
Gita keluar dari kolong
meja langsung menepuk bahu Gilang, “kamu ya, pacar sendiri di katain kucing.”
Gita manyun.
“Memang kamu kayak
kucing kan, udah nakal, nggak bisa di bilangin sukanya lari sana-sini. Tapi
sangat imut dan manis bikin gemes.” Gilang mencubit kedua pipi Gita.
“Ahh... sakit. Nanti
pipi Gita jadi lebar tambah tembem kayak bapau gimana?” Gita melepaskan tangan
Gilang lalu mengusap kedua pipinya.
“Biarin saja, kan enak
kalau di gigit.” Kata Gilang sambil terkekeh.
“Dasar, pysco.” Gita menggelengkan kepala
sambil berjalan meninggalkan Gilang, dia mau kembali ke ruangannya. Gilang
kembali menahan tangan Gita.
Gilang berdiri lalu
memeluk Gita dari belakang.
“Mau kemana?” tanya
Gilang.
“Mau kerja sayang, kan
ini masih jam kerja.” Kata Gilang.
“Disini saja, nggak
usah kemana-mana. Temani aku menyelesaikan pekerjaan aku.” Gilang tidak mau
melepaskan Gita. Dia lagi mode manja maunya di temani Gita terus.
“Terus kerjaan Gita
gimana?”
“Tuh ada laptop kamu
bisa kerjakan dulu disini. “
“Ok, tapi Gita minta di
gofoodin.” Gita mau di situ asal di belikan makanan.
“Apasih yang nggak buat
kamu.” Gilang mengecup kening Gita lalu memberikan ponselnya biar dia memilih
makanan apa yang akan di pesannya.
Gita duduk di sofa,dia
memilih banyak makanan tak lupa dia memesankan makanan untuk Gilang supaya
makan bareng.
Makanan sudah datang,
Gita awalnya makan sendiri karena Gilang di panggil-panggil tidak segera datang
karena masih sibuk. Gita bangun dan inisiatif untuk menyuapi Gilang.
“Aaaa.” Gita menyuapi
Gilang.
“Kamu makan saja.”
Gilang menolak di suapi Gita.
“Ihh makan.” Gita
mencoba menyuapi Gilang lagi.
“Gita, aku bilang kamu
saja. Jangan gangguin aku kerja.” Kata Gilang dengan serius, perlahan Gita
menurunkan tanganya. Dia kembali ke sofa, mood makannya berubah menjadi malas.
“Tadi minta di temani
sekarang di katain gangguin.” Gita ngedumel, dia hanya mengaduk-aduk makannaya.
Samar-samar Gilang
mendengar omelan Gita, dia langsung menatap Gita yang wajahnya sudah di
tekut-tekuk. Gilang langsung menyudahi
pekerjaannya, kemudian dia nyamperin Gita.
__ADS_1
Gilang duduk di depan
Gita, “Maaf ya, aku nggak bermaksud mengusir kamu.” Gilang mengusap rambut
Gita. Gita mengangguk namun wajahnya
masih terlihat badmood.
“Ini pasti buat aku
kan?” tanya Gilang sambil menunjuk makanan kesukaannya. Dan lagi Gita hanya
menjawab dengan anggukan tanpa senyuman di wajahnya.
“Masih marah ya?”
Gilang memegang dagu Gita.
“Menurut kamu?” jawab
Gita.
“Maaf deh, ya..
maaf ya..”
Ponsel Gita berdering,
dia langsung mengangkatnya melihat nama Win di layar ponselnya.
“Halo, Mas Win ada apa?”
tanya Gita.
“Lo dimana sekarang?”
“Di...” Gita menggigit
bibir bawahnya bingung mau jawab apa.
“Di rumah?”
“Aahh iya. Ada ya?”
“Gue kesana ya, lo
pulang nggak bilang-bilang mana tas lo masih di kantor. Kasih alamat lo ya gue
segera meluncur ke rumah lo.” Kata Win.
“Biarin aja di kantor
Mas, Gita soalnya lagi nggak enak badan.” Gita memikirkan cara agar Win tidak
datang ke rumahnya.
dokter belum atau mau gue belikan obat di apotik? Sekalian lo mau makan apa biar gue belikan.”
Kata Win yang membuat Gilang meradang ceweknya di perhatikan sama cowok lain.
“Nggak usah Mas, Gita
istirahat saja nanti membaik lagi.”
‘Lo nggak usah sung...”
Sambungan telponnya langsung terputus saat Gilang mengambil ponselnya lalu
menekan tombol merah. Ditambah lagi ponsel Gita di matikan total.
“Ih.. kamu kan
telponnya belum selesai.” Kata Gita.
“Ah.. senang ya kamu
banyak yang perhatian, tadi Radit sekarang Win besok siapa lagi.” Gilang
melipat kedua tangannya di dada.
“Sayang, mereka itu
semua teman bukan perhatian yang lebih.” Gita memberikan pengertian.
“Kita juga berawal dari
berteman, tapi kamu kayaknya suka banget ya banyak yang perhatiin cowok-cowok.”
Gilang manyun, dalam hatinya kesal banget.
“kamu ngomong apaan
sih, jangan cemburu gitu donk.”
“Siapa yang cemburu.”
Gilaang tidak mau ngaku kalau dia cemburu.
“Kalau nggak cemburu
kenapa ngambek gitu, mana telpon Gita di matiin.” Gita kesenengan melihat
Gilang cemburu.
“kamu keberatan aku
__ADS_1
matiin telponnya, ambil telpon lagi Win.” Gilang memberikan ponsel milik Gita.
Gilang langsung duduk membelakangi Gita.
Gita menggeser
tubuhnya, dan memeluk Gilang dari belakang.
“Kenapa jadi kamu yang
ngambek sih.” Rengek Gita.
“Siapa yang ngambek.”
Jawab Gilang dengan nada yang masih jengkel.
“Harusnya kan aku yang
ngambek, kenapa jadi Kak Gilang yang ngambek. Aku lagi yang harus membujuknya.”
Batin Gita.
Gita menarik-narik jas
Gilang, agar dia mau menatap dirinya. Gilang awalnya masih nggak mau, namun
tarikan Gita manik kencang jadi dia memutuskan membalikan tubuhnya.
“Apa?”Katanya sewot.
Gita diam sebentar,
kemudia memajukan tubuhnya dan memberikan ciuman pipi kiri Gilang. Gilang masih
saja manyun kemudian Gita memberikan ciuman di pipi kanannya. Gita mengehela napas panjang, karena Gilang
masih saja ngambek.
Gita memajukan tubuhnya
kembali dan memberikan kecupan lembut di bibir Gilang.Gita menarik dirinya
setelah beberapa detik bibirnya menempel dengan bibir Gilang. Namun dengan
cepat Gilang menarik Gita kedalam pelukannya dan kembali memberikan kecupan
lembut di bibir Gita. Gita memejamkan matanya menikmati kecupan lembut yang di
berikaan oleh Gilang.
Kecupan yang tidak
pernah berubah, selalu saja manis, lembut terasa dingin namun membuat tubuhnya
meleleh. Gilang melepaskan ciuman di bibir Gita, kemudian mengecup kening Gita.
“Apa kamu sudah tidak
marah?” tanya Gita.
“Apa ini cara kamu
membujukku agar tidak marah?” Gilang menatap Gita dengan lekat. Gita meringis
sebenarnya dengan mencium Gilang adalah cara terakhir untuk meredakan amarah
Gilang kepadanya.
“Ah.. ternyata aku lemah
sekali ya di hadapan kamu.” Gilang menggerutu dirinya sendiri karena di bujuk
begitu saja sudah hilang marahnya.
“Kamu bukan lemah
sayang, hanya saja kamu sangat sayang sama aku. Mana bisa kamu marah sama aku.”
Gita masuk ke dalam pelukan Gita lagi.
“Mungkin juga, karena
kamu sudah menggodaku maka aku mau meminta lagi.” Gilang menarik dagu Gita dan
kembali mengecup lembut bibir Gita.
Gita dengan cepat
menarik diri, “Nggak boleh terus-terus, ini hanya untuk kamu saat marah saja.”
Goda Gita.
“Hah? Konyol banget mana bisa kamu harus memberikan
ciuman ini kapan saja.” Gilang mendorong Gita hingga dia tertidur di sofa.
Gilang selalu saja
terpesona dengan wajah Gita, dia mengusap pipi Gita yang sangat bening dan juga
mulus. Tidak ada jerawat satu pun yang bertandan di wajahnya. Gilang mencium
kedua pipi lalu ke kening Gita. Setelah itu dia menarik diri duduk tegak
memandang lurus. Dia menahan diri agar tidak kebablasan untuk terus mencium
__ADS_1
Gita, karena bibir Gita sangat candu baginya.