
Acara promnight sudah separuh jalan, Gita berdiri di belakang kerumunan sambil
mencari keberadaan Gilang. Dia memutuskan untuk datang setelah melihat panggilan telpon dari Gilang dan sahabat-sahabatnya.
“Kak Gilang dimana ya?” Katanya sambil celingukan sambil melepas tudung hoodie di
kepalanya. Gita datang ke promnight hanya memakai hoodie warna hitam di padu
dengan celana jeans dan sepatu cats seperti biasanya saat dia pergi main. Dia
tidak datang seperti yang lainnya yang menggunakan gaun dan high heels.
“Di dekat panggung mungkin, dia kan panitia.” Kata Raka.
“Em.” Gita bergumam.
“Gue mau cari yang lain dulu, lo coba samperin Gilang ke sana.” Kata Raka.
“Nggak deh gue disini saja.” Gita geleng kepala mendadak minder nggak mau ketemu
Gilang setelah melihat beberapa cewek yang lewat di depannya berdandan sangat cantik.
“Ya udah, gue cari yang lain dulu nanti gue kesini lagi.” Kata Raka.
“Ok.”
Gita membuka permen yang ada di kantongnya, lalu menyimpan sampahnya di kantongnya. Dia menikmati lagu yang sedang di mainkan oleh band sekolahnya.
“Jadi seperti ini rasanya.” Katany sambil memejamkan matanya. Dia merasakan euforia siswa yang ikut bernyanyi. Mereka sangat gembira dan bersemangat, dia ingin
sekali berada di situ tapi dia tidak bisa berada di kerumunan orang banyak.
Meskipun cuek dan bar-bar namun dia lebih suka menyendiri. Telinganya sudah
tidak ingin mendengar hinaan tentang fisiknya meskipun dia sudah berubah
menjadi lumayan langsing dan cantik.
“Eh...” seru Gita saat ada yang menarik tudung hoodienya. Dia terus berjalan mudur
karena orang itu terus menariknya.
“Lepasin gue, siapa sih lo. Jangan macam-macam ya!” Teriak Gita namun di abaikan sama orang yang terus menyeretnya.
“Lepas ya, atau gue teriak Kak Gil...” Gita teriak namun orang itu memutar tubuh Gita
lalu menutup mulutnya.
“Nggak perlu teriak gue sudah di depan lo.” Kata Gilang sambil melipat kedua tangannya
di dada. Gilang membawa Gita ke taman sekolah.
“Ah..Kak Gilang, gue kira siapa. Kenapa tarik gue kesini kan bisa bilang dan kota
jalan bareng.” Cerocos Gita. Gilang tidak merespon ocehan Gita dia justru melihat Gita dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Kenapa ngelihatin Gita seperti itu.” Gita menatap Gilang dengan rasa kesal. “Iya, gue tahu. Gue nggak dandan seperti cewek-cewek yang lain. Mana bisa gue dandan kayak gitu.” Katanya semakin kesal.
Gilang menarik tangan Gita lalu mendekapnya di dalam pelukan, Gita bingung namun jantungnya berdetak keras.
“Lo kenapa baru datang dan tidak mengangkat telpon ataupun membalas pesan gue. Gue
__ADS_1
tuh cemas sejak tadi mikirin lo takut kenapa-kenapa di jalan.” Gilang mengelus
rambut Gita lembut.
“Ah..”
“Dan lo juga nggak mencari gue setelah sampai, kalau aja Raka nggak telpon gue gue nggak akan tahu kalau lo sudah sampai.” Omel Gilang.
“Ya kan gue takut nanti lo malu kalau semua orang tahu gue dandan seperti ini, lo
ganteng sedangkan gue..” Gita menghentikan bicaranya.
“Selalu saja seperti itu, gue mau lo menjadi Gita yang dulu. Yang cuek apa kata orang.”
Gilang melepaskan pelukannya dan menyuruh Gita duduk.
“Gue pede karena gue seorang diri, sekarang gue harus memikirkan lo juga.” Gita menunduk.
“Lo terlalu merendah diri, tetap menatap ke depan jangan hiraukan mereka. Cinta gue
itu tidak akan terpengaruhi oleh omongan mereka.” Gilang mengangkat dagu Gita.
Gita tersenyum, dia merasa sangat beruntuk memiliki Gilang.
“Kak, bukanya kakak sedang bertugas mengontrol semuanya kenapa malah ajak gue kesini?” tanya Gita.
“Gue udah serahin semuanya sama bayu, gue mau pacaran dulu sama lo.” Kata Gilang
sambil tersenyum jail.
“Dasar.” Gita menepuk lengan Gilang.
“Boleh, tenggorokan gue lumayan kering karena permen gue jatuh tadi waktu lo tarik gue.” Jelas Gita.
“Ok tunggu sebentar.” Gilang beranjak dari kursi.
“Eh.. mau kemana?”
“Ambil minum.”
“Dimana?”Gita memegang erat hem Gilang.
“Ya di bagian komsumsi dekat panggung. Kenapa sih?”
“Gue takut sendiri.” Gita semakin erat memegang Gilang. Sambil melihat sekeliling
yang remang-remang.
“Memangnya takut apa, lihat itu tempatnya kelihatan dari sini. Kalau ada orang yang mau jahat lo tinggal teriak.” Gilang melepaskan tangan Gita.
“Gimana kalau itu hantu, gue mana bisa teriak.” Kata Gita.
“Lihat ke atas.” Gilang menunjuk langit dan Gita pun mengikuti telunjuk Gilang.
“Apa?”
“Lo itu nggak sendirian, bintang sama bulan yang menemani lo.”
Saat Gita terpesona dengan keindahan langit malam itu yang begitu cerah dan indah Gilang langsung berjalan cepat mengambil minum dan beberapa makanan jika Gita mau makan.
“Indah bukan.” Kata Gilang sambil berjalan menuju Gita sambil membawa minum dan
__ADS_1
cemilan. Dia duduk di samping Gita kembali.
“Sangat indah.” Gita mengambil air mineral dari tangan Gilang lalu mencoba membukannya. Tutup botol terlalu rapat sampai Gita tidak bisa membukannya.
“Sini.” Gilang meminta botol air mineral lalu membuka untuk Gita.
“Terima kasih.” Kata Gita lalu meneguknya.
“Darimana saja kenapa baru datang?” tanya Gilang.
“Em.. main game.” Gita nyengir, Gilang melirik tajam lalu mendengus.
“Maaf, gue tuh cari baju nggak ketemu. Dan lo tahu kan kalau gue nggak suka datang di
acara seperti ini.” Gita memegang kedua tangan Gilang.
“Lo bisa kan whatsapp gue atau telpon. Gue tuh cemas mikirin lo. Selalu saja lo nggak
menganggap gue, apa susahnya sih memberi kabar.” Gilang kembali ngambek.
“Bukan begitu.. maaf deh gue salah.” Gita meminta ampun. “Gue janji nggak bakal
ngulangin lagi.” Gita kemudian mengangkat dua jari. Gilang masih ngambek.
“Eh..itu apa?” Tunjuk Gita di belakang Gilang. Gilang lalu menoleh ke belakangnya.
“Nggak ada apa-apa. Nggak usah ngajak bercanda, gue lagi kesal.” Kata Gilang sambil
membalikan tubuhnya lagi. Gilang tersenyum melihat Gita yang tersenyum manis sambil mengangkat kedua tangan melambangkan hati.
“I love you.” Kata Gita.
Gilang tertawa kecil, dia menarik Gita dalam pelukannya lagi, “Sudah bisa gombalin gue
ya sekarang. Siapa yang ngajarin ha?” Gilang mencolek hidung Gita.
“Lo, siapa lagi.” Kata Gita sambil terkekeh. Gita menyenderkan kepalanya ke bahu
Gilang yang bidang. Gilang mengelus kepala Gita, dia sedang terheran dengan
dirinya sendiri karena tidak bisa marah sama Gita meskipun dia sangat kesal,
dan setiap hari cintanya semakin bertambah untuk Gita.
“Apa tidak apa-apa kita disini?” tanya Gita.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau guru tahu kita berduaan disini apa tidak masalah?”
“Memangnya apa yang akan jadi masalah, kita tidak melakukan apa-apa. Tapi kalau mereka mempermasalahkannya dan meminta gue menikahi lo pasti akan segera gue lakukan. Itu keberuntungan buat gue bisa memiliki lo selamanya dengan secepatnya.” Canda Gilang.
“Ngaco deh kalau ngomong.”
“Memangnya lo nggak mau apa nikah sama gue?”
“Nggak.” Gita mengangkat kepalanya dari pudak Gilang lalu beranjak berdiri. Giliran Gita yang menggoda Gilang.
“Ah.. berani ya.” Gita beranjak juga lalu mengejar Gita. Mereka berdua asik di taman
sekolah, dan tak menghiraukan acara yang sedang berjalan.
__ADS_1