
Gilang
menyiapkan sarapan untuk Gita sekalian untuk meminum obat, Gita hanya duduk
sembari melihat Gilang yang sibuk kesana kemari. Gita tersenyum, memang sangat
berutung memiliki pacar siaga seperti Gilang.
“Biar
aku bantu sayang.” Kata Gita hendak turun namun tidak ijin kan sama Gilang.
“Eh..
kamu duduk situ sambil menonton tv saja nggak perlu bantuin aku, lagian aku
hanya menuangkan makanan ini ke mangkuk.” Gilang memindahkan bubur dari rantang
yang diantar Bik Siti ke mangkuk.
“Kamu
kesusahan, biar aku bantu ya?” Gita mencoba ingin membatu Gilang.
“Nggak
usah, kan aku sudah bilang kalau aku bisa.” Gilang membawa mangkuk berisikan
bubur ke tempat tidur Gita. Dia menarik
kursi lalu duduk dan siapmenyuapi Gita.
“Aaaa..”
Gilang mengulurkan tangannya serta membuka mulutnya agar Gita mengikutinya.
“Biar
Gita makan sendiri saja.” Gita meminta mangkuknya.
“Udah
biar aku suapin” Gilang menyuapi Gita lagi.
Gita
mengambil remotnya lalu menganti chanel tvnya, Gita berhenti memidan chanel
saat melihat berita Radit dan Aura sedang melakukan siaran langusung. Gita
memandang Gilang saat mendengar perminta maafan Radit dan Aura untuk dirinya.
“Kamu
yang suruh ya?” Tanya Gita.
“Tidak
mereka berdua saja yang mau melakukannya tanpa aku suruh dan tanpa aku
paksakan. Mungkin mereka sadar kalau perbuatanya mereka itu salah.” Kata
Gilang.
“Apa
kamu keberatan mereka melakukan itu?” tanya Gilang lagi.
“Tentu
saja tidak, Gita malah senang kalau mereka menyadariya.” Kata Gita.
Gilang
mengambil remot lalu mematikan saluran tvnya, “Kamu makan saja lagi, biar cepat
sembuh karena aku akan segera datang kerumah dan menikahi kamu.” Gilang kembali
menyuapi Gita.
“Menikah?”
Gita menelan buburnya lalu menatap Gilang dengan melebarkan kedua matanya.
“Em,
aku akan datang melamar kamu. Dan tidak lama aku ingin langsung menikahi kamu.
Aku tidak mau kamu jauh dari aku, di tambah lagi banyak orang-orang yang
mngincar kamu lagi membuat aku stres.” Kata Gilang.
“Secepat
itu kita akan menikah?” Gita masih syok karena mendadak banget Gilang mau
melamarnya.
“Memangnya
mau menunggu apa lagi, aku ingin kita berdua tanpa memikirkan kalau bakalan di
gerbek warga atau diomongin orang. Aku juga bisa peluk kamu kapan saja.” Jawab Gilang.
“Iya
tapi cepat sekali rasanya.” Kata Gita.
__ADS_1
“Kamu
menolak aku?” tanya Gilang.
“Bagaimana
bisa menolak kamu, aku hanya masih belum bisa membayangkan secepat ini aku akan
menikah sama kamu.” Gita memandang Gilang dengan senyuman yang manis meskipun
dia masih pucat.
“Tidak
perlu di bayangkan, kita lakuin saja nanti pelan-pelan juga terbiasa, dan kita
juga bisa bemesraan tanpa takut ketahuan orang.” Kata Gilang sambil tersenyum
jahil.
“Nakal
deh.” Gita memukul Gilang pelan. Gilang mengerakan jari telunjuk dan tengahnya,
mengkode agar Gita mendekatinya.
“Apa?”
“Sini.”
Gita
mendekatkan wajahnya, dan Gilang memberikan ciuman tipis di bibir Gita
lalu ke keningnya.
“Ini
obat dari aku agar kamu cepat sembuh.” Kata Gilang. Gita hanya senyum lalu
memeluk Gilang.
“I
love you sayangku, aku nggak tahu bagaimana duniaku kalau dulu aku menolak
kamu.”
“Dunia
kamu pasti akan terus berputar karena aku juga tidak akan berhenti mengejar
kamu meskipun terus di tolak. Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?”
kamu sudah tersurat menjadi milik aku, dan hati kita akan selalu bertahut.”
Sedang
asyik bermanja, pintu terketok lumayan keras. Gita langsung melepaskan pelukan
Gilang. Fara mendorongnya pintu setelah Gilang mempersilahkan masuk, dia
melambaikan tangan lalu masuk bersama Vian.
“Gita,
gimana keadaan lo?” tanya Fara. Dia menaruh makanan yang di bawa buat Gita.
“Sudah
membaik.” Katanya.
“Tahu
nggak di kantor itu pada heboh semua karena lo calon istrinya Kak Gilang.” Fara
mulai bergosip.
“Ah..
jadi males kan gue, pasti nggak akan bebas lagi di kantor. Kamu sih buru-buru bilang sama mereka.” Gita
menatap Gilang sambil manyun.
“Ya
kan aku nggk tega lihat kamu di perlakukan seperti itu sama orang-orang.”
Gilang mengusap rambut Gita.
“Harusnya
lo seneng, jadi mereka nggak ada yang macam-macam sama lo. Dan kabar gembira
kalau Catrin sekarang sudah out dari perusahaan.” Fara menggerak-gerakkan kedua
alisnya.
“Catrin
keluar?”
“Di
keluarkan lebih tepatnya.” Sahut Vian. Gita mengnatap ke arah Gilang, dia
__ADS_1
meminta penjelasan sama Gilang.
“Biarin
saja, itu pelajaran yang pantas buat dia. Bukan karena dia membuat masalah sama
kamu, karena apa yang dia lakukan itu salah. Kalau kita biarkan saja seprti itu
dia akan selalu semena-semena sama orang lain. Perusahaan tidak butuh orang
pintar tapi tidak punya etitude.” Gilang memberikan penjelasan.
“Benar
yang di katakan Gilang, orang seperti itu hanya akan menjadi bumerang buat kita
nanti. Jadi lebih baik di basmi saja dari awal.” Kata Vian.
“Yah
semoga dia bisa sadar dan menemukan tempat yang bagus. Yang terpenting dia bisa
belajar.” Kata Gita.
“Tuh
pinter, sekali-kali kamu jangan terlalu memikirkan orang lain.”
“Terus
gimana sama Mbak Ratna sama Mas Roy?” tanya Gita.
“Di
keluarkan juga boleh.” Kata Vian sambil meringis.
“Sembarang,
dia sebenarnya orang baik hanya saja ambisinya yang terlalu besar dan dia tidak
mau kalah sama orang lain jadi dia terlihat seperti orang jahat.” Kata Gilang.
“Ngomong-ngomong
kalian kok kesini? Memangnya nggak ada kerjaan?” tanya Gita.
“Sebentar
doang kesininya, kan gue cemas lihat lo tak berdaya seperti ini. Buruan deh
berangkat ke kantor nggak ada lo nggak rame, nggak asik.” Kata Fara.
“Iya,
penyisa gue berkurang. Jadi nggak teras.” Ujan Vian.
“Vian.
Katanya lo lagi dekat sama Bella, beneran?” Tanya Gilang.
“Dekat
sama Bella? Siapa yang bilang.”
“Mereka
berdua.” Gilang menujuk Gita lalu Fara dengan dagunya.
“Vian,
nggak usah sok jual mahal lo. Berlagak mau jadi cowok cool dia pindah ke lain
hati lo bisa-bisa kelabakan karena nggak dapat cewek.” Kata Gita.
“Mulut
lo Ta, lagi sakit aja masih pedes. Gimana lo sehat bisa-bisa terbakar nih
telinga gue.” Emosi Vian meledak.
“Heh..jangan
marah sama calon istri gue.” Gilang
belain Gita. Gita menjulurkan lidah, dia mengejek Vian.
“Dahlah,
gue cabut ke kantor lagi saja daripada serba salah gue disini.” Vian beranjak
meninggalkan ruangan Gita.
“Cabut
gih, bentar lagi Raka datang bawa makanan.” Kata Gilang. Vian berbalik badan
lalu duduk kembali.
“Ngapa
balik lagi?” Kata Fara sambil tertawa.
“Sayang
sama makanany akalau nggak habis.” Kata Vian. Serentak mereka tertawa dengan
kelakuan Vian.
__ADS_1