Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kepergian Raka II


__ADS_3

Gita memberikan helm milik abang gojek yang dia pesan, “Bang ambil saja


kembaliannya.” Katanya dengan mulut penuh dengan sandwich.


“Makasih Neng, sering-sering saja begini.” Abang Gojek meringis.


“Kalau sering-sering saya yang bangkrut Bang.” Ujar Gita sambil sedikit berlari karena sudah telat lima menit.


“Gita!” pangil Fara. Gita mengerem mendadak lalu berjalan mundur pelan.


“Baru datang juga lo?” tanya Gita. Bukanya menjawab Fara justru malah menangis dan memeluknya.


“Eh.. lo kenapa menagis? Raka bikin ulah lagi ya?” Gita menelan sandwich terakhir di


mulutnya.


“Gita, Raka berheti kuliah.”


“Ha?!” Gita melongo tidak percaya dengan apa yang di katakan Fara. “Lo jangan bercanda deh, nggak lucu tahu nggak.” Gita melepaskan pelukan Fara.


“Gue udah nangis-nangis begini mana bercanda sih.” Fara mengusap air matanya dengan tangan kananya.


“Lo tahu dari siapa? Kalau Raka memang mau keluar kuliah pastinya bilang sama gue.” Gita tidak percaya.


“Vian yang bilang."


“Kita cari Vian.” Gita mengandeng tangan Fara menuju kelasnya.


Gita mengintip ke kelas, dan ternyata dosennya belum datang Gita dan Fara langsung meluncur nyamperin Vian.


“Vian.” Gita duduk di sebelah Vian.


“Ha..”


“Lo tahu dari mana Raka keluar kampus, jangan  bikin kakak ipar gue bersedih seperti ini.” Gita menujuk Fara yang


kembali menangis.


“Gue nggak bohong, tadi nggak sengaja mendengar saat di kator. Mereka membicarakan keluarnya Raka. Dan gue dari tadi tungguin lo buat tahu pastinya. Kenapa Raka keluar?” Vian tanya balik.


Gitabjadi panik, dia sama sekali tidak tahu kenapa Raka tiba-tiba keluar kuliah. Dan


dia merasa selama ini tidak ada masalah dengan dia.


“Gita,apa Raka ada masalah yang gue nggak tahu?” tanya Fara.


“Selama ini nggak ada masalah apa-apa, dia baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang dia


menghilang.” Gita ikut menangis.


“Eh.. kalian berdua jangan menangis dong. Gue bingung nih.”


“Gimana kalau Raka kenapa-napa Vian.” Kata Fara.


“Kalian berdua dengerin gue, Raka pasti baik-baik saja. Percaya sama gue, begini saja nanti setelah selesai kuliah kita samperin Raka ke rumahnya.” Vian mencoba menenangkan dua sahabatnya itu.


“Iya, nanti gue ajak Kak Gilang juga.”


“Yabsudah sekarang kalian hapus dulu air matanya.” Vian memberikan tisu yang dia

__ADS_1


ambil dari tasnya Fara.


Seperti kesepakatan awal, mereka pergi ke rumah Raka setelah selesai kuliah. Karena


Gilang masih sibuk dia jadi tidak bisa ikut.


“Git, ini benar perumahanya?” tanya Vian.


“Benar dong, gue juga sering kesini dulu. Tuh rumahnya yang chat merah.” Tunjuk Gita.


“Ok,” Vian memarkirkan mobilnya.


Gita mengetuk pintu lalu mendorong pintu meskipun belum ada yang menyahut dari


dalam.


“Raka...Raka...” Panggil Gita.


“Eh...eh.. siapa nih yang datang.” Gita di sambut sama Marina mamanya Raka.


“Tante.” Gita mencium tangan Marina lalu memeluknya sebentar. “Tumben tante di rumah.” Gita meringis.


“Iya, tante lagi kangen rumah.” Katanya sambil melihat ke arah Fara dan Vian, lalu


menatap Gita.


“Ini teman kuliah aku sama Raka, ini Fara dan Vian.” Gita memperkenalkan Fara dan


Vian, mereka berdua langsung mencium tangan Marina.


“Kalian kesini pasti mau cari Raka kan?” tanya Marina.


“Iya tante, dimana ya Raka?”


“Nggak usah repot-repot tante, kita baru saja minum kok.” Ujar Vian.


“Cuman minun kok nggak repot.” Marina memegang pundak Vian lalu pergi ke dapur.


“Yuk ke atas.” Ajak Gita.


Gita mengetuk pintu kamar Raka, tapi tak ada sahutan dari Raka.


“Raka, ini gue boleh masuk nggak?” tanya Gita.


“Ngapin lo kesini pulang saja sana, gue lagi mau disini.” Kata Raka dengan malas.


“Kok lo gitu sih, gue masuk.” Gita membuka pintu kamar Raka meskipun tanpa persetujuan Raka.


Gita mengkode Fara untuk masuk, “Lo tanya deh sama Raka, sekalian kalian berbaikan


biar gue sama Vian di bawah ngobrol sama tante Marina.” Fara mengangguk, dia


masuk dengan ragu-ragu.


"Nggapain sih lo kesini, gue kan sudah bilang mau disini." Raka ketus.


“Sayang.” Panggil Fara.


Raka keget, dia membuka selimutnya lalu duduk. Dia pikir Gita yang datang

__ADS_1


makanya dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan mengabaikannya.


“Kamu ngapain kesini?” tanya Raka.


“Sebenarnya kamu kenapa? Marah karena gue kekanak-kanakan?” Fara duduk di sebelah Raka.


“Aku nggak marah kok.” Raka berdiri menghindari Fara.


“Terus kenapa kamu nggak kasih gue kabar, kamu tiba-tiba menghilang dari hidup aku bahkan berhenti kuliah.” Mata Fara mulai berkaca-kaca, tenggorokannya terasa


sakit karena menahan tangis. Raka tidak bisa menjawab pertanyaan Fara.


“Fara, gue mau minta maaf sama lo. Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini.”


“Maksud kamu apa?” Fara kaget, tidak ada angin dan hujan Raka tiba-tiba menginginkan putus darinya.


“Kita sudah tidak bisa jalan bersama lagi.”


“Kenapa tidak bisa, kita sudah melewati ini hampir empat tahun. Kenapa tidak bisa


berjalan lagi sekarang? apa aku punya salah? Kalau memang sifat aku yang kemarin membuat kamu marah aku minta maaf. Dan akan merubahnya, tapi kita jangan putus.” Fara memegang tangan Raka.


“Kamu nggak salah, justru aku yang salah disini. Daripada kita terus bersama tapi aku


menyakiti kamu lebih baik kita putus saja.” Raka tetap menginginkan putus dari Fara.


“Tapi apa alasanya, kenapa tiba-tiba minta putus. Aku tidak akan menerima keputusan


ini selama belum ada alasan yang jelas dari kamu.” Fara menolak untuk putus dari Raka.


“Alasanya sangat jelas, kita nggak sejalan lagi.”


“Raka apanya yang nggak sejalan, memang jalan yang kamu lalu sekarang seperti apa?


Kasih tahu aku biar aku berjalan di samping kamu.” Jelas Fara.


“Tidak bisa. Pokoknya kita putus mulai sekarang kita bukan siapa-siapa lagi.” Jelas


Raka.


“Tidak. Alasan lo ini tidak bisa di terima sampai kapan pun, aku tidak mau menerima ini.Aku tetap pacar kamu, dan sampai di kehidupan baru pun kamu tetap pacar aku dan milikku.” Fara berlari keluar kamar Raka.


Gita yang sejak tadi mengupingbpembicaraan mereka berdua langsung masuk ke kamar Raka.


“Raka, apa kamu menyembunyikan sesuatu?” tanya Gita.


“Tidak ada, gue hanya bosan sama Fara.” katanya dengan santai.


Plaaaak!


Gita menampar keras pipi Raka, dia kesal mendengar ucapannya dan perlakuannya kepadabFara.


“Raka, kalau lo nggak bisa berkomitmen jangan pernah mengejar dan menjadikan cewek itu pasangan lo. Kau tahu betapa sakitnya hatinya, kalau sampai ada apa-apa samaFara gue nggak akan pernah mau ketemu sama lo lagi, bahkan lo bukan kakak gue lagi.” Gita langsung berbalik badan untu mengejar Fara.


“Itu lebih baik, kita tidak usah saling bertemu. Gue capek kalau harus menjadi


penjaga dan pesuruh lo.”


Gita menggenggam tangannya, dia tahu itu bukan Raka yang mengucapkan. Dan rasa ada yang di sembunyikan dari dirinya. Gita merasa Raka sedang menghadapi masalah besar, sehingga dia menginginkan orang-orang di sekitarnya membenci dirinya.

__ADS_1


“Lo tidak perlu berpura-pura menjadi bajingan, cepat atau lambat gue pasti akan tahu apa penyebab lo berubah seperti ini.Kita tumbuh bersama dari kecil, sekecil apapun kebohongan dan rahasia lo gue akan segera tahu.


Raka terduduk di lantai dia meneteskan air mata setelah Gita pergi. Yang Gita katakan benar, dia hanya pura-pura menjadi bajingan di depan Fara dan Gita. Dengan tujuan agar dirinya di benci, tapi rencana itu di baca oleh Gita.


__ADS_2