat jalannya karena Wanda sudah sampai di depan perusahaan.


Namun saat melihat Gilang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, seketika


kakinya terhenti. Gita memegang erat tasnya, lalu kembali berjalan. Dia


menundukan kepalanya tak mau melihat dan menyapa Gilang.


Setelah Gita melewatinya begitu saja, Gilang memutar tubuhnya dia merasa ada yang aneh dengan Gita.


“Apa dia marah sama gue?” Batin Gilang.


“Maaf Pak, ada apa ya kok berhenti?” tanya Lila.


“Lila, menurut kamu saya menegur anak baru di kantor ini keterlaluan atau tidak?”


Gilang menanyakan kepada Lila.


“Tidak Pak, meskipun sedikit kasar tapi semua itu demi kebaikan perusahaan dan

__ADS_1


personal karyawan. Agar mereka bisa lebih hati-hati.” Jelas Lila. Gilang mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Lila.


...♡♤♤♤♡...


Gita masuk ke mobil Wanda langsung memeluknya erat-erat, “Mama.”


Air matanya berjatuhan dengan sangat mulus.


“Kasihan anak mama, coba ceritakan yang jelas sama mama.” Wanda mencium kepala Gita lalu mengelus rambutnya lembut.


“Gita nggak sengaja bikin kehilangan proyek ini Ma. Jadi sebenarnya tadi


siang penyerahan data proyek namun laptop Gita ketumpahan kopi. Dan semuanya


hilang.” Cerita Gita sambil menangis sesenggukan.


“Kok bisa ketumpahan kopi?” Wanda heran.


“Gita juga nggak tahu Ma, habis dari kantin tiba-tiba tumpah saja. Apa ada angin  ****** beliung di ruangan itu dan menumpahkan kopi Gita.” Dalam keadaan sedih pun Gita masih bisa memikirkan hal konyol.


“Kamu ada-ada saja. Kamu pindah saja ke perusahaan mama belajar bersama-sama dengan Raka. Nanti kamu bisa membuka perusahaan sendiri, mama juga sudah menyiapkan perusahaan untuk kamu sama seperti Raka.” Wanda kembali membujuk Gita agar mau masuk keperusahaannya.


“Nanti Gita pikirin lagi ma. Gita bisa kan pinjam uangnya?”


“Kenapa harus pinjam, kamu kan anak mama jadi ya kamu tinggal minta dan pakai saja.” Kata Wanda kembali mencium kening Gita.


“Makasih ma, Gita sayang banget sama mama.” Gita mengeratkan pelukannya.


“Sama-sama sayang, kamu sudah makan belum?”


“Gita tidak ***** makan.”


“Baiklah, mama akan masak semua menu kesukaan kamu. Kalau kamu sudah berubah pikiran nanti kamu tinggal makan.” Kata Wanda.


bahkan dia menonaktifkan ponselnnya.


Gita menangis kembali mengingat ucapan Gilang, meskipun dia tahu kalau dia salah


tapi Gita merasa sakit hati saat Gilang memuji Catrin di depannya.


“Gitabbisa tidak kamu berpikir dulu dalam bertindak, lihat siapa yang susah dengan


kecerobohan kamu, Kamu harus lebih hati-hati lagi dalam bekerja, tanggung jawab dan disiplin. Jangan sembrono dalam melakukan pekerjaan taruhannya bukan hanya perusahaan tapi seluruh karyawan disini.”


Ucapan Gilang terus terulang di telinga Gita dan membuatnya semakin sedih dan


menangis semakin deras.


“Gita tahu kalau salah tapi haruskan bilang seperti itu.” Katanya sambil sesenggukan.


...♤♡♡♡♤...


Gilang mengacak-acak rambutnya, dia bingung ponsel Gita tidak bisa di hubungi. Dia mulai mengingat apa saja yang di katakan kepada Gita.


“Gita, kenapa nomornya nggak aktif sih bikin cemas saja.” Kata Gilang sambil


mondar-mandir.


“Kamu kenapa Lang, mondar-mandir nggak jelas seperti itu?” tanya Rima.


“Ini Ma nomor Gita tidak aktif.” Kata Gilang.


“Telpon rumahnya, coba tanya dia ada dimana kalau nggak kamu samperin ke rumahnya.” Rima memberikan saran.

__ADS_1


“Oiya benar, kenapa Gilang tidak kepikiran sejak tadi ya.” Gilang mencoba telpon ke


rumah Gita.


Setelah nunggu beberapa saat akhirnya telponya tersambung.


“Halo.”


“Halo, Bik Gita ada?”


“Maaf ini siapa ya?”


“Gilang.”


“Oh..Mas Gilang. Mbak Gita ada di rumah tapi sejak tadi mengurung diri di kamar.”


“Mengurung diri?”


“Iya Mas, tadi sejak pulang dari kerja mukannya sedih mana matanya merah seperti habis nangis.” Jelas Bik Nana.


“Bisa tolong panggilin sebentar Bik, bilang saya telpon gitu.”


“Baik, sebentar ya Mas.”


Bik Nana pergi tak lama, “Halo Mas, maaf Mbak Gitanya mungkin sudah tidur. Soalnya


nggak menjawab bibi panggil.”


“Ya sudah, kalau nanti Gita bangun bilang saya telpon ya.”


“Baik Mas.”


Gilang menjatuhkan tubuhnya di sofa, dia merasa bersalah apa yang iya katakan sama


Gita di kantor.


“Menantu mama baik-baik saja kan?” tanya Rima.


“IyabMa, hanya saja menantu mama sedang ngambek sekarang.” Kata Gilang.


“Kamubbikin salah apa sama Gita sampai dia ngambek sama kamu?” tanya Rima.


“Mungkin Gilang terlalu kerasa sama Gita di kantor jadi dia ngambek.”


“Kamu tuh ya, mama sudah bilang jangan galak-galak sama Gita ngeyel. Mana sering


banget kamu kasih lembur lagi, awas saja ya kalau sampai Gita ngambek dan nggak


mau jadi mantu mama. Kamu mama usir dari rumah.” Rima ngomel-ngomel sama Gilang.


“Mama bukanya kasih solusi malah marah-marah.” Gilang ngedumel.


“Ya habisnya kamu nggak dengerin mama, sejak awal kan mama sudah bilang jangan di


kasarin itu menantu mama.” Rima tidak berheti mengomeli Gilang.


“Ya tapi dia salah ma, Gilang kan Cuma memberi tahu dan semua itu demi kebaikan


Gita juga.”


“Mama nggak mau tahu, kamu haru bujuk dia sampai dia nggak ngambek lagi.” Kata Rima.


“Iya ma. Lagian Gilang juga nggak suka di cuekin begini.” Kata Gilang dari suara

__ADS_1


yang lumayan keras lalu merendah.


__ADS_2