
Makan malam kali ini menjadi sangat
spesial bagi semua team karena kedatangan Gilang. Dan Gilang pun bilang akan
mengawasi langsung film yang kurang beberapa hari itu. Yang lebih menyenangkan
setiap kali Gilang ikut disitu makanan yang di siapkan pasti lebih lezat dari
pada tanpa Gilang.
“Baik, semua sudah berkumpul silahkan
kalian makan.” Gilang mempersilahkan makan.
Gita langsung berdiri, dia mengambil
piring besar dan siap memasukan semua makanan ke dalam piring bersama Fara.
“Bisa nggak kalian berdua tuh kalau
makan biasa saja.” Omel Vian.
“Heloo.. apa kabar dengan anda. Lihat noh
piring sudah mau penuh masih saja mencari tambahan.” Ujar Fara.
“Gita, lo mau ini nggak?” Fajar
membawakan udang saus padang.
“Ini saja Git, udang bakar enak banget.”
Radit tak mau kalah, dia membawa udang satu tusuk besar dengan harum yang
menggoda.
“Radit, lo bisa nggak sih jangan
ngikutin gue mulu.” Fajar lumayan kesal karena Radit selalu mengganggu usahanya
mendekati Gita.
“Siapa juga yang ngikutin lo, gue kesini
bawain makan buat Gita.” Kata Radit sambil menyodorkan udang bakar. Fajar
pun tidak mau kalah, dia juga ikut
menyodorkan piring berisikan udang saus padang.
Fara memberikan kepada Gita piring yang
di pegangnya, kemudian mengambil udang saus padang dan juga udang bakarnya.
“Ini buat gue saja, Gita nggak makan
udang.” Kata Fara.
“Makasih ya, kalian berdua baik banget
padahal kita baru kenal loh.” Kata Vian sambil nyelomot udang di piring dan langsung melahapnya.
“Lo beneran nggak makan udang?” tanya
Fajar.
“Nggak, gue alergi udang.” Jawab Gita.
“Kalau gitu gue ambilin yang lain ya,
ayam bakar atau ikan?” Tanya Fajar dengan semangat.
“Gita lo mau makan apa? Bilang saja
nanti gue siapin buat lo.” Kata Radit.
“Radit, Fajar makasih ya tapi gue sudah
cukup makan ini. Kalian makan saja sediri jangan pikirkan gue.” Kata Gita.
“Atau kita keluar saja, kita makan berdua ke restauran terdekat sini.” Ajak Radit.
Gilang melipat kedua tanganya, wajahnya
kesal melihat Gita sedang di dekati Fajar dan Radit. Api cemburu mulai membakar
hati Gilang.
“Pak, tidak makan?” tanya Lila. Gilang
yang terlalu fokus mengawasi Gita dari jauh tidak mendengar pertanyaan Lila.
“Pak.” Panggil Lila lagi sedikit dengan
__ADS_1
nada keras.
“Ya.” katanya sedikit meninggi membuat Lila kaget.
“Bapak Tidak makan?” tanya Lila lagi.
“Ini sedang mau makan.” Ucap Gilang
dengan kedua mata yang masih fokus menatap Gita.
“Mau saya siapkan?” tanya Lila.
“Tidak usah, saya ambil sendiri saja.
Kamu nikmati hidangannya.” Gilang berjalan mendekati Gita yang sedang di kerumuni para pesaingnya.
“Gita, mana makanan saya?” tanya Gilang
sembari menatapnya lekat. Awalnya Gita bingung namun tak lama dia tersadar.
“Ini Pak.” Gita memberikan piringnya dengan cepat.
“Bawa ke meja, dan temani saya makan.”
Ajak Gilang sambil berjalan lebih dulu, Gita pun mengekor di belakang Gilang.
“Pak boleh saya gabung?” tanya Fara.
“Ya.” Jawab Gilang.
Fara menyenggol tangan Vian agar dia
mengikuti dirinya untuk duduk bareng Gita dan Gilang. Radit dan Fajar juga tak
mau kalah dia ikut pergi bersama Vian dan Fara. Bahkan mereka berdua masih
berebut untuk duduk sama Gita.
“Kalian ngapain disini?” tanya Gilang.
“Mau makan bareng bapak.” Kata Fajar
sambil tersenyum.
“Hey, kalian lebih baik pindah tempat
deh.” Lila mengusir orang-orang yang mengerubungi Gilang, melihat Gilang sudah
Gilang berdiri, dia langsung pergi
meninggalkan tempat perjamuan makanan. Dia sudah tidak mood lagi untuk makan.
“Kalian tuh ya, cari masalah saja
terutama kamu Gita bisa nggak sih sehari saja nggak bikin ulah. Kamu lagi Radit
lo itu artis bagaimana kalau wartawan sampai tahu kelakuan kamu.” Lila memarahi
mereka semua.
"Gita nggak ngapa-ngapain loh mbak." kata Gita Gita menghela napas panjang lalu manyun kerena tingkah Radit dan Fajar membuat Gilang kesal. Gita ikut berdiri lalu meninggalkan makannya yang belum tersentuh sama sekali.
“Git, mau kemana?” tanya Fara.
“Mau ke kamar ngantuk.” Jawabnya dengan berjalan cepat.
“Tapi lo belum makan.” serunya.
“Nggak lapar.” Jawabnya.
“Kalian berdua kenapa gangguin Gita sih,
lihat tuh dia jadi nggak mau makan.” Omel Vian.
“Memangnya apa yang salah sama Radit,
harusnya bersyukur Radit mau makan sama dia. Orang lain tuh pada ngejar-ngejar
pingin bisa makan sama Radit, dia sok-soan menolak.” Samber Catrin.
“Eh.. Gita tuh punya harga diri emangnya
lo, sama siapa-siapa mau. Ngomong aja lo iri kan sama Gita karena Radit mengajak Gita nggak ngajakin lo.” Fara menjulurkan lidahnya.
“Sudah..sudah, kalian jangan debat lagi
gue emang yang salah harusnya nggak mengganggu dia makan."
Gita menoleh kanan-kiri takut ada yang
ngikutin dia, setelah aman dia mengetuk pintu kamar Gilang.
Tok..Tok..Tok..
__ADS_1
“Kak Gilang.” Panggil Gita pelan dengan
mata masih beredar kesegala penjuru.
Gilang membuka pintu sedikt, Gita langsung
menelusup masuk. Gilang menutup pintu lalu menguncinya.
“Ada apa?” tanya Gilang dengan sedikit
ketus.
“Ih.. jangan ngambek dong.” Gita memeluk
Gilang.
“Siapa yang ngambek.” Kata Gilang, dia
belum membalas pelukan Gita karena kesal pacarnya itu menjadi rebutan cowok-cowok. Mana Gita tidak menghindar.
“Kamu.” Gita menyentuh hidung Gilang.
Gilang melepaskan pelukan Gita lalu
duduk di kasur, “Kenapa kamu kesini sudah selesai makan tuh sama fans-fans
kamu.” Sindir Gilang.
“Kak Gilang jangan salah paham dong, Gita
nggak ngapa-ngapain.” Gita memegang kedua tangan Gilang.
“Terus kenapa mereka ngejar-ngejar, kamu
ganjen ya?” tuduh Gilang.
“Ih nggak. Gita juga nggak tahu.” Gita membujuk Gilang agar tidak ngambek sama dia.
“Kamu pasti nggak mendengarkan kata-kata aku kemarin.”
Gilang melipat kedua tangannya, dan
memalingkan mukanya. Meskipun Gita sudah menjelaskan namun dia masih saja kesal.
“Kak.. jangan ngambek dong.” Gita
menarik kaos Gilang sambil merengek. Gita berjalan dan duduk di depan Gilang.
“Jangan ngambek, nanti Gita sedih.” Gita
memegang pipi Gilang dengan kedua tangannya.
Gilang masih diam saja, dia masih
cemburu dengan Radir dan Fajar yang
terang-terangan di depan umum mengejar Gita.
Gita memajukan wajahnya, dia mencium
pipi Gilang. Dia mencoba membujuk Gilang dengan memberikan ciuman. Gilang tersenyum kecil melihat usaha Gita membujuknya.
“Kak Gilang, Gita nangis loh.” Gita
masuk ke dalam pelukan Gilang. Gilang tidak tega mendengar suara Gita yang
hampir menangis.
Dia membalas pelukan Gilang tak hanya itu dia memberikan ciuman di kening Gita. Gita tersenyum, dia mengangkat wajahnya untuk menatap Gilang.
Gita tanpa sadar meneteskan air matanya,
“Kamu kenapa menangis?” Gilang panik beneran melihat Gita menangis.
“Takut kamu nggak percaya sama Gita.”
Kata Gita.
“Aku akan selalu percaya sama kamu,
kalau aku nggak percaya sama kamu mungkin kita sudah putus sejak lama.” Gilang mengusap air mata Gita yang menetes di pipi Gita, kemudian dia mengusap bibir Gita yang berwarna orange ke coklatan. Gilang memberikan ciuman lembut di bibir Gita, lalu menarik dalam Gita ke dalam pelukannya.
“Apa perlu aku pecat mereka berdua,
sekalin kita umumin saja kalau kita pacaran.” Kata Gilang.
“Jangan sekarang, Gita masih belum siap
melihat wajah-wajah orang yang sok baik sama Gita karena tahu kamu pacar aku.”
Gita mempererat pelukannya.
"Kamu masih saja memikirkan itu." kata Gilang."
__ADS_1