Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kesibukan II


__ADS_3

Gita belum menemukan hal mencurigakan di kantornya, semua berjalan seperti biasa dan tidak ada wajah-wajah mencurigakan di kantornya.


Dan Gilang pun masih sibuk ngurusin masalah itu sampai tidak ada waktu buat dirinya.


"Kenapa menjadi seperti ini, padahal pernikahan sebentar lagi. Undangan belum kelar, fitting baju juga belum" omel Gita. Dia dibuat pusing bertubi-tubi, urusan pernikahan, urusan kantor dan tentunya karena Gilang yang tak kunjung menemuinya.


Untuk mengusir suntuk Gita mulai scroll tik-tok, karena nonton drakor pun dia tidak tenang.


"Sesibuk apapun seseorang kalau kamu prioritasnya pasti akan di kabari, jika tidak mungkin kamu bukan prioritasnya." Gita membaca video yang lewat berandanya.


"Benarkah, apa seperti itu. Dulu kak Gilang selalu ada kabar meskipun sibuk. Apa sekarang aku benar-benar bukan prioritasnya." Setelah membaca kata-kata di tik tok Gita jadi overtingking sendiri. Hal-hal buruk pun terbayang dalam benaknya.


Gita mengambil ponselnya, dia ingin menelpon Gilang. Kalau memang masih tidak di angkat mungkin yang di katakan di video itu benar. Dia bukan prioritasnya lagi.


"Halo sayang.." sapa Gilang.


"Halo sayang.." Gita tersenyum lebar saat Gilang mengangkat telponnya. Berarti dia masih menjadi prioritasnya Gilang. Sedikit berkurang lah kecemasan dalam dirinya.


"Sayang, aku baru saja sampai rumah. Aku mandi dulu ya. Oiya sepertinya aku akan langsung tidur karena capek banget." kata Gilang.


"Oh..ya. I love you." katanya dengan nada kekecewaan. Bahkan dia belum mengatakan apa-apa Gilang sudah nyerocos dulu. Dia membuat Gita tak bisa menanyakan kabar dan lainnya.


"Love you too." Gilang mematikan sambungan teleponnya. Benar Gilang masih mengangkat telponya, tapi hanya sekedar sapaan saja tidak lebih.


"Capek, dikira aku nggak capek apa. Aku capek kerja pun tetap menunggu kamu pulang. Sekarang kamu bilang capek mau istirahat. Keterlaluan." Gita melempar ponsel ke kasurnya.


"Ta.. makan." Panggil Raka. Gita tidak menjawab, dia langsung turun ke ruang makan. Dia menarik kursi lalu memasukan nasi ke piringnya dengan porsi banyak.


"Ta, lo kesurupan apaan makan sebanyak itu?" tanya Raka heran. Biasanya Gita hanya makan dengan porsi sedikit saat malam.


Gita tidak menjawab, dia terus melahab saja nasi yang ada di piringnya. Pikiranya sudah melayang kesana kemari. Emosinya pun meluap-luap. Kalau kelihatan mungkin ada asap warna putih dari teling dan wajahnya berubah memerah, kepalanya keluar dua tanduk.


"Ta.." panggil Raka.


"Hem!" Gita ngegas.


"Lo kenapa? ada masalah?"


"Raka, gue lagi pusing lo jangan tanya-tanya deh." Gita sedang malas bercerita dan juga malas berdebat. Dia sedang tidak ingin ngomong karena hanya akan ada kata-kata kasar yang keluar dari bibirnya.


"Iya lo pusingnya kenapa?" Raka mencoba berbicara lebih lembut agar Gita mau berbicara dengan dirinya.


"Kak Gilang sekarang nggak ada waktu buat gue, di tambah lagi masalah kantor yang masih saja belum membaik buat gue pusing." Gita menaruh sendoknya dan beranjak pergi. Nafsu makannya menghilang begitu saja.


"Lo sekarang mau kemana?" Raka menarik tangan Gita.


"Tidur." Gita langsung melepaskannya.


"Nasi lo masih banyak, main tidur aja." Raka menunjuk piring yang nasinya baru masuk beberapa suap.

__ADS_1


"Biarin, udah nggak nafsu makan." ujarnya dengan berlalu.


"Ta.." Raka mengikuti Gita.


"Apa? gue lagi malas ngomong." ucap Gita dengan sangat malas. Dan wajahnya mengisaratkan, please jangan ganggu gue. guw mau sendiri.


"Lo jangan seperti ini, harusnya lo suport Gilang." Raka menasehati Gita.


"Dengan apa, kita saja sekarang jarang ketemu mesti satu kantor." Gita masih di buat emosi.


"Ya, ngertiin dia aja. Kasih dia waktu sendiri buat dia menyelesaikan masalahnya. Dan ingat nih, jangan berpikir kalau Gilang tidak menghubungi lo berarti dia bosan atau sama yang lain. Dia kan sedang sibuk ngurusin masalah ini. Demi perusahaan, dan pastinya demi masa depan kalian." Jelas Raka.


Gita hanya diam saja menanggapinya, dia sedang kesal jadi malas memberikan jawaban Raka.


"Gue mau tidur." Kata Gita sambil menutup pintu kamarnya.


"Hah... susah juga ya ngasih tahu perempuan. Gimana nanti ngasih penjelasan sama Fara waktu gue sibuk." Raka menggelengkan kepalanya karena Gita sama Fara itu sebelas dua belas. Kadang-kadang sangat keras kepala, dan susah diaturnya.


...♡◇◇◇♡...


Gita sampai kantor langsung menuju ruangan Gilang tapi tetap saja Gilang tidak ada di ruangannya. Gita menghela napas panjang, tubuhnya lemas. Dia masuk lalu menaruh sandwich buatannya. Dia berharap nanti Gilang datang dan memakannya.


Gita menarik kursinya, kemudian dia duduk dengan wajah lesu. Gita memutar kursinya kearah Vian.


“Harusnya gue masuk lebih awal di perusahaan ini.” Kata Gita tiba-tiba hingga membuat Vian mengerutkan keningnya.


“Perusahaan ini sangat lemah, dengan gue masuk disini dan bisa desain gue jual ke orang lain gue bisa mendapatkan uang dua kali lipat. Dapat gaji dari sini dan pastinya dari desain yang gue jual” Jawab Gita.


“Ngomong apaan sih lo, perusahaan ini kan milik calon suami lo. Kenapa lo mau menghancurkannya.” Vian semakin tidak mengetahui arah pembicaraan Gita.


“Dia terlalu baik, membiarkan penyusup, penghianat tetap berada disini jadi gue tidak bisa bersamanya. Lebih baik gue ambil saja semua hartanya, itu akan lebih menyenangkan.” cerocosnya tanpa berpikir.


“Wah, lo mulai gila kayaknya Git. Bisa-bisanya lo ngomong seperti itu.” Fara nyamber dari luar. Sedangkan Bella hanya bengong mendengar ucapan Gita, dia percaya dengan ucapan Gita. Karena selama yang dia tahu Gita itu sangat tulus sama Gilang.


“Kak Gilang salah apa sih Git samalo, sampai-sampai lo berani berpikir seperti itu?” Tambah Fara.


“Dia nggak salah apa-apa, hanya saja gue yang sudah mulai bosan dengan dia.” Kata Gita sambil pergi meninggalkan ruangan.


"Gila apa tu bocah." Fara menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia mendengar Gita bosan dengan Gilang.


Gita duduk di kantin setelah memesan beberapa makanan. Setelah semalaman nggak makan dan juga pagi tidak mau sarapan akhirnya dia merasa lapar juga.


"Gita.." panggil Bella dengan ada pelan, dia agak takut soalnya Gita sedang mode bacok.


"Iya Bel ada apa?" tanya Gita dengan nada malas.


"Lo nggak beneran kan ngomong kayak tadi." Bella memastikan ucapannya selama di dalam ruangan.


"Memangnya kenapa?" Gita heran Bella datang-datang hanya mau menanyakan hal macam itu. Yang tentu saja bukan menjadi urusanya, karena nggak ada hubungannya dengan dirinya.

__ADS_1


"Ya sayang saja kalau sampai lo ngelakuin itu, Pertunangan kemarin itu sangat menyentuh banget dan gue rasa Bos Gilang sayang banget." Bella sok tahu dan menasehati Gitam


"Lo pernah lihat nggak orang yang wajahnya fake?" tanya Gita.


"Maksud lo?"


"Kita bisa saja tertawa dan bahagia di depan orang banyak, tapi dalam hati kita memedam kebencian atau tidak suka dengan sesuatu. Karena gue bisa membenci dengan wajah yang gembira." kata Gita menatap Bella tajam.


"Bersandiwara maksus lo, Bagaimana kalau bos Gilang ada yang mendekati." Bella menggigit bibir bawahnya.


"Itu bukan urusan gue. kenapa memang? apa lo menyukai bos Gilang?" tanya Gita dengan hati was-was sebenarnya. Sia sok cuek padahal dia akan kelabakan kalau benar Bella menyukai Gilang.


"Ah.. tentu saja tidak. Mana berani gue menyukai bos sendiri." Bella salah tingkah.


Gita curiga kalau Bella benar-benar menaruh perasaan untuk Gilang. Melihat perubahan wajah Bella yang terlihat salah tingkah.


"Apa ada sesuatu dengan Bella, apa ada sangkut pauntnya dengan kasus ini?" batin Gita sembari melihat Bella.


Pikiran Gita mulai terpecah lagi, dia curiga kalau Bella benar-benar yang menyukai Gilang.


"Apa benar ya dia suka sama Kak Gilang, apa dia akan mendekati Kak Gilang setelah gue tahu calon istrinya." Gumam Gita.


Gita menmukul meja dengan lumayan keras, dia semakin kesal di buatnya. Bisa-bisanya


Bella dengan santai mengatakan hal itu bahkan tanpa rasa sungkan.


“Memangnya gue ini nggak dianggap, terang-terangan sekali ingin mengajak perang.” Omel


Gita.


“Harusnya gue cakar-cakar tadi satu perempuan yang sok kalem, baik itu. Menyesal rasanya


membantunya.” Gita terus  mengomel, dan


juga mengumpat.


“Ah... jangan-jangan benar dia ada di balik semua ini.” Gita terus berpikir negatif


karena tingkah Bella padanya.


“Satu


orang menjadi terdakwa.” Kata Gita sambil meneguk minumannya sampai habis.


Dia akan segera menyelidiki Bella, dan jika benar dia akan menamparnya dan


menendangnya dari perusahaan. Karena ulahnya dia dan Gilang harus berpisah


lumayan lama, dan komunikasinya tidak berjalan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2