
Gilang menghirup udara saat sampai di
bandara, lalu menghembuskan napas panjang. Dia melepas kaca mata hitamnya. Bibirnya tersenyum lebar, akhirnya
setelah hampir tiga tahun dia menginjakkan kakinnya lagi di tanah kelahirannya.
Gilang menarik kopernya, dia mencari
Mama dan juga kakaknya yang akan menjemputnya.
“Gilang.” Panggil Andini sambil
melambaikan tangannya. Gilang tersenyum lebar lalu berlari menuju kakak dan
mamanya.
Gilang memeluk erat mamanya, “Mama
kangen banget sama kamu Gilang.” Mamanya mencium kening Gilang lalu kembali
memeluknya.
“Mama gantian, Andini juga kangen sama
adik kesayangan.” Andini memeluk Gilang setelah mamanya melepaskan pelukannya. Meskipun Gilang sepalu ngeselin tapi sepeninggalan Gilang Andini sangat kesepian.
“Gilang juga kangen sama Mama dan juga
Kak Andini. Papa?” tanya Gilang.
“Papa masih di luar kota.” Jawab Andini.
“Papa memang selalu sibuk.” Kata Gilang,
dari dulu memang papanya jarang dirumah. Dia tak kaget kalau dia pulang pun
tidak ikut menjeputnya meskipun sudah berberapa tahun tidak bertemu.
“Nggak usah di pikirkan, sekarang kita
pulang mama sudah memasakan makanan kesukaa kamu.” Mamanya mengganden Gilang.
Sesampai di rumah Gilang langsung
masuk ke kamar kesayangannya yang sudah lama dia tinggalkan. Dia melihat setiap sudut kamarnya, yang masih sama. Gilang duduk di meja belajar, dan menarik laci dia mengambil foto dia dan Gita yang dulu sempat ingin dia buang.
“Gue sudah pulang sayang, kita akan
segera ketemu.” Katanya sambil tersenyum lebar. Dia menatap gelang pemberian Gita lalu menciumnya.
Gilang tidak langsung pergi mengunjungi
Gita karena hari sudah malam, dia tidak mau mengganggu istirahat Gita. Dia ingin memberika surprise kepada Gita dan juga yang lain besok pagi.
“Sayang, ayo maka dulu.” Panggil Rima.
“Iya Ma.” Gita bangkit dari kursinya.
Gilang duduk langsung mengambil piring,
dia kangen banget masakan rumahan begini. Dia biasanya hanya makan makanan cepat
saji, atau mie instan untuk mengobati
kangennya.
“Kamu mau pakai ayam atau telur?” tanya
Rima.
“Ayam saja Ma, sama sayurnya juga.” Tunjuk Gilang.
“Baiklah.” Mamanya mengambilkan semua lauk yang mau di makan Gilang ke piring.
“Giliran Gilang pulang, aku di lupakan.”
Kata Andini manyun sambil menarik kursi lalu duduk.
__ADS_1
“Siapa yang melupakan, kamu di panggil-panggil nggak keluar-keluar.” Kata Rima.
“Hhhmm... masakan Bik Siti memang nggak
ada tandingan. The best.” Gilang
mengacungkan dua jempol untuk masakan pembantunya itu.
"Ya, belum ada yang mengalahkan masakan Bik Siti."Tambah Andini.
Meja makan yang tiga tahun lalu terasa sepi dan jarang di gunankan sekarang kembali rame lagi. Suasana rumah yang sunyi karena Rima dan Andini selaku sibuk dengan kerjaan mereka kini berubah lebih rame dengan kembalinya Gilang.
...♤♡♡♡♤...
Selesai makan mamamnya mengajak Gilang ngobrol sebentar sebelum dia beristirahat.
“Gilang kamu masih capek atau nggak?”
Tanya Rima.
“Ada apa Ma?”
“Mama mau ngomong sama kamu sebentar.
Tapi kalau capek kita bisa ngobrol besok kok.” Rima mengurungkan niatnya
melihat wajah Gilang yang sudah capek.
“Nggak Ma, kita ngobrol dulu saja.” Gilang
mengajak mamanya ke sofa. “Mama mau ngomong apa?” tanya Gilang setelah mereka
berdua duduk.
“Gilang, kamu boleh marah sama mama atau
pun benci sama mama.” Rima sedikit ragu mengatakan hal yang sebenarnya dia
lakukan sama Gita. Dia tahu kalau putranya itu pasti akan marah besar kepadanya.
“Ada apa Ma, katakan saja. Memangnya
“Sebenarnya dulu mama yang meminta Gita
untuk membujuk kamu pergi ke Autralia. Mama meminta Gita memikirkan caranya,
dan itu harus berhasil karena mama ingin melihat kamu menggapai mimpi yang
sudah lama kamu inginkan. Tapi mama tidak pernah tahu kalau rencana Gita itu
putus sama kamu.” Rima mengakuinya, selain dia merasa bersalah dia juga harus
memberitahu Gilang kalau semua itu bukan kesalaan Gita. Selain itu pengakuanya terhadap Gilang adalah cara Rima menepati janjinya kepada Gita untuk menjadikan Gita menantunya.
Gilang menghela napas panjang, sedikit
kecewa ternyata di balik keputusan Gita itu karena desakan mamanya juga. Bukan
benar-benar keinginannya.
“Ma, kenapa mama ngelakuin ini sama
Gilang dan Gita. Mama tahu bagaimana menderitanya Gilang sama Gita selama ini. Harusnya mama tahu, setelah Gilang betemu Gita impian Gilang sudah berubah. Gilang hanya selalu ingin menbahagiakan Gita dan pastinya keluarga.” Kata Gilang.
“Mama memang salah Gilang, mama terlalu
terobsesi dengan kamu kuliah di luar negeri. Selama kamu di luar negeri tanpa
sepengetahuan Gita selalu melihatnya, dan tidak membiarkan dia bersama orang
lain karena mama mau dia menjadi menantu mama.” Kata Rima. Dia mengutus
seseorang untuk memata-matai dia. Sebagai tanggung jawabnya karena telah memisahkan Gilang dengan Gita.
“Mama minta maaf.” Kata Rima lagi, sedih melihat kekecewaan Gilang terhadapnya. Dan hanya diam saja mensengar penjelasannya.
Gilang mengangguk lalu memeluk Rima
__ADS_1
erat, “Mama tidak perlu minta maaf lagi sama Gilang. Mama tenang saja
sebentar lagi Gilang akan membawa calon mantu mama ke rumah ini. Jadi jangan terus menyalahkan diri mama sendiri. Lupakan masalah yang lalu.” Kata Gilang.
“Benarkah?” Mata Rima berbinar, dia akan
merasa lega jika Gilang dan Gita sudah resmi kembali bersama.
“Iya, mama tenang saja Gita akan selalu menjadi menantu mama. Ma, Gilang mau berterima kasih sama mama. Dengan Gilang pergi jauh, Gilang semakin memahami dan menghargai sebuah hubungan, yang pasti Gilang belajar artinya kesetiaan."
Rima tersenyum, dia mencium kening
Gilang. Putra memang sangat baik. Meskipun dia kecewa terhadapnya namun Gilang tak pernah marah ataupun membentaknya.
“Gilang, kamu harus bawa pulang mantu
mama ya. Dia sudah terlalu lama menjauh dari keluarga kita."
“Siap, Gilang janji akan segera meembawanya kesini Ma.” Gilang masuk di pelukan mamanya lagi.
“Oiya, selain itu besok pagi kamu harus
datang dulu ke kantor mama. Mama kan mengenalkan ke semua staf mama kalau kamu akan menggantikan mama nanti.” Kata Rima lagi.
“Baik Ma. Sekarang mama tidur sudah
malam.”
“Iya, kamu juga jangan tidur
larut-larut. Badan kamu pasti sangat lelah kan.” Rima mengusap rambut Gilang
lalu beranjak ke kamarnya.
“Gita memang mudah sekali terpengaruh
dan tertidas untuk orang yang dia sayang.” Katanya sambil kembali ke kamarnya. Kadang dia merasa kesal dengan kebaikan Gita, dia sering sekali membiarkan dirinya tersakiti hanya demi orang lain.
Gilang membuka jendela kamarnya
lebar-lebar, dia melihat ke langit luas. Begitu banyak bintang malam ini.
“Semuanya pasti akan kembali seperti
awal, cinta kita kan kembali seperti dulu lagi. Gita Gilang tidak akan pernah
terpisah lagi.” Gilang mencium gelangnya lagi.
Sebelum menuju kampus dimana Gita
kuliah, Gilang memenuhi ajakan mamanya ke kantor miliknya. Dia juga sudah di
perkenalkan sebagai wakil dari mamanya. Dan besok dia akan mulai memimpin
perusahaannya itu.
“Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama
saya Gilang Ardhana Mohon kerja samanya.”
Kata Gilang sambil menganggukan kepalanya.
Semua sttaf sangat senang, mempunyai bos
yang masih muda dan tampan, selain itu Gilang juga sudah terkenal cerdas di
kantornya. Padahal dia baru saja masuk, popularitasnya sudah tinggi saja.
“Ma, Gilang mau cari menantu mama dulu.”
Kata Gilang setelah selesai perkenalan dengan staf kantor milik mamanya.
“Pergilah.” Kata Rima.
Gilang mencium tangan mamanya, "Doakan Gilang ya Ma." katanya sembari berlari keluar, dia sudah tidak sabar ketemu Gita.
Gilang mengemudi dengan kecepatan sedang, dia memikmati jalanan kota yang sudah banyak berubah sepeninggalannya.
__ADS_1
Tak lupa dia membawakan buket bunga yang sangat besar untuk Gita.