Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Selamat Tinggal II


__ADS_3

Gita melepas helmnya lalu memberikan


kepada Genta, dia masuk lebih dulu untuk bertemu sama yang lain. Gita berhenti


di tengah-tengah sambil mencari dimana tempat pemberangkatan Gilang.


Gita berjalan pelan saat kedua matanya menemukan keberadaan Gilang yang


sedang ngobrol sama Raka dan yang lain. Air mata Gita mulai menetes lagi, tubuhnya


bergemetar dia nggak berani medekati Gilang. Gita memutar tubuhnya saat Gilang


sempat melihat ke arah Gita. Mendadak tubuhnya lemas.


“Kak, meskipun kita nggak bisa bersama.


Tapi Gita bersyukur banget pernah menjadi orang yang pernah kakak sayang. Gita


janji tidak akan pernah mencintai orang lain, dan tidak akan pernah menjalin


hubungan sebelum Kak Gilang memiliki pasangan baru.” Kata Gita sambil mencium kalung pemberian Gilang.


“Gita, lo masih disini. Sana gabung.”


Genta menarik tangan Gita. Gita menggelengkan kepala.


“Kenapa?” Gilang tidak mengerti jalan pikiran adiknya itu.


“Nanti kalau Gita kesana nggak akan bisa


menahan air matanya. Kak Gilang nggak jadi berangkat.” Kata Gita dengan sedikit terbata-bata.


“Terus ngapain dong kesini.” Genta kesal


dengan adiknya. Gita memberikan ponselnya kepada Genta dia meminta di fotokan


saat Gilang dan yang lain sedang berpose foto bersama.


“Kak Genta fotoin aja.” Katanya masih terus menangis.


Genta menghela napas, “Baiklah.” Genta menganbil foto Gita. Gita mencoba tersenyum sambil berpose dengan dua jari di atas.


Gita mengusap air matanya yang terus


saja mengalir, dia mulai tidak kuat melihat Gilang. Genta menarik adiknya itu dalam pelukannya, dia tahu sakitnya yang di rasakan sama Gita.


“Kita pulang yuk.” Ajak Genta. Gita


menganggukan kepala, dia sudah puas bisa melihat Gilang untuk terakhir kalinya.


“Mau makan dulu nggak?”


“Nggak mau, tapi beli seblak saja.” Kata


Gita dengan sesenggukan. Genta terkekeh dengan tingkah adiknya yang susah di


tebak banget.


"Baiklah."


"Tapi Gita lemas, nggak kuat jalan. Gendong."


"Ya ampun, untung gue sayang kalau nggak udah gue lempar lo Ta." omel Genta. Gita tersenyum sambil menangis. Dia sedih tapi juga geli mendengar omelan Genta.


Genta mengajak Gita beli seblak dan


menemani dia makan, Gita mendadak nggak mood makan di tempat.


“Kita bawa pulang saja.” Kata Gita.


“Ya.” Genta terus mengikuti kemauan


adiknya, dia tidak mau meninggalkan adiknya sendirian takutnya dia yang terlalu


muda melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Emosi dan pikiranya yang belum dewasa


membuat dia takut.


...♡♤♤♤♡...


Gita mulai giat belajar agar dia lulus

__ADS_1


dengan nilai yang bagus, sekarang sudah tidak ada yang membantunya belajar


dengan suka rela tanpa memarahinya lagi kalau dia sambil main-main. Dia


sekarang harus pergi les setiap hari bersama Raka dan Fara.


Gita melirik kearah Fara dan Raka yang


sedang bersenau gurau. Gita menaruh dagunya di tangan dengan bibir manyun.


“Kenapa Git manyun?” tanya Vian.


“Bisa nggak dua manusia ini kita


lenyapkan saja.” Kata Gita sewot.


“Apa-apan main lenyap-lenyapkan?” Sahut


Fara.


“Salah sendiri lo mesra-mesraan di depan


para jomblo.” Kata Vian.


“Gue nggak jomblo, Cuma ldr.” Anita


tidak terima.


“Ldr sama jomblo itu sama aja Nit,


kemana-mana juga sendiri ini.” Ledek Gita.


“Benar nih.” Vian menjentikan jarinya.


“Bedalah, kalau ldr setiap hari masih


bisa tuh chat sama telponan, kalau jomblo palingan ngomong sama tembok.” Anita


menjulurkan lidahnya.


“Benar, kalau jomblo tuh nyanyi


cicak-cicak di dinding saja galau.” Ejek Raka.


“Ada, dulu pernah ada yang nyanyiin buat


gue.” Raka melirik kearah Gita dengan penuh ajekan.


“Masah sih sayang, emang gimana


nyanyinya.”


“Nih dengerin ya kalian semua,


cicak-cicak di dinding diam-diam merayap jauh, datang seorang jodoh hap lalu


menghilang.” Raka tertawa sambil menjulurkan lidah. Yang lain pun ikut tertawa.


“Sumpah ini receh banget, kenapa gue


bisa ikut tertawa sih meskipun nggak lucu.” Kata Vian.


“Benar, sumpah Git lo garing banget.”


“Diem deh lo pada, garing-garing juga


kalian semua menikmati dan terhibur.”  Gita manyun lagi.


“Ta, Roda kehidupan tuh benar-benar


berputar ya. Dulu lo ngatain itu pakai lagi itu sekarang gue yang nyanyi buat


lo.” Raka tertawa puas banget. Gita berdesis, dia melepar penghapus dari


tangannya.


“Git, lo nggak pingin gitu cari pacar


lagi?” tanya Fara.


“Orang gue udah punya.”

__ADS_1


“Siapa? Anak mana? Lihat orangnya.” Fara


mencerca pertanyaan, dia penasara pacar barunya Gita.Gita menunjukan foto di


ponselnya, Fara lagsung berdesis.


“Masih aja lo haluin mantan, udah mau


satu tahun nih. Lagian nih ya Kak Gilang juga pasti udah punya pacar disana.


Yang lebih cantik, sexy dan juga pinter. Nggak kayak lo jorok jarang mandi.”


Kata Fara.


“Mana ada Kak Gilang tuh pasti setia


sama gue.”


“Emang lo siapanya Kak Gilang, dia mau


setia sama lo.” Tambah Anita.


“Mantan.”


“Udah lo jangan kebanyakan lihat


belakang, mikirin mantan. Lihat masa depan yang cerah, cari cowok yang lebih


dari Gilang.” Vian mengajari Gita.


“Pada bahas apaan lagi, lebih baik lo


belajar aja yang benar jangan pacaran-pacaran. Lo kalau pacaran suka nggak


benar, mending pacaran sama ucup aja sana.” Goda Raka.


“Idih ogah.”


Gita melihat sekitar kantin, benar kata


Fara sudah berajalan satu tahun Gita tanpa Gilang. Tidak ada kabar sedikitpun


yang dia dapatkan, hanya beberapa post dari instagram itu pun hanya


aktifitasnya tanpa menunjukan wajahnya sekarang.


Dia hanya bisa mengenang masa-masa indah


bersama Gilang saat di sekolah. Dia yang selalu mendatangi kelas Gilang yang


sekarang menjadi kelasnya. Bahkan dia duduk di kursi yang dulu di pakai oleh


Gilang.


“Sudah lama sekali ya Kak, apa lo


baik-baik saja di sana? Apa sekarang lo sudah menemukan cewek yang lebih baik


dari gue? Ah.. tentu saja sudah. Orang sekeren lo mana ada belum menemukan


cewek, pasti fans kakak sekarang tambah banyak. Kak Gilang pasti ganteng banget


deh.”  Batin Gita.


“Heh... mikirin apa sih lo?” Raka pindah


kursi dari sebelah Fara ke sebelah Gita. Dia merangkul adiknya yang mulai


melamun, dia tidak mau Gita melamun lalu bersedih. Dia selalu mengalihkan


pikiran Gita jika sudah mulai melamun, karena dia tahu pasti Gita melamukan


Gilang dan membuatnya nanti menangis.


“Nggak, Gita cuma lagi mikir nanti


pulang sekolah mau beli bakso apa seblak ya, semuanya sama-sama seger gitu.”  Gita merenges sampai kelihatan giginya semua.


“Nanti kita beli.”


“Ya, Fara tinggal aja ya. Suka ngeselin

__ADS_1


kalau ikut.” Fara menabok Gita keras-keras sampai Gita meringis. Sedangkan Gita


tertawa puas bisa sering-sering ngerjain Fara.


__ADS_2