Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
makan malam


__ADS_3

“Bik bilang sama Kak Qila sama Kak Genta nggak usah nunggin Gita makannnya Gita mau keluar.” Gita membawa sup jamur masakannya. Lebih tepatnya masakan Bik Nana dia hanya bantuin potong-potong sayurannya.


“Iya Mbak, semoga teman spesialnya cepat sembuh ya. Dan cepat jadi pacar” Kata Bik


Nana sambil senyum jahil.


“Udah jadi pacar ya, makasih ya sudah bantuin. Gita pergi dulu.”  Gita langsung kabur.


Gita pergi ke rumah Gilang dengan membawa sup masakannya, dia sangat semangat ke


rumah Gilang. Dia berusaha untuk memberikan perhatian kepada Gilang, dia ingin menjadi pacar yang bisa diandalkan.


“Pak bisakah menunggu?” tanya Gita kepada sopir taksi.


“Bisa.”


“Tapi lama Pak, gimana?” Sopir taksi terdiam sebentar, dia berpikir.


“Tenang Pak, saya akan bayar di saat bapak menunggu saya.” Kata Gita lagi yang membuat sopir taksi lega.


“Baik Mbak kalau gitu.”


“Ok.”


Gita menenteng supnya, bibirnya tersenyum lebar. Gita memencet bel, tak lama Bik Siti membukakan pintu.


“Mbak Gita, masuk Mbak.” Ajak Bik Siti.


“Iya Bik makasih. Kak Gilang sudah tidur?” tanya Gita sambil berjalan masuk.


“Belum, sedang ada temannya.”


“Kak Bayu?”


“Bukan, Mbak Monika. Mereka sedang makan malam sama Mbak Andini juga.” Jelas Bik Siti.


“Kak Monika.” Batin Gita.


“Ayo mbak langsung ke meja makan saja.” Kata Bik Siti.


“Tunggu Bik, tolong berikan sup ini saja sama Kak Gilang. Gita harus pulang soalnya di tungguin.” Gita memberikan rantang berisikan sup jamur buatanya. Dia kemudian


keluar sebelum Gilang tahu dia datang. Dia tidak mau menggangu makan malamGilang bersama Monika.


“Dasar Gita, lo kan pacarnya kenapa lo yang malah kabur sih.” Gerutunya namun tetap


meningalkan rumah Gilang.


Karena Bik Siti tidak kunjung masuk Gilang menjadi penasaran siapa orang yang datang


ke rumahnya. Baru saja mau berdiri Bik Siti sudah nongol.


“Mas, ada kiriman sup.” Bik Siti menaruh sup di meja dekat Gilang.


“Dari siapa Bik?” tanya Andini.


“Mbak Gita.”


“Wah..pasti enak nih.” Andini menbuka rantangnya.


“Gitanya mana Bik?” tanya Gilang sambil tengok kanan kiri.


“Langsung pulang katanya buru-buru.” Bik Siti menunjuk jalan keluar rumah.Gilang langsung lari dengan cepat.

__ADS_1


“Gilang, hati-hati lo masih sakit.” Seru Andini.


“Gita lagi..Gita lagi. Lo benar-benar merusak kebahagiaan gue.” Batin Monika sambil meremas roknya. Monika beranjak untuk melihat Gita.


“Mau kemana Monika?” tanya Andini.


“Mau lihat Gilang, kak.”


“Sudah duduk saja, teruskan makannya.” Andini menahan Monika agar tidak keluar."


Iya Kak.” Monika duduk kembali.


“Gita tunggu!” teriak Gilang saat Gita hendak naik taksi.


“Kak Gilang kenapa keluar?” Gita menutup pintu taksinya lagi.


“Lo kenapa langsung pulang, nggak mau ketemu gue?” Tanya Gilang.


“Bukan begitu, gue di tunggu sama Kak Qila sama Kak Genta untuk makan malam. Lagian


sudah ada Kak Monika kan di dalam.”Gita melihat rumah sebentar lalu memandang


Gilang lagi.


“Lo bukan di tungguin kakak-kakak lo tapi cemburu kan karena ada Monika di


dalam.” Kata Gilang sambil tersenyum dan mengacak acak rambut Gita.


“Tidak, kalau memang tidak buru-buru mana mungkin gue meminta taksi untuk menunggu.” Gita ngeles.


“Oiya.” Gilang berjalan menuju tempat duduk sopir taksi lalu mengetuk kacanya.


“Iya. Apa kita akan pergi sekarang? Tadi bilangnya satu atau dua jam?” tanya sopir


“Bapak bisa pergi cari penumpang lagi. Berapa bayarnya?” tanya Gilang sambil membuka dompet.


“Dua ratus ribu saja mas.”


“Ok, ini Pak makasih. Maaf lama menuggu.” Kata Gilang.


“Tidak apa-apa Mas, saya pergi dulu.”


‘Loh.. kok taksinya jalan. Kan gue belum naik.” Kata Gita.


“Biarin saja dia cari nafkah, ayo masuk ikut makan malam.” Gilang menarik Gita masuk ke dalam rumah.


“Gimana nanti gue pulangnya.”  Gita masih menoleh ke arah taksi yang berjalan meninggalkan rumah Gilang.


“Kan ada gue, lo nggak usah takut. Soal Kakak lo biar nanti gue yang ngomong.” Kata Gilang, dia tidak mau Gita beralasan lagi.


“Nanti Gue mengganggu makan malam kalian.” Gita masih berusaha untuk tidak sampai kemeja makan dan melihat Monika.


“Tidak ada yang merasa terganggu.” Gilang akhirnya merangkul Gita agar tidak kabur.


“Kak, calon adik ipar lo mau kabur nih.” Kata Gilang sambil membawa Gita ke ruang


makan.


“Ya ampun Gita, lo nggak kangen apa sama gue main kabur-kabur saja.” Andini berdiri


lalu memeluk Gita.


“Adik ipar, jadi Kak Andini sudah tahu dengan Gita.” Monika  menatap iri melihat Andini juga begitu akrab dengan Gita.

__ADS_1


“Duduk.” Gilang menarik kursi untuk Gita duduk.


“Makasih.”


Mereka berempat makan bersama, Gita tampak canggung dan nggak enak dengan Monika karena merasa mengganggu kebahagiaannya.


“Monika,tambah. Ini sop jamurnya enak loh.” Kata Andini.


“Iya Kak masakan Monika juga nggak kalah enak kan, Gita apa lo yang masak sendiri


atau beli?” tanya Monika.


“Bibik gue yang masak, Gita tidak bisa masak.”


“Wah..sangat sulit ya jadi lo. Masak nggak bisa belajar pun juga susah. Bagaimana


kalau lo punya anak nanti pasti sangat menyulitkan buat suami lo nanti.” Monika


mulai merendahkan Gita di depan Gilang dan Andini. Gita menunduk, yang dikatakan Monika memang benar dia payah dengan belajar, masak dan beberapa hal


lainya.


“Memangnya hidup hanya untuk memasak dan belajar. Sebenarnya yang lebih menyulitkan itu lo, pasti suami lo akan kesulitan memiliki istri yang terlalu cerdas.” Gilang menyindir Monika. Monika kesal melihat Gilang yang terus membela Gita.


“Sudah..sudah, kalian kenapa berdebat sih saat makan.” Andini melerai mereka.


Monika menarik Gita keluar saat Gilang dan Adini tidak bersama mereka.


“Lo sengaja ya?” Monika mendorong Gita agak kasar.


“Sengaja apa Kak?” Gita bingung nggak tahu apa-apa.


“ Nggak usah sok polos, lo sengaja mau menghancurkan acar gue sama Gilang kan. Dasar cewek nggak tahu diri.” Monika mendorong Gita lagi.


“Kan gue pacarnya, kenapa lo yang marah. Harusnya kan gue yang marah sama lo kak.


Jelas-jelas dia pacar gue tapi lo  masih


saja mendekati dia. Siapa yang nggak tahu diri disini.” Gita melipat kedua tangannya dia dada. Rasa sabarnya mulai hilang, dia tidak mau ribut tapi Monika terus memancingnya.


“Lo yang merebut dia dari gue. Gue sudah kenal lebih dulu sama Gilang, bahkan gue


juga lebih tahu tentang Gilang. Lo baru saja dekat sudah membuat dia jatuh sakit. Lo pacar macam apa?”


“Perasaan itu bukan siapa yang lebih dulu kenal dan siapa yang tahu tentang dia. Tapi


siapa yang bisa membuat nyaman dan saling mengerti.” Jawab Gita dengan percaya


diri.


“Lo ngeselin sih lama-lama.” Monika ingin sekali menjambak rambut Gita. Hanya saja


dia harus menahan diri takut Andini tahu dan dia akan di disqualifikasi jadi


calon adik iparnya.


“Monika, Gita  kalian kenapa disitu, kemari.”


Panggil Andini.


“Iya Kak.” Monika berjalan duluan sambil menabrak Gita. Gita menghela napas panjang lalu mengikuti Monika.


"Sabar Gita, jangan emosi." Gita mengelus dadanya.

__ADS_1


__ADS_2