Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kenangan


__ADS_3

Pernikahan Gita dan Gilang sudah di depan mata,  hanya menunggu beberapa hari lagi. Setelah kejadian ke pantai itu Gilang meminta mama Wanda untuk mengurung Gita dan tidak memberikan ijin setiap Gita mau pergi kecuali di dampingi. Jadi kerjaan dia hanya rebahan, ngemil sembari mainan ponsel.


Harusnya dia sedikit mengurangi makan dan berolahraga agar bajunya saat menikah tidak kekecilan. Tapi Gita tetap ngemil dan susah kalau di suruh olahraga.


Tuk..tuk...tuk..


“Sayang, mama boleh masuk?” Tanya Wanda di depan pintu sembari memasukan kepalanya melewati pintu.


“Tentu saja boleh mama sayang.” Kata Gita sembari melepas headfreenya.


“Nih mama buatin susu hangat sama kue kesukaan kamu.” Wanda duduk di samping Gita yang masih rebahan.


“Makasih mama.” Gita bangun lalu memberikan kecupan lembut di pipi mamanya.


Gita mulai memasukan kue dengan lahap ke mulutnya, Wanda memandangi putrinya dengan senyuman manis namun juga sedih. Putri yang di kasihinya sebentar lagi akan


menikah dan di bawa pergi sama suaminya. Anak yang paling bawel, bikin rumah


rame akan segera meninggalkan dirinya.


“Mama kenapa bengong?” tanya Gita.


“Nggak, enak nggak kue buatan mama?” tanya Wanda dengan membubuhkan senyuman di bibirnya untuk menahan tangisan yang hampir keluar.


“Enak banget, kue buatan mama ini nggak ada tandingan. Enak banget pokoknya nih kalau mama mau buka toko kue pasti laku keras.” Kata Gita dengan mulut yang penuh


dengan kue.


“Bisa saja kamu.” Wanda mengelus rambut Gita pelan.


“Ma, mama kenapa sih?” Gita cemas melihat mamanya.


“Memangnya kenapa?” Wanda sedikit mengangkat kepalanya agar air matanya tidak jatuh.


“Ya nggak biasanya gitu mama kayak gini, kedua mata mama juga berkaca-kaca kayak


gitu. Mama sakit?” Gita semakin di buat cemas.


“Nggak sayang, habisin gih kuenya.” Wanda menyodorkan piring yang tigal ada beberapa


kue saja.


Gita menjadi takut ketika mamanya perhatiannya melebihi biasanya, mana dilihat raut wajahnya sangat sedih meskipun terus di sembunyikan dengan senyuman dan kata tidak apa-apa.


“Gita, boleh nggak mama sisirin rambut kamu kayak dulu waktu kecil?” tanya Wanda.


“Boleh banget. Ayo ma.” Gita beranjak dari tempat tidurnya. Dia membuka jendela dan

__ADS_1


menyeret kursi di depan jendela agar angin yang sejuk masuk ke kamarnya.


Wanda mulai menyisir rambut Gita yang di atas bahu, air matanya tak kuasa menetes.


“Ma..maa.. aku mau rambutku seperti kak Qila.” Gita menunjuk rambut kita yang panjangnya melebihi bahu.


“Tidak bisa sayang, rambut Gita pendek. Mama kasih bando saja ya?”


“Nggak mau Ma, aku mau seperti Kak Qila.” Gita manyun sambil melipat ke dua tangannya di dada.


“Anak mama yang manis, coba sini naik ke kursi.” Kata Wanda sembari menepuk kursi


bekas Qila duduk. Dengan mulut yang masih cemberut Gita mengikuti permintaan


mamanya.


Wanda menyisiri rambut Gita yang di atas bahu, setelah selesai menyisiri lalu memakaikan bando yang dia belikan saat dirinya keluar kota.


“Lihat, Gita cantik loh pakai ini. Benar kan Kak?” Wanda melihat ke arah Qila. Agar dia


juga mengiyakan ucapannya.


“Iya Dek, kamu cantik pakai bando. Aku juga mau mama pakai bando seperti Gita.”


Rengek Qila.


Setelah acara ngambek akhirnya Gita bisa terseyum lagi melihat kakaknya yang memakai bando samaan dengan dirinya.


“Cantikkan?” pamernya.


“Iya, Gita cantik.”


“Ok, kamu sama Kak sekarang berdiri disana biar mama ambil foto dulu. Nanti di kasih


lihat sama papa.” Kata Wanda.


“OK.” Jawab Gita dan Qila sambil mengangkat jempolnya.


“Sekarang Gita sama Kak Qila pose yang bagus ya.” Kata Wanda. Semasa kecil mereka berdua selalu menjadi modelnya Wanda. Setiap kali pergi ke pusat perbelanjaan dia tak pernah lupa membawakan baju, atau asesoris lainnya untuk mendandani kedua


putrinya.


“Ma..”  panggil Gita sambil menoleh menyadarkan Wanda yang sedang kembali membayangkan masa kecil Gita dan juga Qila.


“Mama menangis?” Gita mengusap air mata mamanya. Wanda memeluk Gita erat, seakan


tidak akan bertemu kembali.

__ADS_1


“Mama kenapa menangis seprti ini, apa ada masalah serius?” Gita panik.


“Tidak sayang, mama hanya menagis bahagia. Kamu sebentar lagi akan pergi meninggalkan mama sama seperti kakak kamu.”


“Mama ngomong apaan sih, Gita sama Kak Qila dan Kak Genta tidak meninggalkan mama. Kita Cuma pindah rumah saja. Tapi kalau mama mau aku tinggal disini aku akan


bilang sama Kak Gilang.”


“Tidak sayang, kamu harus ikut suami kamu membawa kamu. Mama hanya masih belum percaya putri kecil mama yang dulu selalu merengek meminta ini itu, kini sudah dewasa dan akan menikah.” Kata Wanda sembari mencium kening Gita.


“Mama jangan bilang seperti itu, Gita jadi mau menangis.” Mata Gita mulai


berkaca-kaca.


“Kamu bahagia kan dengan Gilang?”


“Iya Ma, Gita bahagai sama Kak Gilang.”


“Baguslah, mama harap kalian bisa salig mencintai sampai kapanpun dalam keadaan apapun. Gita, kamu sebagai istri harus sabar, nurut dengan apa perkataan suami kamu. Kamu tidak boleh membangkag selama itu tidak negatif. Ingat, kemana pun kamu


pergi kamu harus ijin sama suami kamu. Jangan asal keluar, kamu sebentar lagi


bukan gadis lagi yang bisa seenaknya. Ok.”


“Iya, Mama nggak usah khawatir. Gita pasti ingat semua nasehat yang di katakan sama


mama. Dan aku akan selalu menjadi putri kecil kesayangan mama.”


Wanda mengangguk kemudian memberikan kecupan lembut lagi di kening Gita.


“Mama mau melanjutkan kerjaan mama dulu ya, kamu terusin saja aktivitas kamu.” Wanda mengusap rambut Gita.


“Iya Mama. Makasih ya ma kuenya.”


“Iya sayang, kalau mau lagi di bawah masih kamu tinggal minta sama Bik Nana.”


“Iya Ma.”


Gita mengusap air mata yang tersisa di pelupuk mata, dia berdiri melihat seisi kamar yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. Dia berjalan mendekati foto-foto dirinya semasa kecil.


“Benar kata Mama, tidak terasa aku sebentar lagi akan meninggalkan rumah ini. Dan pastinya kamar ini yang  selama ini


menjadi saksi suka dukaku. Dan selalu mendengarkan keluh kesahku.”


“Kenapa aku merasa bahagia tapi juga sedih ya.” Kata Gita mengambil foto keluarga.


Pernikahan adalah hal besar, dimana itu melepas dan mendapatkan. Melepaskan semua hal yang dilakukan dari kita kecil. Dan menerima hal baru yang di bawa oleh calon suami. Selain itu, kita harus bisa mulai membiasakan diri dengan aturan dan kebiasaan baru. Tidak bisa seenaknya seperti waktu di rumah.

__ADS_1


Proses pendewasaa diri tanpa campur tangan orang tua lagi. Dan proses dimana akan menjadi orang tua.


__ADS_2