Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Makan Siang III


__ADS_3

Gita keluar dari kolong


meja langsung menepuk bahu Gilang, “kamu ya, pacar sendiri di katain kucing.”


Gita manyun.


“Memang kamu kayak


kucing kan, udah nakal, nggak bisa di bilangin sukanya lari sana-sini. Tapi


sangat imut dan manis bikin gemes.” Gilang mencubit kedua pipi Gita.


“Ahh... sakit. Nanti


pipi Gita jadi lebar tambah tembem kayak bapau gimana?” Gita melepaskan tangan


Gilang lalu mengusap kedua pipinya.


“Biarin saja, kan enak


kalau di gigit.” Kata Gilang sambil terkekeh.


 “Dasar, pysco.” Gita menggelengkan kepala


sambil berjalan meninggalkan Gilang, dia mau kembali ke ruangannya. Gilang


kembali menahan tangan Gita.


Gilang berdiri lalu


memeluk Gita dari belakang.


“Mau kemana?” tanya


Gilang.


“Mau kerja sayang, kan


ini masih jam kerja.” Kata Gilang.


“Disini saja, nggak


usah kemana-mana. Temani aku menyelesaikan pekerjaan aku.” Gilang tidak mau


melepaskan Gita. Dia lagi mode manja maunya di temani Gita terus.


“Terus kerjaan Gita


gimana?”


“Tuh ada laptop kamu


bisa kerjakan dulu disini. “


“Ok, tapi Gita minta di


gofoodin.” Gita mau di situ asal di belikan makanan.


“Apasih yang nggak buat


kamu.” Gilang mengecup kening Gita lalu memberikan ponselnya biar dia memilih


makanan apa yang akan di pesannya.


Gita duduk di sofa,dia


memilih banyak makanan tak lupa dia memesankan makanan untuk Gilang supaya


makan bareng.


Makanan sudah datang,


Gita awalnya makan sendiri karena Gilang di panggil-panggil tidak segera datang


karena masih sibuk. Gita bangun dan inisiatif untuk menyuapi Gilang.


“Aaaa.” Gita menyuapi


Gilang.


“Kamu makan saja.”


Gilang menolak di suapi Gita.


“Ihh makan.” Gita


mencoba menyuapi Gilang lagi.


“Gita, aku bilang kamu


saja. Jangan gangguin aku kerja.” Kata Gilang dengan serius, perlahan Gita


menurunkan tanganya. Dia kembali ke sofa, mood makannya berubah menjadi malas.


“Tadi minta di temani


sekarang di katain gangguin.” Gita ngedumel, dia hanya mengaduk-aduk makannaya.


Samar-samar Gilang


mendengar omelan Gita, dia langsung menatap Gita yang wajahnya sudah di


tekut-tekuk.  Gilang langsung menyudahi


pekerjaannya, kemudian dia nyamperin Gita.

__ADS_1


Gilang duduk di depan


Gita, “Maaf ya, aku nggak bermaksud mengusir kamu.” Gilang mengusap rambut


Gita.  Gita mengangguk namun wajahnya


masih terlihat badmood.


“Ini pasti buat aku


kan?” tanya Gilang sambil menunjuk makanan kesukaannya. Dan lagi Gita hanya


menjawab dengan anggukan tanpa senyuman di wajahnya.


“Masih marah ya?”


Gilang  memegang dagu Gita.


“Menurut kamu?” jawab


Gita.


“Maaf deh, ya..


maaf  ya..”


Ponsel Gita berdering,


dia langsung mengangkatnya melihat nama Win di layar ponselnya.


“Halo, Mas Win ada apa?”


tanya Gita.


“Lo dimana sekarang?”


“Di...” Gita menggigit


bibir bawahnya bingung mau jawab apa.


“Di rumah?”


“Aahh iya. Ada ya?”


“Gue kesana ya, lo


pulang nggak bilang-bilang mana tas lo masih di kantor. Kasih alamat lo ya gue


segera meluncur ke rumah lo.” Kata Win.


“Biarin aja di kantor


Mas, Gita soalnya lagi nggak enak badan.” Gita memikirkan cara agar Win tidak


datang ke rumahnya.


dokter belum atau mau gue belikan obat di apotik?  Sekalian lo mau makan apa biar gue belikan.”


Kata Win yang membuat Gilang meradang ceweknya di perhatikan sama cowok lain.


“Nggak usah Mas, Gita


istirahat saja nanti membaik lagi.”


‘Lo nggak usah sung...”


Sambungan telponnya langsung terputus saat Gilang mengambil ponselnya lalu


menekan tombol merah. Ditambah lagi ponsel Gita di matikan total.


“Ih.. kamu kan


telponnya belum selesai.” Kata Gita.


“Ah.. senang ya kamu


banyak yang perhatian, tadi Radit sekarang Win besok siapa lagi.” Gilang


melipat kedua tangannya di dada.


“Sayang, mereka itu


semua teman bukan perhatian yang lebih.” Gita memberikan pengertian.


“Kita juga berawal dari


berteman, tapi kamu kayaknya suka banget ya banyak yang perhatiin cowok-cowok.”


Gilang manyun, dalam hatinya kesal banget.


“kamu ngomong apaan


sih, jangan cemburu gitu donk.”


“Siapa yang cemburu.”


Gilaang tidak mau ngaku kalau dia cemburu.


“Kalau nggak cemburu


kenapa ngambek gitu, mana telpon Gita di matiin.” Gita kesenengan melihat


Gilang cemburu.


“kamu keberatan aku

__ADS_1


matiin telponnya, ambil telpon lagi Win.” Gilang memberikan ponsel milik Gita.


Gilang langsung duduk membelakangi Gita.


Gita menggeser


tubuhnya, dan memeluk Gilang dari belakang.


“Kenapa jadi kamu yang


ngambek sih.” Rengek Gita.


“Siapa yang ngambek.”


Jawab Gilang dengan nada yang masih jengkel.


“Harusnya kan aku yang


ngambek, kenapa jadi Kak Gilang yang ngambek. Aku lagi yang harus membujuknya.”


Batin Gita.


Gita menarik-narik jas


Gilang, agar dia mau menatap dirinya. Gilang awalnya masih nggak mau, namun


tarikan Gita manik kencang jadi dia memutuskan membalikan tubuhnya.


“Apa?”Katanya sewot.


Gita diam sebentar,


kemudia memajukan tubuhnya dan memberikan ciuman pipi kiri Gilang. Gilang masih


saja manyun kemudian Gita memberikan ciuman di pipi kanannya.  Gita mengehela napas panjang, karena Gilang


masih saja ngambek.


Gita memajukan tubuhnya


kembali dan memberikan kecupan lembut di bibir Gilang.Gita menarik dirinya


setelah beberapa detik bibirnya menempel dengan bibir Gilang. Namun dengan


cepat Gilang menarik Gita kedalam pelukannya dan kembali memberikan kecupan


lembut di bibir Gita. Gita memejamkan matanya menikmati kecupan lembut yang di


berikaan oleh Gilang.


Kecupan yang tidak


pernah berubah, selalu saja manis, lembut terasa dingin namun membuat tubuhnya


meleleh. Gilang melepaskan ciuman di bibir Gita, kemudian mengecup kening Gita.


“Apa kamu sudah tidak


marah?” tanya Gita.


“Apa ini cara kamu


membujukku agar tidak marah?” Gilang menatap Gita dengan lekat. Gita meringis


sebenarnya dengan mencium Gilang adalah cara terakhir untuk meredakan amarah


Gilang kepadanya.


“Ah.. ternyata aku lemah


sekali ya di hadapan kamu.” Gilang menggerutu dirinya sendiri karena di bujuk


begitu saja sudah hilang marahnya.


“Kamu bukan lemah


sayang, hanya saja kamu sangat sayang sama aku. Mana bisa kamu marah sama aku.”


Gita masuk ke dalam pelukan Gita lagi.


“Mungkin juga, karena


kamu sudah menggodaku maka aku mau meminta lagi.” Gilang menarik dagu Gita dan


kembali mengecup lembut bibir Gita.


Gita dengan cepat


menarik diri, “Nggak boleh terus-terus, ini hanya untuk kamu saat marah saja.”


Goda Gita.


“Hah?  Konyol banget mana bisa kamu harus memberikan


ciuman ini kapan saja.” Gilang mendorong Gita hingga dia tertidur di sofa.


Gilang selalu saja


terpesona dengan wajah Gita, dia mengusap pipi Gita yang sangat bening dan juga


mulus. Tidak ada jerawat satu pun yang bertandan di wajahnya. Gilang mencium


kedua pipi lalu ke kening Gita. Setelah itu dia menarik diri duduk tegak


memandang lurus. Dia menahan diri agar tidak kebablasan untuk terus mencium

__ADS_1


Gita, karena bibir Gita sangat candu baginya.


__ADS_2