Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Hadiah dari Vian


__ADS_3

Gilang mengajak Gita ke luar dari kerumunan.


"Mau kemana sih?" tanya Gita.


Gilang berhenti di teras, dia tak menjawab pertanyaan Gita namun terus memandangi wajah Gita yang sangat anggun itu.


"Ih.. kok malah nggak jawab sih. Kamu malah ngelihatin aku kayak gitu." Wajah Gita merona karena salah tingkah.


"Habisnya kamu cantik banget sih, tadi di dalam belum puas memandanginya karena terus di tinggal-tinggal." protes Gilang.


"Dasar gombal, lagian kan kita melayani tamu." kata Gita.


"Iya deh.. iya. Lihat deh langitnya cerah banget ya." kata Gilang.


"Iya, langitnya biru banget. Mana anginnya sejuk lagi."


"Sayang, alam itu sangat mendukung hubungan kita loh."


"Kok bisa?"


"Iya.. tadi itu pas perjalanan kesini langit agak mendung. Sekarang cerah banget, langit biru cerah seakan ikut merayakan kebahagiaan kita."


"Yah semoga seperti itu, kita akan selalu di restui semua."


"Ah.. jadi nggak sabar menunggu dua bulan lagi." Gilang memeluk Gita.


"Sabar dong, cuma dua bulan ini nggak lama." kata Gita.


"Dua bulan tuh kayak setahun tahu nggak, oiya nanti kamu mau kita bulan madu dimana?" tanya Gilang sembari memberikan kecupan lembut di pipi kiri Gita.


"Kemana saja yang penting sama kamu." Kata Gita. Kemana saja itu tidak penting baginya, yang penting dia bersama Gilang itu saja.


"Ke Bali?"


"Boleh."


"Atau jogja?"


"Kemana saja sayang."


"Baiklah, nanti aku akan cari tempat yang bagus dan sangat nyaman buat kita berdua."


"Iya.."


"Ehem.. bucin mulu ya kalian berdua sampai tamu-tamu di biarkan saja." Vian menyusul keluar.


Gilang melepaskan pelukannya, "Dan lo ganguiin orang mulu." sahut Gilang.


  “Gue punya hadiah nih buat kalian.” Kata


Vian.


“Hadiah apaan?” tanya Gilang.


“Mau tebak-tebakan dulu apa  langsung aja nih?” tanya Vian.

__ADS_1


“Ya elah Vian, pakai acara tebak-tebakan segala. Buruan deh sebelum nih darah


tinggi gue naik dan lempar lo pakai sendal gue yang tinggi dan berat ini.” Gita


menunjuk highils yang di pakainya.


“Bau mau jadi emak-emak ini mah hawa-hawa ngamuknya udah terasa.” Sahut Vian.


“Isssh...”


“Iye..iye.. selamat datang kado buat calaon mempelai kita. Taraaa....” Vian mempersilahkan kado untuk Gilang dan Gita.


Kedua mata Gita langsung melebar, matanya berbinar melihat sahabat yang sudah lama


tidak pernah bertemu lagi.


“Anita...” seru Gita, mereka berdua saling berpelukan erat.


“Gita, ya ampun gue kangen banget tahu nggak.” Kata Anita.


“Sama, gue juga kangen lo dari mana aja sih nggak pernah nongol. Kak Bayu di bawa


kemana sih teman gue ini sampai lupa jalan pulang.” Ujar Gita.


“Ya gue ajak liburan terus lah, makanya sesekali lah main ke jogja nanti gue ajak


jalan-jalan ke sana.” Kata Bayu sembari memeluk Gilang.


“Anita..!” Seru Fara dari dalam sembari berlari untuk memeluknya.


“Fara, ya ampun gue kangen banget dengar kebawelan lo.” Anita membalas pelukan Fara.


“Masih aja ya bawel lo, gue kira udah berubah anggun.” Kata Anita.


“Mana mungkin dia bisa anggun.” Ejek Vian.


“Eh.. jangan hina calon bini gue.” Raka keluar ikut gabung.


“Hai Raka, baik kabar lo?” Kata Bayu.


“Baik. Wuiih.. lo makin ganteng aja lama nggak ketemu.”


“Iya dong, kegantengan gue kan paripurna makanya Anita nggak bisa lepas dari gue.”


Kata Bayu.


“Bukanya kalian sempat putus ya.”


“Iya.. tapi yang namanya jodoh ya. Kita udah bersama yang lain juga balik lagi.” kata Anita.


“Oiya, ngomong-ngomong lo belum juga punya gandengan Vian?” tanya Bayu.


“Gue ceritain ya, dia itu sok-sokan menolak cewek yang mau dekat sama dia. Makanya


jomblonya akut.” Fara dengan semangat untuk menceritakan aib Vian.

__ADS_1


“Mulut lo ya Far, lemes amat dah. Gue bukan sok-sokan gue itu..”


“Apa?”


“Dahlah.. malas gue.” Vian merajuk membuat mereka tertawa bareng.


Lengkaplah personil mereka, setelah sekian purnama tidak bertemu dan akhirnya di


pertemukan di acara pertunangan Gita dan Gilang. Kehebohan demi kehebohan


tercipta.


...◇◇♡◇◇...


"Selamat pagi." Gita menyapa teman-temannya di kantor.


"Pagi, baru juga kemarin tunagan udah berangkat aja buk."


"Iya lah Bel, kan baru tunangan besok kalau udah nikah bakalan libur lama." jawab Gita sambil duduk.


"Libur lama juga nggak masalah, kan kantor suami sendiri jadi bebas donk." Kata Fara.


"Nggak bisa gitu dong, kan kita harus profesional." jawab Gita. Dia tidak membiasakan diri untuk berlaku seenaknya meskipun dia adalah istri dari pemilik perusahaan.


"Dengarkan tuh, istri pemilik perusahaan saja mau disiplin, membedakan mana urusan pribadi mana urusan pekerjaan. Jadi sebagai karyawan juga harus seperti itu. Jauhkan urusan pribadi kalian, jangan sekali-kali di bawa ke kantor. Itu hanya akan membuat ribet." kata Win.


"Maksudnya kisah cinta lo sama Ina." sahut Nino yang langsung kena timpukan dari Ina.


"Ngomong-ngomong bagaimana sih hubungan kalian berdua itu? mau di resmikan nggak?"


"Nah tuh.. di tanya bu bos."


"Aduh kenapa jadi bahas begini sih, kita kan harus memisahkan masalah pribadi sama masalah kantor." kata Ina. Dia tidak ingin mdmbahas masalah dia dengan Win. karena memang ucapan Win saat mengatakan dia tunangannya hanya untuk memanasi Ratna.


"Ini juga masalah kantor, kita jadi segan melihatnya. Satu team cuman delapan orang masa ya ada yang diem-dieman kan nggak enak." Sahut Fara.


"Mas Win, sebagai laki-laki harus berani memutuskan. Mau pilih Mbak Ratna atau Mbak Ina." Kata Bella.


"Iya Win, ntar keduanya di samber orang lo stres.. bunuh diri lagi. Kan gue yang repot nanti di tanya polisi." Kata Nino seenak jidat.


"Kalian cukup deh, lagian gue juga udah punya pasangan sebentar lagi gue mau tunangan." kata Ina langsung membalikan tubuhnya. Dia fokus ke komputernya.


"Beneran Mbak Ina?" semua orang terkejut mendengar ucapan Ina.


"Iya. Udah mulai kerja lagi jangan bahas semacam ini. Toh tidak membuat perusahaan untung.


Win terdiam mendengar ucapan Ina, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia masih bingung sama dirinya sendiri.


"Siap-siap patah hati loh mas Win." ledek Gita.


"Iya, nanti pasti akan nangis bombai." tambah Fara.


"Mending lo datang dulu, lamar langsung." Bisik Nino.


"Iya Mas, jangan hanya bisa menyesal dan memandang dia dekat namun sangat jauh karena udah jadi milik orang lain." tambah Nino.

__ADS_1


"Kalian kenapa sih, gue nggak biasa aja kenapa kalian yang heboh."


"Di kasih tahu juga, jangan menyesal ya nanti. Dan gue juga nggak mau jadi tempat curhat lo." kata Nino sembari bangkit kembali ke mejanya di ikuti yang lain.


__ADS_2