Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Gita Sakit II


__ADS_3

Gilang


menyiapkan sarapan untuk Gita sekalian untuk meminum obat, Gita hanya duduk


sembari melihat Gilang yang sibuk kesana kemari. Gita tersenyum, memang sangat


berutung memiliki pacar siaga seperti Gilang.


“Biar


aku bantu sayang.” Kata Gita hendak turun namun tidak ijin kan sama Gilang.


“Eh..


kamu duduk situ sambil menonton tv saja nggak perlu bantuin aku, lagian aku


hanya menuangkan makanan ini ke mangkuk.” Gilang memindahkan bubur dari rantang


yang diantar Bik Siti ke mangkuk.


“Kamu


kesusahan, biar aku bantu ya?” Gita mencoba ingin membatu Gilang.


“Nggak


usah, kan aku sudah bilang kalau aku bisa.” Gilang membawa mangkuk berisikan


bubur ke tempat tidur Gita. Dia  menarik


kursi lalu duduk dan siapmenyuapi Gita.


“Aaaa..”


Gilang mengulurkan tangannya serta membuka mulutnya agar Gita mengikutinya.


“Biar


Gita makan sendiri saja.” Gita meminta mangkuknya.


“Udah


biar aku suapin” Gilang menyuapi Gita lagi.


Gita


mengambil remotnya lalu menganti chanel tvnya, Gita berhenti memidan chanel


saat melihat berita Radit dan Aura sedang melakukan siaran langusung. Gita


memandang Gilang saat mendengar perminta maafan Radit dan Aura untuk dirinya.


“Kamu


yang suruh ya?” Tanya Gita.


“Tidak


mereka berdua saja yang mau melakukannya tanpa aku suruh dan tanpa aku


paksakan. Mungkin mereka sadar kalau perbuatanya mereka itu salah.” Kata


Gilang.


“Apa


kamu keberatan mereka melakukan itu?” tanya Gilang lagi.


“Tentu


saja tidak, Gita malah senang kalau mereka menyadariya.” Kata Gita.


Gilang


mengambil remot lalu mematikan saluran tvnya, “Kamu makan saja lagi, biar cepat


sembuh karena aku akan segera datang kerumah dan menikahi kamu.” Gilang kembali


menyuapi Gita.


“Menikah?”


Gita menelan buburnya lalu menatap Gilang dengan melebarkan kedua matanya.


“Em,


aku akan datang melamar kamu. Dan tidak lama aku ingin langsung menikahi kamu.


Aku tidak mau kamu jauh dari aku, di tambah lagi banyak orang-orang yang


mngincar kamu lagi membuat aku stres.” Kata Gilang.


“Secepat


itu kita akan menikah?” Gita masih syok karena mendadak banget Gilang mau


melamarnya.


“Memangnya


mau menunggu apa lagi, aku ingin kita berdua tanpa memikirkan kalau bakalan di


gerbek warga atau diomongin orang. Aku  juga bisa peluk kamu kapan saja.” Jawab Gilang.


“Iya


tapi cepat sekali rasanya.” Kata Gita.

__ADS_1


“Kamu


menolak aku?” tanya Gilang.


“Bagaimana


bisa menolak kamu, aku hanya masih belum bisa membayangkan secepat ini aku akan


menikah sama kamu.” Gita memandang Gilang dengan senyuman yang manis meskipun


dia masih pucat.


“Tidak


perlu di bayangkan, kita lakuin saja nanti pelan-pelan juga terbiasa, dan kita


juga bisa bemesraan tanpa takut ketahuan orang.” Kata Gilang sambil tersenyum


jahil.


“Nakal


deh.” Gita memukul Gilang pelan. Gilang mengerakan jari telunjuk dan tengahnya,


mengkode agar Gita mendekatinya.


“Apa?”


“Sini.”


Gita


mendekatkan wajahnya, dan Gilang memberikan ciuman tipis di bibir Gita


lalu  ke keningnya.


“Ini


obat dari aku agar kamu cepat sembuh.” Kata Gilang. Gita hanya senyum lalu


memeluk Gilang.


“I


love you sayangku, aku nggak tahu bagaimana duniaku kalau dulu aku menolak


kamu.”


“Dunia


kamu pasti akan terus berputar karena aku juga tidak akan berhenti mengejar


kamu meskipun terus di tolak. Kamu tahu kenapa?”


“Kenapa?”


kamu sudah tersurat menjadi milik aku, dan hati kita akan selalu bertahut.”


Sedang


asyik bermanja, pintu terketok lumayan keras. Gita langsung melepaskan pelukan


Gilang. Fara mendorongnya pintu setelah Gilang mempersilahkan masuk, dia


melambaikan tangan lalu masuk bersama Vian.


“Gita,


gimana keadaan lo?” tanya Fara. Dia menaruh makanan yang di bawa buat Gita.


“Sudah


membaik.” Katanya.


“Tahu


nggak di kantor itu pada heboh semua karena lo calon istrinya Kak Gilang.” Fara


mulai bergosip.


“Ah..


jadi males kan gue, pasti nggak akan bebas lagi di kantor.  Kamu sih buru-buru bilang sama mereka.” Gita


menatap Gilang sambil manyun.


“Ya


kan aku nggk tega lihat kamu di perlakukan seperti itu sama orang-orang.”


Gilang mengusap rambut Gita.


“Harusnya


lo seneng, jadi mereka nggak ada yang macam-macam sama lo. Dan kabar gembira


kalau Catrin sekarang sudah out dari perusahaan.” Fara menggerak-gerakkan kedua


alisnya.


“Catrin


keluar?”


“Di


keluarkan lebih tepatnya.” Sahut Vian. Gita mengnatap ke arah Gilang, dia

__ADS_1


meminta penjelasan sama Gilang.


“Biarin


saja, itu pelajaran yang pantas buat dia. Bukan karena dia membuat masalah sama


kamu, karena apa yang dia lakukan itu salah. Kalau kita biarkan saja seprti itu


dia akan selalu semena-semena sama orang lain. Perusahaan tidak butuh orang


pintar tapi tidak punya etitude.” Gilang memberikan penjelasan.


“Benar


yang di katakan Gilang, orang seperti itu hanya akan menjadi bumerang buat kita


nanti. Jadi lebih baik di basmi saja dari awal.” Kata Vian.


“Yah


semoga dia bisa sadar dan menemukan tempat yang bagus. Yang terpenting dia bisa


belajar.” Kata Gita.


“Tuh


pinter, sekali-kali kamu jangan terlalu memikirkan orang lain.”


“Terus


gimana sama Mbak Ratna sama Mas Roy?” tanya Gita.


“Di


keluarkan juga boleh.” Kata Vian sambil meringis.


“Sembarang,


dia sebenarnya orang baik hanya saja ambisinya yang terlalu besar dan dia tidak


mau kalah sama orang lain jadi dia terlihat seperti orang jahat.” Kata Gilang.


“Ngomong-ngomong


kalian kok kesini? Memangnya nggak ada kerjaan?” tanya Gita.


“Sebentar


doang kesininya, kan gue cemas lihat lo tak berdaya seperti ini. Buruan deh


berangkat ke kantor nggak ada lo nggak rame, nggak asik.” Kata Fara.


“Iya,


penyisa gue berkurang. Jadi nggak teras.” Ujan Vian.


“Vian.


Katanya lo lagi dekat sama Bella, beneran?” Tanya Gilang.


“Dekat


sama Bella? Siapa yang bilang.”


“Mereka


berdua.” Gilang menujuk Gita lalu Fara dengan dagunya.


“Vian,


nggak usah sok jual mahal lo. Berlagak mau jadi cowok cool dia pindah ke lain


hati lo bisa-bisa kelabakan karena nggak dapat cewek.” Kata Gita.


“Mulut


lo Ta, lagi sakit aja masih pedes. Gimana lo sehat bisa-bisa terbakar nih


telinga gue.” Emosi Vian meledak.


“Heh..jangan


marah sama calon istri gue.”  Gilang


belain Gita. Gita menjulurkan lidah, dia mengejek Vian.


“Dahlah,


gue cabut ke kantor lagi saja daripada serba salah gue disini.” Vian beranjak


meninggalkan ruangan Gita.


“Cabut


gih, bentar lagi Raka datang bawa makanan.” Kata Gilang. Vian berbalik badan


lalu duduk kembali.


“Ngapa


balik lagi?” Kata Fara sambil tertawa.


“Sayang


sama makanany akalau nggak habis.” Kata Vian. Serentak mereka tertawa dengan


kelakuan Vian.

__ADS_1


__ADS_2