
Gita melepas helmnya lalu memberikan
kepada Genta, dia masuk lebih dulu untuk bertemu sama yang lain. Gita berhenti
di tengah-tengah sambil mencari dimana tempat pemberangkatan Gilang.
Gita berjalan pelan saat kedua matanya menemukan keberadaan Gilang yang
sedang ngobrol sama Raka dan yang lain. Air mata Gita mulai menetes lagi, tubuhnya
bergemetar dia nggak berani medekati Gilang. Gita memutar tubuhnya saat Gilang
sempat melihat ke arah Gita. Mendadak tubuhnya lemas.
“Kak, meskipun kita nggak bisa bersama.
Tapi Gita bersyukur banget pernah menjadi orang yang pernah kakak sayang. Gita
janji tidak akan pernah mencintai orang lain, dan tidak akan pernah menjalin
hubungan sebelum Kak Gilang memiliki pasangan baru.” Kata Gita sambil mencium kalung pemberian Gilang.
“Gita, lo masih disini. Sana gabung.”
Genta menarik tangan Gita. Gita menggelengkan kepala.
“Kenapa?” Gilang tidak mengerti jalan pikiran adiknya itu.
“Nanti kalau Gita kesana nggak akan bisa
menahan air matanya. Kak Gilang nggak jadi berangkat.” Kata Gita dengan sedikit terbata-bata.
“Terus ngapain dong kesini.” Genta kesal
dengan adiknya. Gita memberikan ponselnya kepada Genta dia meminta di fotokan
saat Gilang dan yang lain sedang berpose foto bersama.
“Kak Genta fotoin aja.” Katanya masih terus menangis.
Genta menghela napas, “Baiklah.” Genta menganbil foto Gita. Gita mencoba tersenyum sambil berpose dengan dua jari di atas.
Gita mengusap air matanya yang terus
saja mengalir, dia mulai tidak kuat melihat Gilang. Genta menarik adiknya itu dalam pelukannya, dia tahu sakitnya yang di rasakan sama Gita.
“Kita pulang yuk.” Ajak Genta. Gita
menganggukan kepala, dia sudah puas bisa melihat Gilang untuk terakhir kalinya.
“Mau makan dulu nggak?”
“Nggak mau, tapi beli seblak saja.” Kata
Gita dengan sesenggukan. Genta terkekeh dengan tingkah adiknya yang susah di
tebak banget.
"Baiklah."
"Tapi Gita lemas, nggak kuat jalan. Gendong."
"Ya ampun, untung gue sayang kalau nggak udah gue lempar lo Ta." omel Genta. Gita tersenyum sambil menangis. Dia sedih tapi juga geli mendengar omelan Genta.
Genta mengajak Gita beli seblak dan
menemani dia makan, Gita mendadak nggak mood makan di tempat.
“Kita bawa pulang saja.” Kata Gita.
“Ya.” Genta terus mengikuti kemauan
adiknya, dia tidak mau meninggalkan adiknya sendirian takutnya dia yang terlalu
muda melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Emosi dan pikiranya yang belum dewasa
membuat dia takut.
...♡♤♤♤♡...
Gita mulai giat belajar agar dia lulus
__ADS_1
dengan nilai yang bagus, sekarang sudah tidak ada yang membantunya belajar
dengan suka rela tanpa memarahinya lagi kalau dia sambil main-main. Dia
sekarang harus pergi les setiap hari bersama Raka dan Fara.
Gita melirik kearah Fara dan Raka yang
sedang bersenau gurau. Gita menaruh dagunya di tangan dengan bibir manyun.
“Kenapa Git manyun?” tanya Vian.
“Bisa nggak dua manusia ini kita
lenyapkan saja.” Kata Gita sewot.
“Apa-apan main lenyap-lenyapkan?” Sahut
Fara.
“Salah sendiri lo mesra-mesraan di depan
para jomblo.” Kata Vian.
“Gue nggak jomblo, Cuma ldr.” Anita
tidak terima.
“Ldr sama jomblo itu sama aja Nit,
kemana-mana juga sendiri ini.” Ledek Gita.
“Benar nih.” Vian menjentikan jarinya.
“Bedalah, kalau ldr setiap hari masih
bisa tuh chat sama telponan, kalau jomblo palingan ngomong sama tembok.” Anita
menjulurkan lidahnya.
“Benar, kalau jomblo tuh nyanyi
cicak-cicak di dinding saja galau.” Ejek Raka.
“Ada, dulu pernah ada yang nyanyiin buat
gue.” Raka melirik kearah Gita dengan penuh ajekan.
“Masah sih sayang, emang gimana
nyanyinya.”
“Nih dengerin ya kalian semua,
cicak-cicak di dinding diam-diam merayap jauh, datang seorang jodoh hap lalu
menghilang.” Raka tertawa sambil menjulurkan lidah. Yang lain pun ikut tertawa.
“Sumpah ini receh banget, kenapa gue
bisa ikut tertawa sih meskipun nggak lucu.” Kata Vian.
“Benar, sumpah Git lo garing banget.”
“Diem deh lo pada, garing-garing juga
kalian semua menikmati dan terhibur.” Gita manyun lagi.
“Ta, Roda kehidupan tuh benar-benar
berputar ya. Dulu lo ngatain itu pakai lagi itu sekarang gue yang nyanyi buat
lo.” Raka tertawa puas banget. Gita berdesis, dia melepar penghapus dari
tangannya.
“Git, lo nggak pingin gitu cari pacar
lagi?” tanya Fara.
“Orang gue udah punya.”
__ADS_1
“Siapa? Anak mana? Lihat orangnya.” Fara
mencerca pertanyaan, dia penasara pacar barunya Gita.Gita menunjukan foto di
ponselnya, Fara lagsung berdesis.
“Masih aja lo haluin mantan, udah mau
satu tahun nih. Lagian nih ya Kak Gilang juga pasti udah punya pacar disana.
Yang lebih cantik, sexy dan juga pinter. Nggak kayak lo jorok jarang mandi.”
Kata Fara.
“Mana ada Kak Gilang tuh pasti setia
sama gue.”
“Emang lo siapanya Kak Gilang, dia mau
setia sama lo.” Tambah Anita.
“Mantan.”
“Udah lo jangan kebanyakan lihat
belakang, mikirin mantan. Lihat masa depan yang cerah, cari cowok yang lebih
dari Gilang.” Vian mengajari Gita.
“Pada bahas apaan lagi, lebih baik lo
belajar aja yang benar jangan pacaran-pacaran. Lo kalau pacaran suka nggak
benar, mending pacaran sama ucup aja sana.” Goda Raka.
“Idih ogah.”
Gita melihat sekitar kantin, benar kata
Fara sudah berajalan satu tahun Gita tanpa Gilang. Tidak ada kabar sedikitpun
yang dia dapatkan, hanya beberapa post dari instagram itu pun hanya
aktifitasnya tanpa menunjukan wajahnya sekarang.
Dia hanya bisa mengenang masa-masa indah
bersama Gilang saat di sekolah. Dia yang selalu mendatangi kelas Gilang yang
sekarang menjadi kelasnya. Bahkan dia duduk di kursi yang dulu di pakai oleh
Gilang.
“Sudah lama sekali ya Kak, apa lo
baik-baik saja di sana? Apa sekarang lo sudah menemukan cewek yang lebih baik
dari gue? Ah.. tentu saja sudah. Orang sekeren lo mana ada belum menemukan
cewek, pasti fans kakak sekarang tambah banyak. Kak Gilang pasti ganteng banget
deh.” Batin Gita.
“Heh... mikirin apa sih lo?” Raka pindah
kursi dari sebelah Fara ke sebelah Gita. Dia merangkul adiknya yang mulai
melamun, dia tidak mau Gita melamun lalu bersedih. Dia selalu mengalihkan
pikiran Gita jika sudah mulai melamun, karena dia tahu pasti Gita melamukan
Gilang dan membuatnya nanti menangis.
“Nggak, Gita cuma lagi mikir nanti
pulang sekolah mau beli bakso apa seblak ya, semuanya sama-sama seger gitu.” Gita merenges sampai kelihatan giginya semua.
“Nanti kita beli.”
“Ya, Fara tinggal aja ya. Suka ngeselin
__ADS_1
kalau ikut.” Fara menabok Gita keras-keras sampai Gita meringis. Sedangkan Gita
tertawa puas bisa sering-sering ngerjain Fara.